
Nathan memukul setir mobilnya, setelah sampai di parkiran rumah sakit dan menjalankan mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi dia baru menyadari jika tadi dirinya keluar dari rumah tanpa mencium kening sang istri.
Nathan bahkan terbayang sekilas dia sempat melihat Rianti yang akan mengulurkan tangannya, namun karena dirinya buru-buru dan dilanda kepanikan Nathan hanya meraih tas dan kunci mobilnya lalu langsung pergi begitu saja tanpa menoleh lagi pada istrinya.
Sekarang saat dirinya sudah mulai bisa menguasai diri, bayangan istrinya justru menahannya di parkiran rumah sakit tempat sang mama dirawat.
"Sial, kenapa aku bisa lupa" Nathan merutuki kebodohannya sendiri, rasa bersalah menyelimuti hatinya sejak selama ini dia begitu mendapat perlakuan yang istimewa dari istrinya bahkan saat semalam dia pulang terlambat dan tanpa kabar Rianti justru memikirkan dirinya yang kelelahan.
"Maafkan aku sayang" baru saja Nathan bermaksud menghubungi istrinya, panggilan masuk kembali membuat ponselnya bersuara.
"Iya Pa"
"Cepat kamu ke rumah sakit!" kalimat yang penuh dengan intimidasi membuat pikiran Nathan kembali pada sang mama yang dikabarkan pingsan dan langsung dilarikan ke rumah sakit.
Nathan buru-buru keluar dari mobilnya, ponsel yang beberapa detik lalu digenggamnya dia tinggalkan begitu saja di dalam mobil.
"Ma...." ruang rawat VVIP menjadi tempat Nathan berada saat ini, pertama kali memasukinya mata Nathan langsung disuguhkan pemandangan yang membuat matanya seketika membola.
Dua ranjang yang ada di ruang VVIP itu terisi pasien yang tidak asing bagi Nathan dan dua-duanya Nathan tahu betul siapa mereka. Jika di ranjang yang satu terlihat sang mama yang terbaring lemah dengan selang oksigen terhubung ke hidungnya, di ranjang yang satu lagi justru terlihat wanita yang tidak asing baginya tengah duduk dengan pergelangan tangan yang dibalut perban dan pergelangan tangan yang satunya lagi tertancap jarum infus. Dia adalah Mikha.
"Semua keputusan ada di tanganmu!" Papa Nathan mengakhiri pembicaraan mereka, saat melihat sang putra yang kebingungan ketika memasuki ruang perawatan papa Nathan memutuskan untuk membawa sang putra ke tempat lain. Dan di sinilah mereka berada, ruangan yang tak kalah luas dan mewah milik sang direktur rumah sakit.
Papa Nathan menceritakan kejadian tidak terduga yang terjadi pagi hari di kediaman mereka.
Saat sedang menyuapi istrinya, papa Nathan menerima panggilan telepon dari sahabat sekaligus rekan bisnisnya yang tidak lain adalah papa Mikha, dia sangat terkejut saat menerima kabar jika Mikha dilarikan ke rumah sakit atas percobaan bunuh diri yang dilakukannya.
Mikha di temukan pingsan dengan darah yang mengalir dari pergelangan tangannya. Wanita itu mencoba melakukan usaha bunuh diri saat berada di kamar mandi.
__ADS_1
Sejak semalam gadis itu mengancam akan melakukan tindakan nekad jika tidak direstui untuk menikah engan Nathan, berkali-kali papanya menjelaskan jika menjadi istri kedua tidak akan sanggup untuk putrinya jalani, selain itu kedua orang tua Mikha juga tidak rela jika putrinya harus menjadi istri yang kedua.
Namun Mikha tetaplah Mikha, anak tunggal yang selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Pengertian yang diberikan mamanya tidak masuk dipikirannya sama sekali, papanya pun sempat menyampaikan kekhawatirannya, orang tua mana yang ingin anaknya menjadi yang nomor dua, walau pun papanya sangat menyukai Nathan karena perilaku, kecerdasannya dan kesuksesannya dalam pendidikan dan berbisnis tapi dia pun tidak bisa memaksakan kehendak ketika Nathan sudah terang-terangan mengakui jika dia sudah berkeluarga dan akan tetap mempertahankan keluarganya. Tapi Mikha tetap tidak mau tahu, yang dia inginkan adalah keinginannya untuk menikah dengan Nathan diikuti oleh kedua orang tuanya.
Dan di sinilah sekarang berada, Mikha sudah membuktikan ancamannya dengan nekad melakukan upaya bunuh diri karena kedua orang tuanya tidak mendukung apa yang diinginkannya. Alhasil papa Mikha pun menelepon papa Nathan dan menyampaikan keadaan putrinya serta keinginan putrinya yang tetap ingin menikah dengan Nathan dan jika Nathan menolak maka bayangan kebangkrutan perusahaan keluarga yang di bangun dengan susah payah oleh papa Nathan sudah di depan mata. Mendengar itu mama Nathan mama Nathan seketika jatuh pingsan dan langsung dilarikan ke rumah sakit yang sama tempat Mikha dirawat.
"Tapi pa, aku sudah beristri. Aku tidak mau mengkhianati istriku" sendu Nathan berucap, air matanya menetes membasahi pipi, bayangan Rianti tepat di depan matanya. Dia tidak bisa membayangkan kesakitan yang akan dirasakan oleh wanita halalnya itu jika sampai Nathan memenuhi keinginan keluarga Mikha.
"Papa tidak punya solusi lain nak" papa Nathan menatap iba pada sang putra kebanggaannya, sejak dulu Nathan selalu menjadi anak yang bisa diandalkan dan membanggakan. Ada rasa tidak enak dalam hati papa Nathan, namun keadaanlah yang memaksa.
"Aku akan bicara baik-baik pafa Mikha Pa, aku harap kali ini dia mengerti"
Nathan dan papanya pun kembali ke ruang rawat dimana mamanya dan Mikha sama-sama ada di sana.
Dikecupnya kening sang mama yang sudah mulai sadar dan tersenyum menatapnya lembut. Selanjutnya, Nathan beralih pada Mikha yang tengah menatapnya dengan wajah datar.
"Mikh..."
"Mikha, kamu tahu aku menyayangimu, sejak dulu aku menyayangimu sama seperti Mitha menyayangimu. Aku tahu hatimu lembut dan aku yakin dengan kepala dingin dan jiwa yang tenang kamu akan mengerti bahwa semua ini tidak akan bisa terjadi. Aku sudah beristri Mikha dan aku tidak mau mengkhianati istriku" Nathan menekan kalimat terakhirnya, dia sedang berupaya keras memperjuangkan kesetiaannya,
"Aku tahu kak, aku tahu kakak menyayangi aku, tapi aku mencintai kakak sebagai seorang wanita dewasa, setelah Kak Arzan kali ini aku tidak ingin kehilangan lagi, aku tidak mau mengalah lagi, aku sangat mencintai kakak, aku yakin kak Mitha pun akan bahagia jika melihat aku bahagia dengan Kak Nathan" Mikha masih keukeuh dengan alibinya,
"Tapi aku tidak bisa mengkhianati istriku"
"Kakak jangan khawatir, setelah kita menikah dia akan tetap menjadi istri kakak dan aku akan menerima sisa waktu kakak untukku, aku rela kak"
Nathan semakin frustasi mendengar Mikha yang tetap pada pendiriannya, Nathan menjambak rambutnya sendiri.
__ADS_1
"Tapi aku tidak bisa Mikha, aku..."
"Oke, kalau kakak tidak mau berarti kakak ingin melihat kematianku" Mikha langsung mencabut jarum infus yang ada di lengan kanannya, wajahnya meringis karena saat jarum itu lepas dari tangannya dan langsung mengeluarkan darah ditambah lagi tangan tangan kanannya yang terluka kembali berdarah.
"Kakak mau melihat aku mati?" teriak Mikha yang langsung berlari ke arah jendela rumah sakit yang terbuka.
"Aaaaa..." semua orang menjerit saat satu kaki Mikha menaiki jendela itu.
Mama Mika menangis histeris sementara mama Nathan langsung kembali kejang-kejang dan tak sadarkan diri.
Terjadilah kehebohan di dalam ruang rawat itu, beberapa petugas medis yang dipanggil asisten papa Nathan langsung berdatangan ke lokasi.
"Mama...." Nathan memburu sang mama yang tak sadarkan diri, sementara mama Mikha kembali berteriak karena putrinya sudah duduk di jendela dan siap melompat.
"Nathan, tante mohon" mama Nathan langsung bersimpuh di depan Nathan agar mau mengabulkan keinginan putrinya.
Nathan semakin kacau, dia bingung, melihat sng mama kembali tak sadarkan diri, Mikha yang akan melompat dari jendela dan bayangan Rianti memenuhi pikirannya.
"Nathan..." sampai suara sang papa menyadarkannya, dia menatap wanita paruh baya yang menangis sambil bersimpuh di hadapannya, dia pun melirik sang papa yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Baik, kita akan menikah" putus Nathan akhirnya, seketika Mikha menghentikan aksinya. Papa Mikha yang melihat sang putri tenang segera meraih tubuh putri kesayangannya itu dan membawanya turun dari jendela.
"Sayang...kenapa kamu melakukan ini?" ucap papa Mikha lirih,
"Aku mencintainya pa, sangat mencintainya" balas Mikha tak kalah lirih, dia pun hampir kehilangan kesadarannya karena darah dari dua tangannya masih belum berhenti mengalir.
"Dokter, tolong putriku" teriak papa Mikha yang mendapati putrinya pingsan di pangkuannya.
__ADS_1
Tiga jam berlalu, kekacauan yang terjadi sudah berakhir. Ruang rawat VVIP yang sempat gaduh kini kembali tenang bahkan sekarang beberapa orang tampak sedang menghias ruangan itu dengan bunga dan properti-properti lainnya.
Mikha sudah berubah penampilan, dia sudah mengenakan kebaya putih yang terlihat elegan dan sedang dirias seorang MUA. Sementara Nathan pun sudah siap dengan stelan jas berwarna putihnya tengah menatap nanar sang mama yang baru saja melewati masa kritisnya.