
Rencana kepergian Rianti sudah sampai di telinga Arga, dia pun melaksanakan perintah Arzan dengan patuh agar rencana mereka tidak ada yang mengetahui terutama Nathan. Arzan sudah menceritakan semua tentang Rianti sesuai yang didengarnya dari Tiara pada Arga, keduanya pun sepakat untuk membantu dan menjaga Rianti.
"Kamu sudah benar-benar yakin dengan keputusanmu?" pagi ini Rianti sudah sampai di rumah sakit untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya, sebelumnya Arzan pun sudah menghubungi pihak manajemen rumah sakit agar memperlancar proses pengunduran diri Rianti.
Walau pun berat bagi pihak manajemen melepas perawat teladan mereka namun jika sang bos sudah bertitah hanya pasrah yang bisa dilakukan mereka.
"Aku yakin mas, terima kasih ya Mas Arga sudah repot-repot membantu aku." Rianti menangkupkan kedua tangannya di depan dada, sekarang dia sudah benar-benar siap untuk pergi ke tempat baru, untuk memulai hidup baru dengan harapan baru.
"Syukurlah kalau kamu merasa jika ini adalah keputusan yang terbaik aku akan mendukungmu. Aku percaya kamu pasti kuat menjalani semua ini, karena kamu adalah wanita yang kuat." Arga kembali menyemangati,
"Tentu saja Mas, Allah yang menguatkanku." balas Rianti dengan tersenyum.
"Sebenarnya cara Allah untuk membuat seorang hamba menjadi kuat itu sangatlah unik." Rianti menghela nafas menjeda ucapannya, tatapannya pun tetap lurus ke depan. Saat ini dia sedang menunggu direktur rumah sakit yang akan menerima surat pengunduran dirinya di ruang sang direktur.
"Maksudnya?" Arga memilih bertanya karena Rianti tak kunjung melanjutkan bicaranya,
"Ya unik, terkadang kita dihadapkan dengan rasa kehilangan, agar sadar tentang semuanya hanyalah titipan. Karena sejatinya tak ada satupun yang benar-benar kita miliki di dunia ini, semua hanya dititipi." tenang, itulah yang dirasakan Rianti saat ini. Dia yakin Allah sudah menyiapkan takdir terbaik untuknya.
"Aku salut sama kamu, semoga kamu segera menemukan kembali kebahagiaanmu. Semoga Allah bantu hatimu untuk ikhlas, walau aku tahu berat rasanya untuk rela dan menerima. Insya Allah Allah akan ganti dengan kemudahan dan keberhasilan dari setiap pengorbananmu dalam merelakan semua yang telah terjadi." Do'a Arga tulus,
"Meski akhirnya kamu harus mengalah, namun sebenarnya kamu tidak sepenuhnya salah, karena sesungguhnya kamu pemenang, kami sudah menang atas ego kamu sendiri. Mulai sekarang berdamailah dengan dirimu sendiri, percayalah bahwa Allah pemilik skenario terbaik kehidupanmu." Arga berdiri saat mendengar ketukan pintu ruang direktur rumah sakit tempatnya menemani Rianti menunggu.
Proses pengunduran Rianti dari rumah sakit yang sudah membesarkan namanya, membantunya tumbuh dan berkembang sesuai dengan cita-citanya berjalan lancar. Walau berat hati, akhirnya pihak rumah sakit melepaskan perawat mereka dengan air mata.
Berat rasanya untuk Rianti pergi dari rumah sakit ini, terlalu banyak kenangan di tempatnya bekerja selama beberapa tahun ini. Tempat kerja yang nyaman, teman-teman yang asyik, juga atasan yang sangat menghargai setiap kerjanya yang selama ini menjadi bagian dalam hidupnya kini harus dia tinggalkan. Keadaan mengharuskannya melakukan itu demi ketenangan hidup di masa depannya.
Rianti melangkah meninggalkan ruang aula rumah sakit yang digunakan para staf perawat mengadakan pesta perpisahan Rianti yang akhirnya dibanjiri air mata.
Dengan langkah pasti Rianti keluar seorang diri dari lift yang menurunkannya dari lantai sebelas rumah sakit, Arga lebih dulu pamit karena ada keperluan lain di rumah sakit itu.
Untuk sesaat Rianti tertegun saat menatap pintu keluar rumah sakit.
"Selamat tinggal, setelah hari ini mungkin pintu itu tidak akan lagi aku lewat." batin Rianti dengan hembusan nafas pelan.
__ADS_1
Baru saja Rianti hendak menyalakan motornya, tiba-tiba kepalanya merasakan pusing yang luar biasa. Rianti menghentikan gerakannya, dia masih berada di atas motor dan bermaksud turun lagi untuk beristirahat sejenak di pos satpam. Namun baru saja dia turun dari motornya Rianti sudah tidak bisa mengendalikan tubuhnya.
Brakkk....Rianti terjatuh dan pingsan.
Beberapa orang yang berada di area parkir khusus karyawan segera menghampiri Rianti yang sudah tergeletak di tanah.
"Lho, Mbak Rianti, tolong, ini Mbak Rianti" satpam yang bertugas segera mencari bantuan mereka pun membawa Rianti ke instalasi gawat darurat agar mendapatkan penanganan.
Saat tubuh Rianti sudah berada di atas blankar dan didorong beberapa perawat memasuki ruang IGD, tanpa sengaja berpapasan dengan Arga, dia yang baru saja selesai dengan urusannya di rumah sakit segera menghampiri para perawat yang membawa Rianti.
Arga memastikan jika wanita yang tengah tidak sadarkan diri itu adalah benar Rianti.
"Kenapa dia?" setengah berlari mengikuti para perawat yang membawa Rianti Arga bertanya.
"Katanya ditemukan pingsan di parkiran" jawab perawat tersebut buru-buru, dia pun memasuki ruang penanganan dan meminta Arga untuk menunggu di luar.
"Ri, kamu pasti sangat menderita" gumam Arga yang tahu jika Rianti bahwa Rianti memang sedang tidak baik-baik saja.
Dua puluh menit berlalu, dokter dan dua orang perawat keluar dari ruang pemeriksaan Rianti.
"Mas Arga?" dokter yang ditanya mengernyit karena dia mengenal Arga,
"Pasien temannya Mas Arga?" tanya balik sang dokter yang ternyata mengenali Arga,
"Iya dok" jawab Arga singkat,
"Dia juga salah satu perawat di sini" sambung Arga menjelaskan,
"Iya saya tahu, beberapa kali dia pernah membersamai saya bertugas" sang dokter pun menjelaskan jika dirinya pun mengenali Rianti.
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" Arga mengulang pertanyaannya,
"Sepertinya Mbak Rianti harus diperiksa secara lebih lanjut, sepertinya dia sangat kelelahan dan stress. Kemungkinan juga dia sedang mengandung maka keadaannya semakin lemah"
__ADS_1
"Rianti hamil?" Arga terlonjak kaget,
"Masih harus diperiksa lebih lanjut, saya akan merekomendasikan dokter kandungan untuknya" jelas sang dokter yang kemudian pamit karena harus memeriksa pasien lainnya.
Rianti pun melakukan pemeriksaan lanjutan, dengan Arga sebagai penanggung jawab. Dia meminta pihak rumah sakit untuk memberikan pelayanan yang maksimal untuk Rianti.
Tok...tok...tok...
Arga mengetuk pintu sebelum memasuki ruang rawat Rianti, saat ini dia sudah berada di ruang perawatan dengan fasilitas VVIP.
"Assalamu'alaikum" ucap Arga saat memasuki ruangan tempat Rianti dirawat,
"Wa'alaikumsalam" jawab Rianti dengan suara lemah, dia pun berusaha untuk bangun namun Arga mencegahnya,
"Tidurlah, keadaanmu masih sangat lemah" cegah Arga yang berjalan mendekat ke arah ranjang Rianti,
"Mas Arga yang membawa aku ke sini?" tanya Rianti yang lebih memilih untuk duduk dan bersandar karena tubuhnya memang masih sangat lemah.
"Bukan, aku kebetulan berpapasan denganmu saat dibawa oleh para perawat ke IGD" jawab Arga,
"Selamat atas kehamilanmu!" Arga mulai mengalihkan topik.
Sejak mengetahui jika ternyata Rianti sudah dinikahi oleh Nathan secara diam-diam Arga merasakan kekecewaan, namun dia pun tidak bisa berbuat banyak, selama ini gadis itu dengan sangat jelas menolaknya. Arga tidak menyangka ternyata gadis itu sudah lebih dulu mencintai sahabatnya.
Deg ... Rianti seketika menatap Arga, dia tidak menyangka jika laki-laki di hadapannya sudah mengetahui perihal kehamilannya.
"Mas Arga ..." Rianti membenarkan posisi duduknya,
"Kenapa?"
"Tolong Mas, aku mau minta bantuanmu"
"Apa? Apa yang bisa aku bantu untukmu?" tanya Arga menyelidik,
__ADS_1
"Aku...aku harap Mas Arga bisa merahasiakannya dulu" pinta Rianti dengan tatapan memohon.