
Pagi yang berbeda dengan keadaan di rumah Rianti, pagi di rumah Tiara justru rame dengan berkumpulnya keluarga besar dari Arzan dan Tiara. Kehadiran anggota keluarga baru semakin membuat kebersamaan dan kehangatan keluarga itu meningkat.
Tiara duduk di sofa ruang keluarga didampingi Arzan yang merangkul mesra istrinya. Selepas sarapan bersama mereka berkumpul di ruang keluarga untuk menghabiskan waktu bersama, baby boy tentu saja menjadi objek menarik bagi semua anggota keluarga. Tentu saja Tiara dan Arzan hanya kebagian tersenyum melihat semua anggota keluarganya berebut untuk memangku bayi tampan itu.
"Terima kasih sayang, kebahagiaan yang kamu berikan bukan hanya untukku dan Qiana tapi lihatlah, semua orang berbahagia dengan kehadiran bayi tampan kita." Arzan mengecup mesra pelipis sang istri dengan penuh kelembutan.
"Alhamdulillah Mas, semoga Allah selalu menjaga keluarga kita" balas Tiara yang langsung diaminkan oleh Arzan,
"Sayang, teman-temanku tidak bisa hadir. Kemarin Rianti meminta izin tidak bisa datang karena jadwal di rumah sakit. Belum lagi kalau sudah punya suami pasti kesibukannya bertambah" keluh Tiara diiringi helaan nafas karena menyayangkan sahabat baiknya tidak bisa datang.
"Rianti sudah menikah?" mendengar kabar sahabat istrinya itu sudah menikah membuat Arzan sedikit terkejut, pasalnya dia merasa dirinya ataupun istrinya tidak pernah mendapat undangan pernikahannya.
"Iya, eh aku belum cerita ya kalau Rianti sudah menikah?" Tiara baru ingat jika dirinya belum sempat cerita perihal sahabatnya.
"Belum, oiya..aku juga belum cerita kalau kemarin saat menjenguk mamanya Nathan ke rumah sakit aku justru jadi saksi nikah dia"
"Mamanya Pak Nathan sakit? Bukannya mereka sedang di luar negeri?" Tiara tidak kalah terkejutnya mendengar berita yang disampaikan suaminya,
"Mereka baru datang beberapa hari yang lalu, dan kemarin aku mendapat kabar kalau tante Lisa dilarikan ke rumah sakit karena penyakit jantungnya kambuh. Dan ternyata di sana mereka sedang melangsungkan pernikahan." jelas Arzan yang tangannya tidak diam mengusap kepala Tiara dan sesekali memilin ujung jilbab istrinya itu.
"Hah? Siapa yang menikah Mas?" Tiara mengubah posisi duduknya menjadi menghadap sang suami,
"Mikha dan Nathan"
Deg....
Jawaban Arzan membuat Tiara seketika membulatkan matanya, menatap sang suami dengan ekspresi tidak percaya.
"Maksud mas? Mikha menikah dengan Pak Nathan?" tanya Tiara memastikan pemahamannya,
__ADS_1
"Heumm" Arzan pun mengangguk,
"Hah? Serius?"
"Iya sayang, kenapa kamu kaget begitu?" Arzan tergelak kecil melihat ekspresi istrinya,
"Terus Rianti bagaimana?" tanya Tiara dengan wajah khawatir sekaligus panik,
"Lho, apa hubungannya dengan Rianti?" Arzan pun mengerutkan keningnya,
"Mas, aku baru mau bilang kalau Rianti sudah menikah, dan kamu tahu siapa laki-laki yang menikahi Rianti secara dadakan?" intonasi bicara Tiara meninggi, dadanya bergemuruh benar-benar panik dan tidak habis pikir,
"Siapa?" tanya Arzan masih dengan ekspresi wajah santainya,
"Pak Nathan Mas, Pak Nathan yang menikahi Rianti empat bulan yang lalu" jelas Tiara dengan nafas memburu,
"Hah? Kamu serius? Jadi pernikahannya dengan Mikha adalah pernikahan kedua?" Arzan justru balik bertanya,
"Iya, iya sayang, tenang. Kami harus tenang, aku pasti akan menyelidiki ini"
Arzan mengambil ponselnya, dia menghubungi Arga dan memberitahu sahabat sekaligus asistennya itu perihal berita tentang sahabat istrinya itu. Arga pun tak kalah terkejutnya, sama seperti Tiara yang ada di pikirannya adalah keadaan Rianti saat ini.
Arga pun tidak menunda-nunda, dia langsung mengerahkan orang-orang kepercayaannya untuk menyelidiki semua informasi yang didapatnya dari sang bos.
"Brengsek lu Nath..." maki Arga, setelah sambungan teleponnya terputus.
Sementara orang yang sedang di makinya saat ini, tengah bersimpuh di hadapan istrinya, memohon pengampunan.
"Sayang, aku akan menjelaskannya"
__ADS_1
Setelah melihat keberadaan Mikha di rumahnya dan mengamati keadaan istrinya, Nathan yakin jika Mikha sudah menceritakan semuanya. Posisinya kini terasa sulit, namun di pikirannya hanya ada Rianti, bagaimana memberi pemahaman pada istrinya agar mengerti posisi sulitnya kemarin.
"Sayang, maafkan aku. Aku akan menjelaskannya" Nathan meraih tangan Rianti yang saling bertaut, sampai saat ini Rianti tak kunjung bersuara membuatnya semakin khawatir.
"Sayang...bicaralah!" pinta Nathan dengan posisi yang sama, dia semakin menggenggam kedua tangan istrinya, Nathan bahkan tidak memperdulikan keberadaan Mikha di sana membuat gadis itu geram sendiri.
"Kak Nathan, kenapa hanya dia yang kakak pikirkan, aku di sini kak, harusnya aku yang kakak pikirkan, dia yang sudah merebut kakak dari aku. Kalau dia tidak ada kita pasti sangat bahagia hari ini" Mikha tidak tahan melihat drama yang disaksikannya secara live itu, dia pun menarik lengan Nathan agar melihatnya,
"Diam kamu! Kedatangan kamu sudah menghancurkan keluargaku, kamu sudah menyakiti istriku!"
"Kak!" Mikha tak kalah berteriak keras, keadaan pintu utama yang terbuka menyadarkan Rianti untuk segera mengakhiri perdebatan mereka.
"Mas" Rianti memanggil Nathan,
"Sayang, maafkan aku, aku akan menjelaskan semuanya. Kemarin aku terpaksa menikahi dia karena dia mencoba bunuh diri dan karena itu mama juga dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantungnya" Nathan berbicara dengan raut wajah bersedih, rasa bersalah jelas terlihat di wajah Nathan, dia pun tampak ketakutan jika Rianti akan meninggalkannya.
"Duduklah mas, jangan seperti ini. Duduk yang benar masih ada kursi untuk mas duduk" Rianti menuntun suaminya untuk duduk di sofa yang bersebelahan dengannya, Nathan pun menurut namun tanpa melepaskan genggaman tangannya di tangan Rianti.
"Sekarang silahkan mas bicara, aku akan mendengarkan" titah Rianti yang menatap Nathan dengan tatapan sendu, kecewa? Jelas. Nathan melihat dengan jelas raut wajah kecewa istrinya.
"Nathan pun menceritakan kronologis kejadian kemarin, tidak lupa posisinya yang serba salah, dia bahkan mengatakan semuanya dengan air mata yang menetes membasahi pipinya."
"Kak, sejak awal kakak tahu kan kalau aku mencintai kakak..."
"Itu kamu, tapi aku tidak" sentak Nathan yang membuat Mikha seketika menghentikan bicaranya, dia pun menangis karena mendapat bentakan dari Nathan.
"Mas..." Rianti mengingatkan suaminya agar tidak terbawa emosi, walau bagaimana pun saat ini wanita di hadapannya sudah sah menjadi istri suaminya, tidak ada yang bisa dirubah, semuanya sudah terjadi.
"Mbak Mikha, saya mohon biarkan mas Nathan menyelesaikan dulu bicaranya. Nanti akan ada giliran mbak Mikha untuk bicara." Rianti berbicara dengan lembut, Nathan menatapnya semakin merasa bersalah, dalam situasi menyakitkan pun istrinya itu masih bisa tenang dan berbicara dengan lembut.
__ADS_1
"Sayang" gumam Nathan, mempererat genggaman tangannya.