
Rianti menarik nafasnya dalam, kepanikan sang suami atas kabar yang diterimanya melalui sambungan telepon yang entah siapa yang menghubunginya bahkan membuat Nathan lupa untuk sekedar pamit, jangankan diajak.
"Hati-hati Mas" ucap Rianti lirih, dia pun membereskan piring kotor bekas sarapan mereka kemudian bersiap untuk berangkat ke rumah sakit karena hari ini seperti biasa dia bertugas pagi hari.
Sampai jam makan siang tiba belum ada kabar dari Nathan, Rianti yang sejak pagi sangat khawatir selalu membawa ponselnya agar tidak jauh darinya. Dia berharap Nathan memberinya kabar perihal keadaan mama mertuanya.
"Pagi suster, boleh gabung gak?" Rianti yang sedang duduk seorang diri di kantin untuk menikmati makan siangnya dikagetkan dengan suara seseorang yang tak asing di telinganya.
"Mas Arga" pekik Rianti yang terlonjak karena kedatangan Arga yang tiba-tiba sudah duduk di hadapannya dengan wajahnya yang sedikit menyondong dekat ke arahnya.
"Ngelamun aja, hati-hati lho kesambet"
"Mas Arga lagi ngapain di sini?" Rianti mengabaikan ucapan Arga, dia fokus pada keberadaan laki-laki yang merupakan asisten pribadi sekaligus sahabat Arzan suami dari Tiara sahabatnya.
"Mamanya teman aku sakit, aku dan Arzan menjenguknya" jawab Arga yang meraih gelas minuman Rianti kemudian meminumnya tanpa izin terlebih dahulu,
"Mas itu minumanku, sudah aku minum juga" Rianti teralihkan dengan perilaku Arga,
"Haus" sahut Arga santai yang kemudian hanya dibalas dengan cebikan bibir oleh Rianti.
"Tiara juga datang?"
"Enggak, nyonya boss lagi refreshing sama nyonya besar ke Singapur"
"Ouh, belum pulang?" tanya Rianti lagi yang mengetahui saat ini Tiara sedang berada di Singapur dengan kedua anaknya juga ibu mertuanya untuk mengunjungi sanak saudara mereka yang ada di Singapur.
"Lah itu tahu" sela Arga yang tampak acuh menghabiskan buah potong milik Rianti.
"Ish...Mas Arga itu buah potong aku" Rianti kembali berwajah masam saat melihat buah potongnya satu persatu lenyap dari tempatnya, dia bahkan baru dua potong memakannya.
"Ga, ayo" belum juga Arga menyanggah ucapan Rianti, dari arah pintu kantin Arzan datang dan langsung menuju ke meja tempat Arga dan Rianti duduk.
__ADS_1
"Bos, sudah selesai?" tanya Arga dengan mulut yang masih berisi potongan buah yang baru sebentar dikunyahnya,
"Belum, masih menunggu omm Dharma untuk dijadikan saksi" sahut Arzan yang kemudian duduk di kursi kosong,
"Tuan, mau makan siang? Saya pesankan?" Rianti yang tidak terlalu akrab dengan Arzan merasa tidak nyaman duduk satu meja dengan atasannya walaupun kini sudah menjadi suami dari sahabat dekatnya,
"Tidak, terima kasih" jawab Arzan dengan ekspresi datar, aura pimpinannya sangat terlihat jelas. Laki-laki itu hanya terlihat manis jika di hadapan istrinya.
"Kalau begitu saya permisi tuan, Mas Arga. Jam istirahat saya sudah habis" Rianti berpamitan dengan sopan, dia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Masih ada lima belas menit waktu untuk beristirahat namun dia memilih untuk melanjutkan istirahatnya di ruang perawat saja.
"Oke"
"Silahkan"
Arzan dan Arga kompak menjawab pamitnya Rianti.
"Nathan sudah mau menerima pernikahan ini?"
Kata pernikahan membuatnya penasaran, "Pernikahan? Pernikahan siapa?" Tanya Rianti dalam hatinya.
Tiba-tiba Rianti teringat jika suaminya tadi pamit karena mendengar mama mertuanya masuk rumah sakit. Terlintas di pikirannya jika rumah sakit tempat mama mertuanya di rawat kemungkinan adalah rumah sakit tempatnya bekerja saat ini yang merupakan rumah sakit milik keluarga Arzan, sahabat Nathan.
Rianti pun segera mempercepat langkahnya, tujuannya bukan lagi ruang perawat tempatnya beristirahat tapi resepsionis di unit gawat darurat. Rianti bermaksud mencari daftar pasien yang tadi pagi masuk.
Setelah dua puluh menit mencari data pasien yang tadi pagi masuk dengan bantuan temannya Rianti bernafas lega karena perkiraannya ternyata benar jika sang mama mertua dirawat di rumah sakit ini.
"Tri, terima kasih ya" Rianti mengucapkan terima kasih pada rekan kerjanya yang bertugas di bagian administrasi karena telah membantunya walaupun cukup lama untuk menemukannya karena pergantian shift petugas menjadi salah satu penyebabnya.
"Sama-sama, Ri. Jangan sungkan" ucap rekan kerja Rianti yang dipanggil Tri itu ramah.Rianti pun menuju ruang rawat tempat mama mertuanya dirawat.
Tidak butuh waktu lama untuk Rianti menemukan ruang rawat sang mama mertua, lantai tujuh adalah tempat paling sering dia bertugas. Pembawaannya yang lembut dan keibuan membuat Rianti sering ditugaskan di ruang perawatan lansia dan anak-anak. Dan saat ini, di sinilah dia berada, Rianti berdiri di depan ruang rawat VVIP yang pintunya sedikit terbuka.
__ADS_1
Saat sudah sampai tepat di depan pintu, Rianti menghentikan langkahnya. Dari celah pintu yang tidak rapat itu dia bisa melihat banyak orang yang ada di dalam ruangan yang luasnya lebih dari ruang rawat biasanya.
Sekilas Rianti mendengar seseorang yang sedang berbicara, dari nadanya kemungkinan yang sedang berbicara adalah seorang ustadz yang terdengar sedang menyampaikan tausiyah. Rianti memilih diam dan berdiri di depan pintu ruang rawat VVIP itu dan mendengar semakin jelas jika sang ustadz tengah menyampaikan ceramah yang isinya tentang nasehat untuk kedua mempelai calon pengantin yang akan melangsungkan pernikahan.
Rasa penasaran menahannya untuk tetap berada di depan pintu ruang rawat itu. Dia mengabaikan panggilan masuk di ponselnya yang sengaja dia silent, sekilas dia melirik jika Tiara yang meneleponnya namun Rianti memilih tidak mengangkatnya karena pendengaran dan pikirannya tengah fokus pada apa yang sedang di dengarkannya melalui celah pintu ruang rawat itu.
"Baiklah, selanjutnya kita akan melakukan prosesi akan nikah" suara laki-laki yang berbeda terdengar setelah sang ustadz mengakhiri tausiyahnya, Rianti pun semakin memfokuskan pendengarannya.
"Ananda Nathan, apakah sudah siap?"
Deg, pertanyaan laki-laki yang tadi menyampaikan bahwa prosesi akad akan segera berlangsung selama seketika membuat jantung Rianti berdetak kencang. Dia harap dia salah dengar jika yang ditanyai laki-laki itu adalah Nathan, nama yang sama dengan laki-laki yang menjadi suaminya.
"Ananda Nathan Alzaidan, Aku nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau dengan puteriku Mikhaila Pradipta dengan mahar sebuah cincin berlian dibayar tunai.”
"Saya terima nikah dan kawinnya Mikhaila Pradipta binti Rudi Pradipta dengan mahar tersebut, tunai”
Dalam satu tarikan nafas dua laki-laki beda generasi telah mengucapkan ikrar ijab dan kabul yang langsung disambut dengan ucapan sah dari saksi dan orang-orang yang berada di ruangan tersebut.
Untaian do'a pun dimunajatkan untuk keberkahan pernikahan dua sejoli itu.
Dengan tangan yang bergetar dan tangis yang tertahan, Rianti mencoba membuka pintu ruang rawat itu dengan pelan. Dia hanya ingin memastikan jika nama laki-laki yang disebutnya adalah benar suaminya, dan suara tidak asing yang mengucapkan kabul itu pun adalah suaminya.
Rianti berusaha mengelak pendengarannya, dia ingin memastikan dengan mata kepalanya sendiri jika pendengarannya tidak salah dan masih normal.
Kreett....
Suara pintu yang sedikit terbuka tidak membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu terganggu dalam kekhusuan mereka berdoa dan saat itu Rianti bisa melihat dengan jelas jika laki-laki yang memakai stelan jas berwarna putih tengah duduk di samping wanita yang mengenakan kebaya berwarna sama dengan jas yang dipakai laki-laki itu adalah suaminya.
Ternyata yang baru saja melangsungkan pernikahan bukanlah laki-laki yang berbeda dengan nama yang sama, namun mereka adalah laki-laki yang sama, laki-laki yang tiga bulan lalu juga mengucapkan kalimat akad itu untuk mengikat dirinya sebagai wanita halalnya. Dan saat ini di hadapannya laki-laki itu mengulanginya dengan wanita yang berbeda.
"Apa ini? Kenapa kakiku rasanya sulit sekali melangkah? Kenapa dadaku juga sakit?" Rianti bermonolog dalam hatinya, tangannya meremas baju bagian depan, memegangi dadanya yang terasa sesak bercampur sakit. Dia merasa baru besar sudah menghantamnya, sesak sekali.
__ADS_1