Kupilih Pintu Surga Yang Lain

Kupilih Pintu Surga Yang Lain
Tak Ingin Kehilangan


__ADS_3

"Maaf aku tidak mengabarimu seharian ini" Nathan baru melepas pelukannya setelah lebih dari sepuluh menit dia mendekap tubuh yang selalu menenangkannya itu.


"Tidak apa-apa Mas, Mas pasti sangat sibuk" Rianti sudah kembali menormalkan raut wajahnya, bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


"Maaf sayang" lirih Nathan dengan tatapan yang tersirat rasa bersalah yang bercampur dengan rasa takut.


"Sama-sama, Mas. Kalau begitu sekarang Mas mandi dulu, aku sudah menyiapkan air hangatnya setelah itu kitu makan ya" Rianti mengusap lembut pipi Nathan dengan senyum manis yang selalu menghiasi wajah cantiknya.


"Heum...." bukannya melepaskan rangkulan tangannya yang melingkar di pinggang Rianti, Nathan malah menarik tubuh istrinya semakin merapat dengannya, satu tangannya merambat ke tengkuk Rianti, tanpa aba-aba dia mencium dalam bibir sang istri dengan rakusnya.


"Haah....aku tidak akan pernah melepaskanmu" gumam Nathan namun samar terdengar di telinga Rianti, dia mengatakannya setelah melepas ciumannya dan langsung memeluk erat Rianti.


"Aku mencintaimu sayang, sangat, aku sangat mencintaimu" ucap Nathan lagi tanpa melepaskan pelukannya.


"Iya Mas, aku tahu" jawab Rianti dengan menahan sesak di dadanya. Dia tahu jika sikap suaminya saat ini adalah dampak dari peristiwa tadi siang.


Rianti dapat merasakan jika suaminya sama tertekannya oleh masalah yang sedang dihadapinya. Oleh karena itu, Rianti tidak akan memulai pembahasan mengenai kejadian tadi siang sebelum Nathan sendiri yang memulai. Sebisa mungkin dirinya akan bersikap seperti biasanya, walaupun dalam hati ada luka yang menganga, pedih dan menyakitkan.


Makan malam pun berlangsung seperti biasanya, walau pun hanya berdua tapi kehangatan keluarga benar-benar Nathan rasakan. Hatinya begitu tenang menatap sang istri yang yang selalu tersenyum dan melayaninya dengan baik. Selama menikah dengannya Nathan tidak pernah mendengat Rianti mengeluh sekalipun, atau bahkan merengek meminta ini atau itu. Bahkan untuk mengantar atau menjemput pun selalu Nathan yang menginisiasi.


"Sayang, sudah hampir bulan kelima kita menikah, tapi seingat aku rasanya kamu belum pernah sekalipun meminta sesuatu gitu padaku?" seusai makan malam mereka berdua mengisi waktu yang belum terlalu malam ini dengan menonton televisi di ruang tengah.


"Hah? Maksudnya apa Mas?" Rianti yang sedang menatap lurus ke depan menoleh,


"Ya..semacam minta dianterin belanja, atau minta dibeliin apa gitu? Emang kamu gak suka belanja baju, tas, sepatu misal?" Nathan pun memperjelas maksudnya, tangannya memainkan rambut panjang Rianti yang sengaja tidak berjilbab jika di rumah hanya ada mereka berdua.


"Haha...kirain apa mas" Rianti malah tertawa, dia mengira sepertinya suaminya iseng bertanya karena tidak ada topik untuk dibahas.

__ADS_1


"Lho..kenapa malah tertawa, aku serius sayang"


"Seriusan mas pingin jawaban?" Rianti menautkan kedua alisnya, dia tidak menyangka jika pertanyaan suaminya serius,


"Iya, kenapa?"


"Kirain bercanda Mas" kekeh Rianti yang justru mendapat tatapan sendu dari Nathan. Dia menyadari kenapa istrinya berpikiran seperti itu, pasti karena selama ini dirinya pun tidak ada waktu walau untuk sekedar memanjakan sang istri dengan pergi ke luar rumah atau membelikan hadiah.


"Baiklah aku akan menjawab" Rianti menarik nafas panjang sebelum melanjutkan bicaranya.


"Pertama, karena aku belum membutuhkannya Mas. Di lemari masih ada baju-baju dan tas yang masih bisa aku pakai."


"Kedua, alasanku karena masih ada hal lain yang harus diprioritaskan. Mungkin tabungan untuk masa depan lebih penting mas, lagian kalau barang-barang seperti itu bisa beli saat benar-benar sudah sangat dibutuhkan."


"Kenapa mas bertanya begitu? Apa penampilan aku malu maluin ya?" pikiran Rianti beralih, mungkin saja sang suami selama ini malu dengan penampilan sederhananya.


Obrolan mereka pun berlanjut dengan berbagai topik bahasan, sesekali canda tawa terdengar sangat membuat mereka bahagia.


Waktu pun merangkak semakin malam, jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Mereka pun sepakat untuk segera masuk kamar untuk beristirahat.


"Aku ke kamar mandi dulu mas" Rianti pamit hendak membersihkan wajah dan menggosok gigi lebih dulu sebelum mereka tidur, sementara Nathan memilih meraih ponsel yang sejak pulang tadi dia matikan dan disimpan di atas meja kecil di samping tempat tidurnya.


Puluhan pesan masuk membuat ponsel Nathan terus berdering saat dihidupkan. Beberapa pesan dari asisten dan rekan bisnisnya dia abaikan karena kebanyakan pesan masuk nyatanya datang dari nomor yang dia sangat kenal yaitu sang mama dan nomor Mikha.


'Nath, kamu masih dimana? Mikha dari tadi terus nanyain, kata orang kantor kamu sudah keluar sejak sore tadi' pesan dari sang mama menjadi pesan pertama yang dibaca Nathan.


'Nath, jangan lupa pulang ke rumah sakit. Mikha masih harus dirawat kasihan dia sampai jam segini bahkan belum makan malam karena nungguin kamu, walau bagaimanapun sekarang dia sudah sah menjadi istrimu, mama tunggu'.

__ADS_1


"Huft...." Nathan menghembuskan nafasnya kasar setelah membaca pesan masuk selanjutnya dari sang mama yang dikirim beberapa menit yang lalu.


'Kak, ini aku Mikha. Nomor lama aku belum kakak buka blokirannya, jadinya aku pakai nomor yang baru. Cepet pulang ya Kak, aku kangen. Aku menunggu di rumah sakit'


'Kak, masih dimana? Kenapa belum pulang?'


'Kak, kaka dimana sih? Kenapa ponselnya belum aktif juga? Kata Falah kakak udah keluar dari kantor sejak tadi sore, sekarang kenapa belum ke rumah sakit?'


Dan masih banyak pesan-pesan lainnya dari Mikha yang menanyakan keberadaan Nathan. Wanita itu seolah lupa jika Nathan punya keluarga dan rumah untuk pulang.


"Mas..."


Deg...Nathan terlonjak kaget, saat anteng membaca pesan-pesan di ponselnya tiba-tiba dia mendapati Rianti sudah ada di hadapannya. Refleks Nathan pun menjatuhkan ponselnya.


"Kenapa Mas? Kok kaget gitu?" Rianti bertanya namun dengan sedikit tergelak,


"Kamu bikin aku kaget" jawab Nathan yang kemudian meraih ponselnya dari atas tempat tidur, sementara Rianti memilih berbalik dan berjalan menuju meja rias untuk mengoleskan krim malam di wajahnya.


"Itu karena mas saking antengnya membaca pesan, sampai gak nyadar aku sudah keluar dari kamar mandi" ucap Rianti santai namun berhasil membuat jantung Nathan berdetak lebih cepat, dia takut Rianti sempat melihat pesan yang sedang dibacanya tadi.


"Enggak kok sayang, aku hanya membaca pesan masuk dari klien" kilah Nathan, kebohongan pertama yang diucapkannya dan dibalas Rianti dengan senyum kecilnya yang justru membuat Nathan menjadi salah tingkah.


"Ya sudah aku gosok gigi dulu ya?" Nathan memilih mematikan lagi ponselnya dia tidak peduli dengan Mikha dan sang mama yang terus mengiriminya pesan.


Saat meninggalkan kantor tadi dia sudah menyampaikan pada Galah jika ada yang menghubungi dan menanyakan dirinya katakan jika dia berada di tempat yang seharusnya. Nathan yakin Falah sudah memberitahukannya pada mamanya maupun Mikha.


Saat ini yang dipikirkannya dia tidak ingin membuat Rianti terluka, dia tidak ingin Rianti mengetahui peristiwa tadi siang di rumah sakit dimana dirinya terpaksa menikahi Mikha, Nathan tidak ingin Rianti pergi daei sisinya, sungguh Nathan tidak ingin kehilangan istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2