
"Aku selalu percaya seseorang, sampai orang itu sendiri yang membuktikan bahwa dirinya tidak bisa dipercaya." Rianti menatap lurus ke depan, hamparan danau menjadi pemandangan yang lebih menarik untuk saat ini.
Rianti masih bertahan, berpikiran positif jika apa yang dilakukan Nathan yang lebih sering bersama Mikha adalah keharusan. Menganggap jika Mikha memang lebih membutuhkannya. Selama masih mampu, biarlah dirinya yang mengalah. Toh sebelum kehadiran laki-laki itu, dia pun terbiasa serba sendiri.
Setelah selesai bertugas di rumah sakit, Rianti kembali menuju tempat favoritnya, danau buatan di pinggiran kota yang menjadi tempatnya untuk melepas penat.
Tanpa Rianti ketahui Arga yang sedang ada keperluan ke rumah sakit melihatnya pergi ke arah yang berbeda dengan rumahnya, karena waktunya dirasa luang Arga pun memutuskan untuk mengikuti Rianti.
Di sinilah mereka berdua saat ini, Arga menemui Rianti yang tengah anteng memandang hamparan air yang terlihat tenang.
Rianti sempat kaget karena kehadiran laki-laki itu, namun Arga meyakinkan jika dirinya hadir sebagai teman, akhirnya Rianti pun membiarkan Arga tetap ada di sana apalagi setelah mendengar jika Tiara sangat mewanti-wanti agar Arga bisa memastikan sahabatnya itu baik-baik saja karena dirinya saat ini sedang tidak bisa membersamai sang sahabat karena harus mendampingi suaminya melakukan kunjungan ke luar negeri.
"Segitu cintanya kamu padanya" Arga menanggapi dengan sedikit ketus, walau bagaimana pun kekesalan dalam hatinya pada Nathan tidak bisa hilang begitu saja setelah mengetahui jika Nathan ternyata sudah menikahi Rianti sebelum menikahi Mikha.
"Karena itu adalah kewajiban"
"Maksudnya...?"
"Menikah dengan yang kita cintai adalah harapan, namun mencintai yang kita nikahi adalah kewajiban. Dan aku sudah mendapatkan keduanya" jawab Rianti yang membuat Arga tidak mampu berkutik lagi.
☘️☘️☘️
Hari-hari terasa semakin hampa dirasakan Rianti. Nathan semakin jarang pulang, sekalipun pulang kejadian yang sama dimana Mikha memintanya untuk segera kembali lagi-lagi terulang.
Puncaknya hari ini, Rianti benar-benar sudah tidak bisa mengendalikan dirinya. Dia menerima pesan dari Nathan agar cepat pulang. Rianti pun meminta izin pulang cepat dari tempatnya bekerja karena Nathan dan Mikha sudah menunggu di rumah.
"Aku mau tinggal di sini" Mikha memulai obrolan, ketiganya sudah duduk di ruang tamu rumah yang biasa Rianti tempati.
Sontak Rianti menatap Nathan yang sejak tadi hanya diam, tatapannya seolah meminta penjelasan pada suaminya kenapa istri keduanya itu menginginkan tinggal di rumah yang dirinya tempati.
"Pergilah Mas, dia lebih membutuhkanmu. Apapun yang kalian lakukan aku tidak mau tahu dan tolong jangan pernah memberitahuku" Rianti kembali mengingat percakapan terakhir dengan suaminya beberapa hari yang lalu saat Nathan pulang namun harus segera kembali karena Mikha meminta dijemput di pusat perbelanjaan.
Rianti pun sudah menyampaikan perihal kiriman foto-foto kemesraan Nathan dan Mikha yang dikirim ke nomornya. Nathan meminta maaf dan mengklarifikasi jika dirinya benar-benar tidak mengetahui hal itu.
Dengan baik-baik, Rianti meminta agar hal itu tidak terjadi lagi. Lantas bagaimana bisa hari ini Nathan diam saja saat Mikha bilang kalau dirinya akan tinggal di rumah yang sama dengan Rianti.
"Mas....?"
"Ini rumah Mas Nathan kan?" Mikha memotong, membuat Rianti menghembuskan nafasnya kasar.
"Sayang aku..."
__ADS_1
"Assalamu'alaikum" baru saja Nathan akan bersuara, ucapan salam terdengar dari arah pintu membuat ketiganya menoleh,
"Mama...." pekik Mikha, dia segera berdiri dan berhambur menyambut kedatangan mama mertuanya.
Deg... Rianti tersentak, wanita yang kini berdiri di ambang pintu adalah wanita yang sama dengan wanita yang ada dalam foto bersama suaminya.
"Wa'alaikumsalam" walau terlambat karena sempat terkejut, lirih Rianti menjawab ucapan salam mama mertuanya.
"Mama? Ada keperluan apa mama datang ke sini?" Nathan panik, dia melihat Rianti dan sang mama bergantian.
"Kenapa kamu bertanya begitu? Bukankah ini rumahmu? Wajar kan kalau mama datang berkunjung" jawab sang mama santai dengan tatapan yang kembali mengarah pada Rianti. Sementara Nathan kembali kaget saat supir sang mama mengantarkan koper yang cukup besar ke dalam rumahnya yang disinyalir itu pasti milik sang mama.
"Kamu?..."
"Saya Rianti eum..." bingung, itulah yang dirasakan Rianti saat ini, entah harus memanggil apa dia pada wanita yang ada di hadapannya kini.
"Mama, sayang....dia mamaku, mama kamu juga" Nathan segera mendekat dan merangkul bahu istrinya. Dia mengabaikan sopir yang menunduk pamit setelah menyimpan koper sang mama.
"Maaf, mama..." lirih Rianti akhirnya, dia pun mengulurkan tangannya untuk menyalami dan mencium tangan mama mertuanya.
Ada keharuan dalam hati Rianti, untuk pertama kalinya akhirnya dirinya dipertemukan langsung dengan wanita yang sudah melahirkan suaminya.
"Jadi kamu istri pertama putraku?" pertanyaan yang penuh intimidasi, Nathan pun terlihat waspada, dia tidak mau mamanya menyakiti Rianti.
Setelah perdebatan cukup panjang antara Nathan dengan mamanya yang tentu saja dimenangkan oleh sang mama karena Rianti memberi kode agar suaminya itu mengalah. Mama Nathan dan Mikha sepakat akan tinggal di rumah Nathan bersama Rianti.
Kamar yang awalnya ditempati oleh kedua adik Rianti kini berubah karena mama mertua dan madunya sepakat akan tinggal di rumah itu untuk waktu yang tidak ditentukan. Alasan papa Nathan yang harus kembali ke luar negeri karena urusan pekerjaan membuat Nathan semakin tidak berdaya menolak keinginan mamanya itu.
Nathan sudah berusaha memberi pengertian namun kedua wanita berbeda generasi itu tetap keukeuh dengan keinginannya, entah apa maksud mereka keduanya melakukan hal itu.
Rumah yang Rianti tempati tidak lagi sepi namun kini justru membuat lukanya semakin menganga. Setiap pagi dan malam dia melihat langsung kemanjaan Mikha pada suaminya. Dengan dukungan sang mama mertua tentu saja Nathan pun tidak bisa menolak.
"Ma, Rianti pun istriku. Aku harus berbuat adil, sudah beberapa malam aku menemani Mikha tidur, malam ini aku akan menemani Rianti, tolong mama mengerti"
Malam itu tanpa sengaja Rianti mendengar perdebatan antara suami dan mama mertuanya, dia hanya bisa mengusap dada.
Selama ini hanya bermunajat pada Sang Pengatur Kehidupan yang bisa membuat Rianti tenang, malam ini setelah mendengar perdebatan antara suami dan mama mertuanya tekadnya semakin kuat.
"Mas, aku kalah" gumamnya lirih, dia pun kembali menutup pintu kamarnya. Niat awal akan pergi ke dapur untuk mengambil air minum akhirnya dia urungkan.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Sarapan sudah siap, kehadiran Mikha dan mama mertuanya di rumah itu tidak membuat Rianti mengubah kebiasaannya. Selepas shalat subuh dia segera ke dapur untuk menyiapkan sarapan dan pekerjaan yang lainnya.
"Pagi mama...." dengan manjanya Mikha menyapa sang mama mertua yang sudah duduk di meja makan lebih dulu. Dia baru saja keluar dengan menggandeng lengan Nathan yang sudah siap dengan pakaian kerjanya, tentu saja Rianti yang menyiapkannya.
"Hari ini aku akan mengantarmu" Nathan menoleh pada Rianti, dia sudah menghabiskan sarapannya.
"Kenapa?" Mikha yang protes,
"Dia kan bisa bawa motor Mas, biasanya juga begitu" ujar Mikha tanpa rasa malu,
"Motor Rianti rusak dan masih di bengkel" jawab Nathan berkata apa adanya,
Kemarin Nathan tidak mendapati Rianti saat pulang ke rumah, ternyata motor istrinya itu mogok dan Rianti pun terpaksa harus membawanya dulu ke bengkel dan pulang dengan menggunakan ojek online.
"Tidak perlu Mas, aku bisa naik ojek online"
"Tidak, aku yang akan mengantar"
"Mas, jangan maksa dong orang dianya juga mau pergi naik ojek" Mikha kembali protes,
"Biar saja Nathan mengantarnya, bukankah kalian satu arah" mama Nathan akhirnya bersuara dengan pernyataan yang membuat Mikha membulatkan matanya, dia langsung terlihat kesal karena mama mertuanya malah mendukung Nathan.
Beberapa hari tinggal serumah dengan Rianti, Mama Nathan semakin menunjukkan perubahannya terutama saat berbicara pada Rianti, wajahnya bahkan lebih terlihat ramah saat berbicara pada menantu pertamanya itu.
Beberapa kesempatan pun mama Nathan pernah memuji masakan Rianti, saat mereka makan malam maupun sarapan pagi bersama seperti saat ini.
"Ayo!" Nathan sudah berdiri, dia hendak meraih tangan Rianti untuk digandengnya.
"Mas, sebentar. Ada yang mau aku sampaikan" Nathan menghentikan gerakannya, dia pun menatap penuh tanya pada Rianti yang masih duduk di tempat mereka sarapan.
"Ada apa sayang?" tanya Nathan dengan wajah sedikit tegang, untuk pertama kalinya Rianti terlihat berbeda saat bicara.
"Mas, di hadapan mama dan istri keduamu, aku izin untuk menyampaikan sesuatu" suasana mendadak hening, ketiga orang di hadapan Rianti menatap penuh tanya dengan ekspresi wajah yang tak jauh beda, penasaran.
"Aku..." Rianti menjeda ucapannya, dia kembali menatap Nathan, mama mertua kemudian Mikha.
"Aku ingin kita bercerai"
....
.....
__ADS_1
......