
Padahal aku sudah cukup senang. Aku senang hanya karena aku mendapatkan hati dari seorang wanita yang amat aku cintai selama ini. Dan aku juga sudah cukup senang, hanya karena aku dapat membalaskan segala dendam teman-teman ku yang mati sia-sia. Dan aku sangat senang. Senang karena mungkin saja ibuku bahagia karena dendam nya terbalaskan. Adik ku juga.
Awal nya aku merasa janggal. Namun aku tak terlalu mempedulikannya. Aku sudah merasa sakit dari awal akan tetapi aku terlalu mengabaikannya. Aku bodoh. Makhluk kecil yang lembut ini membuat aku bodoh. Aku sama seperti Marcues. Bodoh dalam kehidupan.
Tidak, Tania. Aku tidak bisa berbohong padamu kalau aku akan baik-baik saja. Aku tidak seperti itu. Dan aku tidak menyukainya. Aku ingin menangis untuk yang kesekian kali. Aku ingin menangis karena hidupku tak pernah mendapatkan titik terang. Mengapa? Aku bertanya pada diriku sendiri. Mengapa? Aku hidup pada sebuah garis yang menakdirkan aku untuk terus tenggelam pada kegelapan seperti ini. Aku takut. Dan ku pikir kau penolongku dan dapat mengatasi ketakutanku. Nyatanya kau pembohong. Wanita pembohong dari neraka yang dikirim kan Tuhan untuk ku. Kau pengkhianat paling bodoh.
Aku mulai membencimu. Melebihi rasa benciku kepada Marcues. Kau wanita paling konyol yang pernah aku temui. Kau menjijikkan. Dan tetap saja tangisan ku tak dapat memadamkan rasa sakit yang amat dalam. Kau lembut tapi kelembutanmu dapat menggoreskan luka paling dalam. Sakit. Lebih sakit dari pada saat aku disiksa oleh seorang Leo. Mungkin saja ini karma ku. Ya. Ini karma untuk ku Tania. Karma untuk ku karena aku telah membunuh orang tua bejat itu. Dan saat ini aku hanya menyandarkan kepalaku ke tembok dan menangis dalam diamku.
Bahkan masih saja tak ada keadilan untuk ku. Tuhan tak punya keadilan untuk diriku. Dipandangnya aku sebagai orang yang kuat nyatanya tidak semudah itu. Bagaimana mungkin dia tidak tahu?
__ADS_1
Ketika aku sudah tidak tahan lagi, aku membanting sebuah kursi tua yang ada didepan ku. Melemparkannya kearah Tania maka dia terkejut. Mungkin itu terasa sakit terkena tubuhnya yang mungil. Aku tidak peduli. Aku membanting meja itu ke arahnya. Dan juga foto-foto berfigura di meja itu juga aku melemparkannya ke arahnya. Bahkan sebuah tv yang berat itu pun aku lemparkan kearahnya. Apapun itu. Apapun yang ada didepan ku akan ku lempar padanya. Bahkan pisau itu pula. Aku meleparkan ke arahnya. Dia mungkin menangis. Dia mungkin menjerit kesakitan. Siapa pula yang peduli dengan suara nya itu sekarang.
Aku mengambil kembali pisau itu yang terjatuh di lantai. Mengarahkan kepadanya dengan perasaan penuh dengan rasa sakit yang mendalam. Aku mengamuk tapi tak tahu bagaimana caranya mengamuk dengan begitu jahat. Dia jatuh terduduk. Menangis dan menangis itu lah yang di lakukan makhluk berhati lembut sepertinya.
Aku mendekatinya. Dia menatapku dengan sedih seperti seakan-akan bertanya apa yang akan aku lakukan sekarang. Apa yang aku lakukan? Tentu saja. Menjambak rambutnya yang banyak dan pendek itu. Memotongnya dengan pisau itu dengan kasar. Ya. Aku ingin tertawa melihatnya lebih imut dengan rambut yang seperti laki-laki itu. Sayang sekali tidak ada alat cukur disini. Jadi aku menggunakan sebuah alat pengupas kulit buah yang ada di dapurnya. Dia meraung-raung. Itu tidak terpikirkan oleh ku sebelumnya. Teriakan wanita jauh lebih keras dari pada teriakan seorang laki-laki. Itu lucu. Dan aku tak tahan untuk tidak tertawa.
Ah. Aku lupa. Aku masih punya pisau di tangan. Aku memandangi pisau tajam itu dengan pemikiran yang cukup gila. Pasti dia memiliki usus yang cantik. Jantung yang mungil. Dan sebuah paru-paru yang telah mengempis. Aku menusuk bagian perutnya itu membuktikan nya. Menjijikkan. Tapi aku menyukainya sebagai seorang Tania.
tubuh itu kesebuah kayu di sekitar genting. Kayu itu cukup kuat untuk menggantungkan raga tak berjiwa itu disana. Aku masuk ke dalam kamar Tania. Mengobrak-abrik meja dandan nya. Ada begitu banyak variasi bedak, dan lipstik. Amat sangat menggambarkan seorang anak Lintah Darat yang di benci banyak manusia. Aku mengambil benda-benda itu dan membawa ke hadapannya. Aku mulai meriasi wajahnya yang terbalik. Aku membedakinya. Ah. Kenapa begitu tipis? Aku menghancurkan bedak itu hingga pecah berkeping-keping. Lantas menaburkan semuanya ke mukanya yang pucat itu.
__ADS_1
Aku teringat pernah melihat mama berdandan. Saat itu aku ingat pula dia begitu cantik di hari ulang tahun ku. Aku ingin kembali melihat ibuku. Aku mengambil sebuah air di kamar mandi. Membasahi sebuah lap kotor dengan air itu. Aku menghapus kembali bedak yang begitu putih di wajahnya. Aku mulai mendandani nya kembali. Kini aku mendandaninya dengan penuh cinta. Aku anggap dia sebagai ibuku dengan paras nya yang cantik seperti waktu itu. Membedaki dengan standar biasa dan tipis. Lalu mengolesi bibirnya dengan sedikit lipstik. Aku ingat dengan amat jelas ia mengolesi nya dengan penuh kesabaran dan cinta maka aku juga melakukannya untuk Tania.
Itu berhasil. Cantik. Mama ku yang cantik. Aku tersenyum dengan bangga. Tapi air mataku meminta ku untuk jangan membohongi diri sendiri. Aku tersenyum tapi aku menangis. Merasa senang tapi sakit.
" Selamat ulang tahun, Steyf.." begitu katanya saat itu yang sekarang ku ucapkan sendiri lewat mulutku.
Aku menunduk menahan pecahnya air mataku. Tapi itu tak bisa di tahan dan itu membasahi jaket hitam yang tengah ku pakai. Aku tersadar dan aku menariknya yang membuat kainnya sobek. Aku menggigitnya hingga sobek menjadi beberapa bagian. Dan menginjak-injak nya seperti anak kecil yang tak menyukai mainan yang baru saja di belikan orang tuanya. Aku berjalan keluar dari rumah itu. Meninggalkan beberapa kenangan buruk yang akan kuingat sampai kapan pun. Aku berjalan menuju sebuah toko yang menjual bensin eceran. Aku mengambil satu botol dan membayarnya dengan dua lembar uang. Lantas mengatakan bahwa kembalian nya untuk memberi makan keluarga nya saja. Aku kembali lagi ke rumah itu. Memandikan rumah tua itu dengan bensin yang baru saja ku beli. Untung saja aku tau dimana Tania menyembunyikan korek api yang sangat aku butuhkan saat ini. Ya. Di lemari dapur. Aku mengambilnya. Dan dalam sekejap, api itu merambat kemana-mana dan menghancurkan semua puing-puing bangunan tua itu. Juga melahap habis Tania. Wanita ku yang paling cantik yang pernah aku temui. Aku bahkan sudah susah payah mendandaninya. Ia sekarang secantik ibuku. Mama. Itu membuat aku semakin rindu dengan mu. Aku masih saja disini. Menatap api itu dengan air mata yang tak mau berhenti sama sekali. Meskipun aku tak merasa harus merasa bersalah akan hal ini, entah mengapa sesuatu membuat aku merasa tak nyaman dan ingin sekali pulang.
Maka aku pergi meninggalkan tempat itu yang sudah mulai hangus. Aku berjalan kembali ke rumahku yang nyaman dan penuh dengan kenangan buruk. Disinilah awal dari semua mimpi buruk yang selalu menghantuiku setiap malamnya. Tapi itu juga memberiku kebahagiaan tersendiri.
__ADS_1
Seperti biasa. Aku lebih menyukai kamar mama dari pada kamarku sendiri. Aku duduk di atas kasur lembut yang selalu aku bersihkan agar mama senang melihatnya. Aku terdiam. Aku mulai sadar kalau aku memang lah sudah tak normal. Aku gila dan aku baru saja menyadarinya. Aku menatap foto berfigura di meja itu. Sambil menatap diriku di depan cermin. Aku pula baru menyadari tangan ku penuh darah. Bajuku. Mukaku. Bahkan aku tersenyum dengan darah yang ada dimuka ku. Mama. Cih. Dengan rupa psikopat seperti ini masih saja aku seperti anak kecil.
Aku membaringkan tubuhku di atas kasur. Tanpa mandi atau mengganti baju aku membiarkan kasur itu terkena amisnya darah di tubuhku. Aku sudah lelah. Dan ini sudah malam. Aku terdiam hingga aku tertidur. Kenyamanan yang tak pernah ku rasakan sebelumnya. Surga dunia ku kembali lagi selama aku terpejam. Bagaimana tidak? Aku melihat mama yang tersenyum dan memelukku dengan kehangatan yang tak pernah berubah. Di belainya aku seperti anak kecil nya yang begitu manja. Dan aku melihat adikku. Dia berjalan di depan ku. Menghampiri aku dan mama saat itu. Mimpi indahku datang kembali.