
Rianti dengan sabar mendengarkan kedua manusia dewasa di hadapannya itu bercerita sesuai versinya masing-masing. Nathan sempat berdecih sambil memalingkan wajahnya melihat drama yang dibuat Mikha. Tanpa malu wanita itu mengatakan rasa cintanya pada Nathan di hadapan Rianti, bahkan dia pun menceritakan bagaimana Nathan selalu memperlakukannya dengan baik sejak dulu.
Nathan sempat akan melayangkan protesnya ketika mendengar Mikha sedikit melebih-lebihkan ceritanya namun Rianti dengan tatapan lembutnya mencegah, dia percaya tersenyum seolah memberikan penjelasan pada suaminya bahwa dirinya sepenuhnya pada Nathan.
"Sekarang aku meminta keadilan, walau bagaimanapun aku sudah sah menjadi istri Kak Nathan, aku harap kamu tidak egois" pungkas Mikha mengakhiri bicaranya dengan nada mengancam, namun hanya dibalas senyuman tipis oleh Rianti.
"Hufft...." Rianti menghembuskan nafasnya, satu jam lebih dia mendengar penjelasan kedua orang itu, sejenak dia memejamkan matanya.
"Mas..."
Nathan semakin merapatkan dirinya kepada Rianti.
"Sayang..." dengan harap-harap cemas Nathan menunggu apa yang akan dikatakan istrinya itu.
"Tanggung jawab kami sekarang bertambah, bersikaplah adil..Aku do'akaan semoga kamu menjadi imam yang adil untuk rumah tangga kita. Untuk saat ini,..." Rianti menjeda ucapannya karena air mata yang tiba-tiba merangsek ingin segera keluar.
"Sayang...." Nathan semakin merasakan dadanya berdebar tidak menentu.
"Untuk saat ini izinkan aku menyendiri...aku butuh waktu untuk memahami ini semua mas. Walau bagaimana pun aku masih syok dengan kenyataan jika suamiku menikah lagi, sekuat apapun aku menahan diri untuk terlihat baik-baik saja, ternyata aku tidak cukup kuat Mas. Mungkin memang benar kata Mikha, saat ini dirinya lebih membutuhkan dirimu daripada aku. Aku sehat Mas, dan aku akan berusaha baik-baik saja."
__ADS_1
"Sayang, jangan hukum aku untuk jauh darimu. Sungguh aku tidak mau berpisah denganmu, mari kita lalui semua ini sama-sama." Nathan berusaha membujuk Rianti, dari kata-katanya Nathan faham istri pertamanya itu butuh waktu, namun dia takut, takut jika Rianti akan meninggalkannya.
"Kak, kakak dengarkan apa kata dia, dia bilang supaya kakak lebih memperhatikan aku, aku lebih membutuhkan kakak dibanding dia."
"Diam kamu!" sentak Nathan yang tidak terima dengan ucapan Mikha,
"Kakak membentakku? Padahal aku hanya menuntut hakku sebagai sama-sama istri kakak, ingat kak aku sudah banyak mengalah selama ini, aku membiarkan pulang ke Jakarta untuk mengurus perusahaan, bukan untuk menikahi perempuan ini" Mikha kembali meradang, dia kembali bersikap seolah dirinya yang menjadi korban selama ini.
"Diam kamu Mikha, semua yang kamu katakan hanyalah omong kosong, jangan mengada-ngada, sejak dulu aku tidak pernah mencintai kamu, aku hanya menyayangimu karena kamu adik dari Mitha, tidak lebih." Nathan berupaya membela diri,
"Bagus kalau kakak ingat dengan Kak Mikha, kakak ingat kan kalau ka Mitha adalah cinta sejati kakak, satu-satunya wanita yang kakak cintai, dan kakak ingat kan kalau kakak pernah bilang jika aku sangat mirip dengan kak Mitha makanya kakak selalu membersamaiku, dan sekarang aku yakin jika Kak Mitha akan sangat bersedih karena kakak lebih memilih perempuan ini daripada aku. Kakak sudah menyakiti aku, sekarang aku hanya meminta hakku yang telah direbut olehnya, dia yang merebut kakak dan semua perhatian kakak dari aku. Apa salah jika aku ingin mengambilnya kembali? Harusnya kakak sadar jika di hati kakak hanya ada kak Mitha dan itu artinya hanya aku yang pantas menggantikan posisi kak Mitha, bukan dia" Mikha bicara berapi-api, dia benar-benar tidak mau mengalah, terus bicara tanpa menyadari jika wajah Nathan sudah memerah menahan amarah.
"Kamu..." sentak Nathan
"Mas, aku pergi, aku harus bekerja, sekarang silahkan mas selesaikan urusan mas dengan istri baru mas" Rianti memilih pergi, dia melenggang meninggalkan dua orang yang menatapnya dengan tatapan yang berbeda.
Nathan hendak mengejar Rianti, namun tiba-tiba ponselnya berdering dan dilihatnya nama sang papa uang tertera di sana.
Entah apa yang dikatakan papanya, Nathan akhirnya mengalah, dia mengikuti keinginan Mikha yang memintanya untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Nathan pun hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar.
__ADS_1
☘️☘️☘️
"Aku turut perihatin Ri" Tiara menyeka air matanya yang tidak berhenti keluar, saat ini dia tengah bersama sang sahabat yang ditemuinya usai melaksanakan tugasnya di rumah sakit.
"Jangan khawatir aku baik-baik saja, mungkin ini sudah takdirku, aku percaya Allah tidak akan salah dalam menentukan takdir setiap makhluknya. Doa'akan saja aku agar aku kuat, aku sudah bertekad akan bertahan semampuku, namun jika pada kenyataannya aku tidak mampu, maka akau pun akan merelakannya" Rianti tidak kalah bersedih, namun dia berusaha menguatkan diri di hadapan sahabatnya, tidak mau terlihat lemah.
"Sekarang kamu mau keman" tanya Tiara sambil melirik jam yang melingkar di tangannya,
"Aku mau pulang, aku capek, mau istirahat" jawab Rianti diakhiri kekehan,
"Aku temani?" tawar Tiara,
"Tidak perlu Ra, aku baik-baik saja. Sekarang sebaiknya kamu juga pulang, anak-anak kamu pasti menunggu." Rianti mengingatkan sang sahabat,
Karena suaminya sudah menjemput, Tiara oun pamit lebih dulu dan mewanti-wanti Rianti untuk mengabari apapun yang terjadi pada sahabatnya itu.
Ting....
Saat Rianti hendak meninggalkan cafe tempat bertemunya dengan Tiara, notifikasi pesan masuk di ponselnya berbunyi. Dia pun merogoh tasnya untuk mengambil ponsel, beberapa foto yang menunjukan kemesraan Nathan dan Mikha kini terpampang di ponselnya terkirim dari nomor yang di kontaknya dia namai Suamiku.
__ADS_1
Deg....dadanya tiba-tiba sesak, beberapa adegan tampak terlihat mesra di foto. Nathan yang sedang menyuapi Mikha, memangku Mikha ke kamar mandi, menggenggam tangannya saat wanita itu tertidur dan beberapa foto lainnya dimana Mikha merangkul leher Nathan dan memeluknya.
"Ya Allah, aku cemburu" gumam Rianti lirih, dia pun memilih mematikan ponselnya dan menaiki motor matic ke arah yang berlawanan dengan rumahnya.