Laboratorium - Merah

Laboratorium - Merah
Chapter 19 Steyfano Marcues


__ADS_3

Aku pergi meninggalkan kelas. Aku berjalan pulang kembali ke rumah ku. Rumah megah tak berpenghuni itu. Aku sudah malas. Aku tidak peduli. Tidak ada yang berubah. Semuanya tetap saja menyebalkan.


Aku melangkah melewati mayat-mayat yang baunya amatlah menyengat. Masuk ke dalam rumah itu dan duduk diatas sofa. Aku memikirkan tentang perasaan ku sejenak. Aku benci Tania. Tapi aku menyayanginya. Inilah alasan ku kenapa tak menyukai sebuah cinta. Rasa bahagia itu cuma sebentar. Akan tetapi rasa sakitnya luar biasa. Aku tak bisa mengatakannya sekarang. Setidaknya Tania mengatakan padaku kalau dia memang tak menyukaiku. Dia tau tapi dia tak mau mengakuinya.


Aku berdiri dari duduk ku. Setelah mengganti seragam ku. Aku mencoba untuk membereskan mayat-mayat yang terbengkalai itu. Aku mengubur mayat yang lengket itu di belakang rumah. Setelah aku membereskannya, aku mandi. Seperti yang selalu aku lakukan, aku membersihkan tubuhku dengan diiringi musik itu.


Selesai aku melakukannya aku duduk di atas kasurku. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Rasanya cukup bosan. Akan tetapi aku teringat sesuatu. Aku meninggalkan buku itu di rumah Tania. Jam berapa sekarang? Pukul 14.43. masih ada waktu aku kesana sebelum Tania pulang dari sekolah. Aku segera beranjak dari kasur itu. Hendak mengambil sebuah jaket, tapi...


Aku mulai berpikir jaket ini begitu nyaman dan bahkan bisa sangat pas di tubuhku. Anehnya lagi, ini pemberian Tania. Atau kah itu miliknya? Atau bisa jadi dia menyembunyikan sesuatu.


Aku berjalan menyusuri jalanan yang sepi. Ah. Aku punya banyak uang. Kenapa aku tak membeli sebuah motor saja agar lebih cepat. Aku sampai di rumah tua itu dengan cepat. Akan tetapi Tania sudah ada disana. Alangkah tidak terduga bahwasannya hari ini para guru mengadakan rapat dan semua anak di pulangkan lebih cepat. Baik. Dan sekarang aku harus menahan sebuah serangan emosi yang mengaitkan aku dengan Tania. Bersama dengan anak calon ketua osis baru itu yang tengah berdua disana berciuman lembut, berpelukan, dan bercinta. Anjing gila dari mana lagi ini. Terasa ingin sekali aku menyeretnya dan membakar mukanya hidup-hidup sekarang.


Namun aku tahu, lebih baik aku segera beranjak dari ambang pintu dan segera mengambil buku itu. Aku ingin mengetahui lebih jauh dan meneliti kembali. Akan lebih menyenangkan memecahkan sebuah misteri dari seorang ayah bejat itu dari pada mengurusi masalah cinta yang tiada artinya sama sekali. Pada nyatanya cintaku tidak menjadi simbiosis mutualisme. Maka aku hanya mengabaikan mereka berdua yang menatap aku gugup dan langsung menjauh satu sama lain. Keparat.


Aku mulai membenci segala hal yang ada di depan ku. Pintu kamar itu ku dobrak, dan aku melangkah masuk. Aku mengobrak-abrik segala yang ada disananya, mencari dengan emosi buku itu tanpa harus mengingat-ingat dimana aku meletakkannya tadi pagi.

__ADS_1


" Steyf.." suara lembut itu memanggil ku dengan nada panik.


Aku tak menghiraukannya dan aku masih saja terus-terusan mengobrak-abrik tempat itu. Aku tidak mau mengakui bahwa aku mencemburui hal ini. Tidak. Aku tidak ingin peduli.


Aku menemukannya dan aku masih tak mempedulikan Tania yang masih saja memanggil ku.


" Pergilah! Apa kau dengar sekarang?! Pergi! Pergi dari hadapan ku sebelum aku membunuhmu!!" Aku berteriak padanya. Sekeras yang aku bisa. Hingga tenggorokan ku sakit karena berteriak terlalu keras.


Kini aku melihatnya menangis. Air mata itu mengalir seirama dengan nafasnya yang tak beraturan. Hatiku sakit. Dan aku terdiam menatap dirinya yang menyedihkan. Dia mulai menjelaskan cerita yang terjadi pada dirinya.


" Aku tidak tau harus berbuat apa.. aku dipaksa dan aku tak bisa menolaknya.. aku di sekap dan di lecehkan hingga kau datang.. sungguh Steyf.. aku bersyukur kau datang kembali. Maaf.. aku pikir dia baik ternyata tidak... Maaf.. aku minta maaf.." suara itu keluar dengan susah payah di antara sesenggukan nya.


" Cepat mandi dan istirahat. " Kataku padanya lalu membalik kan tubuhku. Aku menyelipkan buku itu ke dalam sebuah jaket yang aku pakai.


Aku mencari-cari si kutu rambut yang melarikan dirinya. Entah kemana dia berlari namun aku tetap mengejarnya. Tapi aku menemukannya yang tengah mengatur nafasnya. Aku menangkap nya seperti menangkap sebuah ikan yang kabur. Aku tak punya senjata, jadi aku membungkam kan mulutnya dengan buku itu. Buku itu cukup besar dan tebal. Aku memukulnya tepat pada leher bagian belakang. Dia terjatuh seraya memegangi lehernya.

__ADS_1


" Osis yah.. ingin meminta binaan untuk menjadi ketua osis? Pada nyatanya kebodohan mu tidak akan pernah berubah. "


Aku mengambil sebuah batu dan memukul-mukulkan nya ke kepalanya yang kecil itu. Dan aku tidak takut jika dia harus mati, karena aku sudah terlalu sering membunuh. Aku memaksakan batu itu untuk masuk ke dalam matanya. Yang membuat itu berdarah pada mata bagian kiri. Dia meraung tapi aku tidak peduli. Dan mengambil sebuah kayu dan hendak memasukkan nya secara paksa ke dalam mulutnya.


" Ah.. tidak.. tunggu.. tunggu, Steyf.. ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu sebelumnya. " Aku kemudian mencegah gerakan ku itu.


" Tania. Dia bukan wanita menyedihkan seperti yang ia ceritakan. Dia sebenarnya anak musuhmu. Dia seorang anak bungsu dari ketua Bandar Korupsi itu. Orang yang pernah kau bunuh apa kau ingat? Dan jaket hitam yang kau pakai itu..." Ludahnya menyekat di kerongkongan membuatnya tak dapat berbicara dengan benar.


" Itu adalah jaket kepunyaan Niko. Orang yang pernah kau bunuh. Sung-sungguh, Steyf. Apa kau percaya padaku. Tolong."


" Aku minta maaf kalau ternyata kau memang amat menyukai Tania. Aku pikir kau hanya memanfaatkan nya untuk kau bunuh juga pada akhirnya. Ternyata aku salah. Aku minta maaf."


Apa kah benar seperti yang ia katakan? Sebenarnya ada sebuah kejanggalan yang menurutku sama dengan yang dia ceritakan. Atau kah mungkin bisa jadi? Aku bingung. Namun ternyata itu benar. Dan aku merasa seperti seekor ikan hiu. Memiliki penglihatan yang amat sangat buruk. Hingga aku mengira manusia itu sebagai anjing laut yang dapat di makan. Ternyata setelah di gigit itu bukan lah anjing laut. Aku sama seperti ikan hiu sekarang. Sama-sama memiliki insting dan penglihatan yang buruk. Mengapa aku tak bisa berpikir dengan benar? Apa itu semua karena aku terlalu banyak memikirkan seorang Marcues?


Aku tidak peduli. Aku tetap saja meneruskan gerakan ku yang sempat tertunda. Aku memaksakan sebuah ranting itu ke dalam mulutnya yang bau. Ia berteriak namun mana mungkin dengan tenggorokan yang terganjal dengan sebuah ranting yang lumayan panjang. Darah itu mungkin saja menguncur tapi aku tak peduli. Mungkin saja dia mati tapi aku meninggalkan nya begitu saja. Aku tidak peduli.

__ADS_1


Tidak. Buku itu sekarang basah karena darah. Aku membiarkannya tergeletak di tanah. Itu membuat darah yang menguncur deras itu membasahi buku itu. Tak apa itu bisa di keringkan. Aku kembali ke rumah tua itu. Menemukan Tania yang tengah sibuk menata kegelisahan hatinya. Entah apa lah yang sedang ia gelisahkan karena dia bukan tipe wanita yang seperti itu.


Aku menatapnya. Dan ia menatapku. Semua nya hening dan tiada pembicaraan apapun. Dari mana aku harus memulai? Apakah dari membuatnya menangis menjerit-jerit? Atau dari melukai hatinya yang kecil itu?


__ADS_2