Kupilih Pintu Surga Yang Lain

Kupilih Pintu Surga Yang Lain
Pengakuan Nathan (2)


__ADS_3

Hari yang sangat melelahkan untuk Nathan, setelah menyelesaikan pekerjaannya di kantor dia memilih untuk pulang. Beberapa janji pertemuan dengan para klien dia batalkan dan di jadwal ulang oleh Emira, sebagian pertemuan pun didelegasikan pada Falah sang asisten.


"Lo baik-baik saja kan?" Falah yang diminta mengantarnya pulang membuka suara setelah sepuluh menit perjalanan mereka dari kantor menuju kediaman Nathan dan Rianti berlalu dengan keheningan.


"Enggak, gue gak baik-baik saja" Nathan membuka matanya, sejak tadi kepalanya terasa berdenyut sesampainya dalam mobil dia pun memilih menyenderkan kepalanya dengan mata terpejam.


"Gue masih bingung darimana harus memulai menjelaskan semuanya pada Rianti" Nathan mendesah, wajah bingung bercampur khawatir terlihat jelas dari raut wajahnya. Falah melirik kaca spion di depannya, melihat dengan jelas wajah lesu sang boss.


"Menurutku sebaiknya lo jujur semuanya, semua yang lo sembunyikan sekarang tidak selamanya akan tersimpan baik, tidak menutup kemungkinan suatu hari nanti hal itu jadi bom waktu yang akan jadi bumerang buat lo dan rumah tangga lo, bahkan bisa jadi dalam waktu dekat. Secara lo tahu sendiri seperti apa Mikha, jangan sampai apa yang pernah menimpa Qiana kembali terulang"


Qq


Deg...mendengar perkataan Falah yang panjang lebar seketika membuat tubuh Nathan seperti membeku. Bayangan kecelakaan yang menimpa Qiana karena ulah nekad Mikha, Nathan pun berpikir jika mungkin saja Mikha akan melakukan hal yang sama pada Rianti.


"Tidak" teriak Nathan membuat Falah refleks mengerem mobilnya.


"Boss" pekik Falah yang juga kaget bukan hanya karena teriakan Nathan tapi karena bossnya itu terantuk kursi mobil depan.


"Sorry boss, aku kaget" Falah sudah meminggirkan mobilnya, kebetulan jalan yang mereka lalui tidak terlalu ramai dengan cepat dia memarkirkan mobilnya dan mengecek keadaan sang boss yang masih mengusap jidatnya.

__ADS_1


"Sialan lo, kalau mau ngerem bilang-bilang dong" Nathan menggerutu,


"Sorry bos, gue kaget denger lo berteriak" Falah beralibi, dia kembali memastikan sang bos baik-baik saja, menyodorkan botol air minum yang sudah tersedia di sana.


"Gue kepikiran sama perkataan lo, gue gak bisa bayangin kalau terjadi sesuatu pada Rianti. Gue takut Mikha kembali nekad" Nathan mengungkapkan ketakutannya setelah menegak hampir setengah botol air mineral pemberian Falah.


Mereka berdua pun memilih menenangkan diri terlebih dahulu.


"Sebaiknya lo segera bicara sama istri lo, semuanya, jangan ada yang terlewat. Kalian bisa mencari solusinya bersama, setahu gue istri lo orangnya bijak. Dia bisa selalu bisa lebih banyak mendengar daripada bicara, kali ini gue yakin dia pun akan bisa menawarkan solusi terbaik buat lo dan kelangsungan rumah tangga lo" Falah kembali menasehati Nathan, selama ini sahabatnya itu selalu bisa diandalkan dalam setiap masalah yang Nathan hadapi.


"Lo benar, tapi gue gak kuasa melihat kesedihan di mata dia, tadi saja saat dia tahu kalau keluarga gue belum mengetahui pernikahan kami, gue tahu dia sedih tapi dia masih berusaha tersenyum" Nathan mengangguk-anggukan kepalanya sepakat dengan saran yang diberikan Falah. Namun beberapa detik kemudian dia berubah, menatap tajam ke arah Falah yang menatapnya heran.


"Kenapa?" tanya Falah penasaran,


"Apa?" Falah terlihat bingung, tidak mengerti dengan pertanyaan Nathan.


"Jadi selama ini lo suka perhatiin istri gue ya" sentak Nathan dengan tatapan seolah menguliti Falah yang ditatapnya, dia pun langsung connect sang bos cemburu karena dirinya memuji istri bos.


"Hhe...sorry boss, gak sengaja" Falah segera berbalik, bersiap menyalakan mobil dan segera melaju setelah menerima timpukan dari Nathan dengan bantal leher yang ada di dalam mobil itu.

__ADS_1


Satu jam kemudian mobil yang dikendarai Falah sudah sampai di pekarangan rumah tempat tinggal Nathan bersama Rianti dan kedua adik iparnya. Dari dalam mobil Nathan sudah melihat pintu utama rumah itu terbuka, menampilkan sosok wanita yang sejak tadi dirindukannya.


Rianti berdiri di teras sudah berpakaian santai dengan baju dan jilbab yang berwarna senada, dengan senyum mengembang di bibirnya dia menunggu Nathan keluar dari dalam mobil.


"Lo lihat, bagaimana gue gak semakin jatuh cinta. Setiap kali pulang dia sudah menyambut gue dengan senyumannya, dia selalu berusaha sudah berada di rumah sebelum gue pulang padahal gue tahu pekerjaannya juga tidak mudah, dia rela berganti shift dengan rekan-rekannya agar bisa pulang lebih awal dari gue." Nathan berkata dengan tatapan yang tak lepas dari sang istri yang sedang berdiri menunggunya,


"Iya gue percaya, lo emang gak salah pilih." sahut Falah yang juga menatap Rianti,


"Hey....jaga mata lo, lo gak boleh lihat dia kayak gitu" bentak Nathan yang baru menyadari jika Falah juga tengah menatap istrinya.


"Haha....cemburu Pak Boss" ejek Falah, dia pun keluar dari mobil mengangguk dan tersenyum ke arah Rianti sebelum membukakan pintu sang bos yang ternyata sudah terbuka.


"Pulanglah!" titah Nathan tanpa menoleh, tatapannya fokus pada istrinya yang semakin lebar mengembangkan senyum menyambut kedatangannya.


Hati Nathan kembali menghangat, lelah dan khawatir sirna di hatinya saat meraih pundak sang istri sembari melayangkan kecupan di keningnya setelah terlebih dahulu Rianti yang meraih tangannya dan menciumnya penuh takdzim. Mereka pun memasuki rumah dengan saling berangkulan.


Selepas makan malam bersama, Nathan dan Rianti memilih untuk duduk di ruang tengah, menonton acara televisi yang sesekali membuat mereka tertawa karena lucu. Sementara kedua adiknya sudah berada di kamar masing-masing untuk belajar.


"Sayang, ada yang mau aku sampaikan" melihat suasana yang cukup kondusif Nathan membuka suara dengan nada bicara serius.

__ADS_1


"Heum.." Rianti mengalihkan pandangannya dari layar televisi ke arah suaminya.


Mereka pun duduk berhadapan, Nathan menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Setelah cukup siap dia pun menceritakan semua yang disimpannya selama ini, perihal Mitha, kedua orang tuanya, kesepakatan orang tua mereka sampai kedatangan Mikha tadi siang ke kantornya. Semuanya Nathan ceritakan dengan runut, tidak ada yang terlewat satu pun.


__ADS_2