
Tak dapat ku pungkiri aku semakin hari seperti tak dapat mengerti arti kejadian itu,ku coba beranjak dan menanyakan pada Tuhan apa arti di balik semua ini dan ku buka pintu kontrakanku dan kulihat dunia masih baik baik saja,di kota yang ramai ini aku seperti orang yang hidup tapi mati.aku menangisi manusia kurang ajar seperti itu.tiba aku kluar rumah dengan mata sembab tetanggaku datang menghampiriku
"eh baru kluar rumah udah ada hampir dua minggu yah"
"eh ia bang" sambil menunduk dan aku masih saja meneskan airmata
"kak" dia umurnya lebih tua dari aku tapi dia memanggilku kak
"ia ...bang"
"apa yang terjadi kak"
"ngak ada kok bang, hanya saja mungkin tidak jodoh"
"sini duduk dulu kak kita cerita,jangan pendam seperti itu "
"apa yang harus ku ceritakan bang,semua sudah berakhir"
"apa yang membuatmu menjadi seperti ini kak,dimana imanmu"
"bukan masalah iman bang,tapi hati ini sudah hancur bang"
"ia tapi selama dua minggu kamu kayak orang yang tak punya tujuan kak"
"aku bisa apa bang,secara dia sudah janji akan nikahin aku dan semua sudah di persiapkan,tapi apa ...dia tunangan sama cewek pilihan orangtuanya"
"kak jangan nangis terus,kamu harus bisa tegar,buktikan kamu kuat"
"sekarang ini kamu bisa ngomong kayak gitu sama ku bang,karna bukan kamu yang ada di posisi ini"
"aku ngerti kak"
"trus apa yang ku lakukan bang,kenapa orang itu sekeluarga membohongiku"
"ngini kak,maafkan mereka dan telpon orangtuanya kenapa anaknya di tunangin minta penjelasan tapi jangan pernah marah ataupun bernada tinggi"
"apa mereka akan mau mengangkat telpon ku bang"
"coba aja kak tapi ingat kamu wanita yang baik kamu beriman,kamu bisa semua,kamu udah berusaha ngerawat dia dari sakitnya hingga sembuh"
"aku bisa apa bang,mereka tidak tau pengorbananku bagaimana selama ini".
"tapi aku heran loh kak,aku ngak nyangka si abang akan kayak begitu jadinya mau nurut sama orangtua nya sedangkan kamu ada disini"
"aku juga ngak ngerti bang...aku ngak ngerti" sambil mengusap airmata yang jatuh di pipi
"udahlah kak telpon lah mamaknya bilang kamu memaaafkan mereka supaya nanti mereka sadar bahwa kamu wanita yang hebat "
"ia bang,karna itu cara terbaik yang bisa aku lakukan sekarang meskipun hati ini hancur dan luka ini sudah dalam aku akan maafin mereka biar Tuhan yang balas apa yang akan mereka terima nanti"
"padahalkan kak sebelum dia pergi dia bilang dia hanya liburan saja karna orangtuanya kangen tapi pada waktu itu si adek lihat fb nya si abang udah tunangan"
"aku juga begitu bang,aku tau dari fb kalau dia tunangan dan ku telpon dia blokir smua sosmedku"
"memang sekeluarga mereka kejam ya,mau bohongi anak orang dan keluarga yang lain begitu"
"mereka lah itu bang aku hanya ingin jika suatu saat nanti jangan ada penyesalan"
"ok kak aku pergi dulu,kakak harus kuat jangan lemah,bangkit lagi jangan terpuruk terus"
__ADS_1
"ok bang"
Aku pun mulai berpikir ia yach benar apa yang di katakan abang itu bahwa aku bisa lepas dari luka harus memaafkan mereka,aku langsung mengisi pulsaku ke counter terdekat dan aku langsung buat paket telpon dan tidak beberapa berselang aku menelepon orangtua nya
"cringgggh....cringgggg ....cringgggg
"cringggg...cringgggg....cringhhhhh
"cringggg...cringggggg....cringgggggg
tetap tidak ada jawaban tiga kali di hubungi tetap tidak ada jawaban.Ku coba lagi menelpon
"cringgggg....
"yah hallo...ini siapa" suara mamaknya
"hallo mak" suara mamaknya berbisik ini kisss
"ohhh ia ini kisss ya" tanya mamaknya
"ia mak,apa kabar"
"oh baik"
"mak aku langsung saja alias to the point aja ya mak"
"ia apa nakku"
"si abang udah mamak tunangin sama cewek lain kan" tanyaku dengan lembut
"akh siapa yang bilang" mamaknya berbohong
"bukan bukan dia itu..."
"jadi siapa itu mak yang di facebook,aku kenal banget kok sama dia"
"aduh kiss itu bukan anak mamak,dia itu anak nya anak kakak mamak,dia itu mirip sekali dengan si abang,semua dan juga namanya sama cuma marga nya yang ngak sama" mamaknya mulai berbohong lagi
"hehehheheehehe ngapain bohongin aku mak"
"itulah kau kiss ngak percaya"
"kalau gitu aku mau ngomong sama abang boleh mak"
"aduh dia ngak disini,dia semalam pergi sama temannya jadi tidur di rumah temannya,biasa cowok"
"oh ia yah"
"ia,udah yah kiss mamak mau pergi ke pasar dulu,eh udah makan"
"udah mak,mamak udah apa lauknya mak"
"oh ini banyak ada ini ada itu kami bawa kemaren dari pesta"
"pesta siapa mak"
"anaknya kakak itu" berbohong lagi
"ohh gitu yah"
__ADS_1
tiba tiba terdengar suara pacarku mamaknya langsung mematikan handphone nya,aku pun menangis bahwa kenapa harus berbohong.keesokan harinya aku menelpon orangtua nya lagi.
"cringggh ....cringggg...
"hallo..."
"mak ini aku"
"ia kenapa"
"aku ngak nganggu mamak kan"
"ngak"
"mak coba jujur sama ku,kalau mamak jujur aku ngak akan marah"
"jujur apa ini"
"jujur dulu mak,abang kan yang tunagan itu"
"bukan udah berapa kali mamak bilang bukan,itu anak kakak mamak " suara meninggi
"ngapain mamak bohong"
"ia kamu ngak percaya banget ya"
"untuk apa mamak menyembunyikan hal ini pada saya"
"siapa yang sembunyikan"
"salah ku apa sih mak"
"kamu ngak ada salah,emang apa"
"mak...aku tau abang mamak tunangin,aku hanya ingin kejujuran kalian smua aja,aku tau aku bukan siapa siapa,aku hanya orang yang di anggap tisu jika mau ambil dan buang"
"maksudnya apa ini"
"mak jangan marah,aku dah tau smua,aku minta maaf mak jika aku ada salah,orangtua memang lebih tau apa yang terbaik untuk anaknya aku akui,tapi sebaiknya berkata baik lah dan jangan begini.aku memaafkan kalian mak"
"trimakasih"
"anggap aja aku anakmu mak yang sudah kamu buang,dan jika aku nikah nanti aku akan mengundang kalian semua mak tenang saja aku akan mempersiapkan tempat duduk yang cantik dan mewah untuk kalian."
"apa apain omongan mu ini"
"aku hanya ingin kalian melihatku menikah bahagia mak jadi mungkin saat ini kalian lihat aku sebelah mata,tapi aku tak main main dengan omongan ku ini"
"ok sudah kalau begitu ia nakkku..."
"mamak jaga kesehatan mamak ya"
"pasti nak.terima kasih yah atas semuanya"
"ia...udah ya mak aku sudah memaafkan semua kesalahan kalian kalau soal balas dendam bukan aku yang turun tangan mak,tapi Tuhan"
"ia ia nak"
"ok bye"
__ADS_1
aku langsung mematikan handphone ku dan aku menagis lagi tapi rasa di dadaku sudah puas untuk mengatakan sebagian yang ada di dalam benakku selama ini.