
Nathan memaku, ingin rasanya dirinya bilang jika telinganya salah mendengar, jika kalimat itu bukan diucapkan oleh istrinya, jika kalimat itu bukan tertuju untuknya.
"Kamu serius?" keheningan yang sempat tercipta pun akhirnya pecah karena pertanyaan Mikha, membuat Nathan seketika tersadar dari lamunannya.
Brakk....tas yang dipegang Nathan yang sudah siap untuk melangkah pergi ke kantor pun terjatuh, dia berbalik menatap Rianti yang tampak mengangguk menanggapi pertanyaan Mikha. Sementara mama Nathan masih diam memerhatikan ketiga anak menantunya dengan ekspresi wajah yang berbeda-beda.
"Kamu jangan ngawur, ikut aku!" titah Nathan seraya meraih tangan Rianti dan menariknya untuk pergi ke kamar mereka.
"Mass..." Rianti meringis karena tangan Nathan yang cukup erat mencekalnya.
Bruk...pintu pun tertutup cukup keras, terlihat Nathan sedang menahan amarahnya.
"Mas..." Rianti semakin tersentak saat Nathan menghempaskannya di atas tempat tidur, Rianti pun membenarkan posisinya, duduk di sisi tempat tidur sementara Nathan tengah mengunci pintu kamar mereka.
"Apa maksud kamu berbicara seperti itu?" tanya Nathan setelah berbalik dengan wajah memerah karena menahan marah. Dia berdiri tepat di hadapan Rianti dengan tangan bertolak di pinggangnya.
__ADS_1
"Maaf mas, aku kalah" ucap Rianti lirih, dia mendongakkan kepalanya, menatap netra yang tengah menahan amarah yang kemudian seketika melembut saat mendengar suara lembut dan bergetar Rianti.
"Ternyata aku belum terdidik untuk bisa ikhlas menjalani kehidupan rumah tangga seperti ini. Maafkan aku mas, tapi aku sudah tidak sanggup lagi rasanya untuk berbagi, aku tidak bisa untuk tidak cemburu melihat kedekatanmu dengan istrimu, mataku tak mampu untuk tidak mengeluarkan air mata kala malam melihat kamu memasuki pintu kamar lain, telingaku tidak cukup kuat untuk mendengar setiap ucapan Mikha yang memujimu, hingga hatiku tak lagi mampu bersabar untuk merelakan semua itu. Maafkan aku mas, sekarang... izinkan aku melepasmu seutuhnya." isak tangis mulai terdengar, Rianti tak mampu lagi menahan air mata yang merangsek ingin keluar dari bendungannya.
"Sayang...." melihat Rianti yang begitu terluka hati Nathan pun merasakan kesakitan yang sama, diraihnya tubuh Rianti yang kini terasa berbeda. Nathan pun seolah tersadar jika tubuh istrinya kini tidak seperti dulu, kini tampak menyusut dari sebelumnya.
Keduanya pun berpelukan, sama-sama menangis mengeluarkan sesak dalam dada masing-masing, air mata pun enggan untuk berhenti menandakan keduanya berat berada dalam situasi ini.
"Aku tidak akan melepaskanmu, sayang. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Hanya kamu satu-satunya yang ada di hatiku, kamu telah memberiku kehidupan baru yang begitu indah untukku, bodohnya aku bila aku melepaskanmu, aku tidak ingin kehilanganmu. Maafkan aku yang tidak tegas selama ini, tolong beri aku kesempatan, aku akan berusaha untuk keluar dari situasi ini secepatnya. Tolong, bertahanlah di sampingku. Bantu aku untuk menyelesaikan semua ini." Nathan berbicara dengan diiringi isak tangis, membuat Rianti pun semakin tak mampu menghentikan tangisannya.
Bertahan atau menyerah, Rianti kembali bimbang. Dia tahu keadaan ini pun tidak diinginkan suaminya, egoiskah dirinya jika memilih menyerah dan mundur? Sementara suaminya tengah berjuang untuk tetap mempertahankan.
"Mas...."
"Aku mohon sayang" perlahan Nathan melepaskan pelukannya, dia menatap Rianti dengan tatapan memohon,
__ADS_1
"Aku mohon, bertahanlah di sisiku. Jangan pernah meninggalkanku, bantu aku untuk secepatnya menyelesaikan masalah ini." tatapan penuh harap kembali terpancar, Nathan mengusap puncak kepala Rianti penuh sayang, perlahan dia pun melayangkan kecupan di kening istrinya itu.
"Aku..."
"Aku tahu kamu pasti sangat terluka, aku berjanji untuk meminta mama dan Mikha kembali ke rumah. Aku pun sedang berusaha meminta pengertian Mikha agar mau lepas dariku."
"Mas..."
"Aku tidak pernah menyentuhnya sayang, hanya kamu yang selalu ada dalam benak dan hatiku walaupun aku sedang bersamanya" Nathan pun akhirnya mengungkapkan semuanya, selama beberapa malam ini dia memang tidur bersama Mikha, namun selepas Mikha terlelap dia lebih memilih untuk tidur di lantai tanpa sepengetahuan siapapun.
"Mas, kamu adalah adalah suaminya, pernikahan kalian sah, dia istrimu juga, halal untuk kamu sentuh. Selain nafkah lahir kamu juga berkewajiban memenuhi nafkah bathinnya, jangan buat dirimu berdosa karena mengabaikan kewajibanmu" ucap Rianti dengan terbata, karena walau bagaimanapun hatinya kembali terasa sesak saat membayangkan kebersamaan suami dan istri keduanya.
"Maaf sayang, aku tidak ingin menyakitimu semakin dalam. Aku sangat mencintaimu" Nathan kembali memeluk Rianti erat. Berkali-kali dia mengecup puncak kepala istrinya.
Entah mengapa, mendapat ungkapan cinta dan pelukan hangat suaminya, hati Rianti kembali menghangat. Entah dia dzalim atau tidak ketika dalam hati kecil berharap Mikha bersedia terlepas dari suaminya.
__ADS_1
Rencana ke kantor Nathan batal, begitu pun Rianti. Keduanya memberi kabar jika hari ini tidak bisa masuk kantor dan memilih untuk menghabiskan waktu berdua di kamar. Mereka pun lupa jika di luar kamar dua wanita tengah menunggu keduanya.