Kupilih Pintu Surga Yang Lain

Kupilih Pintu Surga Yang Lain
Makan Siang Terindah


__ADS_3

Dihancurkan keadaan, dipatahkan oleh kenyataan dan dihantam oleh kerasnya beban pikiran. Mungkin inilah gambaran keadaan Rianti saat ini.


Semenjak Mikha mengabarkan jika dirinya sedang mengandung, dia semakin sering datang ke rumah Rianti dengan alasan karena ingin selalu berdekatan dengan Nathan, mungkin itu bawaan bayi katanya. Sementara dia pun tidak enak dengan Rianti jika harus meminta Nathan untuk datang setiap malam ke apartemennya dan menungguinya hingga terlelap tidur. Mikha pun akhirnya memutuskan untuk sesekali datang dan menginap di sana di rumah Rianti.


Rianti tidak bisa menolak, apalagi Nathan pun tampaknya tidak bisa menentukan keputusan. Akhirnya hanya mempersilahkan yang bisa Rianti lakukan pada permintaan madunya itu.


Berada dalam situasi saat ini sungguh membuat Rianti sangat tidak nyaman. Nathan semakin menunjukan perhatiannya pada Mikha, kehamilan Mikha tentu menjadi alasan. Suaminya itu bahkan sampai memohon agar Rianti mengerti dengan keadaan madunya yang kini lebih membutuhkan perhatian suaminya itu.


"Ternyata sakit mas, sakit...." Rianti kembali menutup pintu kamarnya, dia memilih menumpahkan air matanya di atas tempat tidur. Urung untuk keluar saat tidak sengaja melihat Mikha sedang tertidur di pangkuan Nathan sambil tangan Nathan mengelus perut wanita itu dengan penuh kelembutan. Sesekali tawa keduanya terdengar sangat bahagia.


Rianti pernah meminta agar Nathan tidak terlalu menunjukkan kemesraannya dengan Mikha jika di hadapannya karena walau bagaimanapun Rianti tidak bisa menahan rasa cemburunya, dengan jujur Rianti mengatakannya berharap suaminya lebih peka pada perasaan hatinya yang cemburu melihat perlakuan suaminya pada Mikha.


Jika boleh jujur saat ini ingin sekali Rianti pun mengatakan pada Nathan jika dirinya bukan hanya cemburu namun juga insecure karena sampai saat ini tak kunjung hamil. Merasa diri tidak berharga itulah yang justru semakin menggerogoti hati Rianti.


"Aku punya hati dan juga punya kaki Mas, jika kamu tidak tahu caranya menghargai, kaki ku tahu caranya untuk melangkah pergi." Rianti berkata pada dirinya sendiri, dia pun mengusap kasar air mata yang sejak tadi tidak berhenti keluar.


Malam harinya Rianti terbangun karena belaian yang mengusiknya.


"Eummh...mas..." Rianti menggeliat, dia melihat suaminya tengah mengungkungnya, walau matanya belum terbuka sepenuhnya.


"Maaf aku membangunkanmu" ucap Nathan dengan senyum merekah,


"Jam berapa ini?" tanya Rianti dengan suara serak khas bangun tidur.


"Masih malam baru jam satu sayang" Nathan menelusupkan wajahnya ke ceruk Rianti yang langsung tersadar penuh dari tidurnya.


"Mas.." Rianti menghindar,


"Istrimu sudah tidur?" tanya Rianti sembari berusaha bangun dari tidurnya. Hari ini dia sangat lelah karena pekerjaannya di rumah sakit, belum lagi pemandangan di rumah yang selalu membuat dadanya sesak, alhasil selepas Isya dia memutuskan untuk tidur dan melewatkan makan malamnya.


"Kamu juga istriku sayang" tanggap Nathan mengabaikan pertanyaan Rianti,


"Aku mau bicara serius mas..."

__ADS_1


"Aku merindukanmu sayang" tatapan mata Nathan sangat mendamba.


"Mas..."


"Aku mohon sayang, aku sangat merindukanmu" Nathan semakin melancarkan aksinya,


Rasa bersalah pun timbul di hati Rianti, beberapa hari ini suaminya sangat sibuk dengan istri keduanya yang sedang hamil, malam ini dia datang padanya dan bilang jika dia merindukannya. Ingin sekali Rianti menolak, namun secara hukum agama dan negara dia pun masih berstatus istri Nathan. Berdosa jika dia menolak permintaan suaminya tanpa alasan yang jelas.


Nathan semakin tidak terkendali, saat Rianti masih larut dalam lamunannya, dia justru semakin melancarkan aksinya.


"Mungkin ini akan menjadi momen berharga sebelum kami berpisah. Baiklah, untuk terakhir kalinya aku akan menunaikan kewajibanku sebagai istrimu, Mas." batin Rianti yang kemudian dia pun larut dalam belaian mesra suaminya.


Setelah cukup banyak berpikir, menimbang segala kemungkinan yang akan terjadi Rianti memutuskan untuk mundur dari pernikahannya. Dia akan memintanya baik-baik pada Nathan, berharap semuanya berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan.


Setelah cukup merefleksi dirinya, Rianti semakin menyadari jika dirinya memang belum mampu menjalani pernikahan poligami. Dia tidak ingin terus berdosa karena ketidak ikhlasannya dalam berbagi, walau bagaimanapun menikahi dua atau tiga bahkan sampai empat perempuan dibolehkan bagi laki-laki dalam agama dengan catatan mampu untuk adil, namun sepertinya dia belum terdidik untuk menjadi wanita yang bisa menjadi bagian dari sunnah itu.


Tepat pukul tiga mereka selesai dengan urusannya, di saat yang bersamaan keduanya pun mendengar teriakan Mikha yang memanggil nama Nathan.


Dengan sigap Nathan pun segera beranjak dari tempat tidur setelah sekilas mencium kening Rianti.


"Hufft..." hembusan nafas Rianti terdengar kasar, dia pun memejamkan mata dengan air mata yang meleleh membasahi bantalnya.


Alih-alih bisa tidur, kumandang adzan awal akhirnya mengajak Rianti untuk terbangun, dia pun menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan setelahnya di atas sajadah menjadi tempat ternyaman untuknya mengadukan segala keluh dan rasa.


☘️☘️☘️


Ting....


Notifikasi pesan masuk membuat Nathan yang sedang fokus pada berkas di tangannya teralihkan. Dia tahu jika ada pesan masuk dari Rianti, sengaja Nathan menyetting notifikasi khusus untuk setiap pesan maupun panggilan masuk dari istri pertamanya itu.


'Assalamu'alaikum. Mas, maaf mengganggu waktu kerjanya. Jika berkeluangan waktu di jam istirahat siang ini, bisakah kita bertemu? Ada yang mau aku sampaikan, namun jika Mas sedang sibuk, tidak perlu memaksakan.'


Nathan mengerutkan kening setelah membaca pesan istrinya, hatinya sedikit mencelos bagaimana bisa istrinya mengiriminya pesan dengan formal begitu, seperti pada orang lain saja, pikirnya.

__ADS_1


"Sayang, kamu dimana?" Nathan lebih memilih menelepon Rianti, dia tidak ingin membuat istrinya terasa semakin menjaga jarak dengannya.


"Assalamu'alaikum, Mas. Aku sedang ada di taman rumah sakit, habis shalat mau makan siang"


"Wa'alaikumsalam, baiklah aku ke sana sekarang" Nathan berdiri dari duduknya, dia akan tinggalkan pekerjaannya untuk menemui istrinya itu.


"Mas serius bisa datang? Tidak mengganggu waktu bekerjanya?" tanya Rianti hati-hati,


"Tidak sayang, lagian kenapa juga kamu bertanya seperti itu. Aku suamimu Ri, bukan orang lain" intonasi bicara Nathan sedikit meninggi, dia tidak habis pikir dengan pertanyaan istrinya itu.


"Baiklah mas, terima kasih atas waktunya. Aku akan menunggu di taman dekat kantin rumah sakit. Assalamu'alaikum" Rianti pun mengakhiri sambungan teleponnya dengan Nathan.


Sementara di ruang kerjanya Nathan justru termangu, dia berpikir ada sesuatu yang berbeda dari nada bicara istrinya.


Nathan pun bergegas meninggalkan kantornya menuju rumah sakit tempat istrinya bekerja.


Suasana siang cukup terik, namun hembusan angin sepoi-sepoi yang menggoyangkan setiap dedaunan pepohonan di taman rumah sakit membuatnya cukup sejuk.


Rianti menunda makannya, dia memilih menunggu sang suami untuk diajak makan bersamanya.


"Sayang..."


"Assalamu'alaikum, Mas" Rianti meraih tangan Nathan dan mengecup punggung tangannya.


"Wa'alaikumsalam. Maaf, kamu lama menunggu, tadi jalanan macet." Nathan duduk di kursi yang kosong tepat di hadapan Rianti.


Di taman itu memang terdapat beberapa pasang kursi dan meja kecil sekedar untuk menikmati suasana taman atau makan siang seperti yang sering dilakukan Rianti saat ini.


"Mas sudah makan siang?" tanya Rianti sembari membuka bekal makanannya,


"Belum" jawab Nathan sejujurnya,


"Kalau begitu kita makan siang dulu ya?" ajak Rianti dengan senyum manisnya. Tentu saja dengan senang hari Nathan pun menganggukan kepalanya.

__ADS_1


Mereka pun menikmati makan siang berdua di taman rumah sakit itu, dengan Rianti yang menyuapi Nathan sambil mengobrol hal kecil yang kemudian membuat mereka tertawa bersama dan sesekali Nathan menjahili Rianti dengan menahan sendok di mulutnya. Keduanya pun kembali tertawa hingga satu wadah bekal makanan yang Rianti bawa dari rumah kini tandas.


'Terima kasih Mas kamu sudah menyempatkan waktu untuk bersamaku. Ini adalah makan siang terindah yang pernah aku alami bersamamu' gumam Rianti dalam hatinya.


__ADS_2