
Sementara di kantor Nathan, sejak kedatangannya ke kantor pagi tadi dia benar-benar tidak fokus. Bayangan Rianti yang tersenyum ramah dan berpesan agar dirinya menjaga kesehatan selalu terbayang di benak Nathan. Wanita yang selalu ceria dan tersenyum bahkan di saat sedang dalam masalah itu semakin membuatnya merasa bersalah. Nathan bingung bagaimana menjelaskan semuanya kepada Rianti, rasanya akan sangat menyakitkan jika dia harus jujur tentang alasan mengapa orang tuanya tidak merestui pernikahan mereka.
"Bos, ini berkas yang harus ditanda tangani, secepatnya kita harus mengirimnya agar kerja sama ini segera terjalin dan projek kita bisa dimulai" Falah, asisten pribadi sekaligus teman semasa SMA Nathan datang memasuki ruang CEO yang sudah tiga kali diketuknya namun tak kunjung ada jawaban,
"Beuh...pantesan" Falah menggelengkan kepalanya melihat kelakuan bosnya yang sedang menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi dengan tatapan anteng menatap langit-langit.
"Boss" dengan suara yang sedikit mengeras dari sebelumnya dan seketika Nathan langsung menegakkan tubuhnya, kaget dengan panggilan asistennya.
"Ada apa?" tanya Nathan cepat, dia menelisik sang asisten dari atas ke bawah menunggu jawaban dari sang asisten.
"Ada berkas yang harus segera ditanda tangani" Falah pun menyodorkan map yang dipegangnya, menjelaskan ulang perihal penting berkas tersebut.
Nathan meneliti setiap kata yang tertulis pada dokumen yang tengah dikajinya. Sebanyak apapun masalah yang sedang dihadapinya, jika urusan pekerjaan Nathan tetap jeli dengan hal kecil sekalipun.
Tok...tok...tok...
Di saat bersamaan suara ketukan pintu mengalihkan fokus dua orang yang sedang berada di dalam ruangan pimpinan tertinggi perusahaan itu. Perusahaan yang Nathan bangun dengan keringat dan modalnya sendiri. Sementara perusahaan keluarga dia serahkan pengelolaannya kepada sang adik yang sudah lulus kuliah di sejak dua tahun yang lalu.
Bukan tanpa alasan Nathan dengan sukarela menyerahkan amanah yang diberikan sang ayah padanya selama beberapa tahun ini. Sekarang dia merasa sudah cukup membesarkan perusahaan keluarganya yang bergerak dalam bidang perhotelan dan restoran itu, dan waktunya memajukan usaha yang dirintisnya dengan kawan-kawannya sejak SMA dulu, yaitu perusahaan yang bergerak dalam pengadaan alat-alat olah raga.
__ADS_1
"Masuk!" titah Nathan tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang masih dia kaji.
"Maaf Pak, saya mau mengantar tamu spesial Bapak. Beliau bilang sudah membuat janji secara pribadi dengan bapak" Emira, sekretaris Nathan menyampaikan informasi yang membuat Nathan mengerutkan keningnya. Hari ini dia merasa tidak membuat janji temu dengan siapapun.
"Kejutan!" pekik seseorang dari balik tubuh Emira yang masih berdiri tidak jauh dari pintu.
"Mikha?" seketika Nathan melongo melihat kedatangan wanita yang selama lebih dari sebulan ini dia hindari,
"Kak Nathan, aku kembali" ucapnya sambil berjalan ke arah meja Nathan, membuat laki-laki itu refleks menjatuhkan ballpoint yang ada di tangannya.
"Apa kabar Kak?" Mikha merentangkan kedua tangannya bersiap untuk memeluk Nathan namun untunglah Nathan cepat sadar dari kekagetannya, dia pun berusaha menghindar dan hanya meraih tangan Mikha untuk menjabat tangannya.
"Bagaimana kabarmu? Tampaknya semakin sehat" ujar Nathan mencairkan situasi,
"Tentu saja kak,.aku sangat sehat, kuliahku juga sudah selesai. Bulan depan aku akan wisuda dan aku harap kakak bisa hadir di sana" Mikha mengungkapkan kebahagiaannya atas pencapaian yang dia raih, lagi-lagi wanita itu berusaha mendekati Nathan namun Nathan berhasil menghindar.
"Kenapa Kak?" akhirnya Mikha tidak tahan dengan sikap Nathan yang terus menghindar, dia pun melayangkan protesnya.
"Eheumm" Falah yang masih berada di dalam ruangan itu bersama Emira berdehem untuk menyadarkan kedua orang yang tampak asik dengan dunia mereka. Berhasil, Nathan menoleh seolah baru tersadar jika mereka tidak hanya berdua.
__ADS_1
"Emira, keluarlah!" dengan sigap Nathan memberi perintah, dengan segera Emira pun menundukkan kepala dan berbalik menuju pintu keluar.
Hal yang sama pun dilakukan Falah, dia mengambil langkah yang sama dengan yang dilakukan Emira.
"Heh, mau kemana lo? Tetap di sini" titah Nathan tegas, dengan senyum seperti mengejek Falah pun kembali duduk di sofa.
Falah adalah salah satu saksi pernikahan Nathan dengan Rianti. Dia pun tahu segala kerumitan yang tengah dialami oleh bos sekaligus temannya itu. Semenjak hubungan persahabatannya dengan Arzan memudar karena cintanya pada wanita yang sama. Nathan mencurahkan segala.yang dialaminya pada Falah.
"Kak, aku sudah siap menikah sekarang. Gelar magister sudah aku sandang, kedua orang tua kita pun sudah sangat setuju. Aku mau menagih janji kakak untuk selalu berada di samping aku" Mikha berbicara serius.
Kedatangan dia ke Jakarta memang untuk menikah dengan Nathan. Kedua orang tuanya mengatakan jika mereka dan keluarga Nathan sudah sepakat untuk menikahkannya dengan laki-laki yang sudah menjaganya selama dia sakit dan membantu proses penyembuhannya. Selain karena kedua orang tua mereka jika keduanya saling mencintai, pernikahan Mikha dan Nathan akan semakin memperkuat kerajaan bisnis mereka yang sama-sama bergerak dalam bidang perhotelan dan resto.
Nathan menghela nafas panjang, hal yang ditakutkannya selama ini akhirnya terjadi. Ternyata rencana perjodohannya dengan Mikha akan segera direalisasikan oleh kedua orang tua mereka.
"Maaf Mikha, aku tidak bisa" tegas, tanpa basa-basi Nathan menyanggah perkataan Mikha,
"Tidak bisa apa Kak?" wajah ceria Mikha seketika berubah menjadi sendu, dia bertanya dengan air mata yang sudah menggenang di matanya. Pikirannya langsung menyimpulkan jika Nathan menolak menikah dengannya saat melihat raut wajah tidak bersemangat laki-laki itu.
"Aku tidak bisa menerima perjodohan ini, aku tidak bisa menikah denganmu" Nathan memperjelas ucapannya tanpa ragu.
__ADS_1