Kupilih Pintu Surga Yang Lain

Kupilih Pintu Surga Yang Lain
Pernikahan Mikha dan Nathan


__ADS_3

Tidak ada lagi alasan dan kesempatan untuk Nathan bisa keluar dari situasi ini, dia seolah sudah kehabisan kata dan cara untuk menghindar.


Dalam hati dia merutuki ketidakberdayaan dirinya, ketidakbecusan dirinya untuk mempertahankan apa yang seharusnya dia pertahankan.


Bayangan wajah Rianti terus berputar di pikirannya, dia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan keadaan ini pada istrinya.


Beberapa orang sudah berdatangan ke dalam ruangan rawat yang sudah dihias sangat mewah. Kekuasaan kedua orang tua Mikha memang tidak diragukan lagi, dalam waktu yang terbilang sempit dia bisa melakukan semua permintaan putrinya.


"Apakah semuanya sudah siap?" seorang pria yang diperkirakan adalah penghulu yang akan menikahkan mereka mengedarkan pandangannya, dan mendapat anggukan dari semua orang yang ada di sana kecuali Nathan.


"Ananda Nathan, apakah sudah siap?"


Deg, pertanyaan laki-laki yang tadi menyampaikan bahwa prosesi akad akan segera berlangsung selama seketika membuat jantung Nathan berdetak kencang. Dia harap situasi ini tidak nyata dan hanyalah mimpi. Namun tepukan sang papa di bahunya menyadarkan Nathan jika ini adalah nyata, kenyataan yang sedang dihadapinya adlah kenyataan yang akan menyakiti istrinya.


Nathan pun menganggukan kepalanya tanpa semangat, tidak ada senyum di wajahnya saat melihat semua orang tampak antusias dengan pernikahan itu.


"Ananda Nathan Alzaidan, aku nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau dengan puteriku Mikhaila Pradipta dengan mahar sebuah cincin berlian dibayar tunai.”


"Saya terima nikah dan kawinnya Mikhaila Pradipta binti Rudi Pradipta dengan mahar tersebut, tunai”


"Sah?"


"Sah"


"Sah"

__ADS_1


"Sah"


Akad yang terucap dari dua pria beda generasi itu sudah berhasil mengikat Nathan dan Mikha dalam ikatan suci pernikahan.


Tanpa mereka ketahui, sepasang telinga dari balik pintu tengah mendengarkan dengan jelas semua dialog yang terjadi di dalam ruangan itu, sepasang mata pun terlihat memerah menahan air mata yang mendesak untuk keluar dari tempatnya.


"Mas Nathan" gumam Rianti, seiring berjatuhannya air mata yang tak mampu lagi dia bendung.


Tidak ada kekacauan sesi dua yang terjadi setelah akad nikah berlangsung. Satu persatu orang-orang meninggalkan ruangan itu hingga tersisa keluarga intinya saja.


"Selamat bro, semoga jadi keluarga sakinah, mawaddah warahmah" Arzan yang datang bersama Arga berniat untuk menjenguk bunda dari sahabatnya itu kaget saat memasuki ruangan ternyata akan akan berlangsung prosesi akad pernikahan.


Kedua laki-laki itu pun menjadi bagian dari hari bersejarah sahabat mereka itu. Mereka tidak menyangka pernikahan Nathan akan dilaksanakan di rumah sakit. Arzan dan Arga memang tidak mengetahui kejadian yang beberapa jam yang lalu terjadi, bahkan kedua sahabat Nathan itu juga belum mengetahui perihal Nathan yang sudah menikahi Rianti secara diam-diam. Mereka mengira pernikahan ini adalah pernikahan yang Nathan dan Mikha inginkan.


Bukan tanpa alasan Nathan menyembunyikan pernikahannya dengan Rianti, belum adanya restu dari kedua orang tuanya membuat Nathan menyembunyikan semuanya.


"Sabar ya, gue do'ain istri lu cepat sembuh" Arga tergelak saat menatap Nathan yang masih menunjukkan wajah datarnya.


"Biar tambah hot unboxingnya" bisik Arga tepat di telinga Nathan namun masih terdengar oleh Arzan yang kemudian tersenyum menyeringai menatap Nathan.


"Jadi itu yang bikin lu jadi bete gitu.." Arzan geleng-geleng kepala menatap Nathan dengan tatapan mengejek.


"Sialan! Diam lu pada!" sentak Nathan dengan suara tertahan karena dia tahu saat ini beberapa mata tengah tertuju pada mereka.


"Terima kasih ya Kak sudah datang di pernikahan aku" Mikha menerima uluran tangan Arzan yang beralih padanya,

__ADS_1


"Sama-sama, aku turut berbahagia atas kebahagiaanmu" ucap Arzan tulus, di susul Arga yang juga memberi ucapan selamat pada Mikha.


Arzan dan Arga adalah tamu terakhir yang keluar dari ruangan itu. Kini kembali tinggal keluarga inti di sana, sepasang pengantin baru dan kedua orang tua mereka.


"Mama harus cepat sembuh ya, aku mau resepsi pernikahan kami dihadiri mama" dengan tidak tahu dirinya Mika berkata demikian, dia seolah lupa dengan kekacauan yang dibuatnya beberapa jam yang lalu.


Nathan menatap jengah pada wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya itu. Dalam keadaan mamanya yang terbaring lemah dia masih saja merasa tidak merasa bersalah. Padahal Nathan tahu jika penyebab mamanya kembali terserang jantung adalah karena ulah Mikha yang konyol.


"Tentu sayang, mama akan segera sembuh. Mama tidak sabar untuk mendampingi kalian di atas pelaminan" ekspektasi Nathan salah, sang mama justru menjawab dengan bersemangat ucapan Mikha. Dia tidak menyangka mamanya sama sekali tidak memikirkannya yang saat ini tengah gelisah memikirkan istrinya, istri pertamanya.


Karena merasa kondisi sudah kondusif dan Nathan semakin jengah mendengar obrolan tentang resepsi pernikahan, Nathan memutuskan untuk pergi.


"Pa, Ma, aku harus ke kantor ada meeting penting hari ini" Nathan menatap sang mama sendu, berharap sang mama mengizinkannya dan anggukan kecil sang mama membuat Nathan lega dan kemudian beralih pada orang tua Mikha yang masih dipanggilnya dengan sebutan omm dan tante untuk berpamitan.


"Kamu sudah harus mengganti panggilanmu pada kami Nathan, sama seperti Mikha" seru mama Mikha yang hanya dibalas senyuman oleh Nathan. Dia pun memilih segera keluar setelahnya.


"Kak, tunggu!" langkah Nathan terhenti, padahal tangannya sudah memegang gagang pintu keluar. Terpaksa dia pun menghentikan langkahnya.


"Aku belum salam" ucap Mikha manja membuat Nathan menarik nafasnya dan menghembuskannya sedikit kasar.


Nathan pun berbalik dan melangkah ke arah ranjang yang ditempati Mikha, dia meraih tangan Nathan dan di ciumnya lalu mendekatkan wajahnya agar Nathan menciumnya.


Masih dengan ekspresi wajah datar Nathan mencium sekilas puncak kepala Mikha dan di balas dengan kecupan di pipi dari istrinya itu. Nathan tersentak, dia menatap Mikha namun sedetik kemudian segera memalingkan wajahnya ke arah lain. Berbeda dengan Nathan, Mikha dan kedua orang tua orang tua mereka tersenyum bahagia akhirnya sang putra bersedia menerima pernikahan mereka. Mereka yakin tidak sulit untuk Nathan mencintai Mikha karena sejak dulu laki-laki itulah yang selalu berada disamping Mikha.


"Jangan terlambat pulang" bisik Mikha tepat di telinga Nathan membuat laki-laki itu kembali merasa jengah, belum juga satu jam dirinya menikahi Mikha dia sudah membatasi waktunya.

__ADS_1


Nathan pun bergegas pergi meninggalkan ruang rawat itu, dia ingin segera mengganti pakaiannya sebelum pergi ke kantor.


__ADS_2