Kupilih Pintu Surga Yang Lain

Kupilih Pintu Surga Yang Lain
Positive Thinking


__ADS_3

Seorang laki-laki tengah berdiri di balkon kamar, tatapannya menembus pekatnya langit malam yang tak berhias bintang. Malam ini langit yang hitam pekat seolah menggambarkan hatinya yang juga tengah hampa, gelap tanpa arah.


Asap rokok terus mengepul membumbung tinggi, entah sudah berapa batang rokok yang telah berubah menjadi kepulan asap itu. Sudah cukup lama dia berdiri di sana bertemankan rokok padahal waktu sudah semakin merangkak menuju akhir hari dan bersiap menyambut hari baru.


Nathan mendongak menatap langit, bayangan Rianti kembali dilihatnya dengan jelas. Bibirnya tersenyum membalas senyuman Rianti yang begitu dirindukannya.


Hiks.... Nathan seketika menunduk dengan tangis yang tak tertahan. Dia sadar apa yang dilihatnya barusan hanya fatamorgana.


"Ketika aku memikirkanmu, kerinduanku semakin membuncah. Memikirkan senyummu yang selalu muncul di wajahmu, membuatkan semakin merasakan penyesalan. Jika dulu hatiku menghangat ketika disambut senyumanmu, kini yang ada hanya rasa sesak." Nathan menghapus kasar air mata yang membasahi pipinya,


"Perasaan terbaikku adalah ketika bersamamu. Hadirmu seketika mampu hilangkan cemasku. Kamu selalu bisa membuatku tersenyum setiap hari karena cintamu yang begitu tulus."


"Sekarang kamu tidak ada lagi di sini. Padahal mataku ingin melihatmu, tanganku ingin menggenggammu, tapi aku harus kecewa karena kini itu semua tidak mungkin. Aku telah pergi, kenapa kamu tega pergi Ri, pergi meninggalkan aku dengan segala penyesalanku?"


"Aku sakit Ri, sakit karena kerinduanku yang mendalam padamu. Kamu jahat Ri, kenapa kamu meninggalkanku? Hiks..." air mata kembali menetes begitu saja dengan isak tangis tertahan, Nathan benar-benar tidak mampu menahan dirinya lagi. Hatinya terus bermonolog dengan dada yang semakin terasa sesak.


Semenjak hakim mengetuk palu, pertanda Nathan sudah resmi bercerai dengan Rianti, sejak saat itu Nathan seolah kehilangan arah hidupnya. Dia merasa tersiksa, yang menjadi ketersiksaannya akan sebuah kehilangan adalah rasa lekat pada wanita yang sudah sah menjadi mantannya itu yang sekarang sudah tidak ada lagi di dekatnya.


"Mas..." sepasang tangan tiba-tiba melingkar di pinggangnya, panggilan mesra yang diharapkan didengarnya dari wanita yang sedang dirindukannya hanyalah halusinasi.


Nathan buru-buru menghapus sisa air mata di pipinya, dia berusaha bersikap biasa tidak ingin menunjukkan apa yang sedang dirasakannya.


"Kenapa keluar? di sini dingin" ucap Nathan yang akan berbalik namun di tahan oleh Mikha.


"Biarkan dulu seperti ini, Mas." Mikha menahan tubuh Nathan agar tetap pada posisinya, Nathan pun pasrah.

__ADS_1


"Kamu merindukannya?" tanya Mikha lembut, dia ingin memastikan jika perubahan sikap suaminya beberapa hari ini adalah karena masih mengingat wanita yang sudah menjadi mantan istrinya.


Nathan diam, dia enggan menjawab. Tidak ingin mengatakan iya namun juga tidak sanggup jika harus mengatakan tidak. Maka diam adalah pilihannya saat ini.


Tentu saja Mikha menyimpulkan diamnya Nathan artinya iya, dia menarik nafasnya dalam sebelum melanjutkan berbicara.


"Lupakan dia Mas, kamu hanya punya aku sekarang, dan rasakanlah ada anak kita di rahimku. Ini adalah buah cinta kita berdua yang akan menjadi pengikat kita hingga kelak menua bersama." Mikha berusaha tenang, dia sangat faham bagaimana harus menaklukan Nathan dalam keadaan seperti ini.


"Aku tahu tidak mudah menghapus nama seseorang yang pernah singgah di hati kita. Namun kamu pasti bisa mas, aku akan membuatmu melupakannya. Ingat mas, lebih banyak waktu yang sudah kita lewatkan berdua bahkan lebih banyak dari kebersamaanmu dengan dia. Dia hanya hadir sesaat di tengah-tengah kita, dan sekarang dia sudah pergi karena memang bukan di sini tempatnya." Mikha meremas dada Nathan saat mengatakan kalimat terakhirnya,


Nathan hanya memejamkan mata, dia tidak tahu harus berkata apa.


"Sekarang ayo kita lewati malam ini berdua" bisik Mikha lirih tepat di telinga Nathan, dia pun sengaja menghembuskan nafasnya tepat di tengkuk Nathan.


Nathan berbalik, dia menatap wanita yang kini sudah mengalungkan dua tangannya di leher Nathan.


Ranjang king size yang dulu merupakan tempat tidur yang ditempati Rianti pun menjadi pelabuhan terakhir dua insan memulai petualangan malamnya.


Di waktu yang bersamaan, Rianti tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Rencana kepergiannya dari kota yang memberinya banyak kenangan manis dan pahit itu harus tertunda karena hasil pemeriksaan dokter dirinya harus bed rest untuk menjaga kandungannya.


Kelelahan dan stres yang dialaminya karena masalah yang tengah dihadapinya nyatanya berpengaruh besar pada kekuatan kandungannya.


"Kenapa? Kamu haus?" Tiara yang malam ini menemani Rianti di rumah sakit pun turut terbangun. Setelah meminta izin pada sang suami dan anak-anak tercintanya dia pun diizinkan untuk menemani sahabatnya yang kini hanya sebatang kara.


"Iya Ra" jawab Rianti yang perlahan terbangun dari tidurnya,

__ADS_1


"Jangan bangun, biar aku ambilkan." tegas Tiara yang bergegas bangun dari sofa yang berada tidak jauh dari tempat tidur Rianti.


"Maaf ya Ra, aku jadi merepotkan" ucap Rianti merasa bersalah,


"Aku tidak suka mendengar kamu berbicara seperti itu, justru aku akan sangat tersinggung jika kamu menolak aku untuk menemanimu." ujar Tiara yang kemudian duduk di kursi yang tepat berada di samping tempat tidur pasien.


"Aku jadi merasa gak enak sama Tuan Arzan" lirih Rianti mengatakannya.


"Dia sudah mengizinkan, jangan khawatir." Tiara meyakinkan agar sahabatnya tenang.


"Semoga besok aku sudah bisa pulang"


"Asal kamu sehat, kandungan kamu aman dan janinnya sehat, pasti dokter mengizinkan" Tiara berusaha memotivasi sahabatnya itu.


"Insya Allah aku akan menjaganya dengan sebaik-baiknya. Setidaknya aku tidak sendiri lagi mulai sekarang." balas Rianti sambil mengelus perutnya yang masih tampak rata.


Setelah diperiksa lebih lanjut oleh dokter spesialis kandungan, sang dokter mengatakan jika usian kandungan Rianti jalan delapan minggu.


"Alhamdulillah, semuanya sudah Allah atur dengan skenario terbaiknya. Percayalah, Allah lebih tahu yang terbaik untuk kita. Semua takdirNya baik, walau kadang harus ada air mata dan luka saat kita menjalaninya, namun percayalah, semuanya akan indah pada waktunya." Tiara menggenggam erat tangan Rianti seolah mengalirkan kekuatan pada sahabatnya, melalui sorot matanya Tiara seolah ingin meyakinkan pada Rianti bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Keduanya pun saling berpelukan, melalui bahasa tubuh kedua saling menguatkan.


Setelah mengetahui perihal kehamilannya, Rianti sudah memantapkan hati untuk berdamai dengan dirinya sendiri, siap menerima kenyataan tanpa harus membenci keadaan. Dia yakin Allah tidak akan memberinya beban melebihi batas kemampuan dirinya, Allah bahkan berikan ujian sepaket dengan kekuatannya untuk menjalani proses kehidupan ini, Rianti pun percaya jika kehadiran makhluk baru di rahimnya adalah tanda nyata kasih sayang Allah yang sangat besar untuknya.


Memilih berpikiran positif atas semua yang tertakdir dalam hidupnya ternyata membuat hatinya lebih tenang. Besi bisa hancur karena karatnya sendiri, dan manusia juga bisa hancur dengan pola pikirnya sendiri, Rianti percaya itu.

__ADS_1


Berdamai dengan diri sendiri adalah proses dalam hidup, karena setiap manusia bertugas untuk bertumbuh. Bukan untuk sempurna, tetapi untuk menjadi dewasa.


__ADS_2