
Tempat baru, harapan baru. Rianti merasa hari ini adalah awal yang baik untuk dirinya mulai menata kembali kepingan hatinya yang sempat berserakan. Dia akan memulai hidup barunya dengan mempersiapkan banyak hal untuk menjadi seorang ibu dengan status single parent. Rianti tahu apa yang dia hadapi ke depannya tidak akan mudah, namun dia yakin selama Allah yang menjadi sandaran tidak akan ada harapan yang percuma.
Garut, menjadi tempat Rianti berada saat ini. Arzan telah bekerja sama dengan salah satu rekan bisnisnya untuk mendirikan rumah sakit di kawasan Garut Selatan, daerah yang cukup jauh dari pusat kota Garut membuatnya setuju untuk membangun rumah sakit yang lengkap dengan segala fasilitasnya di sana.
Selain alasan bisnis sebagai salah satu upaya pengembangan kerajaan bisnisnya di bidang kesehatan, alasan kemanusiaan pun tak kalah menjadi prioritas dari pendirian rumah sakit ini dan tanpa sungkan Arzan langsung menunjuk Rianti untuk menjadi direktur rumah sakit itu.
Kesempatan emas untuk Rianti mengembangkan dirinya sekaligus juga amanah yang sangat besar yang harus diembannya selama dirinya berkarir di dunia kesehatan.
Bermodal sebagai perawat teladan di rumah sakit sebelumnya, Rianti yang sudah banyak belajar selama bekerja di rumah sakit pusat optimis untuk membawa kemajuan dan kebermanfaatan rumah sakit itu untuk masyarakat sekitar.
"Semoga kamu betah ya Ri, aku percaya kamu pasti bisa. Insya Allah aku akan sering berkunjung ke sini. Kamu baik-baik ya di sini, ingat untuk selalu meneleponku, kalau ada apa-apa segera hubungi aku, jangan sungkan ya" Tiara memeluk erat sahabatnya itu sambil berbicara panjang lebar, saat ini mereka tengah pamit setelah mengantar Rianti dan memastikan tempat tinggal Rianti di Garut aman dan nyaman.
Selain rumah sakit Arzan juga membangun mess karyawan. Dua gedung tiga lantai sudah dibangunnya dengan fasilitas berbeda namun tentu saja keduanya sama-sama terbilang cukup mewah. Hanya saja Arzan meminta agar ada sedikit perbedaan antara fasilitas mess yang akan ditempati para dokter dan petinggi rumah sakit dengan mess yang akan ditempati karyawan.
Sebagian dokter dan karyawan yang tinggal di mess adalah mereka yang berasal dari luar Garut, sebelumnya mereka bertugas di rumah sakit pusat dan rumah sakit cabang lainnya yang sudah lebih maju. Mereka sengaja ditawari berpindah tugas untuk memajukan rumah sakit baru tersebut. Sementara karyawan lainnya yang juga tak kalah banyak adalah para putra dan putri daerah yang sengaja direkrut agar dapat mengembangkan rumah sakit itu untuk kemajuan daerahnya.
Rianti mendapatkan kamar yang cukup luas, di lantai 3 dengan fasilitas lift. Tidak hanya kamar tidur, ruangan itu bahkan sudah disekat antara ruang tamu, dapur dan juga ruang makan yang terpisah dengan sekat sedada orang dewasa. Balkon kamarnya pun luas dan langsung menghadap pemandangan laut yang menyejukkan mata. Rianti sangat senang dan langsung betah saat memasuki kamarnya yang sudah lengkap dengan furniturenya.
Seorang wanita yang terbilang belum terlalu sepuh akan menjadi temannya di sana, Tiara sengaja mencari orang yang bisa dipercaya dan bisa diandalkan yang akan menemani Rianti di sana.
"Ini Bu Sumi, dia yang akan menemani kamu di sini. Bu Sumi ini sudah seperti keluarga aku sendiri Ri, dia juga mempunyai putri yang sekarang bekerja sebagai perawat di rumah sakit." jelas Tiara mengenalkan Bu Sumi yang baru datang hari ini setelah dia mengabarkan jika dirinya akan kembali ke Jakarta.
Sengaja Tiara menyiapkan orang kepercayaan keluarganya untuk menjaga Rianti, karena saat ini Rianti harus tinggal sendiri. Kedua adiknya masih harus menyelesaikan pendidikannya di kota lain belum bisa membersamainya.
__ADS_1
Hal yang bukan masalah buat Rianti untuk tinggal sendiri, dia justru memotivasi kedua adiknya untuk semakin semangat dan fokus melakukan apa yang menjadi tugasnya saat ini. Namun keberadaan Rianti yang sedang hamil tidak membuat keduanya cukup tenang untuk meninggalkan sang kakak, akhirnya dengan bantuan Tiara keduanya pun setuju dengan kehadiran Bu Sumi untuk menemani kakaknya di sana.
"Terima kasih Bu sudah bersedia menemani saya." ucap Rianti sopan, tiba-tiba matanya berembun melihat sosok Bu Sumi dia langsung teringat pada mendiang ibunya.
"Sami-sami, Neng" ucap Bu Sumi ramah, dia adalah salah satu keluarga yang dibantu oleh Arzan, sebelumnya suaminya adalah salah satu supir kepercayaan almarhum ayah Arzan di perusahaan, namun karena penyakit bawaan yang dideritanya suami Bu Sumi mengalami sakit dan meninggal. Sejak saat itu Bu Sumi yang mempunyai dua orang anak satu laki-laki dan satu perempuan dibiayai oleh perusahaan Arzan sebagai apresiasi terhadap dedikasi mendiang suaminya yang begitu besar pada sang ayah dan perusahaannya.
"Kalian bisa mengobrol lebih lanjut nanti untuk saling mengenal. Sekarang kami pamit ya?" Tiara memeluk Rianti erat dan mengusap-usap punggungnya seolah memberi kekuatan pada sahabatnya itu.
"Tentu, terima kasih untuk semuanya ya Ra. Kamu selalu ada untukku dan keluargaku. Tuan, terima kasih banyak atas segala bantuannya." ucap Rianti tulus pada Tiara dan Arzan,
"Jangan sungkan, kesejahteraan dan kebahagiaanmu adalah salah satu sumber ketenangan istriku, aku hanya ingin dia tenang tidur, makan dan aktivitas lainnya tanpa harus mengkhawatirkan kamu " jelas Arzan sambil merangkul bahu Tiara dan mengecup puncak kepalanya.
Suami bucin itu tak sungkan-sungkan menunjukkan kemesraannya di hadapan siapapun. Membuat Arga melengos begitu pun kedua adik Liani yang senyum-senyum sendiri melihat perlakuan Arzan pada Tiara.
"Hah?" keduanya kaget, mereka tidak menyangka jika Arga akan memergokinya.
"Iri? nikah boss..." ejek Arzan pada Arga yang lebih memilih berlalu dari ruangan itu dan berpura-pura mencari sesuatu di dapur menutupi wajah merahnya karena sebenarnya dirinya yang tidak tahan melihat kemesraan atasan sekaligus sahabatnya itu.
Semua orang pun tertawa melihat tingkah Arga, baik Tiara maupun Arzan keduanya dapat melihat jika Arga memang menyukai Rianti bahkan jauh sebelum mengetahui perihal Rianti dan Nathan yang sudah menikah, pancaran cinta itu sudah terlihat di mata Arga. Namun, lagi-lagi dia kalah start.
Waktu terus berlalu tanpa ada satu pun yang bisa menjedanya. Sudah enam bulan Rianti berada di Garut. Dengan perut besarnya dia tetap menjalankan kewajibannya bekerja menjadi direktur rumah sakit itu. Walau pun kedudukannya sebagai direktur, namun hal itu tidak membuat Rianti mengambil kesempatan dalam kesempatan. Dia tetap rendah hati dan memperlakukan semua orang sama di matanya.
Tak jarang Rianti bahkan langsung turun tangan membantu para pasien yang sedang membutuhkan bantuan.
__ADS_1
Tidak ada yang tidak mengenal Rianti, sikap ramah dan baiknya membuat semua orang senang jika bersua dengannya.
" Assalamu'alaikum, selamat pagi semuanya!" seru Rianti saat memasuki ruang para perawat yang sedang bersiap melakukan pergantian shift."
"Wa'alaikumsalam, selamat pagi Bu" balas para perawat tak kalah ramah menyambut kedatangan Rianti di ruangan itu,
"Semangat ya yang akan memulai tugasnya. Tetap istiqamah dan semoga sehat selalu, dan untuk yang baru selesai melaksanakan tugas selamat istirahat ya. Jangan lupa mandi dan sarapan, terima kasih atas kerja kerasnya semalam." ucap Rianti diiringi senyum ramah yang selalu menghiasi wajahnya, membuat pancaran kecantikan sang ibu hamil tersebut semakin membuat orang-orang terpesona. Hal sederhana yang rutin dilakukannya namun memberikan dampak positif pada para karyawan dan kemajuan rumah sakit.
Rutinitasnya setiap pagi adalah berkeliling rumah sakit, menyapa setiap pasien dan karyawan yang ditemuinya dengan ramah. Semua orang sangat menyukai Rianti, selain ramah, Rianti juga selalu berbaur dengan berbagai kalangan, tidak memandang status, baginya semua yang bekerja di rumah sakit itu adalah orang-orang berharga yang keberadaannya sangat penting. Dari petugas kebersihan, penjaga sampai jajaran direksi semuanya berperan penting untuk kenyamanan pasien dan kemajuan rumah sakit, menurut Rianti.
Tidak heran jika baru beberapa bulan keberadaannya di rumah sakit itu sudah diterima dengan senang hati oleh semua pihak.
Hari-hari dilalui Rianti di Garut dengan menyenangkan, dia lebih sering menghabiskan waktunya di rumah sakit dan baru akan kembali ke mess nya saat malam menjelang. Bayangan kepahitan di masa lalunya mulai terkikis seiring dengan kesibukannya setiap hari, walau pun tak jarang saat malam menjelang bayangan kenangan indah yang berakhir pahit itu kembali melintasi benaknya.
"Aku pun memilih menyibukkan diri dengan segala lelah yang sengaja tak kuberi jeda, semua kulakukan agar tak ada sisa ruang untukku menangisi sebuah pergi yang mematahkanku tanpa kata iba dan peduli." monolognya dalam hati,
Komunikasinya dengan Tiara tidak pernah absen, begitu pun dengan kedua adiknya. Selama di Garut Rianti tidak lagi mendapat kiriman pesan dari Nathan, dia bernafas lega mantan suaminya menuruti permintaannya. Pesan terakhir yang dikirim Nathan padanya adalah kabar bahwa dia sudah menyiapkan tabungan khusus untuk calon anaknya dan setiap bulan dia akan mengirimkan sejumlah uang untuk keperluan calon anaknya dan juga Rianti.
"Aku sudah siapkan tabungan untuk anak kita, setiap bulannya akan ditransfer untuk kebutuhanmu selama hamil dan juga kebutuhan anak kita nanti. Jangan menolak, dan tolong jaga diri baik-baik dan jaga kan dia juga untukku. Semoga Allah selalu melindungi kalian di saat aku sudah tak mampu lagi menjaga kalian. Maafkan aku, aku mencintai kalian berdua."
Rianti tidak menolak dan hanya membalasnya dengan ucapan terima kasih. Tidak lama sejak itu Rianti pun menerima kiriman kartu ATM lengkap dengan pin dan buku tabungan yang pernah Rianti tinggalkan di rumahnya dulu melalui Arga.
Setiap bulan akan ada notifikasi ke ponsel Rianti laporan transfer masuk ke tabungan itu dengan nominal yang cukup fantastis menurutnya namun sepeser pun Rianti belum pernah mengambilnya karena hanya anaknya nanti yang berhak, pikirnya.
__ADS_1
"Maaf Bu, ada tamu yang menunggu di ruangan ibu." asisten Rianti yang membersamainya datang berbisik, setelah membaca pesan dari sekretaris sang direktur. Rianti pun mengangguk dan berpamitan pada semuanya untuk kembali ke ruangannya.