Kupilih Pintu Surga Yang Lain

Kupilih Pintu Surga Yang Lain
Tangis Rianti


__ADS_3

Jika ditanya wanita mana yang sanggup menyaksikan sendiri pernikahan suami yang sangat dicintainya dengan wanita lain? Rianti tidak mampu menjawab. Mungkin ada tapi entah berapa persen dari keseluruhan wanita yang ada di dunia ini yang setangguh itu, karena nyatanya dirinya sungguh tak sanggup untuk terlihat baik-baik saja setelah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, mendengar dengan kedua telinganya jika hari ini suami tercintanya telah melangsungkan akad suci pernikahan dengan wanita lain.


Tidak ingin diketahui oleh rekan sejawatnya, selepas waktu tugas selesai Rianti segera pamit pulang, hal itu sempat membuat heran rekan-rekannya karena biasanya Rianti akan beristirahat sejenak sambil mengobrol dengan mereka sebelum kembali ke rumah. Namun ternyata tidak untuk hari ini, Rianti buru-buru pamit bahkan masih dengan seragam lengkapnya.


"Kenapa Suster Rianti? Tumben buru-buru" tanya salah satu rekannya,


"Mungkin ada keperluan" jawab rekan yang lainnya,


" Kayaknya ada sesuatu, setelah selesai istirahat tadi wajahnya murung" rekan yang lainnya menimpali,


"Mungkin sedang ada masalah atau keperluan mendesak" sahut yang lainnya, mereka pun kembali melanjutkan aktifitasnya setelah tubuh Rianti tidak terjangkau lagi dari pandangan mereka.

__ADS_1


Rumah bukan tempat yang dituju Rianti saat ini, setelah memesan taksi online Rianti meminta pada sang sopir untuk berbalik arah, dia mengubah arah tujuannya ke suatu tempat yang hanya dia sendiri yang tahu.


Satu jam berlalu, di sinilah Rianti berada. Berdiri di lapangan rumput dengan hamparan danau buatan tepat berada di hadapannya. Rianti menatap riak air danau yang tertiup angin.


Tidak ada siapapun dan tidak ada yang Rianti lakukan di sana. Dia hanya berdiri menatap jauh ke depan namun dengan air mata yang terus mengalir.


"Apa ini? Kenapa sakit sekali?" setelah cukup lama barulah Rianti berbicara, angin seakan turut mengerti dengan kesedihannya, berhembus menggoyangkan dedaunan yang ada di sekitar danau itu.


"Ya Allah tolong yakinkan aku bahwa semuanya akan baik-baik saja, genggam tanganku untuk melewati semuanya, termasuk menerima sesuatu yang tidak aku inginkan."


"Ya Allah, Engkau yang Maha Membolak Balikkan hati. Mungkin air mataku sering menetes, tapi sungguh aku tidak pernah menyesali takdir. Mungkin keluhku seringkali terdengar, tapi sungguh aku tak pernah mengutuk apa yang ada. Aku tahu semua ini terjadi atas kendali-Mu, maka tolong peluk aku jika sesuatu terjadi tidak seperti yang aku inginkan..."

__ADS_1


Tangis Rianti akhirnya pecah, air mata yang sejak awal kedatangannya ke tempat itu terus keluar, kini mengalir semakin deras. Rianti akhirnya luruh, dia bersimpuh dengan bahu berguncang di atas padang rumput nan hijau, kedua tangannya terkepal erat seolah menahan rasa sakit yang teramat sangat.


Bayangan kedua orang tuanya yang saling bergandengan dan tersenyum ke arahnya tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Ayah, Ibu....hikss..." tangis pilu Rianti terdengar sangat menyayat hati. Andai ada yang mendengarkan tangisnya tentu akan tahu betapa besar kesakitan yang dirasakan Rianti dan betapa dalam luka yang dimilikinya.


Tempat yang didatanginya saat ini adalah tempat penuh kenangan bersama kedua orang tuanya semasa dia kecil. Tempat yang memberinya ketenangan dan kebahagiaan dengan menghabiskan akhir pekan bersama kedua orang tuanya. Dan sekarang Rianti berada di sana berharap ketenangan yang sering dulu didapatkannya bersama kedua orang tuanya dia kembali dapatkan hari ini.


"Mas...akhirnya ini terjadi pada rumah tangga kita, maaf kalau aku belum bisa menjadi apa yang kamu inginkan, aku hanya mampu mencintaimu dengan caraku" bayangan Nathan yang memakai baju pengantin dan mengucapkan akad kembali melintas.


Dia sudah berusaha untuk menahan diri, sejak mengetahui rencana keluarga suaminya dengan keluarga Mikha perihal perjodohan mereka di masa lalu, sejujurnya Rianti tidaklah tenang. Pikirannya selalu dihantui oleh hal itu, waktu itu dia berpikir harus menyiapkan diri jika suatu saat Nathan meninggalkannya namun belum sempat Rianti bersiap apa yang dikhawatirkannya akhirnya terjadi.

__ADS_1


"Ya Allah, aku tahu tidak ada satu pun makhluk yang Engkau uji di luar batas kemampuannya, namun kenapa Ya Allah Engkau seyakin itu pada pundakku? Padahal aku tidak sekuat itu" Rianti belum puas mengeluarkan semua rasa sesak di dadanya. Dia memilih menumpahkan semua air matanya di tempat ini, berharap setelahnya tak ada lagi air mata dan siap untuk menghadapi kenyataan.


__ADS_2