
Detak jarum jam semakin terdengar jelas, keheningan malam semakin mencekam mengantarkan setiap raga yang lelap dalam peraduan.
Namun berbeda dengan dua insan yang saat ini masih sama-sama terjaga. Nathan duduk bersimpuh dengan kepala berada di pangkuan Rianti yang duduk di sofa ruang tengah rumah mereka.
Hampir dua jam lamanya Nathan menceritakan semua kisah hidupnya. Bukan hanya yang sedang dihadapinya saat ini, namun juga kisah lampau yang telah dia kubur. Kisah yang selama ini dia simpan rapi, berharap semua itu hanya akan menjadi masa lalunya. Kisah antara dirinya, Almarhumah Mitha dan Arzan.
Masa lalunya adalah miliknya, tak ada yang akan mampu merubah karena semua telah terjadi dan menjadi kenangan. Masa depannya sekarang adalah hidup bahagia dengan Rianti, namun siapa sangka akhirnya dia pun mengungkapkan semuanya pada wanita yang sudah membuat hatinya sangat nyaman.
Nathan sudah bertekad tidak ingin lagi ada yang dia tutupi dari Rianti, apapun respon istrinya itu dia akan terima asalkan dia tetap bersama istrinya.
"Maafkan aku yang tidak bisa menjaga diri dengan baik selama ini, kamu berhak menyesal ataupun merasa rugi karena memiliki pasangan pendosa seperti aku" lirih Nathan mengatakannya, dia memeluk pinggang Rianti, sementara wajahnya semakin menyusup di pangkuan istrinya itu.
Rianti menarik nafasnya dalam, selama Nathan bercerita tak ada satu pun kata yang terucap dari bibirnya. Dia mendengar setiap untaian kalimat yang diucapkan suaminya, meresapi dan memahami setiap maknanya.
__ADS_1
Rianti yakin hari-hari yang tidak mudah dijalani suaminya, dia tidak menyalahkan maupun membenci apa yang terjadi di masa lalu maupun masa kini Nathan. Toh semuanya sudah terjadi, hal yang tidak mungkin untuk diubah. Sebagai manusia biasa dirinya pun tidak luput dari khilap dan dosa. Bukankah seorang pendosa yang bertobat lebih mulia dari pada seorang alim yang sombong, pikirnya bijak.
"Maafkan aku karena sudah mengecewakanmu, aku tahu jika aku terlalu beruntung mendapatkan pasangan sepertimu, apapun berhak kamu lakukan padaku setelah kamu mengetahui semua ini, tapi sungguh aku tidak ingin kehilanganmu, Ri. Aku mencintaimu, mencintaimu dengan segenap hati dan jiwaku Rianti Auriza Zahra" ungkapan cinta menjadi pamungkas kejujuran Nathan malam ini, hal yang sungguh membuat Rianti merinding, untuk pertama kalinya Nathan, laki-laki yang sudah menghalalkannya melalui akad ikatan suci pernikahan mengungkapkan cintanya.
"Sayang, bicaralah" Nathan mendongak, menatap Rianti yang sampai dirinya selesai pun tak kunjung bersuara.
Rianti tersenyum, tidak ada air mata atau pun wajah kesal dan marah yang ditunjukkannya. Dia membelai kepala Nathan, menyugar rambutnya agar kembali rapi setelah sebelumnya terlihat begitu berantakan.
Sayang, kamu tidak marah?" tanya Nathan seraya mengusap air mata yang menetes di pipinya.
"Menurutmu?" Rianti balik bertanya,
"Sayang, aku..."
__ADS_1
"Mas, semuanya sudah terjadi tidak ada gunanya aku marah sekarang, hanya akan menguras energi dan memporak porandakan perasaanku sendiri. Insya Allah aku pun akan menyayangi Qiana seperti putriku sendiri, selama ini kami sudah cukup dekat, dan perihal Mikha semoga setelah kamu memberi tahukan dia tentang pernikahan kita dia bisa menerimanya pula dengan lapang dada."
"Aku pun berterima kasih atas kejujuran kamu, terima kasih sudah percaya padaku dan berbagi cerita denganku, sungguh aku merasa sangat berharga" Rianti memeluk Nathan erat dan tentu saja disambut Nathan dengan pelukan yang tak kalah erat.
"Terima kasih sayang, terima kasih. Terima kasih sudah menerima aku apa adanya dan tetap berada di sampingku. Jangan pernah tinggalkan aku" suara Nathan kembali terdengar serak, isak tangis terdengar lirih di balik punggung Rianti.
"Untuk ke depannya, mari kita bersama menghadapi semua ini dengan saling terbuka dan saling menghargai. Aku percaya kamu akan menjadi suami yang setia, suami yang mampu menjaga dirinya ketika sedang tidak bersamaku. Aku pun yakin kamu akan menjaga namaku, membelaku dan mengistimewakan hadirku walau kita tidak sedang bersama"
Nyesss...kata-kata Rianti seperti siraman air di lahan yang kering, meresap ke dalam hati Nathan hingga rasa bahagia dan bangga pun menyeruak memenuhi dadanya.
"Terima kasih sayang, terima kasih. Aku janji akan memperjuangkan kamu di hadapan keluargaku" Nathan semakin erat memeluk Rianti. Kelapangan hati istrinya membuat dia semakin yakin untuk tidak akan pernah melepaskan Rianti apapun yang terjadi.
"Aku bangga memilikimu" ucapnya lirih.
__ADS_1