Laboratorium - Merah

Laboratorium - Merah
Chapter 29 Steyfano Marcues


__ADS_3

Kami segera saja duduk di kursi restoran mewah di kota ini. Menurut berita, ini merupakan salah satu restoran bintang lima yang menyajikan makanan serba mahal dengan porsi yang sedikit ala orang Eropa. Sebenarnya aku tidak ingin datang kemari karena aku lebih menyukai tempat makan yang sederhana, murah dan memiliki porsi yang lumayan banyak hingga membuatku kenyang. Tapi aku takut terjadi sesuatu pada Eliza karena mungkin saja makanan murah tidak cocok untuknya. Sekalian saja aku juga ingin mencoba, setidaknya satu kali seumur hidupku.


Dengan cepat, makanan tersaji di depan mata kami. Segala makanan malam di sajikan secara teratur dan terhormat ditempat ini. Dengan pelayanan yang super cepat dan disiplin. Yang aku benci hanya satu. Sesedikit ini kah makanan orang Eropa itu?


Aku memakan makanan itu dengan sangat ala orang Eropa. Yaitu dengan menggunakan garpu dan pisau kecil. Aku berani bersumpah demi apapun. Jikalau aku sudah tidak sabar, aku akan menyambar makanan ini langsung dengan tangan kosong yang bahkan aku belum mencucinya.


" Apa yang akan kau lakukan setelah lulus dari studimu?" Tanya nya padaku.


" Nganggur. "


" Kenapa memilih hal yang seperti itu? Maksudku kenapa kau tak memilih bekerja.. setidaknya jadi tukang bersih-bersih bayaran juga bisa kan. Setidaknya itu membantu perekonomian mu. "


" Yah... Aku tidak punya cita-cita untuk itu. Aku akan memikirkannya nanti setelah ujian."


" Wah... Hidupmu suram sekali. "


" Yah.. itu lebih dari suram. "


Tiba-tiba saja suara lembut memanggil nama Tante kecil. Seketika kami menolehkan kepala mencari keberadaan suara itu. Apa itu yang disana? Seorang gadis menghampiri kami dengan berpakaian gaun hitam yang dihiasi beberapa permata yang berkilau. Di tambah dengan rambutnya yang di gerai dan sebuah bando berwarna putih.


" Eliza... Kau sungguhan datang yah.." begitu katanya dalam bahasa Inggris.


Hei. Bukankah dia gadis SMP yang selalu menunggu bis itu? Ya. Itu benar. Dia gadis SMP yang selalunya ku lihat di dalam bis.


" Oh... Apa kau Sinar?" Tante kecil segera menyahut.


" Ya ya, aku Sinar. "


" Hei.. aku sungguhan tak percaya kita akan bertemu sungguhan disini. Kenapa kau tak memberi tahuku kalau kau ada disini?"


" Aku ingin memberitahumu tentunya, tapi itu tidak sempat."


" Ah.. sangat disayangkan.. apa kau sedang makan malam juga disini?"


" Ya... Kakak perempuan ku memenangkan proyek sains hari ini. Jadi kami ingin merayakan di tempat ini. Sekedar berbincang dan makan bersama sebagai tanda kemenangan nya. "


" Wah.. Selamat untuk kakak mu. "

__ADS_1


" Kau sedang apa? Apa kalian sedang berkencan?"


Semua mata kini tertuju kepadaku. Tante kecil tertawa.


" Eh... Kau laki-laki No Life yang selalu menunggu bis itu yah?"


Dia bilang aku apa? Laki-laki No Life? Aku ingin mengeksekusi gadis SMP ini sekarang. Aku hanya terdiam memandangnya. Aku tidak suka di katai seperti itu.


" Hahaha.. kalian bicara apa? Dia itu keponakan besar ku. " Tante kecil mulai mencairkan suasana.


" Apa? Keponakan besar? Apa maksudnya?"


" Aku adalah Tante kecil nya. Jadi dia adalah keponakan besar ku. Kami berbeda 3 tahun. Dia bahkan sudah hampir lulus SMA. "


Gadis itu membungkam mulutnya.


" Kau tidak sedang membual?"


" Sungguh, Sinar. Duduk lah, mari kita makan bersama. "


" Ah, tidak. Aku harus segera kembali. Aku hanya sebentar. Kalian selamat menikmati makan malam itu. Eliza, nanti kita bertukar pesan yah.."


Aku menatap dan menunggu nya berjalan menjauh dari mejaku. Betapa anggun gadis itu. Berjalan saja seraya berlegak-legok seperti angsa. Tapi kata-kata nya yang barusan cukup keterlaluan bagiku.


" Siapa dia?" Tanyaku


" Ahahahah.. Nama nya Sinar. Dia itu sahabat pena ku. "


" Sahabat pena? "


" Ya.. aku pernah iseng cari sahabat di internet. Di aplikasi sahabat pena, aku menemukan dia dan bercanda bersama. Ternyata aku dan dia sama-sama butuh sahabat. "


" Oh. "


Kami segera melanjutkan makan malam kami. Cukup canggung untuk sekedar makan malam berdua. Aku dan Eliza tak terlalu dekat dan aku juga tidak terlalu peduli akan hal itu. Hanya saja aku merasa sesuatu akan terjadi dan aku tidak merasa nyaman tentunya. Hatiku gundah. Aku merasa gelisah. Perasaan apa yang sebenarnya menyeruak seperti ini? Apakah karma dari dosaku belum selesai?


Aku bangkit dari tempat duduk ku.

__ADS_1


" Mau kemana?" Tanya Eliza menatapku.


" Aku akan ke kamar mandi sebentar. "


Aku berjalan melewati banyak orang dan banyak meja makan serta banyak pelayan. Aku akan pergi ke kamar mandi yang ada di restoran bintang lima ini. Hendak ku ingin mengontrol kegelisahan ku yang dari tadi menusuk-nusuk dadaku. Tapi itu tercegah saat aku melihat si gadis SMP itu yang sekarang akan ku panggil Sinar saja, termenung. Dari kejauhan. Menatap indahnya bulan di balik pintu kaca. Itu membuatku berpikir. Bukankah harusnya dia makan malam bersama dengan keluarganya? Kaki ku memaksa ku untuk menghampirinya. Dan mulutku bertanya.


" Bukankah harusnya kau makan malam bersama dengan keluargamu?"


Dia menoleh ke arah ku.


" Kau... S-Steyf?"


Aku hanya tersenyum simpul.


" Bukan apa-apa, sesekali rasanya hilang dari dunia keributan itu jauh lebih menyenangkan."


" Apa yang terjadi?"


" Bukan apa-apa. Lupakan saja."


" Aku akan duduk dan mendengarkan."


Dia menghembuskan nafasnya keras-keras.


" Itu sebetulnya terjadi pertengkaran kecil antara mereka. Ayah dan ibu ku tentunya tidak akan pernah aku meskipun ini adalah hari yang penting. Dan tentunya kakak ku itu hanya memakan makanannya tanpa peduli apapun yang di katakan oleh kedua mulut kedua orang tua payah itu. Aku tak tau apa yang terjadi. Tapi saat aku kembali mereka sudah memperdebatkan tentang hak asuh anak."


Dia terdiam. Dia tidak menangis. Namun dia terlihat amat sedih.


" Lalu apa hasilnya?"


" Tidak tahu. Aku langsung pergi saja. Aku muak."


" Apapun yang terjadi, berusaha lah terus untuk menjadi orang baik. "


Dia mengangkat kepalanya memandang ke arahku.


" Aku tak tahu apa yang harus aku katakan sekarang. Setidaknya sekarang ada yang mendengarkan mu. Dan aku berterimakasih kau sudah menceritakan keluh kesah mu. Aku harap kau mengerti, tidak ada yang berjalan semulus jalan tol di dunia ini. Semuanya berliku sampai pada waktu yang di tentukan."

__ADS_1


Dia hanya tersenyum.


" Terimakasih. " Begitu ucapan yang keluar dari mulut kecilnya.


__ADS_2