
"Sudah lumayan lama ya kita tidak bertemu." senyum ramah Mikha hadirkan mengiringi ucapannya yang belum satupun ditanggapi oleh Rianti.
"Sayang, kamu sudah pulang?"
Belum juga Rianti menanggapi pertanyaan dari Mikha, kini dia kembali dikejutkan dengan suara laki-laki yang dirindukannya selama seminggu ini. Hal yang semakin membuatnya terkejut ternyata Nathan datang bersamaan dengan Mikha, laki-laki itu bahkan datang dengan membawa tas Mikha dan beberapa belanjaan.
Tampak keterkejutan Nathan terlihat jelas di wajahnya, dia tidak menyangka jika Rianti akan pulang lebih cepat dari jadwal seharusnya.
Berbeda dengan Nathan yang kaget karena istri pertamanya sudah ada di rumah sementara dirinya pulang bersama istri keduanya, wajah Rianti justru langsung berubah mendadak sendu.
Kejutannya pulang cepat tanpa memberi tahu suaminya ternyata justru berbalik, kini dirinya yang terkejut. Laki-laki yang selama sebulan ke belakang selalu ada bersamanya dan berjanji akan segera menyelesaikan urusannya tentang pernikahan keduanya ternyata kini justru terlihat lebih dekat dengan madunya itu.
"Sayang..."
"Silahkan masuk" Rianti langsung tersadar saat terdengar Nathan kembali menyapanya, namun dia pun segera memotong sebelum suaminya melanjutkan bicaranya.
"Terima kasih" Mikha tersenyum dengan ramah, lalu melenggang begitu saja memasuki rumah yang kini pintunya sudah terbuka lebar.
"Sayang..." Nathan mendekat ke arah Rianti,
"Aku sudah pulang Mas, Alhamdulillah selamat, silahkan masuk" ujar Rianti yang tanpa menunggu jawaban Nathan segera kembali masuk ke rumah.
"Baguslah kalau Mbak sudah datang, ada hal yang ingin aku sampaikan" Mikha meraih gelas minuman yang baru saja Rianti hidangkan di depan meja, Rianti pun mendongak.
"Mikha..." Nathan tampak memberi kode pada Mikha agar tidak dulu bicara dia tahu apa yang akan dikatakan istri keduanya itu.
"Sayang, aku mau bicara" Nathan meraih tangan Rianti dan segera menuntunnya menuju kamar mereka,
"Maaf, aku tidak tahu kalau kamu sudah pulang." Nathan duduk di tepi tempat tidur berhadapan dengan Rianti yang masih berwajah sendu sejak mengetahui dirinya pulang bersama Mikha.
"Kenapa tidak bilang? Aku kan bisa menjemputmu." lanjut Nathan, Rianti masih menatapnya dengan tatapan sendu, belum terlihat tanda-tanda jika istrinya itu akan bersuara.
"Hufft..." Nathan pun menghembuskan nafasnya perlahan, dia tahu Rianti pasti kecewa saat ini.
"Maaf, aku tidak bermaksud membuat kamu kecewa dengan pulang bersama Mikha" ucap Nathan akhirnya,
"Jadi selama ini yang Mas maksud akan segera menyelesaikan urusan kalian itu begini?" tanya Rianti dengan suara lirih,
"Maafkan aku sayang, tapi mama..."
__ADS_1
"Mama tidak mungkin mengizinkan kamu melepaskan menantu kesayangannya kan?" potong Rianti, Nathan pun merunduk dia tidak kuasa untuk menjawab walau hanya dengan menganggukan kepala.
"Aku faham Mas" Rianti beranjak dari tempat duduknya,
"Sekarang silahkan nikmati waktu kebersamaan kalian, sepertinya kalian memang sudah merencanakan semuanya untuk acara hari ini" Rianti melangkah menuju pintu hendak meninggalkan Nathan yang masih duduk di sisi tempat tidur.
"Sayang..." baru saja Rianti hendak membuka pintu kamarnya namun urung karena Nathan yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Maaf, maafkan aku... Perusahaan papa sedang mengalami krisis dan jika bukan karena bantuan papanya Mikha, mungkin tidak akan bertahan." ucap Nathan dengan suara serak karena menahan tangis, dia akhirnya mengatakan alasan sebenarnya kenapa dirinya masih bertahan bersama Mikha hingga saat ini.
Keheningan pun tercipta, tak ada kata yang terucap lagi dari keduanya. Rianti memejamkan matanya mendengar alasan yang disampaikan suaminya. Ada luka yang kembali menganga, rasa ketidakberhargaan diri pun kembali semakin besar dirasakannya.
"Alhamdulillah kalau begitu, semoga semuanya kembali baik-baik saja." akhirnya kalimat itulah yang keluar dari mulut Rianti setelah cukup lama keduanya terdiam.
Rianti tidak bisa untuk egois, dengan memikirkan perasaannya sendiri. Sementara orang tua suaminya saat ini tengah membutuhkan bantuan putra semata wayang mereka, dengan mempertahankan pernikahan suaminya dengan Mikha adalah solusi jitu agar perusahan mertuanya tetap bertahan.
"Sayang..."
"Sudahlah Mas, aku mengerti. Sekarang lebih baik kamu temani Mikha, dia sudah terlalu lama menunggu." Rianti melepas rangkulan dua tangan suaminya yang berada di pinggang.
Tok...tok...tok...
Ceklek
"Mbak...aku mau bicara" Mikha sudah berdiri di depan pintu,
"Mari!" ucap Rianti sambil berlalu melewati Rianti yang masih berdiri di depan pintu, sementara Nathan dia segera mencekal tangan Mikha yang akan beranjak.
"Apaan sih Kak?" Mikha merajuk karena cekalan tangan Nathan di tangannya cukup keras.
"Jangan katakan hal itu padanya sekarang, ini bukan waktu yang tepat." Nathan berkata dengan tegas dan menatap Mikha dengan tatapan tajam.
"Terus kapan lagi? Mau sampai kapan kamu menyembunyikannya Mas? Pokoknya aku akan mengatakannya sekarang biar dia tahu kalau aku akan lebih membutuhkan kamu daripada dia. Sebentar lagi mama juga datang.."
Tidak lama deru mobil pun terdengar berhenti di halaman rumah Rianti.
"Kenapa mama bisa datang ke sini? Kamu memanggilnya?" tanya Nathan masih dengan tatapan yang belum melunak.
"Iya" jawab Mikha ketus, dia pun menghempaskan tangan Nathan yang masih mencekalnya walau tidak sekencang tadi.
__ADS_1
"Mama...?" Rianti kembali terkejut karena ternyata di hadapannya kini sudah berdiri dua paruh baya yang diketahuinya kalau itu adalah mama mertua bersama papa mertuanya,
"Kami datang, boleh kami masuk?" Mama Nathan berbicara lembut, sementara papanya masih menatap Rianti dengan tatapan menelisik.
"Ini papanya Nathan" Mama mertuanya akhirnya memperkenalkan papa mertuanya, Rianti pun segera menyalami keduanya dan mencium punggung tangan kedua mertuanya penuh takzim.
"Silahkan masuk Ma, Pa" Liani terbata saat menyebut panggilan itu pasa kedua mertuanya.
"Maaf kalau kedatangan kami mengganggu" akhirnya papa Nathan mengeluarkan suaranya, dari nada bicaranya Rianti lega ternyata Papa Nathan tidak secuek yang dibayangkan.
"Ti..tidak Pa, saya senang papa dan mama berkenan untuk berkunjung" ucap Rianti sopan, dia pun mempersilahkan kedua mertuanya untuk masuk.
"Mama, papa?" kini giliran Nathan yang terkejut karena kehadiran kedua orang tuanya yang tiba-tiba, dia pun menyalami keduanya lalu duduk saling berhadapan.
"Silahkan diminum dan dicicipi" pinta Rianti setelah menyuguhi dua gelas minuman dan sepiring puding buah yang tadi dibuatnya.
"Ini buatan kamu?" papa Nathan tampak tergiur dengan sajian puding buah yang terlihat segar dengan aneka buah-buahan.
"Iya Pa" jawab Rianti pelan,
"Ma, papa mau nyobain tolong ambilkan" titah papa pada mama Nathan dan langsung dieksekusi oleh mama Nathan.
" Eeummh....segar sekali, manisnya juga pas" dengan mata terpejam papa Nathan mengomentari puding yaang masih dalam mulutnya lalu kembali menyendok puding itu.
"Alhamdulillah kalau papa suka" ujar Rianti dengan senyum senang,
"Emang seenak itu Pa?" melihat ekspresi wajah suaminya, mama Nathan pun tergoda untuk mencoba.
"Eumh enak, yakin kamu yang membuatnya?" mama Nathan yang menilai jika puding yang sedang dimakannya memang enak.
Rianti hanya menjawab dengan anggukan kepala dan senyuman, dia tahu mama mertuanya pun mengakui jika puding buatannya enak.
Melihat mama dan papanya tampak menyukai puding buatan Rianti, Nathan tersenyum senang. Sementara Mikha tampak wajahnya sedikit muram.
"Mama, Papa, aku senang kalian bisa datang ke sini. Aku juga senang Mbak Rianti sudah pulang, jadi aku bisa.lebih cepat mengatakannya. Ada kabar bahagia yang ingin aku sampaikan pada kalian" Mikha menyela obrolan mereka dan berhasil membuat perhatian semuanya kini tertuju padanya.
"Mikha..." Nathan berusaha mencegah niat Mikha namun dia malah mendapat tatapan acuk dari istri keduanya itu.
"Aku hamil" tanpa menunda lagi, Mikha langsung mengatakan kabar bahagianya.
__ADS_1
Deg...Rianti yang memandang ke arah Mikha kini beralih menatap Nathan dengan wajah datarnya.