
'Aku tidak pernah menyentuhnya sayang, hanya kamu yang selalu ada dalam benak dan hatiku walaupun aku sedang bersamanya.'
Kata-kata Nathan kembali terngiang di telinga Rianti, bahkan terus berulang seolah sengaja agar hatinya semakin merasakan sakit saat kembali mengingat kenyataan tentang kehamilan Mikha.
'Aku tidak pernah menyentuhnya sayang'
'Hanya kamu yang selalu ada dalam benak dan hatiku walaupun aku sedang bersamanya.'
'Aku tidak pernah menyentuhnya sayang'
'Hanya kamu yang selalu ada dalam benak dan hatiku'
'Hanya kamu yang selalu ada dalam benak dan hatiku'
'Hanya kamu yang selalu ada dalam benak dan hatiku'
"Kamu sungguh hamil?" suara mama Nathan membuyarkan lamunan Rianti, namun dia masih tak berekspresi, wajahnya tetap datar dengan tatapan yang tampak belum fokus.
"Sayang..." Nathan pun bersuara, dia mendekat ke arah Rianti dengan rasa khawatirnya dan wajah paniknya,
"Alhamdulillah....mama senang sekali, iya kan Pa? Akhirnya kita akan segera punya cucu" pekik mama Nathan setelah mendapat anggukan kepala dari Mikha yang kemudian benar-benar menyadarkan Rianti dari lamunannya.
"Selamat ya sayang? Terima kasih sudah memberi kebahagiaan besar untuk keluarga kami" mama Nathan memeluk Mikha sementara Rianti masih membuka di tempatnya duduk,
"Sayang aku...." Nathan semakin khawatir dia pun berusaha untuk memberi penjelasan pada istrinya itu,
"Selamat Mikha, semoga kamu dan bayimu sehat selalu" kalimat yang terlontar dari lisan Rianti menjeda ucapan Nathan, akhirnya dia mampu bersuara setelah bekerja keras mengatur keadaan hatinya.
"Sayang aku..."
"Selamat untukmu juga Mas, Alhamdulillah akhirnya kamu akan segera menjadi ayah" lirih Rianti tanpa menatap Nathan walau saat ini dia sedang berhadapan dengan suaminya itu.
__ADS_1
"Semoga kamu juga segera menyusul" papa Nathan bersuara, beliau juga menyadari perubahan ekspresi wajah menantu pertamanya itu.
"Aah....mama senang sekali, pokoknya kita harus merayakannya besar-besaran Pa,"
"Ma, serahkan saja semuanya pada mereka" papa Nathan menyela,
"Kamu sudah memeriksakan kandunganmu?" beliau beralih pada Mikha yang masih duduk dirangkul oleh mama Nathan,
"Sudah Pa, kami baru pulang dari rumah sakit dan hasilnya keadaan bayi kami sehat dan kuat, usianya sudah baru tiga minggu" jelas Mikha menjelaskan kondisi kehamilannya sesuai yang dokter katakan dengan senyum yang menggambarkan kebahagiaan, rupanya mereka baru saja memeriksa kehamilan Mikha.
Deg... Rianti kembali tersentak mendengar pernyataan Mikha, dia pun menoleh ke arah Nathan yang sekarang sedang menggenggam erat sebelah telapak tangannya.
Tatapan Rianti pun penuh tanya sekaligus kecewa, jika saat ini usia kandungan Mikha sudah tiga minggu itu artinya mereka bahkan melakukannya tidak lama dari waktu ketika Nathan mengatakan jika dia tidak menyentuh istri keduanya itu.
"Saya permisi ke dapur untuk menyiapkan makan malam, Ma, Pa. Sekali lagi, selamat ya Mikha" ucap Rianti sebelum meninggalkan ruang tengah, dia memilih beranjak dari dsri sana setelah berusaha keras melepaskan genggaman Nathan dari tangannya.
"Sayang tunggu...." saat akan memasuki dapur, Nathan dengan sigap kembali meraih tangan Rianti dan tanpa menunggu persetujuan Rianti diapun menariknya ke dalam kamar yang dekat dengan ruang makan.
"Mas, aku mau menyiapkan makanan!" seru Rianti yang juga berusaha melepas cengkraman tangan di lengannya.
"Kita harus bicara!" tidak mau dibantah, Nathan segera memasuki kamar dan menguncinya. Rianti pun hanya mampu menurut, dia tidak mau ada kekacauan saat kedua mertuanya ada di rumahnya pula.
"Sayang, maafkan aku...waktu itu aku..." mereka kini berdiri berhadapan, Nathan memegang kedua bahu Rianti.
Entah harus dengan cara apa Rianti meluapkan kekecewaannya kali ini, dia pun berpikir layakkah rasa kecewa itu ada di hatinya?
Mengingat apa yang terjadi pada Mikha adalah sebuah kewajaran dan apapun yang dilakukan Nathan dan Mikha adalah sebuah keharusan dimana Nathan harus menjalankan kewajibannya sebagai suami untuk memberi nafkah lahir maupun bathin pada Mikha sebagai istrinya juga, tidak ada yang salah dalam hal ini.
Apalagi Rianti tahu jika dulu Nathan sempat menyampaikan keinginannya untuk segera menjadi ayah, memiliki putra dan putri yang lucu-lucu dan berteriak memanggilnya ayah ketika menyambut dirinya sepulang kerja.
Namun kata-kata jika Nathan akan segera melepaskan diri dari ikatan bersama Mikha, kalimat yang diucapkan Nathan bahwa dia tidak akan menyentuh istri keduanya itu membuat Rianti berharap lebih.
__ADS_1
Rasa kecewanya pun semakin bertambah, namun kali ini bukan pada suami atau pada apa yang terjadi antara Nathan dan Mikha tapi dia kecewa pada dirinya sendiri karena dengan mudahnya berharap akan kesungguhan suaminya yang hanya akan menjadikan dirinya satu-satunya. Namun, lagi-lagi kata-kata yang diucapkan Nathan beberapa minggu yang lalu kembali terngiang.
Keheningan tercipta, Rianti tak kunjung bersuara dia memilih menunggu Nathan melanjutkan kata-katanya.
"Waktu itu aku... Aku... Aku khilaf" lanjut Nathan terbata dengan kepala menunduk tak sanggup harus beradu tatap dengan Rianti yang sejak mereka berhadapan dia terus menatap suaminya itu.
"Saat di kantor mama menelepon sedang berada di apartement Mikha dan aku diminta untuk ke sana. Ternyata Mikha demam, dan mama harus pergi karena terlanjur punya janji. Dia meminta aku menunggui dan merawat Mikha dan aku tidak bisa menolak karena keadaannya waktu itu memang sangat mengkhawatirkan"
"Seharian aku di sana sampai demamnya mereda dan Mikha bisa kembali beraktivitas sendiri....namun saat mau pulang sorenya dia menahanku dan memintaku untuk tetap menungguinya sampai dia tertidur nanti malam. Dan..."
Nathan tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Rianti pun mendongak sambil memejamkan mata, dia ingat beberapa kali suaminya itu pulang malam dengan alasan pekerjaan di kantor sedang menumpuk namun ternyata kini dia menyimpulkan jika itu hanya alasan. Kenyataannya suaminya tengah bersama istri keduanya. Tidak kehilangan Nathan setiap malam ternyata tidak menjamin dirinya menjadi satu-satunya.
Rianti menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, berharap rasa sesak di dadanya menghilang. Dia harus realistis dan bisa berpikiran terbuka, tidak berpaku pada kata-kata suaminya. Dia tidak ingin berucap dan bertindak berdasarkan perasaannya, logika harus kembali dikedepankannya.
"Mas, sekarang aku mau menyiapkan makan malam, mereka semua pasti sudah lapar. Nanti kita lanjutkan bicaranya." Rianti memilih mengalihkan pembicaraan, dia tidak bisa berpikir dengan benar dalam keadaan seperti saat ini.
"Waah...sepertinya enak-enak ni, semua ini masakan kamu?" papa Nathan memuji sajian hidangan yang tampak lezat dan tertata rapi di atas meja makan. Keahliannya dalam hal ini dia dapat saat bekerja di restoran milik Arzan.
"Silahkan dicoba Pa, Ma, Mikha, semoga sesuai dengan selera kalian" ucap Rianti dengan senyum,
"Tentu, papa sudah sangat tidak sabar ingin mencicipinya. Sudah lama rasanya papa tidak makan masakan rumahan seperti ini." ujar papa Nathan dengan mata berbinar, beliau pun segera duduk dan membuka piring yang siap diisi nasi oleh Rianti.
Sementara Nathan masih berdiri, dia menarik kursi yang akan diduduki Mikha, tanpa dia sadari Rianti melihat perlakuan manisnya itu pada Mikha.
Ada rasa yang tak biasa kembali menyesakkan dadanya, sementara mama Nathan tersenyum bahagia melihat putra dan kedua istrinya tampak rukun.
"Mulai sekarang, kamu harus lebih memerhatikan Mikha, Nath. Wanita hamil itu berbeda, kamu juga harus lebih bersabar. Ingat di perut istrimu sekarang ada kehidupan baru, pastikan istrimu selalu bahagia menjalani kehamilannya agar anak kalian juga merasakan hal yang sama. Mama juga minta Rianti bisa turut menjaga Mikha ya, anak dia nanti akan jadi anak kamu juga kan, jadi kalian bekerja samalah untuk menjaga calon cucu mama, iya kan pa?" mama Rianti berbicara panjang lebar sebelum memulai makannya, dia pun meminta persetujuan suaminya yang sudah lebih dulu menikmati makanannya.
"Mas, aku mau udang itu..." Mikha menunjuk udang yang tepat berada di depan Rianti, Nathan pun mengambilkannya dengan sigap dia melayani keinginan ibu hamil itu.
Rianti menghembuskan nafasnya pelan,
__ADS_1
"Ya Allah, sanggupkah aku melihat pemandangan seperti ini setiap waktunya" gumam Rianti dalam hati, walau dia tahu jika yang Nathan lakukan adalah hal yang seharusnya namun dia tidak bisa menolak rasa cemburu yang tumbuh di hatinya.
Rasa ketidakberhargaan pun semakin menggunung dalam hatinya, sudah berbulan-bulan dia menikah namun yak kunjung hamil. Kini malah dari wanita lain suaminya mendapatkan apa yang menjadi harapannya.