Laboratorium - Merah

Laboratorium - Merah
Chapter 25 Steyfano Marcues


__ADS_3

Aku menerimanya dengan senang hati. Kesenangan hati yang luar biasa tentunya. Dan itu membuat teror tersediri bagi seonggok tulang yang tengah berbaring di kasur itu. Aku mendekatinya secara perlahan. Dan menatap langsung ketegangan di mukanya. Dia ingin berteriak tentunya. Rasa ingin menjerit meminta tolong itu tidak ada gunanya karena pita suaranya telah ku lumpuhkan. Aku melihat buku tulis yang tergeletak di meja sampingnya. Dia berbicara melalui tulisan tangannya. Dia mencela aku. Secela-celanya hidupku. Aku melukainya karena aku berpikir bahwa dia melecehkan Tania dan aku hendak membunuhnya. Aku marah karena aku mengira dia ingin merebut Tania sebagai pacar ku. Dia mengatakan aku salah paham terhadapnya maka terjadilah hal yang seperti ini. Dia mengatakan bahwasannya aku berkata Tania itu anak bungsu Bandar Korupsi yang pernah aku bunuh sebelumnya. Aku menemukan dendam pribadi ku disana dan mengambilnya sebagai pacar agar bisa ku bunuh juga. Dia mengatakan aku adalah anak si pembunuh Marcues. Keturunan pembunuh pasti akan menjadi pembunuh juga. Ah. Kisah yang memutar balik kan kisah aslinya. Aku mengakuinya. Dia pengarang yang handal. Pemutar balik fakta yang benar-benar unik. Ini menarik. Luapan emosiku semakin meningkat dan aku merasa senang karna mangsa ku sudah ada di depan mata.


" Cukup tahu saja. Kau seorang pengarang yang hebat. "


Dia hanya terdiam menatap aku dengan keringatnya yang tak henti menguncur deras.


" Kau kaget karna aku tiba-tiba datang kemari? Dari mana aku tahu kau masih hidup? Teman-teman mu mengkhianati mu dari belakang. Itu lah mengapa, jangan terlalu percaya kepada siapapun. Manusia itu memiliki banyak topeng."


Dia membuka mulutnya ingin berteriak. Tapi tidak ada hasilnya.


" Aku berbicara dengan mu. Kenapa kau tak merespon? Kau bisu yah.."


Aku mengangkat pisau di tangan ku.


" Kalau ranting panjang yang masuk ke tenggorokan mu itu tidak dapat membuatmu mati, berarti pilihan ku sekarang adalah menggorok lehermu."


Aku tak dapat menahan tawa ku setelah melihat mukanya yang penuh dengan ketegangan. Seperti dia tengah melihat hantu di depan matanya. Aku menggerakkan tangan ku secara perlahan. Orang yang pintar pasti akan cepat mengelak dan lari. Tapi tidak dengannya. Dia bodoh dan aku cukup mengetahuinya.


" Kenapa kau tak mengelak dan lari melepaskan diri? Cih. Tidak seru. Kau melawan hukum persetanan disini. " Aku tertawa dengan amat keras. Menggoreskan pisauku lebih dalam dan semakin dalam. Pada lehernya yang cukup panjang dan manis jika dilihat.


Yah.. apa lagi yang harus aku lakukan selain membiarkan dia mati disana. Aku meninggalkan sebungkus buah itu. Berjalan pulang kembali menyusuri kegelapan malam.


Sebenarnya aku cukup tercengang saat sampai di depan gerbang rumah ku. Itu telah di beri garis lintas polisi dan aku merasa ragu untuk masuk ke dalamnya. Rumah ku sedang diaman kan. Bodoh. Padahal aku sudah ada di depan mata mereka sejak tadi. Ya sudah. Aku membawa kartu kredit ku di saku. Aku bisa saja memesan hotel. Tidak. Tidak dengan kenangan nya. Aku tak ingin meninggalkan rumahku. Mama. Aku memutar kembali langkah ku. Dengan pisau di tangan.

__ADS_1


Aku menusuk mereka satu persatu. Beberapa menembak ku beberapa kali. Tidak. Itu tidak akan mempan.


" Kalian pikir aku akan mati?" Aku mengatakannya seraya mencabut pisauku yang tertancap di kepala salah satunya.


" Aku tahan banting. Aku lah bayi ciptaan Marcues. Manusia pertama yang tidak akan pernah mati sekalipun jantung ku tidak ada. " Aku menghampiri para polisi itu yang semakin mundur saja apabila aku mendekati mereka.


" Marcues. Nama paling terkenal pada masanya. Tersohor karena ilmunya. Melebihi Fir'aun. Dan memiliki satu anak yang kepintaran nya seperti menantang Tuhan. Dan satu anak lagi yang tidak di akui olehnya sama sekali. Padahal aku juga salah satu dari bahan percobaan nya. Aku maniak pembunuh Marcues. Dengan raga yang tak bisa di hancurkan. Bahkan tetap hidup meskipun aku tak punya jantung. Dia tidak tahu karena tidak pernah melihatku begitu kuat seperti ini. Dia meninggalkan rumah ini. Sendirian. Bersama dengan mama dan adikku yang mati termakan tanaman maut itu. Hanya aku. Yang tersisa. Disini. Di rumah ini. "


Aku memegang pisauku sekuat-kuatnya.


" Sedangkan Marcues bodoh itu melarikan dirinya kedalam hutan bersama dengan anak semata wayang nya itu. Dan berusaha membuat percobaan baru untuk menaklukan dunia agar dia di sanjung dan memgembalikan nama baiknya. Penemuan gila itu. Aku muak. "


Aku menatap mereka yang kebingungan sendiri mendengar ceritaku.


" Aku bisa saja membeli rumah baru. Tapi tidak dengan kenangan nya. Jadi jangan pernah kalian mengusik rumahku. Aku ingin kalian mengangkat kaki dari halaman rumah ku. Sekarang.. atau.."


" Turunkan pisau itu dan mari bicarakan baik-baik di kantor polisi. Anda akan aman jika anda memang benar. "


Kenapa? Bodoh. Dasar bodoh. Aku tak bisa lagi menahan nya. Sungguh. Demi Tuhan. Aku benar-benar ingin mengakhiri semua ini. Aku mengeratkan genggaman ku. Mengambil langkah paling buruk. Tatapan paling buruk. Aku memang kuat. Tapi tidak dengan hatiku. Ini sakit. Kembali lagi lah aku kepada masa lalu.


Aku melayangkan pisauku tanpa arah tujuan. Aku menangis. Air mataku pecah begitu saja. Aku tak tahu penyebabnya tapi itu terasa sakit. Menusuk-nusuk dalam jiwa. Beberapa kali aku menusuk-nusuk tubuh mereka. Beberapa kali pula tembakan peluru itu masuk ke dalam tubuhku. Aku beruntung sekali dapat memiliki tubuh yang seperti ini. Ini sangat berguna. Tapi tidak untuk hati.


Aku tersadar. Aku sudah menghabisi semuanya. Di bawah bulan itu yang bersinar dengan cantiknya. Bersama dengan bintang-gemintang yang menjadi saksi buta malam ini. Aku jatuh terduduk dengan jeritan dan tangisan paling dalam. Dan lagi-lagi aku memegangi dadaku yang terasa sakit melebihi rasa sakitnya tubuhku yang mendapatkan lebih dari 50 tembakan peluru. Aku tidak tahu bagaimana cara mengatasi ini. Tidak tahu bagaimana aku bisa melewati ini. Sakit. Aku berani bersumpah. Entah apa yang terasa sakit sebenarnya di dalam raga ini.

__ADS_1


Aku selalu saja kehilangan semua yang aku miliki. Dan itu terlalu cepat sekali untuk menghilang. Dimulai dari Mama dan adik ku yang malang. Serta Tania yang hilang dari akibat kecerobohan ku sendiri. Aku bodoh. Seperti Marcues. Mungkin saja inilah yang di garis kan untuk para keturunan Marcues. Keturunan manusia bejat di bumi manusia ini. Lagi-lagi aku menjerit karena rasa sakit ini menyeruak kembali.


Pikirkan saja. Sudah berapa orang ku bunuh hari ini? Aku tidak peduli. Aku membakar semua mayat-mayat itu. Dan kembali pada persembunyian ku.


Hingga kembali menjelang pagi. Aku berjalan menuju halte dan berniat menunggu sebuah bus berikutnya. Sebenarnya aku mulai bertanya-tanya ketika melihat seorang gadis SMP duduk di bangku halte disampingku. Aku menatapnya yang sedang mengamati ponselnya.


" Bukankah kau seharusnya menunggu di halte berikutnya? Kenapa kau disini?" Pertanyaan ku membuatnya menoleh. Merasa bahwa aku sedang berbicara dengannya. Dia tersenyum padaku dengan paras cantiknya.


" Kemarin aku menginap di rumah nenek ku, jadi sekalian saja aku menunggu bus di sini. Lagi pula tidak ada bedanya kan halte disini dengan halte berikutnya. "


" Oh.." aku kembali pada lamunan ku. Maaf Tania. Aku terlalu bodoh dan bertindak terlalu gegabah. Aku terlalu mudah menyimpulkan. Dan aku menyesalinya. Sebenarnya hidupku hanya sudah terlalu rumit. Aku sudah muak dengan kehidupan yang membingungkan dan melelahkan ini. Siapa lagi yang harus aku percaya? Tidak ada yang bisa menolong aku sekarang. Sungguh. Kehadiran mu adalah perihal yang amat aku syukuri sebelumnya.


Bus itu berhenti di depan ku. Perlahan pintu bus terbuka dan aku membiarkan gadis itu naik duluan. Aku menaiki tangga beriringan dengan gadis SMP itu. Kemudian aku duduk di sampingnya. Bukan niatku untuk mencari perhatian padanya. Karena memang bus hari ini sudah penuh padahal masih sangat pagi.


Aku duduk di bangku kelasku. Lantas mengeluarkan buku jurnal Marcues itu lagi. Kejadian malam kemarin membuat ku sedikit menyesali, karena Putra, sebagian tulisan di buku ini banyak yang hilang dan blur serta ada pula yang sampai tidak bisa di eja. Ini menyebalkan. Aku mulai saja membaca bagian yang menurutku masih bisa untuk dibaca. Baiklah. Sampai mana aku terakhir kali?


" 2 SEPTEMBER 2001, ...


AKU MENDAPATKAN WANITA ITU LAGI. DI DEKAT DANAU DENGAN PARASNYA YANG BEGITU CANTIK. MAKA DARI ITU AKU MENGHAMPIRINYA. MENGAJAK NYA BERBINCANG DAN MENYAKAN NAMANYA. "


" 3 SEPTEMBER 2001,....


YAH, SEBENARNYA INI BURUK. AKU BERBUAT HAL YANG TIDAK SENONOH TADI MALAM. AKAN TETAPI DIA TIDAK MEMPERMASALAHKAN ITU. PADAHAL DIA TAHU SENDIRI BAHWA AKU ADALAH SUAMI DARI SAHABATNYA ITU. DAN AKU SUDAH MEMPUNYAI ANAK. DIA SANGAT BAIK. "

__ADS_1


Baik, matamu!!!


Cih. Padahal belum sampai pada selanjutnya, bel sudah bernyanyi dengan nyaring.


__ADS_2