Laboratorium - Merah

Laboratorium - Merah
Chapter 9 Steyfano Marcues


__ADS_3

Aku sudah sangat susah payah memasukkan ikan itu ke dalam sebuah sungai di belakang villa itu. Aku memasukkannya dengan hati-hati seraya berjaga agar tidak ada satupun orang melihat dan memergoki aku disana. Aku berjalan pergi meninggalkan sungai yang telah ku isi dengan ikan piranha raksasa. Sebelumnya aku mendaratkan helikopter itu di tempat yang agak jauh dari villa agar suara baling-baling itu tidak terdengar. Dan aku sudah menyeret dan mendorong dengan susah payah akuarium itu hingga sampai di pinggir sungai. Dan aku yakin, usahaku tidak akan sia-sia. Bahkan aku pun tak sempat menyeka keringatku yang menguncur setelah berolahraga di sore hari begini.


Aku sampai di rumah kecil nan sederhana ini. Ku lihat Tania yang tengah menyapu teras dengan parasnya yang masih tetap saja cantik.


" Steyf, kau darimana lagi?" Tanyanya saat menoleh kepada ku.


" Maaf, aku selalu meninggalkan rumah tiba-tiba. Rencanaku harus berhasil kali ini." Kataku padanya.


" Sekarang kau sedang apa lagi? Kau sampai berkeringat begini, apa kau habis berlari maraton 10 putaran? Bahkan sekarang kau bawa helikopter pulang? Kau sudah gila?"


" Tidak, Tania. Nanti saja ceritanya." Kataku seraya tanpa ada sopan santun masuk ke dalam rumah dan masuk ke dalam kamar. Tania membuntuti aku dari belakang.


Aku menatap lekat-lekat komputer yang selalu hidup itu. Dan Tania yang mulai nimbrung di sampingku.


" Kau sudah melancarkan aksimu lagi?"


" Tentu saja, Tania. Aku ingin menang. Dan aku sudah menemukan target ku sekarang."


Begitu mataku tertuju pada layar yang merekam seorang lelaki suruhan Leo yang tengah berjalan menuju ke sungai itu. Tubuhku telah berkeringat dingin. Mataku tak bisa aku kedipkan sekarang. Aku tak ingin melewatkan satu hal hanya karna aku mengedipkan mata sebentar. Dia masuk ke dalam sungai itu dengan memakai sepatu bootnya. Dia berjalan terbata-bata di dalam air sungai. Dia berjalan, dari pinggir sampai ke tengah-tengah sungai yang keruh itu.


Dan lantas senyum ku begitu amat merekah melihat ikan itu memakan dengan lahap si manusia bejat itu. Kini telah berhasil usahaku meskipun yang termakan itu bukanlah Leo atau Marcues itu sendiri. Akan tetapi setidaknya aku telah mengurangi satu dari jumlah mereka.


Tidak. Ikan itu sangat lapar. Aku melihat seseorang lagi berlari menyusuri pinggir sungai itu untuk melihat apa yang sedang terjadi. Dan tiba-tiba saja...


Happpp!!


Tubuh itu termakan habis. Begitu lah si ikan piranha mengenyangkan perut gepengnya. Aku tak bisa menahan tawa ku yang amat tak bisa ku tahan. Aku tertawa riang gembira melihat manusia-manusia itu dimakan habis. Mereka yang baru saja datang dan juga ingin melihat akan langsung lari terbirit-birit memutar arah. Aku sungguhan senang melihat ini. Bahagia ku bukan hanya sekedar bahagia. Akan tetapi sangat bahagia seperti baru saja memenangkan judi. Sungguh. Aku tertawa hingga nafasku mau berhenti. Hingga tanpa suara aku tertawa terpingkal-pingkal. Di sepanjang hidupku. Tak pernah aku merasakan rasa bahagia yang begitu amat seperti ini. Ini bahkan lebih lucu dari pada film komedi. Aku menyukainya lebih dari sekedar menang judi.


Hingga aku tak sadar. Tertawa ku menimbulkan efek tersendiri bagi Tania. Mukanya memucat dan aku baru sadar akan hal itu. Dia merinding berkeringat. Dia ketakutan sekarang dan aku sangat tidak tahu malu sebagai seorang lelaki. Maka untuk seketika aku terdiam dari tawa ku yang amat keras, selepas aku menyadari Tania diam saja dari tadi. Menatap mukanya yang menahan diri untuk tidak muntah di tempat.


" Maaf jika aku tertawa begitu keras, Tania. Aku tau jika kau ketakutan." Begitu kataku berusaha menenangkan dirinya yang sudah gemetaran.


Dia hanya menatap aku sebentar dan kemudian tertunduk kaku.


" Maaf, maaf... Harusnya aku tidak memperlihatkan nya kepadamu. Maaf, Tania. Aku tidak bermaksud untuk membuat mu takut."

__ADS_1


Aku merasa bersalah sekarang. Dan cukup aku akui, aku tak pernah merasa bersalah sedikitpun. Kecuali untuk saat ini. Aku memeluk tubuh kecil nan seksi di depan ku ini. Atau bahkan jika dia mau pun aku akan berlutut dan bahkan mencium kakinya agar dia memaafkan aku.


" Maaf.. aku akan mematikan komputer ini segera. " Kataku padanya yang bahkan tak berani berkutik sama sekali.


Aku pun harus mematikan komputer untuk beberapa menit ke depan. Serta membantu Tania untuk duduk di kasur kamar yang aku huni. Berusaha meminta maaf sekali lagi dan menenangkan hatinya yang tengah ketakutan itu.


" Maaf Tania. Aku tidak akan menunjukan itu lagi di depan mu." Begitu kataku sambil duduk di sampingnya.


" Steyf..."


" Ya? "


" Aku sempat kehilangan keluarga hanya karena tertawaan seseorang. Dan kau mengingatkan aku tentang itu. Itu sangat menyakitkan."


" Apa yang terjadi?"


" Tidak ada yang tau permasalahan nya. Akan tetapi tiba-tiba saja ayahku menjadi gila. Tidak tau apa sebab nya. Orang-orang menertawakan ayahku. Yang terus-terusan menggelandang pergi entah kemana. Tertawa-tawa tanpa sebab dan bertingkah semaunya. Ibuku pun merasa tidak nyaman lagi. Dia bahkan tidak bisa berpikir jernih. Orang-orang terus menyalahkan ibu karena tak pandai menjadi seorang istri. Apalagi ketika saat itu.." Dia ragu-ragu untuk melanjutkan ceritanya. Dia menutupi mukanya dengan tangannya.


" Waktu itu ibuku memergoki ayah ku yang sedang membuang hajat di pinggir jalan dan itu di tertawakan oleh orang-orang yang melihatnya." Dia mengelap ingusnya


Aku mendengar tangisnya yang sesenggukan. Aku telah salah besar. Harusnya aku tidak tertawa. Aku seperti telah melukai hatiku sendiri. Bahkan yang cantik dan menawan seperti dia pun mempunyai kehidupan yang seperti itu. Sesungguhnya itu semua di luar pemikiran ku.


" Maaf jika aku membuatmu teringat akan masa lalu. Aku tidak bermaksud untuk melukaimu seperti itu."


Aku tak sanggup. Maka aku memeluknya dengan erat. Tubuhnya kecil. Begitu langsing dan kurus. Itu membuat aku berpikir dia terlalu menanggung segalanya sendirian. Hidup sendirian sampai sekarang.


" Lalu apa maksudmu orang tua mu ada di luar kota?"


" Aku hanya tak ingin kau tau tentang itu. Itu adalah masa lalu yang mencekam. Aku malu menceritakan ini kepada siapapun."


Begitu katanya seraya menghapus air mata yang membasahi pipinya yang lembut itu.


" Kau tidak perlu mengatakan hal yang seperti itu. Kau tak perlu harus menutupi segala hal yang membuat mu merasa tak nyaman sendiri. Aku bahkan tak pernah menutupi apapun tentang diriku. Seharusnya kau juga seperti itu. Aku hanya tak ingin kau terbebani sendiri. Tania. Aku mencintaimu lebih dari berlian. Atau bahkan itu tidak akan pernah setara. Kau punya aku dan aku pasti akan membantumu. Aku menyayangimu dan itu selalu. Aku hanya meminta mu untuk jangan ragu kepadaku. Untuk yang tadi itu maaf jika aku begitu amat melukaimu. Sungguh aku tidak bermaksud seperti itu."


Aku hanya mencium keningnya yang pucat. Memeluknya dengan erat dan dia terus saja bergelut dengan isak tangisnya yang tak mau berhenti.

__ADS_1


Sirene itu berdering lagi. Aku melepaskan pelukan ku dari Tania dan aku segera menyalakan komputer milikku. Secara otomatis saja gambar-gambar rekaman cctv itu telah terjejer rapi dan berurutan di depan mataku.


" Tuan Marcues, kita sedang di hantam sesuatu yang amat mengerikan. Di sungai belakang rumah ini terdapat ikan amat besar yang melahap para pekerja." Begitu salah satu dari mereka melaporkan dengan penuh nafas yang tak beraturan.


" Hah?? Mana mungkin ada ikan seperti itu di dunia ini? Tau dari mana kau?"


Cih. Marcues tentu saja tidak akan percaya akan hal itu. Mana mungkin orang yang seperti dia itu mau meneliti tentang hutan amazon yang di takuti orang-orang?


" Benar saja, Tuan. Itu sungguhan ada dan kami melihatnya dengan mata kepala kami sendiri. Dan itu sungguhan melahap semua pekerja yang akan mengambil beberapa eceng gondok. Sebagian berlarian ingin menyelamatkan mereka yang terluka tapi mereka ikutan di lahap."


" Bagaimana mungkin ada hewan seperti itu. Ini bukan tempat yang seperti itu."


Ah, Leo. Kau pintar, tapi kau tidak tau hal itu? Astaga. Itu seperti petir yang baru saja menyambar diriku.


" Seperti apa bentuk dari ikan itu? "


Astaga, Marcues masih terus-terusan bertanya tentang itu?


" Itu sangat besar. Bertubuh gepeng dan memiliki gigi yang tajam. Dan dia sangat menyukai manusia beserta daging nya. "


Baiklah. Aku tak ingin menyakiti Tania lagi, dan aku tak ingin tertawa akan hal ini. Sungguh. Raut wajah mereka seketika menjadi pucat pasi.


" Dari mana datangnya ikan itu?" Marcues berusaha berpikir keras tentang apa yabg terjadi.


" Kalau begitu yang ada, proyek kita gagal ayah. Kuta tak bisa menggunakan eceng gondok di belakang rumah ini. Haruskah kita mencarinya di tempat lain?" Tanya Leo.


" Jangan Leo, bisa jadi itu adalah ikan yang bisa muncul kapan saja dan dimana saja. Mungkin saja mereka dari perairan dalam yang tersesat hingga ke perairan dangkal. Kita pakai yang lain saja. Untuk sekarang jangan mendekati, sungai dan tempat perairan lainnya. "


" Lalu apa? Apa yang harus kita pakai?"


" Apa saja yang ada di benak mu, Leo."


Si lelaki bertubuh mapan itu mulai berpikir keras. Matanya tertuju pada meja yang terdapat semut-semut tengah berbaris mencari sarang baru mereka. Berjalan beriringan seperti pasukan militer. Dan tentu saja.


" Semut. Apakah menurutmu bisa begitu ayah?"

__ADS_1


__ADS_2