
Kami sampai di rumah kemudian. Mobil itu memasuki halaman rumah ku. Aku turun dari mobil itu sambil menggendong Karel. Dan Eliza mengikuti.
"Mau masuk dulu?" Aku berusaha untuk menawarinya masuk ke dalam rumah ku. Meskipun aku sendiri tak mau.
"Boleh" katanya.
Pintu di buka oleh Eliz, semua orang masuk ke dalam rumah tua itu. Pria itu, atau mungkin sekarang akan ku sebut Thony. Ia duduk di sofa dengan wajah yang takjub. Apa yang harus di dibuat takjub?
"Tak ku sangka. Bangunan lama ini penuh dengan kenangan yang indah. Semua barang-barang antik super mahal semua ada dirumah ini. Edward memang lah sangat pintar memilih desain."
Matamu.
Aku tak menghiraukan perkataan nya. Aku menaiki tangga hendak pergi ke kamar Karel. Sebelumnya ku dengar Eliza berkata dengan nya.
"Mau minum apa?" Begitu tanya nya dengan sopan.
"Ah.... Kau anak perempuan Marcues juga? Aku tidak pernah melihat mu. Kau cantik sekali. Tapi warna kulitmu sangat berbeda dengan semua keturunan Marcues. Apa kau anak yang di pungut oleh Marcues?" Pertanyaan macam apa itu? Mata busuk yang sok tahu.
Aku segera turun dan mendapati Eliza yang hanya terdiam. Berjuta bahasa seakan-akan hilang dari benaknya. Suasana ruangan itu amat hening.
"Jagalah kata-kata anda." Kataku.
Semua orang menoleh ke arah ku.
"Maaf." Ucap orang bernama Thony itu.
"Eliza, buat kan kami teh." Kataku.
Eliza segera pergi meninggalkan ruangan itu dan kini ruangan itu kembali senyap. Aku duduk di salah satu sofa.
"Seberapa dekat kau dengan Marcues?" Aku mengawali basa-basi.
"Ah. Kau tidak suka dengan ayah mu?"
"Apa?"
"Biasanya, orang-orang jika bertanya begitu akan menggunakan kata 'ayah' untuk percakapan mereka. Tapi tidak dengan mu."
__ADS_1
Aku hanya terdiam untuk beberapa saat.
"Seberapa dekat kau dengan Marcues?"
Dia hanya tersenyum simpul.
"Kami tak cukup dekat. Dia hanya lah atasan yang benar-benar merepotkan. Dia tak pernah memberi kami hari libur. Berminggu-minggu kami di beri tugas oleh nya untuk menemaninya membuat beraneka bayi tabung dengan berbagai DNA yang berbeda-beda." Ucapnya.
"Bayi tabung?"
"Ya. Waktu itu ia benar-benar marah. Berkas-berkas rahasia miliknya di curi. Entah apa itu aku tak tahu. Tapi dia sungguhan marah, Steyf. Sampai-sampai ia benar-benar membiarkan kami mau bekerja mau tidak. Dia betul-betul marah, sampai menyuntikkan berbagai macam cairan dalam eksperimen bayi tabungnya itu. Semua barang yang menghalangi jalan nya akan di tendang. Di pukul. Ia bertekad untuk membunuh pencuri itu."
"Siapa pencurinya?"
"Tidak ada yang tahu. Sampai saat ini tidak ada yang tahu siapa pencuri itu.
"Tapi, di saat bayi itu sudah lahir. Bayi perempuan. Padahal masih bayi, tapi dia sudah mengamuk. Seperti monster. Ia menggingit seorang perawat sampai kulitnya terkelupas. Aneh bukan? Padahal ia masihlah bayi yang baru lahir. Ibu nya,... Aku tak tahu. Tapi setelah Marcues masuk, semuanya mereda. Bayi itu pula berubah menjadi bayi biasa pada umumnya. Bayi itu di bawanya ke laboratorium. Kami di minta untuk menguji. Bayi perempuan yang sangat manis."
Mengejutkan.
"Lalu?"
"Eliza bukan bayi tabung. Dia bukan anak Edward. Tapi anak dari nenek Marcues yang menikah kembali dengan seorang lelaki berkebangsaan Spanyol."
Bertepatan di saat Eliza sampai di ruangan itu dan menyodorkan dua gelas teh.
"Ah. Jadi begitu. Maaf jika aku begitu lancang tadi. Sebab aku berpikir bahwa dia adalah bayi perempuan itu."
"Lantas bagaimana dengan bayi monster yang merusak laboratorium itu?"
"Tidak tahu. Tapi ia sungguhan monster."
"Bagaimana caramu selamat?"
"Ah. Tubuhku tertimpa runtuhan bangunan itu. Kaki ku hancur. Setelah aku sadar aku sudah ada di rumah sakit. Kaki ku sudah di amputasi. Lantas tiba-tiba Edward Marcues datang dan mengatakan bahwa ia akan bertanggung jawab kepada para staf tentang kecelakaan waktu itu. Ia pun membuat kan kaki buatan untuk ku. Dan membuat kan yang lain juga yang mungkin mempunyai masalah yang sama bagi para staf yang masih hidup. Bagi beberapa staf yang sudah mati, ia memberikan sejumlah uang untuk biaya hidup keluarga mereka."
Ia menyeruput teh dalam gelas itu. Aku hanya menatap kakinya. Tertutup oleh celana panjang dan sepatu hitam.
__ADS_1
"Siapa nama bayi tabung perempuan itu?" Tanya ku kemudian.
"Entah lah, Steyf. Di laboratorium kami hanya menyebutnya 'Bayi kepunyaan Marcues' tapi setelah saat bayi itu lahir, Edward memanggilnya 'Kastanya'. Tetapi waktu kami akan menguji bayi itu, ia berkata 'Bantu aku menguji kemampuan Viona.' katanya saat memerintahkan kami."
Aku tetap saja merasa tak percaya.
"Yang aku tahu, Kastanya adalah sebutan bagi anak perempuan keturunan raja." Ucapku kemudian.
"Yah.. mungkin saja namanya Kastanya Viona. Atau mungkin Viona Kastanya. Aneh betul nama itu."
Aku terdiam. Lantas tiba-tiba saja Karel menangis. Mungkin saja dia sudah bangun. Lagi-lagi. Eliza dengan sigap berlari dari dapur menaiki tangga. Siaga betul dirinya.
"Ah. Aku harus pulang sekarang. Ada hal yang harus aku kerjakan." Katanya.
Ia kemudian berdiri. Dan berjalan menuju ambang pintu. Aku mengikutinya dari belakang. Ia menghampiri mobilnya dan membuka pintunya. Menghentikan langkah sejenak untuk memperhatikan ku yang tengah berdiri di ambang pintu.
"Terimakasih untuk tumpangan nya." Kataku padanya.
Ia hanya tersenyum.
"Terimakasih kembali untuk teh nya." Katanya.
Lantas mobil itu berjalan pergi meninggalkan halaman rumah ku yang luas. Halaman itu kembali kosong.
Aku segera masuk ke dalam rumah. Lantas mengunci pintu serapat-rapatnya.
"Aneh. Mana ada bayi baru lahir bisa seperti itu?" Eliza mengomentari setelah begitu lama terdiam.
"Semuanya bisa saja terjadi. Apapun itu, bagi Marcues sangat lah masuk akal dan mudah." Kataku mengucapkan kembali kata-kata Marcues saat ia tengah mengajariku membuat oksigen sendiri. Namun sebenarnya saat itu aku bahkan tak memgerti apapun mengenai teori-teori bagaimana bisa seorang manusia membuat oksigen buatan seperti yang selalu di terima di rumah sakit itu. Entah lah.
Eliza kembali terdiam.
"Jika memang benar bayi monster itu ada seperti yang di ceritakannya barusan, dia pasti masih hidup sampai sekarang bukan? Di tembak 50 peluru saja dia tak mati. Sepertinya dia adalah makhluk buatan manusia yang kekal meskipun dihantam kiamat." Kata Eliza.
Aku menghela napas panjang.
"Entah lah. Aku juga merasa bahwa semua itu adalah sebuah kebohongan. Aku pernah membaca soal bayi tabung di buku jurnal Marcues. Tapi tak pernah aku menemukan tulisan yang mengucap tentang bayi monster itu. Atau mungkin saja aku belum menemukannya."
__ADS_1
"Ah.. semua ini membuat ku ingin menjadi seorang detektif."