Laboratorium - Merah

Laboratorium - Merah
Chapter 39 (Special Chapter/ Catrina Beatrice)


__ADS_3

'5 HARI SEBELUM KEMATIAN CATRINA BEATRICE'


"Aku mengambil dua jurusan. Itu bukanlah hal yang mudah memang, tapi aku juga punya mimpi seperti adikmu." Joseph menjelaskan.


Kami melintasi jalanan terjal. Namun cuaca hari ini kurang bersahabat. Meski belum hujan, tapi langit mendung dan udara dingin. Beberapa kali terdengar guntur, menandakan hujan segera turun. Sementara Joseph menyetir mobil dengan hati-hati.


"Ada banyak hal yang tak Kau ketahui, Catrina. Banyak. Namun biarkanlah semua itu berjalan sewajarnya. Dalam artian, ada beberapa hal yang tak perlu Kau tahu," raut wajah Joseph berubah menjadi sendu. Sementara awan hitam makin pekat menyelimuti langit.


"Jangan melawan Joseph... kita akan kalah telak" aku melirih.


"Eh? Mengapa demikian? Kau tiba-tiba jadi pesimis."


Aku tak menjawab, membiarkannya mengernyitkan dahi. Penasaran.


"Justru yang aku butuhkan adalah kepercayaanmu, berharap sajalah semoga semua berjalan lancar."


Kepercayaan? Ya. Memang harapanku terletak pada Erina dan Joseph. Aku hanya mampu percaya dan optimis, sisanya aku serahkan pada mereka berdua. Kenyataan itu memang pahit, ya? Apakah keluargaku harus di takdirkan seperti ini? Setelah mati-matian melenyapkan kesedihan akibat meninggalnya orang tuaku, berkutat mati-matian melawan ketakutan, dan sekarang cobaan datang lagi? Perang? Aku tak tahu harus menyebut apa rencana mereka. Jujur saja, jikalau rencana itu terlaksana, aku belum siap kehilangan siapapun di antara mereka. Satupun!


"Kau pasti lapar 'kan?" Joseph seketika membuyarkan lamunanku. Perhatiannya tetap tertuju pada setir mobil. "Setahuku di dekat daerah ini ada rumah makan yang lezat. Atau, kita cari sup iga saja agar dapat menghangatkan tubuh di tengah musim dingin ini. Sekalian beristirahat sebentar."


Baiklah. Aku tersenyum sambil menganggukan kepala.


***


Mobil merapat di parkiran depan tempat makan. Aku menatap sekeliling. Spanduk besar dengan lampu neon yang tak di hidupkan, entahlah, mungkin nanti malam baru di hidupkan. Sementara angin dingin berhembus menerpa rambutku. Aku merapikan anak rambut sambil turun dari mobil.


Aku dan Joseph memilih duduk di pojok rumah makan, sambil menikmati pemandangan yang langsung memperlihatkan bukit-bukit tinggi dengan bebatuan terjal, yang langsung membuat bergidik ngeri kala membayangkan jika harus naik bebatuan itu.


Setelah kurang lebih setengah jam kami menunggu, pesanan di hidangkan juga. Menu pilihan Joseph; gulai ayam dan coklat hangat (jujur saja ini perpaduan yang aneh. Tapi apa boleh buat, Joseph bilang dia yang traktir. Jadi apa saja deh kalau di traktir).


"Bu Neny cerdik. Setelah kutimang, rasa-rasanya akan sulit jika kami tidak bertarung secara biologis. Meskipun begitu, tentu kami tak buru-buru mengambil keputusan dalam melakukan penyerangan. Erina sangat membantu." Kata Joseph.


"Namun sebelumnya, Catrina... biarlah aku ceritakan padamu dulu. Beberapa hari lalu Bu Neny dengan para karyawan memaksa untuk menangkap seorang gadis usia 15-an atau 16 tahun. Aku juga tak tahu buat apa.

__ADS_1


"Tapi setelah itu, Erina mencari banyak informasi mengenai gadis itu. Dia ciptaan laboratorium, bukan gadis biasa. Erina bilang, dengan memperbudak gadis itu, Bu Neny bisa menguasai segalanya. Sumpah, aku tak pahan apa maksudnya."


"Maksudmu dia kelinci percobaan?" Aku buru-buru menyimpulkan. Namun kemudian Joseph mengangguk mantap.


"Sudah kubilang atasanku itu gila. Kasihan gadis itu tak tahu apa-apa, tak punya dosa, namun dia di tangkap paksa oleh wanita gila itu.


"Tapi sayang, setelah penangkapan pertama itu, malahan jadi dramatis. Bu Neny kehilangan salah satu kakinya karna luka bacokan. Dan siapa pelakunya? Tak salah adalah gadis SMA itu. Sungguh dunia ini aneh."


Aku tertawa, setelah itu melahap sesuap makanan di piring saji.


"Eh? Itu tidak lucu!" Joseph terlihat kesal. Namun apa boleh buat, abisnya, ekspresi barusan itu menggemaskan. Jadilah sekarang aku tersenyum lagi.


"Catrina!!" Dia berseru ketus membungkam tawaku. "Aku serius! Rencana kita adalah menyelamatkan gadis itu. Itu point pertama, yang kedua adalah melenyapkan para karyawan! Sudah tak ada cara lain! Mereka sudah di bawah perbudakan Neny!"


Aku terdiam lama memandangi wajah merah padam Joseph.


"Maaf, Jo. Aku bukan menertawakan rencanamu, tapi ekspresimu barusan..." aku membuka mulut.


"Eh? Aku? Apanya yang lucu dari ekspresiku?"


***


Hujan mengguyur kota, membuat kabut makin tebal. Jalanan sepi, hanya menyisakan jurang curam di tepi jalan. Hanya beberapa motor dan mobil yang kebetulan lewat. Itupun juga hanya beberapa menit sekali.


Joseph makin berhati-hati menyetir. Takut ada bebatuan terjal karena kabut semakin tebal saja.


Awalnya semua berjalan lancar. Aku jahil mengatai Joseph, kemudian lelaki itu juga mengajakku bercanda, membuat guyuran air hujan terasa hangat. Tanpa kami sadari. Tanpa kami pikir-pikir dahulu.


Cerita ini berbelok tajam, mendadak jantungku rasa meleset. Kejadian ini cepat sekali.


Mobil merangsek masuk dalam jurang, beberapa kali menubruk bebatuan terjal. Badan mobil sudah di pastikan penyok, bagian belakang betulan hancur tertimpa dahan pohon yang rubuh. Aku menutup mata, masih tak dapat memahami apa yang telah terjadi.


Semuanya hancur berantakan, semuanya terjadi di bawah kesadaranku. Melesat begitu cepat bagaikan petir yang menyambar. Alangkah buruknya semua skenario dalam hidupku. Jangan ajarkan aku caranya bersyukur... aku sudah mengerti dan terilhami oleh banyak kejadian.

__ADS_1


***


Semuanya sudah aneh. Bahkan ketika aku membuka mataku. Aku hanya bermimpi? Bukan. Semuanya terasa nyata. Bahkan lampu di atas wajahku ini benar-benar mengganggu. Dimana?


Aku mencengkeram kepalaku yang betulan sakit. Luar biasa malahan. Ya Tuhan! Bukankah ini rumah sakit? Aku tak ingat satupun serpihan peristiwa yang terjadi barusan.


Selang beberapa menit aku mencoba merangkaikan ingatan, seorang perawat sudah masuk. Lembut merawat luka-lukaku. Sementara aku hanya diam.


"Apa yang terjadi?" Aku memaksa bibirku yang kaku.


"Syukurlah Anda baik-baik saja. Saya sudah menghubungi keluarga Anda. Maafkan tadi membuka ponsel milik Anda..." perawat itu lembut memberitahu. Sementara aku masih terdiam.


Selamat? Astaga! Apakah arti dari kata 'selamat' itu adalah terselamatkan dari kecelakaan tadi?! Sungguh aku sudah tak mampu berpikir jernih. Justru segala macam pikiran buruk menyeruak dalam pikirku. Joseph? Dimana Joseph?!


Mengapa? Mengapa pasa saat hal-hal buruk terjadi, justru aku harus tak sadarkan diri. Malah selamat hanya dengan luka kepala yang terbentur?


"Dimana Joseph?!" Aku berteriak kalap, menangis keras menunjuk perawat itu. Dia tersontak, mendekap mulutnya.


"Beristirahatlah, Nyona. Mungkin sekitar 12 menit lagi keluarga Anda datang menjemput," perawat itu pucat pasi. Ada apa?


"Kau belum menjawab pertanyaanku. DIMANA JOSEPH?!!" Sulit. Begitu sulit untuk di jelaskan. Bibirku kaku, sudah tak dapat menahan seruan bertenaga itu. Aku hanya bisa terus menyangkal segala kemungkinan-kemungkinan baik. Ayolah! Joseph orang kuat, hanya dengan kecelakaan seperti itu tak mungkin Joseph kalah! Ayolah! Aku saja sekarang tak mati.


"Dimana Joseph...?" Aku melirih, tak kuasa membendung tetesan air mata. Terus-terusan kuulang pertanyaan itu. "Dimana Joseph?"


"Nyonya..." perawat itu menunduk dalam, menatapku prihatin. "Garis takdir sudah di tentukan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Kita sebagai manusia yang lemah hanya bisa menerima dengan lapang dada, sekalipun itu menyakitkan."


Tak perlu lagi di perjelas, aku tentu sudah paham. Semboyan basi! Dokter payah! Jelas Joseph sudah gugur. Aku menangis sejadi-jadinya. Menyangkal? Entahlah. Mengapa hidupku begitu terpuruk? Mengapa langit tega sekali mengambil segala kebahagiaanku? Mengapa?! Joseph gugur tanpa memberiku pesan apapun.


Aku... aku bahkan belum sempat mengungkapkan perasaanku yang mengganjal. Setiap hari terus terbayang wajahnya, terus di teror oleh rasa yang menggejolak. Serpihan kenangan itu terbentuk perlahan-lahan.


Senyum hangatnya, sikap ringan tangannya. Saat aku menertawakan wajah seriusnya. Saat dia serius ingin melawan atasannya. Sungguh. Sungguh semesta ini kejam.


"Kami sudah berusaha menyelamatkan nyawa beliau, berharap ada keajaiban datang, Nyonya. Namun siapa sangka. Beliau malah berpesan di ujung nyawanya." Perawat itu mengangkat wajahnya. Prihatin menatapku. Pesan?

__ADS_1


"Beliau terbata-bata mengatakannya. 'Selamatkan Catrina. Apapun caranya. Bahkan hingga Kau ingin mencabut jantungku buatnya. Katakan padanya aku mencintai gadis sepertinya'. Setelah itu kami menyadari bahwa perkiraan selamat ternyata 60% lebih besar untuk Tuan Joseph. Meski luka Anda kelihatannya kecil, nyatanya Anda kehabisan darah.


"Maka demi memenuhi pesan Tuan Joseph tersebut, kami sepakat menyetujuinya dengan mendonorkan darahnya untuk Anda, Nyonya. Saya tahu ini berat, namun hati saya tersentuh. Saya mengangguk setuju. Dan akhirnya keadaan terbalik, alhasil Tuan Joseph meninggal karena kehabisan darah. Ajaib." Perawat itu tersenyum pendek.


__ADS_2