
"Aku kira kau akan berkembang pesat menjadi lebih kuat, Erina. Ternyata kau sama lemahnya" Wanita gila itu kembali terkekeh.
Catrina, dia menangis terisak melihat kondisi adiknya yang kepayahan menerima segala tendangan. Andai, andai aku bisa membantu. Secepatnya, aku harus menemukan solusinya. Aku tak mungkin membiarkan kakak beradik ini terpisah. Tak akan.
DORRR!! Satu tembakan dari pistol yang di bawa Erina sedari tadi telak menembus kepala Neny. Bagus! Darah mengucur deras membasahi kemeja putihnya.
Tapi Erina berdiri memperingati kami agar tak mendekat.
Dan yang lebih mengejutkan, Neny bangkit berdiri menyeka darahnya, membuat darah itu seakan tersumbat bendungan dan berhenti mengalir deras, namun bercaknya masih banyak membasahi tubuhnya. Gila! Wanita macam apa pula dia, heh?!
"Apa-apaan kau ini!" Erina berseru terkejut. Apalagi denganku yang hanya bisa diam terpaku untuk memahami situasi macam ini.
"Kau bilang mau bertarung secara biologis, heh?!"
"Bukankah kemampuan daya tahanku sudah aku rancang di hari-hari sebelumnya, Erina?" Dia terkekeh lagi, membuat makin kesal.
"Dan...apa itu bertarung secara bersih?"
Catrina, dia makin histeris berteriak-teriak meanggil nama adiknya, menyuruh Erina menghentikan pertarungan ini. Tak mampu. Semuanya tak akan bisa di hindari begitu saja.
Ya Tuhan! Dia sebenarnya manusia atau monster? Aku merasa sedang berada pada dunia fantasi, sedang berada dalam takhayul. Namun aku mengedipkan mata beberapa kali lalu iseng menampar pipiku dengan keras, mencoba memahami pemandangan apa yang aku lihat sekarang ini. Tak ada. Tak ada jalan lain. Sebelum dunia ada di tangannya, sebelum kakak-beradik ini terpisah dengan pilu, atau sebelum kami semua mati konyol, aku harus sesegera mungkin menempatkan diri. Membantu Erina Aku harus melawan!
"Kak, jangan pergi ke mana-mana. Jangan pernah tinggalkan tempat ini dan tetaplah waspada" aku berbisik pada Catrina yang terisak panik. Mata indahnya itu sembab, memerah. Dan rambutnya sudah tak rapi seperti sebelumnya.
"Apa maksudmu?"
"Aku akan membantu Kak Erina"
"Eh?! Kau jangan nekat, Aggy...tak akan mungkin bisa"
"Pasti bisa"
"Kau tak terlibat!"
"Aku sudah terlibat!"
Dengan terpaksa dan berberat hati, aku melompat menghindar dari tempat sebelumnya. Memang ini nekat, memang aku terlalu gegabah untuk mengambil keputusan dan tak merencanakannya dengan matang dahulu. Tapi apa boleh buat? Aku sekarang hanya bisa menamatkan pertarungan ini dengan melawan Neny secara langsung dengan meninggalkan Catrina Beatrice, sang wanita pemberi kenyamanan. Yang ketika menangis akan membuat pilu siapa saja yang memandangnya (Termasuk aku juga tentunya).
Maaf. Maafkan aku Erina, aku meninggalkan kakak perempuanmu untuk membantumu bertarung. Serta maaf juga untukmu Catrina, harus secara terpaksa meninggalkanmu yang tak tahu cara bertarung sekalipun.
"Hoi Crhistine Neny, guru bahasa Inggris tergalak, yang selalu di takuti para siswa di sekolah saat jam pelajaranmu" aku memanggilnya memberanikan diri mendekati arena pertempuran.
Aku menelan ludah, jeri melihat wanita itu menatapku ganas seperti hendak mencengkeram saja. Meski merinding, aku rasa awalan ini cukup tepat seperti di film-film aksi.
"Atau kau mau aku panggil saja dengan Bu Neny, ilmuwan terpintar di dunia, atau...Marcues lebih pintar darimu?" Aku sengaja mengulur waktu sambil berpikir. Tak apalah jika harus menyulutkan emosinya dengan adu mulut. Memang semestinya aku butuh rencana.
__ADS_1
"Bagus sekali, Maria Aggy, putri Marcues yang tak mendapatkan nama sandang. Padahal saudara-saudaramu mendapat nama belakang 'Marcues'. Lantas, apakah kau yakin masih membanggakan ayahmu itu?"
"Aku tak butuh nama sandang. Lagi pula itu hanya nama, tak berarti penting bagiku".
"Bagus kau datang kemari, menantang ya? Memang sebenarnya membunuhmu juga salah satu rencanaku".
Bulu kudukku berdiri, merinding. Entah mengapa aku masih tak mendapatkan ide meski sudah mengulur waktu. Bukan hitungan jam, bukan pula hitungan menit. Waktuku hanya detik. Dan otakku yang dangkal ini tak dapat memikirkan rencana apapun.
Namun,
"Aggy..." Erina melirih memanggilku sedikit berbisik. "Terimakasih membantuku untuk mengulur waktu, aku hanya ingin bernapas sejenak. Terlalu lelah menghadapi beliau".
Lalu aku menatap Erina lamat-lamat, menunggunya menunjukan rencana yang di katakan sebelumnya.
Tapi firasatku tak mampu menenangkan semua kegundahan ini. Entah mengapa aku merasa hal buruk akan terjadi. Sebetulnya sejak sebelum berangkat tadi.
Dan Neny tanpa ba-bi-bu langsung menyerangku! Dia mengincar wajahku, namun aku menangkisnya dengan menyilangkan lengan. Memang berhasil, meski aku terpental beberapa meter dan lenganku jadi sakit. Sekarang ku rasakan tenaganya begitu kuat, seperti bukan manusia lagi.
"Itu hanya pemanasan untuk menggertakmu, Aggy".
Ya Tuhan! Kalau memang ini pemanasan saja, apa jadinya aku nanti kalau dia sudah menyerang sungguhan?
"Kau lihat kaki kananku Canggih, bukan? Ini buatanku sendiri, di bantu oleh karyawan-karyawanku. Kau ingat apa yang aku katakan padamu di hari-hari sebelumnya?" Dia menyeringai menatapku. Dan aku hanya tertunduk penuh rasa takut dan cemas.
"Ini hanya kaki, mudah di atasi, malah lebih nyaman dengan tekhnologi secanggih ini. Apalagi jika aku berhasil menguasai seisi bumi ini, pasti lebih seru".
"Kau membual! Mana ada manusia sepertimu bisa menguasai bumi, heh?!" Erina berseru. Segala harga dirinya serta rasa hormatnya pada Bu Neny sudah terjun bebas lantas menghilang seketika, tergantikan dengan ujaran kebencian dan dendam yang tak pernah usai. Erina memasang kuda-kuda bersiap dengan serangan apapun.
Tapi Neny lebih dulu menyerang, memukul wanita itu dengan sangat keras, membuatnya terpental 3 meter hingga menubruk seisi rak kayu berisi cairan kimia yang entah apa aku tak tahu.
Dan seketika sesuatu terlintas di kepalaku. Akhirnya aku paham, aku paham rencana Erina sebenarnya.
Dia sengaja mengulur waktu panjang, kemudian menyulutkan emosi Neny, lalu membuat Neny sengaja menubrukkannya pada rak-rak berisi cairan kimia itu. Dan kemungkinan Erina tak sengaja telah mencari cairan mematikan dari rak-rak itu. Semacam asam sulfat mungkin, atau lebih parah lagi efeknya.
Itupun di luar dugaan Neny. Mudah saja, jika musuh berhasil tahu rencananya, maka Erina tinggal membuat percikan api, lantas meledakkan tempat ini. Namun tetap saja berakibat fatal.
Erina mengedipkan salah satu matanya padaku, seperti memberi kode! Aku jelas tak paham, heh! Mana mungkin bocah dungu sepertiku tahu bahasa isyarat di tengah kegentingan semacam ini.
"Kau masuk dalam perangkap, Erina".
Tunggu, apa?
Cairan-cairan kimia itu meleleh lalu menguap merusak APD milik Erina, menerobos masuk dalam kulitnya, menjilat-jilat kulit putih bersih itu. Dia berteriak. Sangat keras, membuatku menjerit histeris. Begitupun Catrina, tak perlu aku beri aba-aba atau pertanda, dia sudah datang menyambar tubuh adiknya lantas memeluknya.
Tidak. Jikalau harus begini, tak boleh sia-sia. Rencanamu boleh gagal, tapi Neny tak akan ku biarkan tetap hidup dalam dosa-dosanya.
__ADS_1
Lalu bagaimana? Tak paham. Aku hanya terus memukul, menendang, menggigit, melakukan semuanya sebisaku. Aku tak dapat berpikir lagi, aku sudah tak tahu harus apa, wanita itu tak menggubrisku malah tertawa terbahak.
"Ini bukan asam sulfat, cairan ini mampu menembus APD-ku!!" Erina histeris mencoba menahan sakitnya.
"Ah, yeah...kau terlalu membosankan, Erina. Aku akan meledakkan kalian bersama dengan laboratorium ini". Neny, dia mengangkat tinggi-tinggi korek api yang belum di hidupkannya, atau lebih tepatnya akan segera di hidupkannya.
Tak adakah cara lain? Haruskah kami mati sia-sia begini? Apakah aku hingga detik ini tak mampu membantu sama sekali? Persetan dengan mental yang kuat atau apalah itu. Sekarang aku menangis, menjerit-jerit memohon ampun, rela harga diriku anjlok.
Hanya dalam hitungan detik, korek api itu bakal membuat seisi tempat ini terlahap si jago merah. Hanya hitungan detik! Dan aku masih terisak sambil terus berpikir keras, memikirkan cara agar bisa selamat keluar dari sini. Dua hari sudah aku tak pergi sekolah, sekarang aku sudah di hadapkan ke ujung kematian.
Di depan rak kayu itu, Catrina terus menangisi adiknya, mencoba membantu Erina yang tubuhnya semakin hancur di lahap oleh cairan kimia, yang entah apa itu, tak aku ketahui namanya.
Aku kembali menatap Neny. Dia tertawa terbahak, seperti sudah menanti kejadian ini pada hari-hari sebelumnya.
Dan akhiranya tibalah. Korek api itu di geseknya dengan ibu jari, pelan-pelan supaya bisa menikmati waktu. Kami makin menjerit meronta-ronta.
Tapi semua berbelok tajam. Bukan tentang kepanikan menyambut hari kematian kami. Bukan karena tangisan dan rintihan kami yang makin menjadi-jadi. Tapi Catrina!
Wanita itu melompat dengan sirgap, menubruk Neny, membawanya keluar ruangan ini. Dua wanita itu! Tuhan! Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Dan hanya dalam hitungan detik, sebuah ledakan yang radiusnya cukup besar akhirnya terdengar, membuatku mental jauh sekali. Sekitar 5 meter mungkin, atau lebih.
Seluruh tubuhku rasanya sakit. Seperti tulang-tulangku akan patah. Luka yang makin lama terasa panas ini membuatku tak dapat berpikir. Hanya pemandangan kobaran api yang besar, yang tepat berada di depanku. Hanya api yang panas, seakan aku merasa berada di neraka.
Kedua kakiku, tak mampu aku gunakan berdiri, apalagi berjalan. Maka aku hanya menyeret tubuhku ini untuk menghindar. Ingatanku, hanya Erina dan Catrina. Dan tujuanku, hanya untuk menemukan mereka berdua.
Aku hanya diam, terus berdoa dalam hati. Karna sebenarnya, berteriak pun disini tak ada gunanya. Laboratorium ini meledak. Semua isinya muncrat di ledakan hanya karena sebuah korek api itu. Api menjalar ke mana-mana. Dan aku terus menyangkal bahwa Erina dan Catrina masih bisa selamat. Apalagi sehabis kejadian tadi. Tuhan! Tak akan aku biarkan kakak beradik itu terpisah.
"Aggy!" Panggilan itu, suara Erina. Meski samar-samar aku mendengarnya, namun aku dapat memastikan di mana arahnya. Aku masih berusaha menyeret tubuhku lebih cepat untuk segera menemuinya.
Dan wanita itu tertatih-tatih membantuku berdiri. Aku juga memaka kedua kakiku untuk berjalan, meski itu sakit dan perih luar biasa.
Kami berjalan perlahan menghindar dari api sambil terbatuk-batuk, nyaris kehabisan napas. Tapi Erina tak menjelaskan apapun, atau sama sekali tak mengatakan satu patah kata pun. Apalagi denganku, tak berani menanyakan perihal Catrina. Aku hanya takut, takut jika tak ada jawaban untuk pertanyaanku barusan. Atau tanpa jawaban itu lebih baik daripada aku mengetahui hal buruk yang terjadi padanya. Meski aku tegaskan sekali lagi bahwa aku tetap menyangkal bahwa Catrina akan baik-baik saja. Wanita itu akan selamat, mukjizat pasti ada.
Erina susah payah membuka pintu itu. Sementara api makin cepat melahap tempat ini, menjilat-jilat seisi ruangan seperti sudah kelaparan satu tahun tak mendapat asupan.
Hanya panas dan kobaran api yang besar yang menyambut kami. Pandanganku menjejali seluruh isi tempat ini, aku hanya berharap Catrina. Aku tak berani memanggilnya, Tuhan, aku takut jika hanya kesunyian yang menjadi jawaban seruanku. Aku takut nama orang yang ku panggil itu malah sama sekali tak memberiku jawaban.
Tapi aku lebih iba melihat Erina berlutut, menempatkan kedua lututnya sebagai tumpuan untuknya berdiri. Dia memandang kobaran api besar di depannya. Erina membelalak seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya di depan.
Aku juga sama. Aku hanya mengikutinya berlutut, terus menatap kobaran api itu.
Catrina. Mau tahu bagaimana kami bisa mengetahui bahwa kobaran api itu adalah si jago merah yang melahap tubuh Catrina? Kami melihat pakaian yang di pakainya sebelum itu. Dan sudah jelas. Jelas sekali...meskipun sulit untukku mengatakan. Aku harus mengakui, aku harus hilangkan penyangkalanku bahwa; Catrina sudah mati di lahap api. Catrina mengorbankan dirinya dengan mendorong Neny keluar ruangan lantas meledakkan tubuh mereka berdua.
Bekas pakaian yang terbakar itu sudah lebih dari cukup untuk memberitahu bagaimana caranya berkorban demi menyelamatkan nyawa kami yang sudah di ujung tanduk kematian. Aku tertunduk layu menatap kobaran api yang makin lama makin membesar, atau mungkin sama halnya berkobar seperti kemaran Erina.
__ADS_1