
Rianti membereskan piring bekas sarapan mereka berdua, setelah mendapatkan jawaban suaminya dia memilih untuk tidak melanjutkan pertanyaannya.
Jam menunjukkan pukul tujuh tiga puluh, Rianti sudah siap dengan mengambil tas dan helmnya, setiap hari dia memang pergi ke rumah sakit memakai motor matic kesayangannya yang dia beli cash setelah menabung cukup lama selama berkuliah. Tiga puluh menit lagi dia harus sudah berada di tempatnya bertugas, karena obrolan saat sarapan tadi membuat dirinya pun sedikit terlambat berangkat.
Nathan sudah menawarkan untuk membelikannya mobil tapi Rianti selalu menolak, sudah terlalu banyak yang diberikan Nathan untuknya dan kedua adiknya sejak dulu. Walaupun saat ini dirinya sudah berstatus sebagai istri Nathan tapi hal mengganjal perihal keluarga Nathan membuatnya enggan untuk menerima fasilitas mewah dari suaminya itu.
"Ri..." Nathan yang juga ternyata belum berangkat menghentikan Rianti yang sudah siap di atas motornya.
Tadi saat dirinya membereskan piring Nathan berlalu lebih dulu ke ruang tengah, Rianti mengira suaminya itu sudah berangkat ke kantornya.
"Mas, belum berangkat? Ini sudah siang lho" Rianti melihat jam tangan yang melingkar di tangannya, jam tangan sama yang selalu dia pakai sejak sebelum menikah dengan Nathan.
__ADS_1
Bukannya menjawab, Nathan malah fokus pada jam tangan yang dipakai Rianti hatinya berdenyut selama ini dia belum pernah membelikan apapun kepada Rianti selain uang bulanan untuk kebutuhan rumah dan sekolah kedua adiknya.
"Aku duluan ya, sebentar lagi jam piketku. Aku takut terlambat" lamunan Nathan buyar saat mendengar Rianti menyalakan motornya.
Dengan posisinya yang sudah duduk di atas motornya, Rianti meraih tangan Nathan dan menciumnya.
"Ri, kita belum selesai bicara" Nathan menahan tangan Rianti yang akan melepaskan genggamannya,
Perlahan Nathan pun melepaskan genggaman tangannya, dia mengangguk pelan dengan tatapan sendu. Menjawab salam yang diucapkan Rianti setelah motor yang dikendarai istrinya itu sudah keluar dari gerbang rumahnya dan tidak terlihat lagi.
"Ya Tuhan, bagaimana ini?" Nathan menyugar rambutnya frustasi.
__ADS_1
Dia memutuskan menikahi Rianti walau pun tanpa diketahui keluarganya karena tulus menyayangi gadis itu dan ingin selalu melindunginya, menjaganya dan memberikan kebahagiaan untuk gadis itu.
Kepergiaannya waktu itu murni karena rasa pedulinya pada Mikha, dia ingin Mikha sembuh dan kembali menjalani hari-harinya dengan hidup normal. Hampir satu bulan Nathan membersamai gadis itu, setelah koma selama hampir seminggu Nathan pun masih setia membersamai Mikha di masa penyembuhannya, dia meninggalkan pekerjaannya dan digantikan langsung oleh papanya.
Nathan sama sekali tidak bisa menolak saat kedua orang tua Mikha pun meminta dirinya kepada kedua orang tuanya untuk selalu membersamai Mikha.
Setelah dinyatakan seratus persen sembuh Nathan membawa Mikha untuk menemui Arzan dan meminta maaf pada keluarga sahabatnya itu atas perbuatannya yang hampir mencelakai Qiana, putri Arzan dari kakak sepupunya yang ternyata putri dari Nathan.
Nathan bernafas lega akhirnya Arzan memaafkan kesalahan Mikha dan bersedia kembali menjalin silaturahmi walaupun masih membatasi dirinya dan juga keluarga untuk berinteraksi intens dengan mantan adik iparnya itu.
Mikha memutuskan kembali ke Singapura untuk melanjutkan kuliahnya yang tinggal beberapa tugas akhir dan selanjutnya wisuda, kesempatan itu Nathan gunakan untuk kembali ke Jakarta dan menikahi Rianti, sungguh Nathan tidak ingin kehilangan wanita itu. Cukup sudah hampir sebulan dia memendam kerinduannya karena jarak dan kesibukannya mengurus Mikha.
__ADS_1
Nathan memasuki mobilnya, dia mencengkeram kuat setir dan kembali larut dalam pikiran tentang bagaimana cara untuk menjelaskan semuanya pada Rianti Diapun bingung bagaimana caranya untuk membawa Rianti ke hadapan kedua orang tuanya dan mendapatkan restu mereka. Jujur, Nathan belum siap jika menerima penolakan dari orang tuanya, dia tidak ingin Rianti disakiti dan semakin terluka.