
Hari berganti, sudah satu minggu sejak menerima kiriman foto-foto mesra suami dan istri keduanya Rianti belum bertemu kembali dengan Nathan.
Beberapa pesan permintaan maaf karena belum bisa pulang ke rumah Rianti terima dari Nathan, hampir setiap hari suaminya itu mengiriminya pesan mengabarkan keberadaannya yang tengah berada di kantor dan rumah sakit karena Mikha yang masih harus dirawat di sana.
Tidak ada penjelasan perihal foto-foto yang dikirimnya, sepertinya bukan suaminya yang mengirimkan foto-foto itu, kemungkinan besar Nathan memang tidak mengetahui perihal foto itu pikir Rianti.
Rianti melalui hari-hari yang tak mudah, kenyataan bahwa suami yang sangat dicintainya telah menikah lagi membuat Rianti banyak kehilangan fokusnya akhir-akhir ini. Beberapa rekan kerja Rianti merasa heran karena sering mendapati sang perawat teladan itu tengah melamun bahkan beberapa kali membuat kesalahan hingga mendapat teguran atasan mereka.
Rianti merebahkan tubuhnya di sofa ruang keluarga rumahnya. Tubuhnya merasa sangat lelah sekali. Rumah yang biasanya menjadi ternyaman untuknya kini terasa berbeda.
Rasanya tidak ada lagi energi positif yang didapatnya saat pulang ke rumah. Biasanya, di rumah itu dia kembali bersemangat walau pun sudah seharian bekerja, karena apa? Tentu saja karena ada orang istimewa yang selalu ditunggunya di rumah itu. Namun kini semua itu tak lagi dirasakannya, dadanya justru merasa sesak saat mengingat dimana keberadaan suami tercintanya saat tidak pulang.
"Ternyata sulit sekali untuk ikhlas Mas, hatiku belum terdidik untuk itu. Terlalu lemah diri ini untuk tidak merasakan sakit saat mengingat apa yang sudah kamu lakukan" lirih Rianti bergumam dengan air mata yang kembali membasahi pipinya, matanya menatap foto yang terpajang di dinding tepat di hadapannya, foto pernikahannya dengan Nathan di Kantor Urusan Agama.
Ting tong....
Suara bel pintu berhasil mengagetkan Rianti yang sedang larut dalam lamunan. Dengan segera dia bangun dan mengusap air mata yang membasahi pipinya. Rianti melirik jam dinding, waktu menunjukkan pukul lima sora dia berpikir siapa yang datang berkunjung di jam seperti ini.
"Assalamu'alaikum" ucapan salam dari suara yang tidak asing di telinga Rianti membuat hatinya berdebar, suara yang selama seminggu ini tidak dia dengar.
"Wa'alaikumsalam" jawab Rianti dengan tatapan yang langsung terkunci pada wajah suaminya yang tampak berbeda sekarang.
"Sayang..." Nathan langsung memeluk Rianti, kerinduannya akan sosok lembut yang selalu memberinya ketenangan dan kenyamanan ini sudah tak mampu lagi dia redam.
"Mas, kamu pulang?" bisik Rianti dalam dekapan suaminya, ada rasa hangat dalam dadanya ketika kembali merasakan pelukan dari laki-laki halalnya.
"Aku merindukanmu sayang" ucap Nathan masih dalam posisi memeluk, Nathan bahkan terus mengecupi puncak kepala Rianti.
Rianti membiarkan Nathan melakukan apa yang diinginkannya, sejenak dia pun sangat menikmati pelukan itu. Matanya terpejam, menyesap dalam kehangatan tubuh yang kini sedang mendekapnya, nyaman sekali.
Namun kenyamanan Rianti hanya terjadi dalam hitungan detik, matanya kembali terbuka, raut wajahnya seketika berubah ketika indra penciumannya menghirup wangi berbeda dari tubuh sang suami.
__ADS_1
"Ini bukan bau minyak wangi Mas Nathan" ucapnya dalam hati, seketika dia berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya.
"Sebentar lagi sayang, aku sangat merindukanmu" Nathan berkata dengan posisi masih memeluk istrinya,
"Tapi sebaiknya Mas mandi dulu, karena sepertinya tubuh ini pun sebelumnya sudah memeluk wanita lain bahkan saat ini wangi parfumnya masih tercium jelas di bajumu"
Deg... Nathan seketika melonggarkan pelukannya. Dia pun ingat jika sebelum pulang Mikha terus menempel padanya selama di rumah sakit.
"Sayang...aku..." Nathan pun mengurai pelukannya, kalimat yang diucapkan istrinya membuat hatinya terusik, rasa bersalah pun semakin menggebu dalam dadanya.
"Silahkan masuk, duduklah dulu. Aku akan mengambilkan teh hangat, mas bisa menikmatinya sambil sejenak beristirahat menunggu aku menyiapkan air hangat untuk mas mandi" tanpa menunggu jawaban Nathan Rianti pun berbalik menuju dapur untuk membuatkan teh hangat. Nathan hanya bisa menatap punggung istri pertamanya itu dengan hati yang sakit.
Dia menyadari mata Rianti yang sembab, dia yakin istrinya itu pasti sedang menangis sebelum tadi dirinya datang.
"Ini tehnya mas, selamat menikmati. Aku menyiapkan dulu air hangat untuk mas mandi" Rianti pun langsung menuju kamarnya di lantai dua, lagi-lagi Nathan hanya bisa menatap punggung istrinya yang menaiki anak tangga tanpa sekalipun menoleh ke arahnya.
Kumandang adzan maghrib menggema di seluruh komplek tempat tinggal Rianti. Untuk pertama kalinya setelah peristiwa yang mengguncang rumah tangganya, Rianti kembali merasakan nikmatnya shalat berjamaah dengan diimami suaminya.
Rianti hanya merespon dengan senyuman tipis di bibirnya, dia mengambilkan nasi dan lauk kesukaan Nathan yang sengaja dimasaknya malam ini.
Makan malam pun berlangsung tanpa banyak obrolan, hanya sesekali Nathan bertanya perihal keadaan istrinya dan dijawab seperlunya oleh Rianti. Setelah satu minggu tidak bersama karena Nathan yang harus menemani Mikha di rumah sakit jujur membuat Rianti merasa canggung.
"Mulai sekarang aku akan lebih sering pulang, Mikha sudah sembuh. Dia sudah kembali ke rumahnya" Nathan kembali memulai obrolan, mereka tengah duduk di ruang tengah dengan televisi yang menyala,
"Alhamdulillah, aku turut senang mendengarnya"
"Ri aku...." baru saja Nathan hendak lebih mendekatkan diri ke Rianti, tiba-tiba ponselnya berdering.
Nama Mikha terpampang jelas di layar pipih itu dan Rianti pun melihatnya.
"Angkatlah Mas, siapa tahu sangat penting" titah Rianti membuat Nathan sedikit salah tingkah,
__ADS_1
"***..."
"Mas, kamu masih dimana? Kenapa jam segini belum kembali?"
Belum juga Nathan menyelesaikan ucapan salamnya, suara lantang Mikha di seberang telepon terdengar memekik di telinga Nathan, Rianti yang sedang menonton televisi pun sampai menoleh karena suara Mikha yang juga terdengar jelas di telinganya, dia sedikit tersentak karena mendengar panggilan Mikha pada Nathan yang berubah.
"Aku di rumah" jawab Nathan dengan hembusan nafas kasar yang terdengar jelas oleh Rianti,
"Sepulang kantor kamu ke sana? Ya udah sekarang balik dong. Aku kan juga istri kamu, aku belum makan malam lho Mas dari tadi nungguin kamu" Mikha merajuk, dia tidak terima Nathan masih bersama Rianti saat ini.
"Mikha aku ..." perkataan Nathan dengan intonasi meninggi karena menahan kesal terjeda, dia melihat kepada Rianti yang kembali menatap televisi.
"Sayang, aku terima telepon dulu" Nathan memilih beranjak dari sana karena tidak ingin marah di depan Rianti dan dijawab anggukan oleh Rianti,
"Mikha, aku sedang bersama istriku, ini rumahku dan malam ini aku akan tidur di sini"
"Apa? Mas kamu tega sama aku?" suara Mikha terdengar bergetar,
"Mikha, selama seminggu kemarin aku sudah menemani kamu setiap malam sekarang giliran aku menemani istriku" tegas Nathan yang semakin berusaha menahan dirinya untuk tidak marah,
"Mas, kamu lupa kalau aku juga adalah istri kamu? Pokoknya sekarang aku minta kamu pulang ke rumahku, kalau tidak aku akan menjemputmu sekarang juga!" terik Mikha,
"Mikha..." Nathan mengeram kesal karena ternyata Mikha sudah memutuskan panggilannya.
"Issshhh...." geram Nathan,
"Mas..."
Nathan menoleh mendengar panggilan itu, ternyata Rianti sudah berdiri di belakangnya.
"Sayang, maaf...tadi aku..."
__ADS_1
"Pergilah Mas, dia lebih membutuhkanmu" ucap Rianti dengan ekspresi wajah datar, dia yakin jika istri kedua suaminya itu pasti meminta Nathan untuk kembali bersamanya.