
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh" ucapan salam menjadi pamungkas shalat dzuhur berjamaah yang dilanjutkan shalat sunnah dua rakaat Rianti bersama Nathan.
Shalat berjamaah pertama setelah dirinya sah berstatus istri dari seorang Nathan Alzaidan. Seorang pengusaha muda yang dia kenal tanpa sengaja.
"Mas..." Rianti meraih tangan Nathan dan diciumnya penuh hidmat, dalam hati berucap syukur betapa dirinya beruntung dengan kehidupannya saat ini.
Kehidupan telah mengajarkannya berbagai hal, dia dituntut menjadi kuat demi orang-orang tercintanya. Bertemu dan menikah dengan Nathan adalah anugerah terindah dalam hidupnya, perlahan kehidupannya membaik dan berharap kebahagiaan semakin datang bertubi dalam rumah tangganya.
Nathan melepas baju koko yang digunakannya untuk shalat, dia meraih baju kaos yang disediakan Rianti di atas tempat tidur. Baru saja dirinya hendak merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil menunggu Rianti yang sedang mengambil air minum, teleponnya berdering.
"Sekarang aku tidak bisa" suara Nathan terdengar saat Rianti memasuki kamarnya, dia sedang menerima telepon.
"Tidak, ini bukan urusan pekerjaan" entah apa yang dikatakan orang yang meneleponnya, Rianti hanya diam mendengarkan, menaruh gelas berisi air putih di atas nakas yang ada di samping tempat tidurnya dan membiarkan Nathan menyelesaikan urusannya.
"Sorry aku gak bisa" tatapan Nathan beralih pada Rianti yang duduk di kursi yang ada di depan meja riasnya, menunggu dirinya yang sedang menerima telepon.
"Apa? tapi..." wajah Nathan berubah panik,
"Iya iya aku akan segera datang" pungkas Nathan mengakhiri teleponnya, diapun mematikan sambungan telepon itu dan berdiri meraih kemeja dan celana panjang untuk dipakainya.
"Ada apa Mas?" tanya Rianti penasaran,
"Aku harus pergi, ada sesuatu yang harus aku urus" jawab Nathan buru-buru, dia mengedarkan pandangan mencari kunci mobilnya.
"Ini kunci mobilnya"" Rianti mengulurkan tangannya yang memegang kunci mobil yang baru diambilnya dari atas meja rias.
__ADS_1
"Terima kasih" ucap Nathan, dia meraih kunci dari tangan Rianti dan segera berjalan menuju pintu keluar.
Tidak ada penjelasan, Rianti pun terdiam dia menatap punggung Nathan yang menjauh.
Ceklek....Nathan menghentikan gerakannya membuka pintu kamar, dia sepertinya lupa jika saat ini sedang bersama Rianti, wanita yang sudah dinikahinya beberapa jam yang lalu dan sah menjadi istrinya.
"Maaf" Nathan membalikkan tubuhnya, dia berjalan menuju Rianti dan memeluknya.
"Aku akan segera kembali" lanjut Nathan tanpa penjelasan kemana dia akan pergi, Rianti pun hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan tatapan penuh tanya namun untuk bertanya lidahnya terasa kelu.
"Kak Nathan belum pulang Kak?" Andhika adik Rianti bertanya, saat ini mereka bersiap untuk menikmati makan malam.
Formasi makan malam mereka pun tidak jauh beda dari sebelumnya, Rianti duduk di antara kedua adiknya. Tidak ada yang berubah, padahal tadi pagi kakak perempuannya itu baru saja menikah.
"Belum" jawab Rianti singkat, dia menyendok nasi untuk kedua adiknya dan menaruh lauk kesukaan kedua adiknya itu, udang asam manis dan cah brokoli.
Rianti pun mengambilkan kerupuk untuk adiknya dan dibalas dengan senyuman manis sang adik. Sejak dulu Rianti memang lebih dekat dengan Riadi adik bungsunya, bukan pilih kasih tapi mungkin karena usia Riadi yang terpaut jauh membuat adik bungsunya itu lebih manja.
"Harusnya saat ini kalian bersama, ini hari pernikahan kalian. Memangnya sesibuk apa sih pekerjaan Kak Nathan itu? Sampai dia lebih memilih pekerjaan daripada Kakak?" nada ketus terdengar dari perkataan Andhika, sejak dulu adik pertama Rianti itu memang paling sensitif dengan hal yang berhubungan dengan kakaknya.
"Dhik..."
"Gapapa Kak, biarin aja, kalau kak Nathan gak ada kan kita masih diurusi sama Kakak, kalau Kak Nathan ada fokus Kakak pasti ke Kak Nathan bukan lagi sama kita" adik kedua Rianti menyela, walaupun manja tapi dia selalu menjadi pemecah suasana, paling bisa mengambil hati kedua kakaknya dan membuat mereka kembali tersenyum.
"Kami bisa aja dek, walau pun ada Kak Nathan kalian tetap akan kakak urusi juga" balas Rianti dengan senyum, dia pun mengusap puncak kepala adik bungsunya itu penuh sayang.
__ADS_1
"Tapi kan tetap Kak Nathan yang harus jadi prioritas Kak, kata guruku kalau seorang perempuan sudah menikah surganya itu ada pada suaminya selama suaminya ada dalam kebaikan dan tidak keluar dari syariat agama" Riadi kembali berbicara sebelum kemudian dia memasukan suapan nasinya.
"Masya Allah adik Kakak luar biasa" puji Rianti dengan senyum penuh bangga.
"Bagaimana ujian kalian tadi di sekolah" obrolan mereka pun beralih topik, seperti biasa makan malam selalu dijadikan Rianti untuk saling mendengarkan. Mereka berbagi hal yang selama siang tadi mereka lalui, Rianti selalu menjadi pendengar setia, dengan senang hati menanggapi setiap hal yang diceritakan kedua adiknya itu.
Makan malam mereka pun berlanjut dengan penuh kehangatan seperti malam-malam sebelumnya, kebersamaan mereka tetap terjaga.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Rianti yang memilih berada di kamarnya menunggu Nathan memutuskan untuk keluar kamar. Ponsel di genggamannya tidak dia lepas, berharap akan ada kabar dari laki-laki yang sudah menikahinya tadi pagi. Namun sayang, sampai tengah malam tak ada satu pun pesan atau telepon masuk dari Nathan.
Rianti duduk di ruang tamu, menunggu kedatangan suaminya hingga akhirnya dia terlelap di atas sofa dengan posisi duduk.
Ceklek....suara pintu terdengar ada yang membuka dari luar, entah darimana Nathan memiliki kunci cadangan rumah itu. Pelan-pelan dia membuka pintunya, takut jika mengganggu para penghuni rumah yang dipastikan sudah tidur karena saat ini waktu sudah menunjukkan pukul satu pagi.
Deg...
Nathan tersentak saat mendapati Rianti tengah tertidur dengan posisi duduk di sofa di ruang tamu. Tepat setelah dia menutup pintu pemandangan yang membuat rasa bersalah di hatinya mencuat terlihat jelas.
Nathan berjalan pelan ke arah Rianti berada, dia pun berjongkok dan mengamati wajah tenang wanita yang tengah tertidur dengan pulas, wanita yang tadi pagi dia nikahi namun siang harinya kemudian dia tinggalkan begitu saja karena mendapat telepon dari seseorang yang seharusnya bukan lagi prioritasnya.
"Maaf" Nathan menyusuri wajah Rianti dengan jarinya,
"Eumh..." suara lenguhan terdengar, Rianti merasa ada yang menyentuhnya.
"Dhika, Adi kalian tidur aja duluan kakak masih menunggu suami kakak" Rianti mengigau, kata-kata yang diucapkan Rianti semakin membuat tidak enak hati. Dia pun memutuskan untuk menggendong Rianti dan membawanya ke kamar.
__ADS_1
"Hah...." Rianti seketika membuka mata saat merasakan seseorang menggendong tubuhnya, dengan tatapan tak percaya dia kini sudah berada dalam gendongan Nathan.
"Mas...."