
Nathan memaku mendengar semua yang dikatakan Rianti, dia tidak menyangka apa yang dilakukannya justru membuat dirinya terlihat semakin buruk di mata Rianti. Nathan Sadar dirinya sudah begitu egois, bukan hanya karena pernikahan keduanya namun juga karena memaksakan kehendaknya dengan meminta Rianti untuk rujuk yang justru membuat wanita itu semakin terluka.
"Ri, maafkan aku!" ucap Nathan akhirnya,
Keheningan pun menyapa, keduanya terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya suara dering telepon Nathan mengusik keheningan.
"Angkatlah Mas" ucap Rianti yang melihat keraguan di wajah Nathan setelah melihat layar ponselnya.
"Mikha menelepon, tunggulah sebentar." ucap Nathan yang kemudian menerima teleponnya tanpa mengalihkan tatapannya dari Rianti yang menunduk karena sadar Nathan terus melihat ke arahnya.
"Mas, kurasa pembicaraan tentang kita sudah selesai. Kita adalah orang dewasa, mari kita jalani alur kehidupan kita dengan cara yang dewasa. Mas berbahagialah dengan keluarga Mas, aku akan pergi dari kota ini. Jika suatu saat kita harus kembali bersilaturahim karena suatu hal aku harap mas bisa bersikap lebih dewasa dan bijaksana. Walau bagaimana pun aku bukan lagi istrimu, kita sudah menjadi mantan dan aku faham bagaimana perasaan istrimu jika mengetahui kamu masih suka menghubungiku, mari kita sekedarnya saja itu pun jika kebetulan kita bersua. Kita sudah berakhir, menjaga jarak adalah suatu keharusan, begitupun dengan sikap, karena ada hati lain yang harus kita jaga. Tapi maaf, aku tidak bisa untuk memutuskan hubungan anak dengan ayahnya, aku harap istri mas pun mengerti." Rianti berbicara panjang lebar saat Nathan telah selesai menerima teleponnya. Dia tidak ingin anak yang masih dalam kandungannya kehilangan haknya untuk mengetahui siapa ayahnya.
Rianti memutuskan untuk memberi tahu Nathan perihal kehamilannya, walau bagaimana pun Nathan adalah ayah dari anak yang dikandungnya.
"Maksud kamu apa?" Nathan belum faham maksud perkataan Rianti. Dia menatap Rianti menunggu jawaban.
"Aku hamil mas, jika tidak ada halangan Insya Allah tujuh bulan lagi aku akan menjadi seorang Ibu."
"Ri...." wajah kaget Nathan terlihat jelas, dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Iya Mas, tenang saja aku akan merawatnya dengan baik. Percayakan saja padaku, Mas sebaiknya fokus pada istri Mas dan calon anak kalian juga." tegas Rianti menganggukan kepalanya,
"Aku..." entah harus bahagia atau sedih yang Nathan tunjukkan sekarang, namun kedua rasa itu bercampur aduk di hatinya saat ini. Dia sedih karena kini benar-benar harus melepas Rianti, namun mendengar berita kehamilan Rianti dia bahagia karena itulah yang sejak dulu dinantikannya namun mengingat kembali status mereka saat ini kesedihan kembali menyeruak memenuhi dada Nathan yang tergambar jelas di wajahnya.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu menghentikan ucapan Nathan, Rianti dan Nathan menoleh ke arah pintu sementara Riadi tetap fokus pada ponselnya karena memang dia sedang memakai headset.
Tampak Andhika sudah berdiri di ambang pintu, namun Nathan kembali terkejut karena di belakang Andhika ada Tiara, Arzan dan Arga yang juga datang bersama.
"Assalamu'alaikum, sudah siap Ri?" Tiara menerobos memasuki ruangan tempat Rianti dirawat tanpa memedulikan keberadaan Nathan.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, sudah" jawab Rianti dengan senyum, keduanya lalu saling bersalaman dan berpelukan.
"Kau ada di sini?" Arzan turut bersuara, dia melihat Nathan yang masih berdiri dengan wajah terkejutnya.
"Ayo, semuanya sudah siap. Kami semua akan mengantarmu." Tiara kembali berbicara, dia benar-benar mengabaikan keberadaan Nathan.
"Bro" Arga menghampiri Nathan sambil menepuk bahu sahabatnya itu, dia lalu mengambil koper milik Rianti yang berada yang berada tidak jauh dari Nathan dan bersiap keluar dari ruangan itu.
"Tunggu!" seru Nathan, dia menghalau Rianti yang juga akan beranjak dari tempatnya.
"Kalian mau kemana? Aku belum selesai bicara dengan istriku" intonasi bicara Nathan sedikit meninggi, dia tidak terima merasa diabaikan keberadaannya.
"Mantan Pak" sahut Tiara yang kemudian diikuti tatapan tajam dari Rianti, Arga dan juga Arzan pada Nathan.
"Lu amnesia, Bro?" tanya Arga dengan nada meledek, dan jangan lupakan Arzan yang juga tergelak mendengarnya.
"Kalian..."
"Apa maksud lo?" tanya Nathan heran,
"Oh jadi Pak Nathan tidak tahu kalau Mikha datang ke rumah sakit dan menemui Rianti?" tanya Tiara mencoba menggali pengetahuan Nathan perihal ulah istrinya.
"Apa?" pekik Nathan,
"Ouh jadi Pak Nathan benar-benar tidak tahu ya?" sahut Tiara sambil mengangguk-anggukan kepalanya,
"Ra, sudahlah. Semuanya sudah bukan hal yang harus dibahas lagi. Aku sudah meminta mas Nathan untuk lebih dewasa menjalani takdir kami masing-masing, Insya Allah Mas Nathan pun mengerti, iya kan Mas?" tanya Rianti penuh penekanan,
"Aku pun sudah sampaikan bahwa aku akan merawat anak kami dengan baik." lanjut Rianti sambil mengusap perutnya yang memang sudah sedikit menonjol, dia baru menyadari jika akhir-akhir ini berat badannya naik rupanya dampak dari kehamilannya.
"Jadi dia sudah tahu tentang kehamilanmu?" tanya Arga sewot, dia sedikit khawatir Nathan berbuat yang aneh-aneh.
__ADS_1
Rianti pun mengangguk menjawab pertanyaan Arga.
"Keren lu bro, setahun ini bakalan dapat dua anak sekaligus" Arzan kembali bersuara, lalu meraih pinggang Tiara hingga merapat ke tubuhnya,
"Sayang sepertinya kita harus sering lembur, aku tidak mau dia lebih banyak anaknya dariku." bisik Arzan di telinga Tiara yang sudah pasti juga di dengar oleh semua orang yang ada di sana.
Plakk...Tiara memukul lengan Arzan pelan yang melingkar di perutnya dengan wajah cemberut, bisa-bisanya di saat seperti ini suaminya malah bercanda.
"Aduh sayang sakit..." rengek Arzan membuat Arga dan Nathan memalingkan wajahnya,
"Ah sudahlah aku pergi duluan saja, ayo Dhik, kita duluan saja." ajak Arga yang kemudian berlalu dari sana sambil membawa koper milik Rianti dan diikuti Andhika yang juga membawa barang-barang lainnya.
"Iya Kak" sahut Dhika yang kemudian mengejar Arga setelah berpamitan.
"Tiara tolong jangan menghalangiku, istriku...eh maksudku Rianti sedang hamil." Nathan urung mendekati Rianti karena dihadang Tiara, dia yang masih salah menyebut Rianti segera meralat ucapannya setelah mendapat pelototan dari Tiara.
"Iya, aku tahu Pak Nathan. Tapi sekarang Rianti bukan lagi istri anda kalian sudah tidak punya hubungan apa-apa selain orang tua dari anak yang masih ada dalam kandungan Rianti, dan tentang anak tadi anda sudah mendengarnya sendiri kan jika Rianti akan menjaganya dengan baik."
"Tapi aku..."
"Mas, aku akan menjaganya, jangan khawatir ya. Do'akan saja dia selalu baik-baik saja. Mulai saat ini, inilah pintu surga yang akan terbuka lebar untukku, Alhamdulillah saat satu pintu surgaku tertutup, Allah membukakan pintu surga yang lain untukku melalu kehadiran anak ini." Rianti berusaha mengakhiri perdebatan antara sahabat dan mantan suaminya. Arzan pun memberi kode pada Nathan agar tidak memaksakan kehendaknya.
"Kalau begitu tolong jangan pernah menolak apa yang akan aku berikan untuk anak kita, Ri" pinta Nathan dengan wajah sendunya, dia benar-benar merasakan sakit ketika mengetahui kehamilan Rianti karena dirinya sudah tak mampu lagi berbuat banyak untuk menjaga keduanya. Nathan juga tidak ingin kehilangan kewajibannya untuk menafkahi anaknya mengingat setelah perceraian Rianti menolak semua pemberian Nathan untuknya.
"Tentu mas, silahkan mas siapkan saja" balas Rianti akhirnya pasrah agar Nathan tidak terus mengganggunya.
Mereka pun keluar bersama dari ruangan itu dan berpisah kemudian di parkiran. Rianti memasuki mobil Arzan bersama Tiara dan Riadi, sementara Andhika bersama Arga menaiki mobil yang dikemudikan Arga dengan barang-barang Rianti.
Nathan hanya berdiri dan melihat mobil yang dinaiki Rianti melaju meninggalkan parkiran rumah sakit dengan dada yang sesak penuh penyesalan.
"Ya Allah, kenapa jadi begini?" gumam Nathan yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri.
__ADS_1
Dia benar-benar menyesali apa yang sudah terjadi pada rumah tangganya. Kini Rianti telah benar-benar pergi dari sisinya membuat penyesalan semakin menggunung di hati Nathan.