
Pagi yang cerah menyapa, semua orang mulai bergelut dengan aktifitasnya masing-masing. Do'a selalu terpanjat di awal hari itu, berharap kehidupan yang baik akan dijalani sepanjang hari ini.
Rianti menyiapkan segala keperluan Nathan, sudah satu bulan dia menjalani rumah tangganya. Semuanya baik-baik saja, perannya sebagai seorang istri dan wanita pekerja dijalaninya dengan seimbang.
Rianti yang bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit swasta ternama di kotanya yang merupakan milih sahabatnya, sejak menikah mulai menyesuaikan diri dengan jadwal kerjanya. Dia selalu berusaha menghindari tugas malam, kalaupun dia kebagian tugas malam Rianti menukarnya dengan teman sejawat lainnya.
Setelah menikah prioritasnya adalah keluarganya. Rianti memastikan dirinya pergi bekerja setelah Nathan pergi dan sudah ada di rumah sebelum Nathan kembali padahal Nathan tidak pernah menuntut apapun darinya, tapi Rianti berusaha menjadi istri yang baik untuk suaminya.
Semakin kesini Nathan semakin manis memperlakukannya. Tak jarang merekapun menghabiskan waktu libur di akhir pekan dengan pergi berdua ke tempat-tempat yang romantis. Hal itu sungguh membuat Rianti semakin jatuh cinta pada suaminya. Dalam hati selalu bertekad untuk mengabdikan seluruh hidupnya untuk laki-laki yang telah bertitel suaminya itu.
Memang benar kata orang, wanita itu simpel di awal dia akan memperlakukanmu sebagaimana dia ingin diperlakukan dan lama kelamaan dia akan memperlakukanmu sebagaimana kamu memperlakukannya.
Nathan pun semakin tidak bisa tanpa Rianti, istrinya itu selalu paling tahu apa yang dia butuhkan. Semenjak menikah Nathan bahkan tidak betah jika harus lama-lama berada di kantor. Tak jarang dia memilih membawa pekerjaannya yang belum selesai ke rumah daripada harus lembur di kantor.
"Sayang, hari ini mas akan pelang terlambat" Nathan keluar dari kamar mandi, dia meraih baju yang sudah disiapkan Rianti di atas tempat tidur.
"Oya, ada pekerjaan lebih?" tanya Rianti yang membantu suaminya itu memasangkan kancing kemejanya.
"Ada investor yang akan datang dari luar negeri, mereka meminta aku yang menjemputnya langsung" jelas Nathan sambil menatap wajah Rianti yang semakin hari semakin terlihat cantik di matanya.
"Kamu gemukan ya?" tanya Nathan refleks dia menangkup kedua pipi Rianti dan mengecup bibirnya sekilas.
"Iya Mas, kemarin aku cek berat badan naik dua kilo lho" Rianti meraih dasi dan mulai memasangkannya di leher Nathan.
"Kenapa, kamu gak suka? Nanti aku diet lagi deh biar..."lanjut Rianti,
"Enggak, aku suka kamu yang kayak gini, biarin aja gini awas jangan diet diet" Nathan buru-buru memotong perkataan istrinya itu sambil tangannya merambah ke area favoritnya,
"Aduh Mas ..." pekik Rianti meringis karena Nathan menggodanya,
__ADS_1
"Pokoknya jangan pikirkan berat badan, aku suka kamu apa adanya" Nathan yang sudah siap dengan stelan kerjanya berjalan merangkul bahu Rianti menuju ke ruang makan.
"Kak, kami sudah selesai sarapan. Kami pamit duluan ya" Andhika dan Riadi yang masih tinggal bersama mereka berpamitan lebih dulu, mereka berangkat sekolah berboncengan menggunakan motor karena mereka sekolah di tempat yang sama.
"Hati-hati ya, semoga Allah mudahkan kalian dalam menuntut ilmunya" do'a Rianti setiap pagi ketika kedua adiknya pamit untuk pergi ke sekolah. Andhika sebentar lagi akan lulus sementara Riadi naik ke kelas sebelas.
"Kak" keduanya pun beralih menyalami Nathan,
"Good luck buat kalian berdua" tak lupa Nathan pun memberikan motivasi.
"Oya...uang saku kalian sudah kakak transfer ya"
"Wah Kak, terima kasih banyak" mereka berdua segera merogoh saku bajunya dan mengeluarkan ponsel, keduanya mendapat notif yang sama jika ada transferan yang masuk ke rekening mereka,
"Itu buat satu bulan ya" jelas Nathan mengingatkan,
"Hah?" keduanya melongo karena kaget, transferan uang yang mereka terima bahkan cukup untuk beberapa bulan ke depan. Sebelumnya mereka bahkan belum pernah memiliki saldo rekening sebesar itu.
"Biasa saja sayang" balas Nathan tak kalah berbisik.
"Terima kasih Kak" keduanya kompak mengucapkan terima kasih pada kakak iparnya itu,
"Semoga rezeki kakak semakin berlimpah, usahanya semakin maju dan berkembang" Riadi adik bungsu Rianti menimpali dengan untaian do'a dan diaminkan oleh semua orang.
Mereka berdua pun berangkat dengan hati yang berbahagia, tinggallah sepasang suami istri yang mulai menikmati hidangan sarapan paginya.
"Sayang, kamu yakin enggak mau pindah dari sini? Kita bisa membeli rumah yang lebih besar lho" Nathan memulai obrolan sambil menikmati sarapannya,
"Kalau mas nyaman gak di sini?" Rianti balik bertanya sebelum menjawab pertanyaan suaminya itu.
__ADS_1
"Aku sih nyaman-nyaman aja" jawab Nathan santai,
"Kalau Mas memang nyaman di sini aku pikir rumah ini pun cukup besar untuk kita. Kalau Mas ada niat beli rumah sebaiknya ditabung saja dulu siapa tahu nanti dibutuhkan" Rianti menjawab dengan lembut, dia selalu berpikiran panjang untuk hal-hal yang dianggap mudah bagi Nathan.
"Tenang sayang, uangku tidak akan habis kalau hanya untuk beli rumah" Nathan terkekeh mendengar usulan Rianti,
"Bagus kalau begitu, jadi anak cucu kita tidak akan kelaparan" Rianti berkata begitu saja, bahkan tanpa menoleh pada Nathan, dia santai melanjutkan sarapannya.
Berbeda dengan Rianti yang tampak biasa, Nathan justru menghentikan makannya, dia menoleh ke arah istrinya itu.
"Kenapa Mas?" menyadari Nathan menatapnya Rianti pun menghentikan makannya.
"Sayang, kamu mau punya anak?" pertanyaan Nathan membuat Rianti tertegun, pasalnya suaminya itu bertanya dengan wajah datar dan Rianti tidak mampu menebak apa yang ada di pikiran suaminya saat ini.
"Kenapa Mas bertanya begitu?" bukannya menjawab, Rianti justru balik bertanya.
"Kami kebiasaan selalu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan" Nathan mengalihkan pandangannya, dia kembali berbalik menghadap sarapannya yang tinggal sedikit.
"Karena jawaban kamu akan mempengaruhi jawabanku Mas" ucap Rianti lirih,
Selama ini Nathan memang memperlakukan dirinya sangat baik. Mereka hidup seperti layaknya suami istri. Namun setiap kali pembicaraan mereka mengarah tentang anak Nathan seperti menghindarinya.
Rianti pun tidak pernah mempermasalahkannya, dia tidak mau ambil pusing perihal anak, toh selama ini rumah tangganya dengan Nathan baik-baik saja. Sampai saat ini Nathan bahkan belum pernah menyatakan cinta untuknya namun dengan sikap Nathan dirinya begitu merasa dicintai, dan hal itu cukup untuknya. Rianti selalu berusaha menjaga keharmonisan rumah tangganya, dia tidak ingin membuat Nathan terbebani dengan hal-hal receh walaupun itu mengganjal hatinya.
"Aku sih sudah bahagia dengan kita berdua" jawab Nathan tanpa menoleh.
"Boleh aku bicara lebih Mas?" Rianti kembali bertanya sebelum menanggapi ucapan suaminya,
"Maksud kamu apa?"
__ADS_1
"Aku minta izin untuk berbicara banyak hal hari ini, boleh?" dengan tatapan hangat dan nada bicara yang lembut Rianti bertanya. Dia melirik jam di tangannya, masih ada waktu satu jam untuk Nathan pergi ke tempat kerjanya.
"Bicaralah" Nathan mengelap mulutnya dengan tissue setelah menghabiskan nasi goreng kesukaannya dan meneguk air putih hangat hingga gelasnya kosong.