Kupilih Pintu Surga Yang Lain

Kupilih Pintu Surga Yang Lain
Kabar Mama Mertua


__ADS_3

Rianti berjalan mondar-mandir di kamarnya, saat ini waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Selama menikah dengannya Nathan tidak pernah pulang larut malam, apalagi tanpa kabar seperti sekarang. Rianti sudah puluhan kali menghubungi nomor ponsel suaminya namun sampai sekarang masih tidak aktif.


Deru mobil terdengar di halaman rumah Rianti, dengan segera dia membuka tirai memastikan jika itu adalah suara mobil suaminya.


"Mas" Rianti membuka pintu, sosok yang sejak tadi dinantikannya tengah berdiri dengan mengulas senyum. Raut wajahnya terlihat rasa bersalah karena pulang terlambat, namun sebagai orang yang sudah cukup lama hidup seatap dengan suaminya Rianti tahu jika keadaan suaminya tidak sedang baik-baik saja.


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam, silahkan masuk Mas" Rianti meraih tas dan jas Nathan yang tersampir di bahunya, dia membuka pintu selebar-lebarnya untuk memberi Nathan ruang memasuki rumah mereka.


"Maaf sayang, aku pulang terlambat" Nathan meraih tubuh istrinya dan mendekapnya erat" tidak ada penolakan dari Rianti, dia membiarkan Nathan memeluknya dan memilih menganggukan kepala walaupun dalam hati banyak tanya yang yang ingin dilisankannya namun dia melihat kondisi suaminya yang tampak lelah, Rianti memilih tidak dulu bertanya.


"Mau mandi? Aku sudah siapkan air hangat" pertanyaan Rianti saat dirinya membantu sang suami yang tengah membuka kaos kaki di sofa ruang tengah.


"Iya, aku gerah sekali" jawab Nathan sembari terus menatap istrinya yang tengah berjongkok di hadapannya,


"Ini susu hangatnya Mas. Mas sudah makan? Jika belum aku akan menyiapkannya" Rianti membawa nampan yang diatasnya terdapat segelas susu hangat, salah satu kebiasaannya yang berhasil ditularkan pada suaminya adalah meminum segelas susu hangat setiap menjelang tidur. Bukan tanpa alasan Rianti melakukannya, hal itu sangat membantunya dalam menjaga kesehatan tubuhnya, dia akan tidur terlelap dan bangun pagi dalam keadaan yang lebih segar.


"Aku sudah makan, terima kasih" ucap Nathan saat menerima uluran tangan istrinya yang menyodorkan segelas susu hangat tepat di hadapannya. Nathan baru saja selesai memakai baju yang sudah disiapkan istrinya di atas tempat tidur.


"Sayang maaf, aku..."


"Mas, kamu pasti sangat lelah hari ini. Sebaiknya sekarang kita istirahat, bagaimana?" Rianti memotong perkataan suaminya, dia tahu Nathan akan meminta maaf dan menjelaskan alasan keterlambatannya pulang dan tidak berkabar namun dia tahan dan akan dibicarakan besok baik sebaiknya, pikir Rianti.


"Iya, aku sangat lelah sekali hari ini" Nathan berucap sendu, dia menangkup wajah ayu yang selalu berhasil membuat hatinya tenang.


"Terima kasih sayang" ucap Nathan, dia pun merebahkan tubuhnya dan menarik tubuh Rianti ke dalam dekapannya.


Hembusan nafas teratur terasa hangat di tengkuk Rianti, suaminya tampaknya benar-benar lelah hingga dalam hitungan menit dia pun sudah terlelap dengan nyamannya.

__ADS_1


"Selamat istirahat Mas, semoga mimpi indah. Terima kasih sudah bekerja keras setiap harinya, semoga Allah selalu menjagamu dimanapun kamu berada" lirih Rianti berucap, aamiin pun menjadi pamungkas do'anya malam ini sebelum dia akhirnya mengikuti jejak sang suami terlelap dengan nyaman dan damai.


Suara adzan awal menjadi alarm alami untuk Rianti, sudah menjadi kebiasaannya untuk bangun di sepertiga malam terakhir. Perlahan Rianti pun melepaskan pelukan hangat suaminya, dia bangun dan menuju kamar mandi untuk berwudhu.


Lima belas menit sebelum adzan subuh berkumandang Rianti barulah membangunkan Nathan, tadi saat dirinya terlena dengan nikmatnya ibadah malam, dia sengaja dia membiarkan sang suami untuk tetap terlelap, melihat wajah lelah dari suaminya Rianti tidak tega untuk membangunkannya.


"Mas" bisik Rianti tepat di telinga Nathan membuat sang empunya menggeliat,


"Mas..." Rianti mengulanginya lagi,


"Tidak sayang Mas tidak akan melakukan yang mereka minta" Nathan mengigau, kata-kata membuat Rianti mengerutkan kening tidak faham dengan maksud ucapan suaminya,


"Mas, sebentar lagi adzan subuh" bisiknya semakin jelas dan sontak membuat Nathan langsung membuka matanya,


"Eummhh...sayang..."ucap Nathan dengan suara seraknya, dia mengerjapkan mata untuk memperjelas penglihatannya.


"Jam berapa ini sayang?"


"Sebentar lagi adzan subuh Mas"


"Kamu tidak membangunkanku untuk shalat malam, heumm?


"Mas sangat lelap tidur, sepertinya mas sangat lelah" Rianti menjelaskan alasannya tidak membangunkan sang suami untuk shalat malam, seketika ingatan Nathan pun kembali ke peristiwa semalam dimana sang mama terbaring karena sakit dada yang dirasakannya tiba-tiba setelah mendengar kenyataannya yang disampaikannya.


Hidangan sarapan sudah tersaji dengan asap yang masih mengepul di atas meja makan. Adik bungsu Rianti yang sedang mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi tahap wawancara kemarin pamit dan belum kembali sampai saat ini. Alhasil, sejak pulang dari rumah sakit Rianti sendirian di rumah menanti suami yang baru pulang hampir tengah malam.


"Lho, Riadi sudah berangkat?" tanya Nathan saat sudah siap dengan pakaian kerja dan kini sudah duduk untuk menikmati sarapannya,


"Dia belum pulang Mas, kan kemarin pamit buat wawancara" jawab Rianti mengingatkan, padahal jelas kemarin sang adik pamit pada suaminya untuk mengikuti wawancara.

__ADS_1


"Ouh, aku lupa sayang, jadi sejak kemarin kamu sendirian di rumah?" tanya Nathan lagu dengan wajah menunjukkan raut bersalah,


"Tidak apa-apa Mas, aku baik-baik saja" Rianti faham kekhawatiran suaminya,


"Maafkan aku" Nathan tertunduk menekuri sarapan yang belum disentuhnya,


"Mas, kasihan nasi gorengnya kalau dikasih wajah sedih begitu, nanti nasinya nangis lho" canda Liani berupaya menceriakan kembali suasana,


"Sekarang kita mulai makannya ya"


Sarapan pun berlangsung tidak lama, keduanya sarapan dalam diam. Nathan sibuk dengan pikirannya untuk mengatakan perihal kedatangan kedua orang tuanya dan orang tua Mikha, sementara Rianti sibuk mengamati wajah sang suami yang tampak memikirkan sesuatu.


"Sayang, mama dan papa sudah ada di sini" kalimat itu menjadi pembuka obrolan pasangan suami istri itu setelah menghabiskan sarapan masing-masing.


"Alhamdulillah, bagaimana kabar mereka mas?" Rianti sempat terkejut, namun dia segera menormalkan ekspresi wajahnya yang tidak ingin membuat Nathan bingung dan serba salah.


"Mereka sehat" jawab Nathan singkat, ada keraguan yang tertangkap oleh Rianti saat suaminya itu akan melanjutkan bicaranya.


"Jangan dipaksakan Mas, jika memang sekarang belum waktunya untuk mereka tahu pernikahan kita, aku tidak masalah. Aku yakin suatu hari nanti ada waktu yang tepat untuk mas berbicara dan aku bertemu mereka" ucap Rianti bijak, dia cukup sadar diri sebagai orang yang tidak diharapkan kehadirannya di tengah-tengah keluarga suaminya.


"Mereka sudah tahu tentang pernikahan kita"


Deg...tiba-tiba jantung Liani berdetak kencang, keadaan sang suami yang terlihat kacau semalam bisa jadi dampak dari berita pernikahan mereka yang baru sampai ke telinga mertuanya itu.


Derrt...derrrt...


Getar ponsel Nathan yang terletak di atas meja makan menghentikan obrolan mereka, Liani bahkan belum usai dari keterkejutannya. Selanjutnya dia lebih terkejut dengan kabar yang baru diterima suaminya.


"Mama masuk rumah sakit, jantungnya kambuh" ujar Nathan dengan wajah panik, dia buru-buru mengambil kunci mobil dan tasnya lalu berlari menuju mobil yang sudah terparkir di halaman rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2