
Rianti melangkahkan kakinya pelan keluar dari ruang perawat yang dikunjunginya pagi ini menuju ke ruangannya yang berada di lantai lima, lantai tertinggi di rumah sakit itu.
"Siapa tamunya Rin?" tanya Rianti pada Rina, wanita yang menjadi asistennya selama beberapa bulan ini menjadi direktur rumah sakit.
"Sulis tidak bilang namanya Bu, hanya katanya dia seorang laki-laki." jawab Rina sambil memijit tombol lift dan membantu Rianti saat hendak memasuki lift.
"Baiklah, kalau begitu siapkan ruang rapat dan temani saya" ujar Rianti,
Keduanya pun memasuki ruangan rapat internal yang masih berada di lantai yang sama dengan ruangan Rianti untuk menerima tamu laki-laki, dia tidak pernah menerima tamu laki-laki di ruangannya. Rianti sangat menjaga dirinya, menghindari hal-hal yang tidak diharapkan dengan menjaga jarak dengan lawan jenis. Keberadaan orang-orang di sekitarnya yang semuanya perempuan sangat membantunya leluasa dalam melaksanakan berbagai aktivitasnya.
"Assalamu'alaikum" ucap Rianti saat memasuki ruang rapat internal dimana disana telah menunggu seseorang yang menjadi tamunya.
"Wa'alaikumsalam" sang tamu yang sedang menghadap jendela kaca pun membalikkan badannya,
"Mas Arga?" Rianti tersenyum melihat siapa tamu yang datang, sudah lama laki-laki yang kini berdiri di hadapannya itu tidak datang mengunjunginya. Biasanya Arga akan datang rutin setiap dua minggu sekali mengunjunginya dengan berbagai alasan, tapi hampir sebulan lebih Arga tidak datang bahkan mengiriminya pesan pun tidak.
"Apa kabar, Ri?" tanya Arga dengan senyum ramahnya, raut kerinduan terlihat jelas di wajahnya.
"Alhamdulillah Mas, aku baik. Bagaimana kabar Mas?" jawab Rianti, dia mempersilahkan Arga untuk duduk di sofa yang ada di ruang rapat itu.
"Beginilah..." jawab Arga sambil menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.
"Laah....kok lemes gitu?" tanya Rianti heran,
"Aku baru pulang dari luar negeri Ri, masih jet lag." jawab Arga lesu,
"Kenapa gak istirahat aja? Malahan kesini? Ada tugas negara juga?" tanya Rianti khawatir, dia menelisik wajah Arga yang memang tampak lelah.
"Iya, bahkan tugas dunia akhirat" jawab Arga santai, dia menyeruput teh hangat yang baru saja disajikan petugas office girl di hadapannya.
"Raniya, apa kabar?" setelah cukup lama berbincang dengan Rianti Arga baru menyadari keberadaan asisten Rianti yang juga berada di ruangan itu, dia memang memilih sedikit menjauh dari atasannya walau masih di ruangan yang sama, setelah mengetahui jika tamu yang datang adalah Arga.
Selama Rianti di Garut Arga terbilang cukup sering datang mengunjungi Rianti. Semua dokter dan staf rumah sakit mengetahui jika Arga adalah orang kepercayaan sang pemilik rumah sakit. Namun semakin ke sini mereka semakin menyimpulkan jika kedatangan Arga bukan hanya tentang urusan pekerjaan namun ada hal lainnya yang berhubungan dengan Rianti.
Namun semua orang tidak ada yang berani bertanya, biarlah semua pemikiran itu cukup beredar di kalangan mereka masing-masing.
"Kalau begitu sebaiknya sekarang mas istirahat saja. Mau aku siapkan kamar untuk beristirahat?" tanya Rianti penuh perhatian membuat Arga tersenyum tipis namun dia menolak dengan menggelengkan kepalanya karena memang bukan itu tujuan kedatangannya.
"Ri, aku mau mendengar jawabanmu langsung" ucap Arga akhirnya menjelaskan maksud tujuannya.
"Tentang apa Mas?" tanya Rianti bingung, dia belum faham arah pertanyaan Arga saat ini.
"Tentang pesan terakhir yang aku kirim beberapa minggu yang lalu" Arga mengingatkan Rianti, dia tidak habis pikir ternyata di saat dirinya gelisah memikirkan semua tentang wanita itu dan apa yang pernah diungkapkannya, Rianti justru melupakannya.
Rianti pun merogoh ponsel yang dia simpan di saku blazernya, menscroll mencari chat nya bersama Arga.
Deg Rianti sedikit tersentak ketika membaca ulang pesan terakhir Arga dan ternyata dirinya belum sempat membalasnya.
__ADS_1
'Ri, aku harap kali ini kamu bisa membuka hatimu untukku. Aku ada pekerjaan penting beberapa hari ke depan, kuharap sekembalinya aku kamu sudah punya jawaban yang tepat'
Pesan Arga yang sempat membuat tubuhnya serasa membeku karena kaget membuatnya kembali merasakan hal itu saat kembali membacanya. Rianti benar-benar tidak menyangka Arga masih menyimpan perasaan untuknya.
Laki-laki itu tidak pernah bosan menyatakan cintanya pada Rianti, entah kali ini yang keberapa kalinya Rianti bahkan lupa. Namun Arga ternyata masih keukeuh dengan keinginannya, dia tidak menyerah begitu saja. Dan masih menunggu Rianti membuka hati padahal sejak awal Rianti sudah menolaknya dengan baik-baik.
"Mas ..."
"Aku tahu massa iddahmu belum selesai, tapi aku akan menunggu. Maaf jika terkesan terburu-buru, hanya saja aku tidak ingin kalah start lagi" kekeh Arga membuat Rianti tergelak.
"Mas...." Rianti urung melanjutkan kata-katanya, saat dia tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa di area perutnya.
"Kenapa Ri?" Arga yang menyadari ada yang berbeda di wajah Rianti seketika panik,
"Mas, perutku tiba-tiba sakit" jawab Rianti terbata, keringat tiba-tiba bermunculan di wajah cantik Rianti,
"Rin, tolong " Rianti memanggil sang asisten yang tidak menyadari jika telah terjadi sesuatu pada atasannya,
"Rina tolong bantu Rianti, dia sepertinya kesakitan" pekik Arga panik,
"Bu, ibu kenapa?" tanya Rina yang yak kalah paniknya, dia pun segera menghampiri Rianti untuk memastikan keadaannya.
"Bu, sepertinya ibu akan melahirkan" ujar Rina membuat Arga semakin panik,
"Apa? Melahirkan? Jadi gimana ini?" Arga bingung harus berbuat apa,
"Kita ke ruang bersalin Rin, tolong hubungi dokter Anggi." titah Rianti sembari berusaha bangkit dari duduknya.
"Astaghfirullah" pekik Rianti, dia kembali merasakan kontraksi,
"Bu, air ketubannya sudah pecah, sebaiknya ibu duduk dulu di sini saya akan panggilkan perawat yang lain. Pak Arga, tolong jaga Bu Rianti di sini" pinta Rina yang segera berlari meninggalkan ruangan sambil menelepon bagian persalinan.
"Ri, kamu harus bertahan, kuat ya" tanpa sadar Arga meneteskan air matanya melihat keadaan Rianti, dia pun mengusap puncak kepala Rianti yang tengah bersandar di sopa sembari memejamkan mata menahan sakitnya,
"Mas.."
Brakk...
"Sebelah sini, ayo cepat!" Rina datang dengan buru-buru bersama dua perawat laki-laki yang membawa kursi roda.
"Bu, Ibu masih bisa berdiri kan?" Rina memastikan keadaan atasannya, dia menggeser kursi roda lebih dekat dengan Rianti.
"Iya.." jawab Rianti lemah, dia pun membuka matanya perlahan dan bersiap untuk berdiri, rasa sakit di perutnya masih dirasakannya terlihat dari wajahnya yang semakin memucat,
"Ri, aku khawatir, izin ya buat menggendong kamu." tanpa menunggu jawaban Arga langsung menggendong Rianti dan memindahkannya ke atas kursi roda.
Perawat pun mendorong kursi roda tersebut, sementara Rina menggenggam tangan Rianti erat seolah memberi kekuatan pada atasannya itu agar bertahan. Arga pun bergegas mengikuti mereka dari belakang.
__ADS_1
"Mas, baju kamu basah" saat dalam lift Rianti masih sempat-sempatnya mengkhawatirkan Arga, keadaannya mulai tenang seiring kontraksi di perutnya mereda.
"Tidak apa-apa aku bisa mengganti bajuku, yang penting kamu segera ditangani" jawab Arga menenangkan Rianti, wanita itu pun kembali meringis saat merasakan kembali kontraksi di perutnya.
"Ri, bertahanlah" Arga semakin panik, ada rasa sakit yang dirasakannya ketika melihat kesakitan yang dirasakan Rianti.
Sebuah ruang bersalin VIP sudah disiapkan oleh tim di rumah sakit itu. Dokter yang bertugas sebagai dokter kandungan pun sudah bersiap setelah mendapat telepon langsung dari Rina jika kemungkinan Rianti akan segera melahirkan.
"Silahkan semuanya menunggu di luar, sepertinya Bu Rianti sudah lengkap pembukaannya dan akan segera melahirkan" ucap dokter Anggo yang merupakan dokter langganan Rianti setiap rutin dileriksa.
"Ri, kamu yang kuat ya? Aku akan menunggu di luar" ucap Arga sebelum meninggalkan ruangan dimana Rianti akan melahirkan.
"Iya mas, terima kasih" ucap Rianti lemah karena sepertinya sang bayi sudah semakin merangsek ingin segera keluar.
"Ternyata prediksi saya benar, bahwa Ibu akan melahirkan lebih cepat dari perkiraan" ucap dokter Anggi tersenyum ke arah Rianti yang sudah siap dengan pakaian khususnya. Dia sudah berbaring di atas tempat tidur dengan wajah semakin memucat menahan sakit yang semakin menjadi karena kontraksi di area perutnya.
"Iya dok, untung saya sudah menyiapkan semuanya sejak dini sesuai arahan dokter" Rianti menjawab dengan wajah meringis,
"Sepertinya semuanya sudah siap, kalau begitu kita mulai ya Bu. Silahkan ikuti arahan saya." dokter Anggi bersiap pada posisinya membimbing Rianti agar menikmati masa melahirkannya dengan tenang dan rileks.
Sementara di luar ruangan, Arga tengah mondar mandir dengan wajah cemasnya, sudah tiga puluh menit berlalu namun belum terdengar tanda-tanda jika Rianti sudah melahirkan.
Bayangan wajah Rianti yang menahan sakit kembali membuat bulu kuduknya berdiri, air mata pun kembali menggenang di pelupuk matanya. Dia tidak bisa membayangkan apa yang sedang dialami Rianti saat ini.
Untunglah dia segera meluncur ke Garut semalam, padahal baru sore hari dia tiba di Indonesia setelah beberapa minggu berada di luar negeri menggantikan Arzan.
Rupanya instingnya tidak bisa dibohongi, bahwa kerinduannya akan sosok wanita itu membuatnya menjadi orang yang membersamai Rianti melewati perjuangan melahirkan yang tentunya tidak mudah.
Oek....oek......oek....
Lamunan Arga buyar seketika saat mendengar suara tangisan bayi yang terdengar begitu nyaring dari ruangan tempat Rianti berada.
"Alhamdulillah" tanpa sadar Arga menangis, dia bahagia sekaligus terharu mendengar suara tangis bayi.
Bayangan Arzan saat membersamai Tiara melahirkan pun melintas di benaknya, kini dia faham mengapa Arzan sepanik itu saat Tiara melahirkan. Dirinya saja yang menunggu di luar begitu khawatir, apalagi Arzan yang langsung membersamai Tiara di dalam ruangan bersalin. Pastinya lebih horor dari pada yang dibayangkannya.
"Suster, saya sudah boleh masuk?" Arga memburu perawat yang keluar dari ruangan bersalin Rianti,
"Belum Pak, Bu Rianti dan bayinya akan dibersihkan terlebih dahulu dan akan dipindahkan ke ruang perawatan. Setelah itu, Bapak baru bisa menemuinya." jawab perawat itu ramah, dia pun pamit untuk melanjutkan aktivitasnya.
Kurang dari satu jam, Rianti sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Seorang perawat pun menggendong bayi yang sudah dibersihkan untuk diserahkan pada ibunya.
"Dokter, saya sudah boleh masuk?" Arga menghampiri dokter yang baru keluar dari ruangan rawat Rianti dan dijawab dengan anggukan kepala oleh dang dokter yang mengetahui jika Arga adalah orang kepercayaan pemilik rumah sakit tempatnya bekerja.
"Tentu saja, silahkan Pak!" jawab sang dokter dengan sopan dan ramah,
Arga pun segera memasuki ruangan itu, dia memaku mendapati pemandangan indah di depannya dimana Rianti tengah duduk di atas tempat tidurnya sambil menggendong anaknya dan tersenyum ke arahnya.
__ADS_1
Atas persetujuan Rianti Arga pun mengadzani bayi yang baru saja dilahirkan Rianti yang berjenis kelamin perempuan. Sangat cantik dan terlihat dengan jelas jika ketampanan Nathan sangat mendominasi di sana.
"Nath, lo benar-benar beruntung mempunyai bayi secantik ini. Sayangnya kali ini lo rugi karena tidak menjadi laki-laki pertama yang dilihat anak lo." batin Arga