
Masih tidak percaya dengan apa yang terjadi hari ini, laki-laki yang semalam tiba-tiba datang dengan seorang wanita cantik, setelah cukup lama menghilang kini sudah resmi menjadi suaminya.
Rianti menatap pantulan dirinya di dalam cermin, kebaya putih dengan hijab berwarna senada tampak pas membalut tubuh rampingnya. Polesan make up yang tidak berlebihan pun membuat dirinya pangling, secara, selama ini Rianti tidak pernah terlalu memerhatikan dandanan dirinya. Krim wajah dengan bedak tipis dan liptin sudah cukup menemani hari-harinya.
"Kamu cantik sekali" di saat Rianti masih fokus pada pantulan dirinya sendiri, sepasang tangan kokoh tiba-tiba membelit di perutnya.
Tanpa Rianti sadari Nathan datang dan langsung menyergap tubuhnya dari belakang. Saat ini mereka sudah kembali ke rumah yang ditempati Rianti. Tidak ada perayaan, setelah akad. Rombongan pengantin baru pun kembali ke rumah.
Kedua adik Rianti memilih untuk pergi ke sekolah walau terlambat. Sebelumnya Nathan sudah menghubungi pihak sekolah jika kedua adik iparnya itu akan datang terlambat karena ada acara keluarga yang tidak bisa ditinggalkan, karena sedang ujian kedua adiknya memilih kembali ke sekolah untuk mengikutinya.
"Mas..." desis Rianti, untuk pertama kalinya dia berdekatan seintim ini dengan laki-laki. Nathanlah laki-laki pertama itu, laki-laki yang menjadi pahlawan dalam hidupnya selepas kedua orang tuanya tiada, sekaligus laki-laki pertama yang membuat dirinya jatuh cinta sejatuh-jatuhnya.
"Kenapa?" Nathan merasakan tubuh Rianti menegang, namun tak ada sedikitpun niat untuk melepas pelukannya.
"Aku..."
"Ini pertama kalinya?" Nathan memotong ucapan Liani, dari bahasa tubuh wanita yang tengah dipeluknya dia bisa tahu jika apa yang dilakukannya adalah hal baru untuk gadis itu.
Liani menganggukan kepalanya pelan, tangannya semakin erat menggenggam tangan yang membelit di perutnya.
"Aku sangat beruntung" Nathan menyusupkan kepalanya ke leher Rianti yang tubuhnya semakin menegang, dia menikmati harum tubuh wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu penuh damba. Nathan bahkan sangat menikmati setiap reaksi tubuh Rianti yang begitu terasa olehnya padahal gadis itu sudah mati-matian menahan diri agar tidak terlihat gugup.
"Aku menginginkanmu" bisik Nathan tepat di telinga Rianti seketika membuat tubuhnya meremang.
__ADS_1
Nathan menggiring Rianti untuk duduk di sisi tempat tidur, dengan perlahan dia meraih dagu Rianti dan menatap gadis yang tampak sangat cantik di mata Nathan. Lebih dari satu bulan dirinya meninggalkan gadis yang kini telah resmi dinikahinya, Nathan hanya bisa menatap foto yang dia simpan diam-diam di galeri ponselnya, dan sekarang saat gadis itu benar-benar nyata ada di hadapannya Nathan sungguh merasa pangling, Rianti terlihat semakin cantik dan dewasa.
Keheningan menyapa, keduanya hanya saling menatap seolah sedang mendalami perasaan masing-masing. Nathan dengan tatapan mendambanya, terlihat jelas ada kerinduan yang selama ini dia sembunyikan. Begitupun dengan Liani, tatapan rindu namun ragu terlihat jelas pula di matanya.
Nathan terus mengikis jarak wajah mereka, duduk saling berhadapan hingga akhirnya bibirnya berhasil menyentuh bibir yang sejak akad tadi sudah membuat fokus Nathan tergoncang.
Tidak ada penolakan dari Rianti, tubuhnya semakin menegang, tidak tahu harus berbuat apa. Rianti memilih diam dan membiarkan Nathan melakukan apa yang diinginkannya.
Merasakan tidak ada penolakan dari Rianti, bibir yang awalnya hanya menempel mulai melancarkan aksinya. Nathan pun mencium Rianti semakin dalam, walau tidak ada balasan dari Rianti namun dalam hati Nathan tersenyum bahagia, gadis yang sudah dinikahinya ini benar-benar awam untuk hal-hal seperti ini.
Nathan baru melepas ciumannya ketika menyadari jika sejak tadi Rianti menahan nafasnya.
"Bernafaslah!" titah Nathan dengan tersenyum setelah dia melepaskan tautan bibirnya, sementara Rianti yang diperintah seperti itu dengan tatapan Nathan yang tak biasa semakin merona karena malu.
"Ini untuk pertama kalinya juga?" tanya Nathan meraih dagu Rianti yang kembali menunduk. Tak ada jawaban yang Rianti ucapkan selain hanya dengan menganggukan kepalanya pelan. Senyum Nathan pun semakin lebar.
Perlahan tangan Nathan terulur membuka satu persatu jarum pentul dan asesoris yang menempel di jilbab Rianti hingga terlepaslah seluruh hijab yang menutupi kepalanya.
Nathan menatapnya dengan mata berbinar, rambut hitam pekat dan panjang Rianti dia urai dari ikatannya, tampaklah Rianti dengan mahkota alaminya terlihat semakin cantik dan mempesona.
"Aku mau hanya aku yang menikmati keindahan ini" jari Nathan menyisir pipi dan dan rambut Rianti yang menjuntai.
"Aku mau hanya mataku yang bisa melihatnya" lanjut Nathan dengan aksi yang kembali diulanginya,
__ADS_1
"Aku mau hanya aku pemilik semua ini" tangan Nathan semakin tidak bisa dikondisikan, tangannya beralih pada kancing kebaya yang membalut tubuh indah Rianti.
Satu persatu kancing itu dia lepas dengan tangannya sendiri, Rianti hanya diam merasakan debaran dadanya yang semakin menggila.
Kebaya itu pun akhirnya terlepas, hingga terpampang jelas keindahan lain yang semakin membuat Nathan terpesona, berbalut kain penutup berwarna hitam milik Rianti semakin menantang Nathan untuk segera menyentuhnya.
"Aku menginginkanmu" Nathan kembali berbisik sambil menyesap leher Rianti yang membuatnya tidak tahan untuk mengeksplornya.
"Mas .." desah Rianti saat lehernya terasa perih karena gigitan kecil Nathan.
"Kamu milikku!" Nathan kembali berbisik, dia pun melepaskan jas dan kemeja yang dipakainya.
Dengan nafas yang sudah memburu Nathan melepas satu persatu pakaian yang melekat ditubuhnya,
"Mas..." Liani kembali tersentak saat tiba-tiba Nathan membaringkannya, tubuh bagian atasnya bahkan sudah terpampang jelas.
"Aku menginginkanmu" ucap Nathan lagi, dia terus mengeksplore leher jenjang istrinya itu dan perlahan turun ke dada hingga membuat Liani kembali tersentak merasakan apa yang dijaganya selama ini disentuh.
"Kita shalat sunnah dulu Mas..." ucap Rianti dengan suara serak karena gelenyar aneh yang dirasakan tubuhnya akibat sentuhan Nathan.
Seketika Nathan menghentikan aksinya, dia menatap dalam netra Rianti yang sudah ada dalam kungkungannya.
"Dua rakaat, untuk keberkahan rumah tangga kita.." lanjut Rianti seiring dengan kumandang adzan dzuhur tanda waktu shalat telah tiba.
__ADS_1
Nathan menghembuskan nafasnya kasar, ada rasa tak rela karena aktifitasnya terjegal tapi setelah dipikirnya lagi apa yang disampaikan Rianti ada benarnya juga.
Nathan pun beranjak dari atas tempat tidur, dia berjalan menuju kamar mandi. Sementara Rianti menatap punggung kekar yang semakin menjauh, dia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan laki-laki yang kini sudah sah sebagai suaminya itu.