
"Peranku sebagai istri telah selesai hari ini, tidak ada yang menginginkan perceraian tapi keadaan memaksa untuk berpisah. Terlepas dari semua salahku, aku minta maaf. Terlepas dari semua salahmu, aku pun sudah memaafkanmu. Jika Allah berkehendak mungkin suatu saat nanti kita dipertemukan lagi, semoga saat itu kita bertemu dalam versi terbaik kita masing-masing."
Palu sidang baru saja diketuk hakim. Gugatan cerai yang diajukan Rianti sudah dikabulkan, dengan mendengar alasan yang disampaikan Rianti dalam persidangan tentang alasan dirinya menggugat cerai dan ternyata hal itu pun diakui dan dibenarkan oleh Nathan maka proses persidangan cerai mereka tidak menunggu waktu lama. Dan hari ini Rianti sah menyandang status barunya, sebagai seorang janda.
Rianti menangkupkan kedua tangannya di depan dada, dia berkata dengan berusaha tetap tersenyum. Posisinya kini berhadapan dengan Nathan yang hanya menatap wanita yang sudah menjadi mantan istrinya itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
Karena tidak ada respon apapun dari mantan suaminya, Rianti pun memutuskan untuk pergi dari ruang persidangan.
"Aku pamit Mas, Assalamu'alaikum" ucap Riani berbalik dan melangkah menuju pintu keluar.
Sebelum benar-benar keluar, Rianti melirik ke arah kanannya, tidak jauh dari pintu keluar mantan mama mertua dan mantan madunya tengah duduk menunggu Nathan.
Tanpa ragu Rianti pun berbelok, berjalan ke arah kedua wanita itu yang langsung berdiri saat melihat kedatangan Liani.
"Bu, saya pamit. Mohon maaf atas segala kesalahan yang saya perbuat selama ini. Maaf jika selama ini saya hadir dan menjadi menantu yang tidak diharapkan. Semoga Ibu berkenan dan berbesar hati memaafkan saya. Begitupun dengan Bapak." tidak ada lagi panggilan mama dari Rianti untuk mantan mertuanya itu, dia cukup tahu diri jika kehadirannya dalam keluarga besar Nathan tidak dikehendaki, bahkan dirinya hadir dalam hidup Nathan dan berstatus sebagai istrinya pun tanpa sepengetahuan keluarga besar mantan suami nya itu.
Bayangan perlakuan mantan mertuanya pun kembali melintas di pikiran Rianti. Masih teringat jelas di ingatannya bagaimana mamanya Nathan menunjukan ekspresi wajah yang tidak bersahabat dan tidak menginginkan kehadirannya selama mereka tinggal bersama.
Tidak ada respon apapun dari mantan mertuanya, hal itu membuat Rianti segera melepaskan genggaman tangannya selepas mencium penuh takzim tangan wanita yang mulai menunjukan tanda-tanda penuaan itu.
Mama Nathan tersentak saat menyadari Rianti sudah tidak lagi menggenggam tangannya. Belum sempat mama Nathan membalas kata-kata mantan menantunya itu, Rianti sekarang sudah beralih pada Mikha.
"Mbak Mikha, maafkan atas segala kesalahan saya ya." Rianti pun mengulurkan tangannya pada wanita yang sekarang menjadi istri satu-satunya mantan suaminya itu, dan dengan wajah datar Mikha pun menyambut uluran tangan Rianti.
"Maaf jika saya sempat hadir di antara Mbak dan Mas Nathan. Untuk ke depannya saya hanya bisa mendo'akan agar keluarga Mbak dan Mas Nathan bahagia." ucap Rianti tulus mendo'akan mantan madunya itu.
"Semoga kehamilan dan kelahirannya lancar, sehat selalu ya Mbak." Rianti pun memeluk sekilas Mikha yang hanya diam tak merespon apapun.
"Saya pamit, Assalamu'alaikum." Rianti segera berbalik dan melangkahkan kakinya lebar berharap segera sampai pintu keluar karena berada lama dalam ruangan itu membuat dadanya kembali sesak.
"Rianti..." panggilan mama Nathan menghentikan langkah Rianti, dengan senyum menghiasi wajahnya dia pun berbalik dan menganggukan kepalanya ke arah mama Nathan lalu kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan itu.
Nathan yang mendengar semua yang di katakan Rianti seketika merasakan semakin besar rasa sakit dalam hatinya.
Dia sungguh tidak menginginkan perpisahan dengan wanita yang berhasil mencuri hatinya itu selain almarhumah Mitha dulu. Kini dia harus kembali kehilangan karena dirinya pun tidak ingin egois menahan Rianti untuk bertahan di sampingnya sementara hanya kesakitan yang diberikan olehnya.
"Ayo kita pulang!" seru Nathan pada kedua wanita beda generasi itu, dia berjalan lebih dulu tanpa menoleh.
Tidak ada yang bersuara selama perjalanan, ketiganya larut dalam pikirannya masing-masing. Nathan fokus menyetir, namun terlihat wajah sendu yang menandakan dirinya tidak baik-baik saja. Sementara Mikha yang duduk di sampingnya, memilih menatap jendela, memerhatikan setiap benda yang mereka lewati, entah apa yang sedang dipikirkannya. Begitupun dengan mama Nathan yang duduk di jok belakang, beliau menyandarkan kepalanya ke sandaran jok, sesekali memijit keningnya serta menghembuskan nafas kasar, sepertinya begitu banyak hal berkutat di pikirannya saat ini.
"Mau pulang kemana?" tanya Nathan membuyarkan lamunan Mikha dan Mamanya,
__ADS_1
"Terserah mama aja" Mikha lebih dulu menjawab, Nathan pun menatap sang mama dari vission mirror yang berada di atas kepalanya.
"Ke rumah kamu aja" jawab mama Nathan tanpa merubah posisinya, beberapa hari ini mereka memang tinggal di rumah Nathan yang dulu juga ditempati Rianti. Sementara Rianti sejak Nathan mengucapkan talak untuknya, hari itu juga dia angkat kaki dari rumah itu.
Setelah menjawab pertanyaan Nathan mam Nathan pun memejamkan matanya karena bayangan Rianti saat berpamitan tadi yang tiba-tiba hadir kembali di kepalanya.
"Aku langsung ke kantor ya, Ma." Nathan tidak keluar dari dalam mobilnya, dia berpamitan dengan posisi siap kembali melajukan mobilnya.
"Lho, Mas!" pekik Mikha yang tersentak karena Nathan pergi lagi,
"Mikh, biarkan Nathan menenangkan dirinya. Walau bagaimanapun hari ini adalah hari yang berat untuk dia." Mama Nathan mencegah Mikha yang akan menyusul Nathan yang masih berada di gerbang, dia berhenti dan tampak memanggil satpam yang sedang berjaga, entah apa yang mereka bicarakan.
Nathan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, suasana yang masih cukup pagi dan mulai menuju siang membuat jalanan cukup lenggang.
Bukan kantor yang menjadi tujuannya saat ini, mobilnya melaju ke arah berlawanan dengan kantornya.
Satu jam Nathan berkendara kini dia sudah tiba di sebuah pantai yang nampak sepi karena memang sekarang adalah hari kerja. Dia turun dari dalam mobilnya dan berjalan menyusuri bibir pantai seorang diri.
Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, baru satu minggu dia berpisah dengan Rianti sudah membuatnya merasakan kerinduan yang besar. Kini dia benar-benar telah kehilangan wanitanya itu, kerinduan yang dirasakannya semakin tak mampu dia redam....
"Arrrghhhh....." Nathan berteriak menghadap laut yang menghembuskan angin mengarah pada tubuhnya.
Kalau harus ku mengingatmu lagi
Aku takkan sanggup dengan yang terjadi pada kita
Jika melupakanmu hal yang mudah
Ini takkan berat, takkan membuat hatiku lelah
Kalah, kuakui aku kalah
Cinta ini pahit dan tak harus memiliki
Jika aku bisa, ku akan kembali
Ku akan merubah takdir cinta yang kupilih
Meskipun tak mungkin, walaupun ku mau
Membawa kamu lewat mesin waktu
__ADS_1
Jika melupakanmu hal yang mudah
Ini takkan berat, takkan membuat hatiku lelah
Panjang perjalanan yang harus kulalui
Merelakanmu
Jika aku bisa, ku akan kembali
Ku akan merubah takdir cinta yang kupilih
Meskipun tak mungkin, walaupun ku mau
Membawa kamu lewat mesin waktu, ho-uh-oh
Wo-uh-oh
Jika aku bisa, ku akan kembali
Ku akan merubah takdir cinta yang kupilih
Meskipun tak mungkin, walaupun ku mau
Membawa kamu, oh-oh
Jika aku bisa, ku akan kembali
Ku akan merubah takdir cinta yang kupilih
Meskipun tak mungkin, walaupun ku mau
Membawa kamu lewat mesin waktu
Sumber: Musixmatch
Mesin Waktu
Budi Doremi
Penulis lagu: Budi Syahbudin
__ADS_1