
"Banyak omong!"
Pria bertopeng itu berlari ke arah Zhu Wu Chen sambil mengacungkan pedangnya sementara Zhu Wu Chen dengan santainya hanya menghindar dari serangan sembari melipat kedua tangannya di dada.
"Hanya itu kemampuanmu, cuih kau telah membuang waktuku," hardik Wu Chen berkacak pinggang.
Pria misterius itu terlihat geram dan kembali menyerang, tapi kali ini Zhu Wu Chen tidak menghindar lagi dia melayani orang tersebut untuk berduel.
Suara pedang yang saling beradu terdengar tiada henti, serangan demi serangan pun terus mereka lakukan seakan tak ada yang ingin mengalah hingga akhirnya setelah pertarungan diantara keduanya yang cukup sengit, pria misterius itu kabur usai mendapatkan luka dalam akibat tebasan dari pedang milik Zhu Wu Chen.
Lelaki dengan cadar hitam itu memiringkan senyumnya saat melihat lawannya kabur, lalu menghampiri Xing'er yang masih terduduk ditanah.
"Hua'er, apa kau baik-baik saja?"
Xing'er menganggukkan kepalanya, sementara Zhu Wu Chen tanpa sengaja melihat tangan Xing'er yang mengeluarkan darah.
"Tanganmu terluka."
Gadis itu melihat tangannya dan mulai meringis kesakitan.
"Ikut aku, aku akan mengobati lukamu," ajak Wu Chen hendak membawa Xing'er ke lembah Hua Hua.
"Nona Xing'er!"
Suara beberapa orang yang menyerukan namanya terdengar di telinga Xing'er.
"Yu Mu," gumam Xing'er dalam hati ketika tahu jika suara itu adalah milik sang tabib.
"Gawat, kalau sampai mereka bertemu mereka pasti akan berkelahi aku harus segera menyuruh Wu Gege pergi dari sini," lanjut Xing'er.
"Hua'er," panggil Wu Chen saat melihat Xing'er melamun.
"Ah, Wu Gege lukaku hanya sedikit aku akan mengobatinya di rumah … hmm terima kasih sudah menolongku hari ini, aku harus segera pulang," kata Xing'er buru-buru berdiri.
"Tapi—."
"Aku pergi dulu, bye." Xing'er melambaikan tangannya ke arah Wu Chen dan bergegas pergi menghampiri Yu Mu.
Zhu Wu Chen yang keheranan hanya menatap punggung Xing'er yang kini telah menjauh dari pandangannya, kemudian dia pun pergi meninggalkan tempat tersebut.
.
.
.
***
"Mu Yu!" teriak Xing'er menghampiri tabib muda itu sambil terpincang-pincang dan memegangi tangannya yang terluka.
Mu Yu menoleh ke arah sumber suara dan terkejut saat melihat keadaan Xing'er yang terluka.
__ADS_1
"Nona Xing'er."
Xing'er terjatuh dan berbaring di tanah sambil menatap sayu si tabib muda. " Mu Yu, sepertinya aku akan mati … tolong sampaikan pada Wang Yue jika selama hidupku aku hanya akan mencintainya," tutur Xing'er lesu.
"Apa yang kau katakan," ketus Mu Yu khawatir kemudian mengecek nadi di tangannya dan menghela napasnya dalam.
"Mu Yu, maafkan aku karena aku tidak bisa menepati janjiku untuk membawamu ke duniaku dan mengenalkanmu pada dunia medis modern, sampaikan salamku juga pada Suan gege da—,"
"Nona berhentilah membual, kau tidak akan mati lukamu bahkan tidak dalam … ayo bangun dan pulang," sela Mu Yu,memotong ucapan Xing'er.
Kedua mata Xing'er membulat, ia buru-buru bangun dan duduk. "Benarkah?"
"Ya, lukamu hanya goresan saja."
Xing'er menghela napasnya lebih dalam dan menekuk wajahnya.
"Kenapa?"
Gadis itu melirik pada Mu Yu. "Tidak apa-apa … eh, Mu Yu bisakah kau katakan pada Wang Yue jika aku terluka parah," kata Xing'er tersenyum konyol.
"Hah?"
"Aiya, ikuti saja yang aku katakan barusan ya please," pinta Xing'er memohon.
"Baiklah, tapi sebagai imbalannya kau harus memberikanku mie instan di tasmu."
"Hao le," jawab Xing'er bangkit dari duduknya dengan penuh semangat.
"Kalau begitu, ayo kembali kau harus menceritakan apa yang terjadi padamu barusan," tutur Mu Yu.
Sejujurnya Mu Yu merasa risih dan tidak berani, tetapi Xing'er terus merengek dan dia takut jika Xing'er akan mengadu yang tidak-tidak pada Han Wang Yue terpaksa menurutinya, sebab akhir-akhir ini Mu Yu melihat kedekatan antara Wang Yue dan Xing'er tampak tidak biasa.
Sambil menggendong Xing'er, sepanjang jalan Mu Yu terus mendengarkan cerita Xing'er yang dikejar oleh orang asing dan berakhir dengan cerita Xing'er yang menyukai Wang Yue saat pandangan pertama.
Bisa dibilang 10% menceritakan kejadian lumbung terbakar, dan sisanya pengungkapan perasaan terhadap Han Wang Yue.
Flashback off.
"Apa kau tidak menemukan petunjuk siapa orang itu?" tanya Wang Yue.
Xing'er menggelengkan kepalanya.
Han Wang Yue tampak berpikir sejenak sebelum kembali mengusap tangan Xing'er dan menyuruh gadisnya itu untuk beristirahat.
"Abao, sudah aku bilang jangan pergi tanpa sepengetahuan ku seperti ini lagi apa kamu paham?"
"Apa sekarang kau sedang benar-benar mengkhawatirkan ku?" goda Xing'er tersenyum.
Wang Yue membalas senyuman Xing'er. "Tentu saja, kau ini calon istriku aku tidak mau jika kau kenapa-kenapa."
Kedua mata Xing'er kembali membulat, ekspresi senangnya seakan tak bisa dia sembunyikan kala mendengar jika Wang Yue mengakui dirinya sebagai calon istrinya.
__ADS_1
"Mu Yu, kau dengar itu kau harus mengingat dengan baik jika mulai detik ini aku adalah calon istri putra mahkota," celoteh Xing'er kegirangan.
Mu Yu hanya mencebikkan bibirnya. "Baiklah aku akan mencatatnya, tapi jangan lupa mie ku ya."
Xing'er tersenyum senang sambil menatap Han Wang Yue yang juga menatapnya sambil menyunggingkan kedua sudut bibirnya.
.
.
.
.
***
Penginapan Han Zhaoyang.
Seorang tabib sedang memeriksa keadaan Nansu yang terluka, usai memeriksanya tabib dengan jenggot putihnya itu menghampiri Zhaoyang dan memberi hormat.
"Pangeran, luka yang dialami olehnya lumayan parah dan memerlukan waktu beberapa Minggu untuk memulihkan ... saya akan membuatkan resep obat agar lukanya cepat mengering," tutur sang tabib.
Han Zhaoyang hanya mengangguk. "Rahasiakan ini dari semua orang."
"Baik yang mulia," pamit tabib meninggalkan penginapan Han Zhaoyang.
Pangeran pertama itu menghampiri ranjang Nansu dengan wajahnya yang datar.
"Maafkan saya pangeran, saya tidak berhasil menangkap wanita itu," ucap Nansu sambil meringis kesakitan.
"Biarkan saja, selagi kau tidak menunjukan siapa dirimu wanita itu tidak akan tahu jika pelakunya adalah kau," timpal Zhaoyang disambut dengan anggukan kepala Nansu.
"Apa kau tahu siapa orang yang membantunya?"
"Saya tidak tahu, pria itu mengenakan cadar tapi dari seni bela diri dan pedangnya sepertinya itu berasal dari dajing."
"Dajing?" Zhaoyang menyipitkan matanya, memikirkan apa hubungan Xing'er dengan orang dajing.
"Benar pangeran, selain itu juga dia sempat mengatakan jika dirinya adalah seorang Dewi yang berasal dari masa depan dan dia menunjukan sebuah benda aneh padaku," jelas Nansu.
"Benda aneh? Apa itu?"
"Saya juga tidak tahu, saya baru pertama kali melihatnya dia mengarahkan benda itu padaku dan tiba-tiba sebuah kilat kecil keluar dari benda itu."
Han Zhaoyang semakin penasaran dengan benda yang diceritakan oleh bawahannya itu, ia harus terus menyelidiki Xing'er dan mencari tahu orang dajing tersebut.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.