Kupilih Pintu Surga Yang Lain

Kupilih Pintu Surga Yang Lain
Memilih Bertahan


__ADS_3

Cukup lama Rianti berada di tempat itu, rasa sesak di dadanya sedikit berkurang setelah menumpahkan banyak air matanya di tempat itu.


Waktu Ashar sudah lewat, Rianti memutuskan untuk mencari mesjid sebelum kembali. Untunglah dia masih sangat ingat dengan tempat ini. Rianti berjalan menyusuri jalan menuju pemukiman penduduk yang tidak terlalu jauh dari tempat itu. Beberapa menit kemudian dia pun sampai di sebuah mesjid dan dengan segera mengambil wudhu lalu melaksanakan shalat.


Tepat sebelum maghrib Rianti sudah sampai kembali di rumahnya. Keadaan rumah masih gelap pertanda belum ada satu pun anggota keluarga yang kembali ke rumah.


Ceklek...


Kunci pintu utama pun terbuka, dengan langkah gontai Rianti berjalan memasuki rumahnya. Tanpa ada niat menyalakan lampu dia berjalan menapaki tangga satu per satu menuju kamarnya. Walau dadanya sudah sedikit lega setelah menumpahkan tangis namun jauh di lubuk hatinya luka itu sangat menganga hingga tak sanggup dirinya untuk tidak meneteskan air mata saat melewati tangga dimana tepat di dinding tangga itu terpampang foto-foto pernikahannya dengan Nathan.


Kumandang adzan magrib menyadarkan Rianti dari lamunannya. Dia pun beristighfar menyadarkan dirinya sendiri agar tidak larut dalam kesedihan yang hanya akan membuatnya terpuruk. Rianti sadar hidup tidak selalu memberi apa yang sesuai dengan harapan, sebelumnya dia sudah mengalami jatuh bangun perjuangan hidup.


Ditinggal sang ayah saat dirinya belum mampu produktif secara finansial karena masih duduk dibangku SMA, dengan susah payah dia menyelesaikan sekolahnya agar bisa mencari pekerjaan yang layak karena harus menjadi tulang punggung keluarga. Keadaan sang ibu yang tidak baik-baik saja sepeninggal sang ayah membuat dia harus berjuang sendiri, mencari penghidupan untuk keluarga dan biaya sekolah dua adik laki-lakinya.


Semuanya Rianti jalani dengan baik, tanpa mengeluh walau sesekali godaan untuk menyerah menghampiri. Namun dengan keteguhan hati dan ketegarannya dia bisa melewati semua itu sampai datanglah pangeran berkuda besi yang peduli padanya.

__ADS_1


Tetapi Laki-laki gang sudah menjadi pahlawan dalam hidupnya dan kedua adiknya nyatanya hari ini dia juga yang memberi luka begitu dalam hingga kesakitan yang tak terhingga Rianti rasakan.


Rianti memilih untuk bangkit, seperti sebelumnya dia selalu mampu menjadi pemain yang baik dalam setiap peran yang tengah dimainkannya. Rianti berusaha bersikap biasa, melaksanakan kewajibannya seperti biasa untuk menyambut kepulangan sang suami, walau dalam hati kecilnya berbisik mungkin suaminya malam ini tidak akan pulang karena ini merupakan malam pertama dengan istri keduanya.


Deru mobil kembali menyentakkan Rianti yang duduk seorang diri di meja makannya. Dia pun beranjak dan melangkah menuju pintu utama.


Dari gorden yang dibukanya perlahan dia bisa melihat mobil sang suami sudah terparkir di tempat biasanya. Ketukan pintu pintu pun menarik Rianti untuk segera membukanya.


Sosok yang sejak tadi dipikirkannya kini telah berdiri tepat di hadapannya. Rianti menatapnya dengan tatapan tidak seperti biasanya, dia ingin melihat wajah suaminya dengan seksama. Bisa saja setelah ini matanya tak akan lagi bisa memandang wajah yang selalu memberinya kekuatan.


"Wa'alaikumsalam Mas, Alhamdulillah, selamat datang Mas" Rianti pun meraih tangan sang suami dan menciumnya.seperti biasa dia meraih tas dan sang suami yang tersampir di bahunya.


"Mas mau mandi dulu atau..."


"Aku mau mandi dulu sayang, tapi sebentar..." Nathan merengkuh tubuh Rianti ke dalam pelukannya, dia menyesap dalam puncak kepala sang istri yang sangat dirindukannya seharian ini. Dalam hatinya sedang berperang antara jujur sekarang atau menunggu waktu yang tepat.

__ADS_1


"Mas..."


"Sebentar sayang, aku sangat lelah hari ini. Dengan memelukmu seperti ini rasanya rasa lelahku menguap begitu saja" bisik Nathan tepat di telinga Rianti.


Saat ini Rianti tengah di peluk Nathan dari belakang saat dirinya hendak mengambil pakaian yang akan disiapkan untuk suaminya. Degup jantung Rianti semakin meningkat, bayangan kejadian tadi siang di rumah sakit membuat dadanya kembali sesak.


"Jangan pernah tinggalkan aku sayang, hanya kamu yang mampu memberiku ketenangan dalam setiap resahku. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu Rianti Auriza Zahra" lirih Nathan dengan nada suara bergetar seolah menahan tangis.


Nyesss....mendengar kata-kata cinta yang diucapkan suaminya membuat hati Rianti menghangat, dia dapat merasakan ketulusan dari setiap ucapan suaminya. Hati dan pikirannya kembali berperang, pikirannya meminta agar dia mundur namun hati kecilnya berbisik jika suaminya sangat membutuhkannya.


"Ya Allah...sehatkan badan suamiku, kuatkan dirinya dalam menghadapi berbagai ujian. Lancarkan rezekinya, izinkan aku untuk menemani proses perjuangannya. Dia menyayangiku melebihi dirinya, sungguh dia manusia paling baik setelah orang tuaku." munajat Rianti dalam hati, setelah berpikir dengan banyak pertimbangan Rianti memutuskan untuk diam saat ini.


Dia tidak memulai pembahasan apapun perihal masalah yang terjadi pada suaminya, dia pun tidak akan memaksa Nathan untuk bicara jujur. Biarlah waktu yang akan menentukan semuanya. Dia serahkan semuanya pada Maha Pemilik segala masalah dan solusi.


Untuk saat ini, Rianti akan berusaha bertahan semampunya, berpura-pura tidak tahu apa yang telah terjadi, Rianti percaya suaminya pasti punya alasan mengapa melanggar janjinya untuk tidak mendua, namun andai takdir menghendaki dirinya menyerah, dia pun tidak bisa berbuat banyak.

__ADS_1


__ADS_2