Kupilih Pintu Surga Yang Lain

Kupilih Pintu Surga Yang Lain
Rencana Rianti


__ADS_3

"Aku sudah berusaha mati-matian untuk menghindar agar tidak lagi mengganggu kehidupanmu. Jadi aku mohon, tolong tetaplah berada di tempatmu dan teruslah bahagia."


Rianti berbicara pelan namun penuh penekanan, siang ini baru saja akan mulai bertugas namun kembali didatangi Nathan yang sudah dua minggu ini terus mendatanginya dengan berbagai alasan.


Hari ini Rianti benar-benar sudah tidak tahan, kelakuan Nathan yang bagaikan penguntit itu ternyata diketahui oleh Mikha. Tanpa mengetahui duduk perkaranya, Mikha mendatangi rumah sakit tempat Rianti bekerja dan berbicara dengan lantang di hadapan beberapa rekannya yang sama-sama ada di ruang khusus perawat agar dirinya jangan sok tebar pesona pada suaminya, yaitu Nathan, mantan suami Rianti.


Akibat perbuatan Mikha itu alhasil masalah perceraian dirinya dengan Nathan yang selama ini Rianti pendam sendiri akhirnya diketahui oleh rekan-rekan sesama perawat. Untunglah mereka faham setelah Rianti mencoba menjelaskan takdir cintanya dengan Nathan yang harus berakhir hanya dalam hitungan bulan. Mereka pun berempati dengan nasib yang dialami Rianti.


Siang ini Rianti kembali dibuat jengah karena ternyata Nathan kembali mendatanginya ke rumah sakit. Dia sudah berusaha untuk menghindar namun Nathan dengan berbagai cara selalu menemukan celah untuk menemuinya.


"Maksudmu apa? Aku tidak mengerti." ucap Nathan dengan wajah polosnya,


"Mas, kita sudah berpisah. Kamu mempunyai istri, apapun yang kamu lakukan jika itu berhubungan denganku maka itu salah, tidak bisa dibenarkan." tegas Rianti dengan wajah menahan marah karena Nathan tak kunjung berhenti mengatakan ingin rujuk.


Setelah keputusan cerai resmi dibacakan hakim, sejujurnya Nathan sangat menyesalinya. Dia harusnya tidak begitu saja melepaskan Rianti. Bagaimana pun cara dia berusaha menerima Mikha sebagai istrinya tetap saja posisi Rianti tidak bisa tergantikan. Semakin lama Nathan justru semakin merindukan mantan istrinya itu. Semua hal yang dilakukan Mikha dalam melayaninya sangat jauh berbeda dengan yang diterimanya dari Rianti.


Nathan benar-benar menyesal sudah melepaskan wanita sebaik Rianti, dia adalah wanita yang paling tepat untuk dijadikan ibu dari anak-anaknya kelak.


Aksi Nathan yang selalu menemui Rianti setiap harinya itu ternyata diketahui Mikha, dia murka namun tidak berani jika harus menunjukkan kemarahannya pada Nathan, jadilah Rianti sebagai sasaran agar dia tidak mendekati Nathan lagi.


Sayangnya suaminya ternyata tidak berniat menghentikan rencananya untuk kembali mengajak Rianti rujuk.


"Makanya aku kembali mengajakmu rujuk Ri, aku menyesal sudah melepaskan kamu. Ayo kita hidup berdua saja, jauh dari siapapun yang mengenal kita.'' Perkataan Nathan semakin terdengar ngawur di telinga Rianti,


"Mas, gila kamu, kamu pikir pernikahan itu permainan? Sudahlah mas, mari kita saling menerima apa yang sudah tertakdir untuk kita. Lagian mas kan sudah punya keluarga, apalagi sekarang istri mas sedang mengandung, berbahagialah kalian." Rianti mulai menurunkan intonasi bicaranya, semetara Nathan hanya menatap Rianti yang terus berbicara dengan tatapan merindu.


"Tapi aku masih sangat mencintaimu, Ri. Ternyata aku belum siap kehilanganmu." ucap Nathan yang juga berubah sendu,


"Mas, ini sudah jadi pilihan kita. Kita sudah dewasa, kita sama-sama orang dewasa yang tahu bahwa tidak setiap hal yang kita inginkan bisa kita dapatkan. Tolong mas, jangan buat aku semakin terbebani karena kelakuanmu ini. Ingat istrimu mas, Mikha sedang hamil harusnya kamu menjaganya dan siap menjadi suami siaga untuk Mikha, bukan malah menemui aku seperti ini. Ini tidak baik mas, tolong mengertilah."

__ADS_1


"Mikha menemuimu?" Nathan mengabaikan perkataan Rianti, di justru merogoh ponsel yang ada di saku jasnya saat terdengar notifikasi pesan masuk. Rupanya dia mendapat pesan dari sang mama yang mengabarkan jika Mikha baru saja pulang ke rumah dalam keadaan marah setelah menemui Rianti.


"Heumhh" jawab Rianti singkat,


"Apa yang dia lakukan padamu? Kamu baik-baik saja kan? Dia tidak menyakiti kamu kan? Kamu tidak terluka kan? Katakan, katakan padaku bagian mana yang sakit? " Nathan hendak mendekati Rianti dan mengulurkan tangannya untuk memastikan keadaan Rianti sambil memberondongnya dengan pertanyaan yang penuh dengan kekhawatiran, dia tidak menyangka bahkan di saat kondisinya sedang hamil pun Mikha ternyata berani menemui Rianti dan mengancamnya.


"Aku tidak baik-baik saja Mas, kedatangan Mbak Mikha ke rumah sakit membuat aku sangat tidak nyaman dan tidak enak pada rekan-rekanku. Sama seperti kedatangan Mas saat ini dan hari-hari sebelumnya sungguh sangat membuatku tidak nyaman. Sekarang aku mohon, mari kita saling merelakan."


"Apapun yang terjadi nanti, jangan pernah lagi punya keinginan untuk kembali menyapaku. Jangan pernah menoleh, atau berusaha mencari alasan untuk kembali datang,"


"Mas tidak tahu kan, bagaimana hampir gilanya aku saat logika memaksaku untuk melepaskanmu? Padahal hati masih begitu ingin memelukmu dengan erat? Tapi aku coba kuatkan hatiku karena rasa cintaku mas."


"Jika boleh jujur, aku juga sakit mas, sakit sekali ketika memutuskan perceraian sebagai jalan akhir dari masalah rumah tangga yang sedang kita hadapi. Tapi aku harus tetap memutuskan berharap banyak kebaikan yang akan datang bukan hanya padaku tapi semua yang terlibat dengan masalah kita dari solusi ini. Karena cinta bukan hanya tentang memegang erat, tapi juga tentang melepaskan dengan lembut."


"Mulai sekarang bekerja samalah. Karena aku sudah berjanji untuk tidak pernah menemuimu di kebetulan manapun. Maka aku mohon jangan rusak tenangku dengan hal-hal yang bisa membuatku kembali mengingatmu dan harus menyakiti Mikha"


"Mari sembuh dengan kembali menjadi orang asing yang tak lagi saling mengenal satu sama lain. Anggap saja aku tidak pernah ada. Anggap saja aku adalah mimpi paling buruk yang pernah mas temui." Rianti berkata dengan air mata yang terus mengalir deras.


Nathan terpekur seorang diri di lorong rumah sakit yang biasanya hanya dilalui oleh petugas cuci atau kebersihan di rumah sakit itu. Dia sengaja menemui Rianti di tempat yang tidak terlalu sering dilalui banyak orang agar lebih leluasa berbicara dengan mantan istrinya itu.


"Jadi aku salah? Aku menyakitinya lagi?" gumam Nathan dengan kepala tertunduk,


☘️☘️☘️


Kabar perceraian Rianti sampai juga pada Tiara, sahabat yang sudah seperti saudara untuk Rianti.


Semalam setelah mengetahui berita perceraian sahabatnya dari sang suami, Tiara pun bergegas menuju rumah Rianti.


Sesuai yang terlintas di pikirannya bahwa Rianti memang tidak ada di rumah yang dulu dia tempati. Tiara malah bertemu dengan Mikha dan mama Nathan. Dia pun mendengarkan cerita tentang perceraian Rianti versi Mikha.

__ADS_1


"Ri, kamu dimana sih? Ponselnya juga enggak bisa dihubungi Mas. Sahabat macam apa aku ini yang tidak tahu jika sahabatnya sedang dalam kesulitan setelah sekian lama" keluh Tiara pada suaminya, mereka sudah dalam perjalanan dari rumah Rianti.


"Tenang sayang, besok kita akan temui Rianti di rumah sakit. Menurut Arga jadwal Rianti besok adalah shift pagi. Kamu bisa menemuinya siang selepas dia bertugas." Arzan berusaha menenangkan, keduanya memang baru pulang dari luar negeri, akhir-akhir ini Arzan memang selalu meminta Tiara agar menemaninya saat harus pergi dinas ke luar negeri maupun luar kota.


" Tidak Mas, aku akan pagi-pagi sekali menemuinya. Dia pasti tidak baik-baik saja saat ini." gumam Tiara dengan air mata yang tiba-tiba menetes memikirkan nasih sahabat baiknya itu.


Keesokan harinya....


Di sinilah keduanya berada, taman rumah sakit yang dekat dengan ruang Rianti dan rekan-rekannya bersiap sebelum tugas. Tiara langsung memeluk Rianti dengan tangis yang sudah tidak bisa ditahannya. Keduanya pun saling memeluk erat dan menumpahkan semua rasa yang bergejolak di dada masing-masing melalui tangisan.


Setelah berbincang beberapa saat keduanya sepakat untuk kembali bertemu kembali selepas Rianti bertugas. Tiara akan menjemputnya ke rumah sakit dan meminta sahabatnya itu untuk menunggunya.


Rianti menghembuskan nafasnya kasar setelah menceritakan tentang keadaan rumah tangganya dengan Nathan di hadapan Tiara dan Arzan. Sepasang suami istri itu bahkan sangat terkejut, tidak menyangka Nathan akan memilih menceraikan Rianti begitu saja.


"Lalu dimana sekarang kamu tinggal?" tanya Tiara dengan penuh rasa khawatir. Saat ini ketiganya tengah duduk di ruang tamu rumah Tiara.


"Aku mengontrak sebuah rumah yang tidak jauh dari rumah sakit, tetapi..." Rianti tampak ragu,


"Tetapi apa?" Tiara mencondongkan tubuhnya ke arah Rianti,


"Sepertinya aku akan pindah lagi, karena Mas Nathan masih terus menemuiku. Aku tidak mau ada kesalahfahaman lagi antara aku dan Mikha, kemarin dia menemuiku di rumah sakit dan meminta aku agar tidak mendekati mas Nathan lagi, padahal selama ini mas Nathan yang terus menemuiku dan meminta untuk rujuk." Rianti kembali menghembuskan nafasnya seolah mengeluarkan sesak yang menghimpit dadanya.


"Kamu mau pindah?" Arzan yang sejak tadi hanya menyimak akhirnya bersuara, Rianti pun mengangguk sebagai jawaban.


"Kamu mau pindah bekerja juga?" Rianti mengangguk kembali, pertanyaan Arzan seakan menjadi solusi segar untuknya.


"Tentu, Pak. Andai ada peluang untuk pindah bekerja juga saya sangat siap." jawab Rianti mantap,


"Kalai begitu bersiaplah untuk meninggalkan kota ini, lusa kita berangkat." ujar Arzan yang langsung disanggupi Rianti dengan mengangguk mantap.

__ADS_1


Rianti kembali memeluk Tiara dan mengucapkan terima kasih. Keinginan menjauh dari Nathan kini bukan hanya sekedar rencana Rianti namun akan segera menjadi tujuan yang akan segera direalisasikannya.


__ADS_2