
Hari-hari yang dijalani Rianti dan Nathan kembali tenang, potret keluarga harmonis tergambar jelas pada rumah tangga mereka. Seperti biasa, pagi ini Rianti tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk suami dan adik bungsunya. Adik pertamanya saat ini tengah berada di luar kota dalam rangka menuntaskan tugas belajarnya.
"Kak, aku lihat kakak gemukkan sekarang" Riadi adik bungsu Rianti berkata sambil asik menikmati nasi goreng masakan kakaknya.
Rianti yang sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya pun menghentikan gerakannya. Dia menoleh ke arah sang adik yang tampak acuh, kemudian kembali menyendok nasi goreng ke atas piring kosong saat melihat Nathan keluar dari kamarnya yang sudah siap dengan stelan kerjanya.
"Kenapa sayang?" melihat suasana di ruang makan tampak berbeda Nathan pun bertanya.
"Hah?" Rianti tersadar dari lamunannya karena kata-kata adiknya barusan, dia pun memang merasakan jika beberapa hari ini nafsu makannya bertambah, selain itu beberapa pakaiannya pun sedikit menyempit. Dia tidak punya prasangka apapun, mungkin karena nafsu makannya yang bertambah pantas bila bobot tubuhnya meningkat.
Namun yang dilamunkan Rianti pagi ini setelah mendengar kata-kata adiknya adalah dia baru menyadari jika dirinya sudah terlambat datang bulan bahkan seharusnya saat ini dirinya sudah selesai datang bulan.
"Kakak gemukan, iya kan Kak?" Riadi yang menjawab pertanyaan Nathan, kakak iparnya pun hanya terkekeh mendengar perkataan adik iparnya.
"Iya kayaknya, tapi kakak suka" tanpa sungkan jawaban Nathan membuat Rianti membola, dia melirik sang adik yang terlihat menahan tawa atas jawaban kakak iparnya itu.
"Aku sudah selesai, aku berangkat duluan Kak, hari ini ada seleksi untuk masuk kuliah jalur prestasi. Do'akan aku lulus ya Kak" pamit Riadi pada kakaknya dan tentu dibalas dengan untaian do'a dari Rianti, dalam hati bersyukur atas pencapaian hidup mereka saat ini, tidak terasa adik bungsunya sebentar lagi akan kuliah dan adik pertamanya akan segera lulus bahkan sudah diterima kerja di salah satu perusahaan swasta di Jepang. Semuanya tidak lepas dari bantuan Nathan.
__ADS_1
"Kak, aku pamit" Riadi beralih pada Nathan, kakak iparnya itu pun tak lupa mendo'akan untuk kesuksesannya.
"Kenapa sayang?" Nathan menghentikan sejenak aktifitasnya, dia menelisik sang istri yang tersenyum sendiri dengan tatapan menerawang.
"Terima kasih ya Mas, semenjak kehadiran Mas hari-hari kami semakin baik" Rianti tulus mengucapkannya, tentu saja dibalas Nathan dengan reaksi di luar dugaan Rianti.
Nathan meminum habis air putih di gelasnya setelah menangkupkan sendok dan garpu di atas piring yang sudah ludes isinya.
Dia berdiri dari kursinya, kemudian tanpa diduga Nathan berjongkok di depan Rianti, dia genggam erat kedua tangan wanita yang sudah menemani hari-harinya beberapa bulan ini. Nathan mendongak, menatap lekat manik mata indah sang istri penuh cinta.
"Aku yang seharusnya berterima kasih, terima kasih sudah menerimaku dengan segala kekuranganku. Sungguh aku sangat beruntung memilikimu" Nathan mengecup kedua tangan Rianti yang digenggamnya, pagi yang penuh haru bahagia pun menjadi awal yang indah hari mereka.
Sudah berkali-kali Falah menghubungi bossnya, berharap agar segera datang ke kantor karena ada berkas yang harus segera ditanda tangani, belum lagi orang tua sang bos yang juga mempertanyakan keberadaan putra mereka sementara ponselnya masih belum bisa dihubungi.
"Bosssss....angkat dong" Falah mendesah frustasi, dia berkali-kali mendial nomor yang sama namun masih belum terhubung.
"Pagi!" saat Falah sedang sibuk dengan ponselnya, Nathan datang memasuki ruangannya dengan berjalan santai.
__ADS_1
"Boss, kenapa sulit sekali dihubungi?" dengan intonasi meninggi Falah menyambut Nathan dengan pertanyaan yang biasanya tidak dia lontarkan,
"Hah, iya gitu? Ouh sorry, ponsel gue belum diaktifin" jawab Nathan masih dengan mode santai, dia pun menjatuhkan bokongnya di atas kursi kebesarannya dan mengaktifkan ponselnya yang dia matikan sejak semalam.
"Apa?" Nathan terlonjak saat puluhan notifikasi dia terima, baik panggilan maupun pesan, hal yang membuat dia kaget adalah saat membaca pesan sang mama jika saat ini kedua orang tuanya sudah menunggu di bandara.
"Kenapa lo gak bilang kalau mama dan papa datang?" sentak Nathan pada Falah, terdengar cukup keras karena saat ini Falah sedang berdiri tepat di depan mejanya.
"Heummm" Falah memutar bola matanya malas, andai bukan di kantor ingin sekali dia memukul kepala sahabat sekaligus bosnya itu dengan map yang sedang dipegangnya.
"Sejak satu jam yang lalu saya terus menghubungi boss" jawab Falah akhirnya dengan formal tentunya dengan nada bicara malas.
"Hhe...sorry" tanpa rasa bersalah Nathan pun membuka satu persatu berkas yang akan ditanda tanganinya dengan cepat, karena harus segera menjemput kedua orang tuanya di bandara.
Satu jam kemudian, Nathan ditemani Falah sudah berada di bandara. Dia akan menjemput kedua orang tuanya yang tiba-tiba datang ke Jakarta tanpa berkabar terlebih dahulu.
Selama perjalanan menuju bandara banyak hal yang dipikirkan Nathan, dia sudah menyusun rencana untuk mempertemukan Rianti dengan kedua orang tuanya. Dia yakin, inilah waktunya di jujur dengan keadaannya saat ini.
__ADS_1
Senyum Nathan mengembang saat melihat kedua orang tuanya berjalan ke arahnya, namun dalam hitungan detik senyumnya langsung menghilang saat melihat di belakang kedua orang tuanya ada Mikha dan juga kedua orang tuanya.
"Hai Kak, aku sudah kembali lengkap dengan orang tua kita dan secepatnya kita akan melangsungkan pernikahan" ucapan Mikha tepat di hadapan Nathan bagaikan petir yang membuat tubuhnya memaku seketika.