Kupilih Pintu Surga Yang Lain

Kupilih Pintu Surga Yang Lain
Permintaan Rianti


__ADS_3

Mungkin saat ini aku berada di titik terendah dalam hidup ini. Dimana aku telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku.


Sebelumnya aku pernah merasakan kehilangan, namun kehilangan kali ini membuatku merasa benar-benar tidak berharga dan tidak layak bahagia. Di kehilangan kali ini aku merasa ada sebagian dari diriku hilang, ternyata dia yang kini telah hilang dari diriku telah menempati satu ruang khusus di bagian dalam hati yang sebelumnya tidak pernah dihuni siapapun.


Jatuh, terlukai, ditinggalkan, kehilangan, sakit rasanya. Serasa terhempas jauh ke jurang yg dalam, begitu sepi, gelap dan menyesakkan.


Sempat menyalahkan takdir dan bertanya pada Tuhan, kenapa harus aku...??? kenapa semua ini terjadi??


Berusaha memaksakan keadaan sesuai keinginan, namun masih saja sama.....berantakan...


Lelah....ya...sampai lelah tak lagi memaksakan, mengandai-andaikan, menyesalkan.


Pasrah, akhirnya itulah yang aku rasakan.


Di titik pasrah aku merasa benar-benar tak berdaya, dan di saat itulah aku mulai tersadar jika aku hanya butuh bersandar dan berharap pada-Nya.


Aku sadar, selama ini telah meletakkan harap ditempat yang salah. Perlahan aku berusaha mengumpulkan sisa-sisa kekuatan, menata kembali hati yang berserakan. Memberanikan diri keluar dari kegelapan, meski tertatih. Aku berusaha menyingkirkan pahitnya masa lalu dan mulai merangkai semua dari awal.


Kehadiran makhluk baru dalam rahimku, perlahan menjadi sumber semangat dan kekuatan untuk aku bangkit. Aku akan percaya, setelah ini, semua akan baik-baik saja. Setelah ini aku tidak perlu lagi takut hujan bahkan badai pun pernah menerjang.


Aku tidak boleh menyerah hanya karena satu hal yang sempat melumpuhkan, karena masih banyak hal baik lainya yang membuat aku kuat dan semangat menjalani hidup.


Semua ini hanya sementara, aku harus tetap semangat dan tidak pernah menyerah. Karena waktu terus berjalan, aku tidak akan pernah sampai tujuan jika kita berhenti.


Jadi, tekadku sudah mantap untuk melanjutkan perjalanan ini dengan segala perjuangan dan pengorbanannya. InsyaaAllah bahagia akan aku raih dengan tekad dan kesungguhan.


Di tempat baru dengan harapan baru akan memulai semuanya bersama buah hatiku.


☘️☘️☘️


Sudah satu minggu Rianti berada di rumah sakit. Hari ini dia merasa sudah benar-benar pulih dan berharap bisa segera keluar dari rumah sakit dan melanjutkan hidupnya sesuai rencana.


Selama di rumah sakit Tiara selalu menjadi orang yang selalu ada untuknya. Walaupun tidak setiap malam dia bisa menemani sahabatnya karena bayi besar yang sulit sekali dikondisikan tetapi setiap hari siang sampai sore Tiara selalu menyempatkan diri untuk menemani sahabatnya di rumah sakit. Untunglah kedua adik Rianti yang berada di luar kota memilih pulang.

__ADS_1


Mendengar keadaan sang kakak yang tengah dirawat di rumah sakit memutuskan Andhika, adik pertama Rianti pulang. Sebelumnya dia sudah mengajukan cuti selama satu minggu dari tempat kerjanya agar bisa leluasa menemani sang kakak di rumah sakit. Begitupun dengan Riadi, adik bungsu Rianti yang juga tengah berkuliah dengan beasiswa yang didapatkannya pun memutuskan untuk pulang dan membersamai sang kakak.


Keduanya sudah mendengar dengan jelas dan langsung dari kakak mereka perihal pernikahan sang kakak yang harus kandas. Dengan bijaksana Rianti memberi pengertian kepada kedua adiknya agar bisa menerima semua ini dengan ikhlas dan bijaksana sama seperti dirinya. Rianti pun meminta agar kedua adiknya tidak membenci Nathan, tetap menjalin silaturahmi seperlunya karena walau bagaimana pun jasa Nathan untuk keluarga mereka sangatlah besar.


Mereka ingat betul bahwa pendidikan dan pekerjaan layak yang saat ini mereka miliki tidak lepas dari peran Nathan.


Keduanya pun menurut dan akan melakukan apa yang Rianti minta. Keduanya pun hanya bisa berdo'a agar kakak tercinta mereka segera kembali mendapatkan kebahagiaannya.


Berita keberadaan Rianti yang sakit dan dirawat di rumah sakit akhirnya sampai juga ke telinga Nathan. Laki-laki yang sudah berstatus mantan suaminya itu ternyata beberapa hari ini selalu mendatangi kontrakan Rianti dan tidak pernah mendapatinya berada di sana.


Nathan tentu tidak bisa diam saja saat apa yang dicarinya belum dia dapatkan. Dia pun beralih mencari keberadaan Rianti di rumah sakit.


Setelah bertanya pada rekan Rianti, dia pun mendapati fakta bahwa Rianti sedang sakit dan dirawat di rumah sakit itu.


Dengan mudah Nathan bisa mendapatkan informasi mengenai keberadaan ruang rawat Rianti. Dengan terburu-buru Nathan pun menuju lift untuk menemui Rianti.


Keinginannya untuk bertemu Rianti tidak mampu ditahannya lagi. Dia pun memutuskan untuk menemui wanita yang sudah menjadi mantan istrinya itu, tentu saja Nathan melakukannya tanpa sepengetahuan Mikha. Dia tahu apa akibatnya jika Mikha mengetahui apa yang dilakukannya, wanita itu pasti akan sangat marah. Apalagi saat ini Mikha masih merajuk padanya karena hampir setiap malam setelah mereka bercinta Mikha mendengar Nathan yang selalu mengigau dengan menyebut Nama Rianti.


Namun hal itu tidak menyurutkan Nathan untuk tetap menemui Rianti. Sudah cukup dia menahan diri untuk tidak mengetahui keadaan mantan istrinya itu, sejujurnya dia sangat mengkhawatirkan keadaan Rianti. Apalagi setelah perceraian Rianti tidak lagi tinggal di rumah yang seharusnya memang menjadi miliknya, Rianti bahkan menolak uang pemberian Nathan sebagai kompensasi bulanan yang sudah jadi komitmen Nathan untuk tetap memenuhi kebutuhan hidupnya.


Suara pintu terbuka dengan cukup keras membuat orang-orang yang berada dalam ruangan itu terlonjak kaget.


Rianti, Andhika dan Riadi yang sedang berkemas barang-barang milik kakak mereka seketika mereka menoleh ke arah pintu dimana Nathan sudah berdiri dengan nafas yang naik turun dan wajah memerah.


"Mas...?" Rianti yang pertama kali tersadar dari keterkejutannya,


"Ada apa?" tanya Rianti,


"Kamu kenapa? Kenapa tidak memberitahu aku kalau kamu sakit?" tanya Nathan berjalan ke arah Rianti tanpa mempedulikan keberadaan dua adik Rianti,


"Aku hanya kelelahan dan dehidrasi Mas, tidak ada yang serius. Lagi pula sudah tidak ada alasan untuk aku memberitahu kamu perihal keadaanku. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi." jawab Rianti sambil kembali melanjutkan aktivitasnya yamg sempat terhenti karena kedatangan Nathan.


"Tidak bisa, kamu masih tanggung jawabku Ri" kilah Nathan berusaha menghentikan pergerakan tangan Rianti dengan mencoba meraih tangan itu namun dengan sigap Rianti menghindar.

__ADS_1


"Mas, jaga sikap! Kita sudah bukan mahram lagi." tegas Rianti mengingatkan, seketika Nathan memaku, dia sadar jika sebelum menikah Rianti selalu menjaga diri dari siapapun, apalagi ketika dia sudah mulai berhijrah dengan mengubah penampilannya dengan berhijab setelah cukup lama bersahabat dengan Tiara.


"Maaf" ucap Nathan dengan wajah sendunya, dia menatap Rianti dan mengamati semua p yang dilakukan mantan istrinya itu tanpa berani berbicara lagi.


"Silahkan duduk Mas, mungkin ada yang mau mas sampaikan. Tapi maaf aku tidak bisa lama karena kami harus segera keluar dari rumah sakit ini." Rianti melirik kedua adiknya yang sejak tadi hanya menonton.


"Dhik, Riad..." Nathan baru menyadari jika di ruangan itu tidak hanya ada dirinya dan Rianti, dia berjalan ke arah Dhika dan Riad untuk menyapa keduanya sebelum akhirnya duduk di sofa menyusul Rianti.


"Ada apa Mas?" tanya Rianti langsung,


"Kami ke kantin dulu ya Kak?" melihat lirikan dari Nathan Andhika faham jika mantan kakak iparnya itu ingin leluasa mengobrol, dia pun berinisiatif mengajak adiknya untuk keluar.


"Iya, tapi kamu tetap di sini ya Dek, temani kakak." Rianti menunjuk Riadi adik bungsunya untuk tetap di sana, walau bagaimana pun komunikasi Rianti dengan Nathan saat ini sangat berpeluang untuk menimbulkan fitnah. Riadi pun mengangguk setelah mendapat persetujuan juga dari kakak laki-lakinya melalui anggukan kepala.


Nathan menarik nafasnya dalam, mengisi setiap ruang di paru-parunya yang terasa semakin sesak, merasakan jika Rianti semakin tinggi membangun benteng pembatas dengan dirinya.


"Aku mengkhawatirkanmu Ri, jujur aku menyesal sudah melepasmu. Tidak adakah kesempatan untukku bisa bersamamu kembali? Kita rujuk ya sayang?" Nathan berkata to the point, tanpa sungkan walau ada Riadi di kamar rawat itu yang terlihat kaget mendengar perkataan mantan kakak iparnya itu, niat untuk memasang earphone di telinganya urung karena keburu mendengar perkataan Nathan.


Rianti menatap laki-laki yang masih bertahta di hatinya itu, sejenak dia terbawa suasana, tatapan memohon Nathan yang hanya pernah ditunjukan padanya oleh pria penuh pesona itu sedikit membuatnya terbawa pada masa lalu saat laki-laki itu memintanya untuk menjadi istrinya.


"Astaghfirullah" ucap Rianti dalam hati, dia sadar apa yang dipikirkannya hampir menggoyahkan hatinya.


"Mas..." suara Rianti terdengar berbeda di telinga Nathan, bukan lagi nada lembut dan manja yang menentramkan jiwanya namun berhasil membuat jantungnya berolah raga.


"Aku sudah berusaha mati-matian untuk menghindar agar tidak lagi mengganggu kehidupanmu. Jadi aku mohon, tolong tetaplah berada di tempatmu dan teruslah bahagia." Rianti menghela nafas menjeda ucapannya. Sehari pasca palu sidang cerai diketuk, tanpa sengaja dia melihat Nathan berjalan berdua dengan Mikha dengan senyum bahagia tampak di wajah keduanya.


"Apapun yang terjadi nanti, jangan pernah lagi punya keinginan untuk kembali padaku, atau bahkan menyapaku. Jangan pernah menoleh, atau berusaha mencari alasan untuk kembali datang."


"Mas tidak akan pernah tahu, bagaimana hampir gilanya aku saat logika memaksaku untuk melepaskanmu. Padahal hati masih begitu ingin memelukmu dengan erat." bayangan kedatangan Mikha yang menegurnya di rumah sakit karena bertemu Nathan membuatnya kembali merasakan sakit di hatinya,


"Bekerja samalah, Mas, karena aku sudah berjanji untuk tidak pernah menemuimu di kebetulan manapun. Maka aku mohon jangan rusak tenangku dengan hal-hal yang bisa membuatku kembali mengingatmu dan segala yang pernah terjadi antara kita."


"Mari sembuh dengan kembali menjadi orang asing yang tak lagi saling mengenal satu sama lain. Anggap saja aku tidak pernah ada. Anggap saja aku adalah mimpi paling buruk yang pernah mas temui, sejak awal pernikahan kita sudah salah."

__ADS_1


"Dan sekali lagi, selamat berbahagia, Mas. Percayalah, aku akan selalu mencoba untuk tetap baik-baik saja."


Rianti berkata dengan tenang, tidak ada lagi air mata, dia mengatakannya semua yang ingin dia katakan dengan senyum.


__ADS_2