Kupilih Pintu Surga Yang Lain

Kupilih Pintu Surga Yang Lain
Pagi Yang Mencekam


__ADS_3

Malam panjang dilalui sepasang suami istri itu dengan penuh kehangatan. Rianti membiarkan suaminya untuk melakukan apapun yang dia inginkan. Sekuat hati Rianti berusaha menahan diri menghapus bayangan peristiwa tadi siang perihal pernikahan suaminya dengan wanita lain.


Dari perlakuan Nathan, Rianti yakin di hati suaminya dirinya masih tetap bertahta.


"Terima kasih sayang, tidurlah kamu pasti lelah. Maaf sudah membuatmu kelelahan dan terima kasih selalu membuatku bahagia" Nathan mengecup kedua mata istrinya yang sudah tertutup, jam dinding sudah menunjukkan pukul satu pagi, dia baru saja menyelesaikan urusannya.


Tidak berselang lama Nathan pun turut mengikuti jejak sang istri yang sudah terlelap dengan memeluknya erat.


Pagi menyapa, kumandang adzan subuh seolah menjadi alarm alami untuk Rianti, dengan keadaan tubuh yang terasa pegal-pegal, dia bangun dengan perlahan melepaskan diri dari dekapan suaminya.


"Mau kemana sayang?" gumam Nathan tanpa membuka matanya.


"Sudah subuh Mas, ayo kita bangun" ajak Rianti yang masih belum bisa melepaskan diri dari dekapan suaminya,


"Sebentar lagi sayang, mas masih ngantuk" jawab Nathan masih dengan mata terpejam, dia malah semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh polos sang istri.


"Mas, adzannya sudah lewat lho....nanti makin kesiangan subuhnya" bisik Rianti mendekatkan wajahnya ke telinga Nathan dengan sedikit meniupnya adar sang suami bangun dan terbukti Nathan akhirnya membuka matanya.


"Sayang....kamu jangan menggodaku'' ucap Nathan dengan mata terbuka,


"Ayo dong bangun, sayang kalau subuhnya kesiangan" ucap Rianti dengan senyum manisnya yang selalu membuat Nathan menurut, dia pun bangun setelah melepas istrinya dari pelukannya yang kini berlari dengan membawa selimut mereka ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Tidak ada yang berubah, Rianti melaksanakan kewajiban paginya seperti biasa, setelah melaksanakan kewajiban Subuh bersama disambung dengan tadarus sebentar, Rianti segera menuju dapur untuk menyiapkan sarapan sementara Nathan dia memilih bersiap untuk berolah raga pagi dengan berlari mengitari komplek perumahan yang ditinggalinya.


Ketukan pintu mengalihkan Rianti dari fokusnya menyiapkan sarapan. Semuanya sudah tersaji di meja makan, tinggal menyiapkan baju kantor suaminya yang beberapa menit lagi akan tiba dari olah raganya.


"Sebentar!" teriak Rianti yang merasa heran pagi-pagi begini sudah ada tamu, kalau Nathan pulang berolah raga biasanya dia akan langsung masuk dan menuju dapur tempatnya berada.


Ceklek....pintu utama pun dibuka, tampak seorang wanita dengan selang infus di tangannya tengah berdiri membelakanginya.


Deg... Jantung Rianti tersentak, bahkan sekarang berdetak tiga kali lipat dari sebelumnya.


"Selamat pagi" ucap perempuan itu saat berbalik, menunjukkan senyum manisnya namun terasa.berbeda bagi Rianti.


"Pagi, maaf anda...."


Tanpa diminta Mikha pun duduk di sofa yang tersedia di ruang tamu itu tanpa sungkan.


"Sebentar, saya ambilkan dulu minum" setelah melihat tamunya duduk nyaman, Rianti memilih segera meninggalkan tempat itu menuju ke dapur, pikirannya tidak menentu, bertanya-tanya ada apa gerangan maksud kedatangan wanita yang sudah menjadi madunya itu.


Rianti menarik nafasnya dalam agar terlihat tenang sebelum kembali ke depan untuk membawakan tamunya teh.


"Silahkan diminum, Mbak" ucap Rianti ramah, dia berusaha bersikap tenang dan bersiap menghadapi kemungkinan apapun yang akan terjadi pagi ini.

__ADS_1


"Maaf, Mbak ada perlu dengan suami saya?" Rianti sedikit menekan kata suami saya di akhir kalimatnya, dia ingin pura-pura tidak kenal dengan perempuan di hadapannya tapi walau bagaimana pun mereka pernah bertemu saat berada di rumah Tiara, Alhasil Rianti hanya bisa menahan diri untuk bersikap setenang mungkin.


"Suami kita" tanpa aba-aba Mikha meralat ucapan Rianti,


"Maksudnya?" Rianti pura-pura syok.


"Kak Nathan adalah juga suami saya, kami sudah sah menjadi suami istri mulai kemarin. Kedatangan saya ke sini justru untuk menjemput suami saya yang semalam tidak pulang bahkan tidak ada kabar, padahal saya masih dirawat di rumah sakit" jelas Mikha membuat Rianti membeku di tempatnya saat ini, walau pun dia sudah tahu dan sudah menyiapkan diri, namun tetap saja hatinya merasakan sakit yang teramat sangat.


"Kedatangan saya ke sini juga untuk meminta sedikit belas kasihan kamu agar Kak Nathan diizinkan untuk bisa selalu membersamai saya selama sakit, sebagai istri yang baru dinikahinya saya pikir wajar memiliki waktu lebih apalagi keadaan saya seperti ini. Sebagai seorang perawat, saya yakin anda tahu apa yang dibutuhkan seorang pasien pada masa penyembuhannya kan?!"


Rianti masih menundukkan kepalanya, dia memilih mendengarkan Mikha terlebih dahulu, dalam hati terus bermunajat agar diberi kekuatan untuk tetap tenang menghadapi kenyataan ini.


"Aku tahu tidak mudah merelakan laki-laki yang kita cintai untuk membagi cintanya, tapi dalam hal ini kamu harus sadar kalau kamulah yang sudah merebut Kak Nathan dari saya." Nada bicara Mikha mulai meninggi, dia mulai menunjukkan sifat aslinya.


"Harusnya kamu sadar diri, setelah kamu dan keluargamu dibantu banyak oleh Kak Nathan jangan serakah untuk memilikinya."


Deg... Rianti semakin merasa dadanya sesak, dia tahu apa yang dimaksud dalam pembicaraan Mikha, selama ini ternyata wanita di hadapannya tahu jika dirinya sudah banyak dibantu oleh Nathan, entah darimana wanita itu mengetahuinya, atau mungkin Nathan sendiri yang bilang? Entahlah...di benak Rianti berbagai spekulasi negatif tengah bermunculan saat ini.


"Walaupun saya hanya istri kedua, tapi saya adalah istri yang diketahui dan direstui oleh keluarganya. Jadi, dalam hal ini seharusnya kamu tahu posisimu dimana"


"Mulai sekarang, jangan pernah menghalangi Kak Nathan untuk bersama saya, karena sebenarnya sayalah yang paling berhak daripada kamu." pelan, namun serasa menusuk di dada Rianti.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, sayang ada tam..." ucapan Nathan seketika terhenti saat mengetahui siapa yang tengah duduk berhadapan dengan istrinya.


Suasana pagi yang biasanya selalu hangat di rumah itu, kini seakan mencekam. Nathan tidak mampu melanjutkan ucapannya, tatapannya kini tertuju pada Rianti yang tengah duduk dengan kepala menunduk dan kedua tangan saling bertaut.


__ADS_2