Kupilih Pintu Surga Yang Lain

Kupilih Pintu Surga Yang Lain
Kupilih Pintu Surga Yang Lain


__ADS_3

"Hari ini kamu sudah selesai bertugas?" Nathan bertanya setelah menghabiskan minumnya, dia sangat lahap makan siang kali ini terasa berbeda dan begitu nikmat menurutnya.


"Alhamdulillah sudah mas" jawab Rianti, dia merapihkan terlebih dahulu wadah bekas makan mereka dan mengelap meja di hadapannya dengan tisu.


"Mas masih ada waktu kan?" Rianti memastikan waktu suaminya sebelum memulai pembicaraan,


Nathan melirik jam tangannya, sudah pukul tiga belas lebih, artinya jam makan siang sudah berakhir. Dia pun ingat pesan dari sekretarisnya, jika siang ini ada pertemuan dengan klien yang akan berkerja sama dengan perusahaannya, namun dia berusaha menahan diri untuk tidak menunjukkan bahwa dirinya sebenarnya sedang sibuk.


"Tentu saja sayang, bicaralah" Nathan menyimpan ponselnya setelah mengirim pesan pada sekretarisnya, dia pun memilih mematikan ponsel agar kebersamaannya dengan Rianti tidak terganggu. Nathan tahu jika apa yang akan disampaikan istrinya itu sepertinya sangat serius.


"Mas, aku tidak pernah menghitung hari, namun ternyata perjalanan kita sudah cukup jauh ya" Rianti memulai pembicaraannya dengan kekehan, dan disimak oleh Nathan dengan penuh konsentrasi.


"Terima kasih telah hadir dalam proses pendewasaanku, terima kasih telah memberikan banyak cerita dalam hidupku. Aku mencintaimu, kamu tahu kan?" Rianti bertanya dan dijawab anggukan oleh Nathan.


"Mencintai itu bukan tentang siapa yang lebih dulu memikat hati, namun soal siapa yang tulus dan tetap bertahan. Aku tahu, hubungan kita seringkali naik turun, seringkali pasang surut bahkan ada duka yang tak mampu kita lewati, walau sesekali melelahkan. Namun pada akhirnya nuraniku tidak mampu menampik jika aku tidak mampu untuk terus bertahan dengan pernikahan ini Mas." ucapan Rianti terjeda, karena ada sesuatu yang merangsek ingin keluar dari matanya namun berusaha dia tahan,


Sementara Nathan masih terdiam dengan hati yang semakin berdebar, dia mulai membaca kemana arah pembicaraan Rianti.


"Selama ini aku sudah berusaha untuk bertahan semampuku, namun sebagaimana dulu pernah aku katakan jika aku melepas genggamanmu itu artinya tanganku sudah terlalu sakit."


"Sayang..."


"Aku belum selesai Mas" Nathan pun kembali terdiam,


"Aku mencintaimu namun untuk terus berada di sampingmu aku tidak cukup kuat Mas, hatiku belum cukup terdidik, aku belum mampu ikhlas. Jika awal tujuan kita berumah tangga adalah untuk beribadah maka sekarang ibadahku banyak bolong-bolongnya, bahkan rusak atau mungkin tak berbekas karena ada penyakit hati yang terus menggerogoti pahalanya yaitu ketidakrelaanku. Jika setelah menikah sumber surgaku adalah suami, maka aku sepertinya semakin jauh dari surgaku karena nyatanya selalu ada perhitungan untuk bisa melayanimu." Rianti menarik nafasnya dalam, dia melihat Nathan menunduk mendengar setiap kalimat yang diucapkannya.


"Aku pun salah sudah percaya dengan janjimu.... Ah janji? Mungkin hanya aku yang berpikiran jika itu janji padahal sebenarnya bukan, hanya terucap sepintas bahwa kamu tidak akan menyentuhnya bahkan kamu bilang kalau akan berusaha terlepas darinya."


Deg....Nathan mendongak menatap Rianti yang masih berkata dengan tenang. Dia cukup tertampar dengan kalimat terakhir yang diucapkan istrinya itu.

__ADS_1


"Astaghfirullah, aku sungguh sudah berdosa karena percaya dengan perkataanmu waktu itu,mas. Bahkan tidak tahu dirinya aku malah mendukung apa yang kamu katakan itu. Padahal aku tahu, kewajiban seorang suami bukan hanya memenuhi nafkah lahir namun juga nafkah bathin, untung saja kamu tidak merealisasikan apa yang kamu katakan itu."


Deg...Nathan kembali tertampar dekan kalimat yang seolah sindiran untuknya,


"Aku pun tahu jika kemenangan setan adalah ketika dua insan yang telah diikat dengan ikatan suci pernikahan terpisah. Maafkan aku mas, maaf, semoga Allah mengampuni dosaku." terdengar serak namun tak ada air mata sedikitpun di mata Rianti saat mengatakan isi hatinya.


"Mas, masih ingat kan dulu kamu pernah bercerita tentang keinginanmu menjadi seorang ayah? Bahkan kamu bilang ingin punya anak yang banyak agar kelak anak-anakmu tidak kesepian seperti kamu yang hanya sebagai anak tunggal.


"Sayang..." Nathan tidak mampu lagi menahan dirinya, dia bersimpuh di depan Rianti,


"Sekarang Alhamdulillah keinginanmu Allah kabulkan, selamat ya. Aku percaya kamu akan menjadi ayah yang baik untuk anakmu." Rianti tersenyum menatap Nathan yang kini sudah bersimpuh di pangkuannya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Sekarang, aku sudah siap melepasmu Mas, hiduplah bahagia dengan keluarga kecilmu sepeninggalku nanti. Maaf jika aku bukan menjadi sumber kebahagiaanmu, karena sejujurnya aku sudah tak mampu lagi bertahan."


"Jika akhirnya menjauh adalah sebuah keharusan bukan kemauan, maka....mari kita lakukan. Tolong lepaskan aku mas.."


"Tidak sayang aku tidak mau melepaskanmu, kamu adalah ..."


"Sayang... Aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilangan kamu."


"Tapi aku merasa kesakitan berada di sampingmu Mas, kamu tahu kan kalau aku tidak mungkin memintamu memilih antara aku dan dia? Kalau benar kamu mencintai aku, aku yakin kamu tidak ingin aku terluka dan menginginkan aku baik-baik saja kan?. Sekarang, biarkan aku menyelamatkan surgaku sendiri Mas, izinkan aku memilih pintu surga yang lain. Pernikahan kita adalah sumber surga yang terlalu berat untuk aku raih."


"Sayang..."


"Jika kamu merasa bersalah karena belum hamil, kita masih bisa berusaha lagi sayang. Tolong jangan tinggalkan aku."


"Itu hanyalah salah satunya Mas, aku percaya apa yang sudah Allah takdirkan untukku tidak akan pernah salah jalan untuk datang menghampiriku. Apa yang sudah tertakar untukku, aku yakin tidak akan tertukar. Mungkin memang sampai di sini waktu berjodoh ku denganmu. Tolong, kabulkan permintaan terakhirku sebagai istrimu ini Mas." Rianti memalingkan wajahnya karena tak ingin terlihat ada air mata yang menggenang di matanya.


"Sayang,..."

__ADS_1


"Apa kamu akan bahagia bila terlepas dariku?" Nathan berkata dengan suara bergetar,


"Mohon doanya saja Mas, seperti aku yang akan berdo'a untuk kebahagiaanmu." jawab Rianti kembali dengan wajah tenangnya.


"Huftt..." Nathan menghembuskan nafasnya, dia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Bukan ini yang dia inginkan, dia ingin hidup bahagia dengan Rianti dan anak-anak mereka kelak, tapi kehamilan Mikha mengubah semuanya. Rencana melepas Mikha justru harus terhenti bahkan sebelum sempat dimulai karena kekhilapannya waktu itu.


"Aku akan pergi dari rumah itu dan mengurus berkas perceraian kita. Dika dan Riad juga sudah tahu, mereka sudah menyerahkan semua keputusannya padaku."


Nathan kembali tersentak, dia tidak menyangka jika kedua adik iparnya sudah tahu perihal masalah keluarganya.


"Tidak, kamu tidak boleh pergi dari rumah itu, rumah itu adalah milikmu" tegas Nathan,


"Terlalu banyak kenangan di rumah itu mas, tolong hargai keputusanku" pinta Rianti tenang.


"Ri, kenapa kamu jadi begini?"


"Kamu yang mengarahkanku untuk begini Mas, aku percaya, di saat aku benar-benar ikhlas dengan keadaan, di saat yang bersamaan Allah sudah pasti akan menyediakan kebahagiaan untukku. Allah mampu mengubah situasi terburuk sekalipun menjadi momen terbaik salam hidup kita."


"Sekarang tolong, lepaskan aku Mas" pinta Rianti dengan mata teduhnya, mata yang selalu berhasil membuat Nathan tenang dan nyaman.


"Kamu sungguh-sungguh?"


"Ya Mas, aku sungguh-sungguh."


"Kamu akan bahagia setelah lepas dariku?"


"Insya Allah, mari kita saling mendo'akan, Mas."


"Baiklah kalau itu keputusanmu"

__ADS_1


"Walau pun ini berat, tapi aku akan coba penuhi keinginanmu." Nathan menarik nafasnya dalam,


"Rianti Auriza Zahra, hari ini aku talaq kamu!" Nathan memejamkan matanya, begitupun dengan Rianti. Kalimat talaq pun terucap bersamaan dengan air mata keduanya yang menetes membasahi pipi.


__ADS_2