
Lelaki itu balas menatap Amar dengan tatapan tak mengenakan. Aku berpaling memandang mereka satu persatu juga.
Semua pandangan mata terarah pada kami, sudah seperti orang luar angkasa yang tiba-tiba turun ke bumi.
"Dasar pembunuh" Amar mengakak lagi. Untuk yang terakhir. Ya. Lelaki itu seperti hewan buas menerkam Amar dan membuat seisi kelas di selimuti atmosfer ketegangan. Mereka berdua berkelahi, atau lebih tepatnya Amar seperti samsak. Diam di pukuli tanpa bisa berkata apa-apa.
Pukulan yang tak terlalu lama. Dengan sirgap lelaki Indo-Eropa itu mencekik Amar, menbuat bocah itu menjerit-jerit pilu, meskipun dengan kondisi seperti ini, dia susah untuk mengeluarkan suara dari tenggorokannya.
Lelaki itu membanting Amar. Lantas darah segar mengalir di lantai. Mungkin saja pingsan. Aku, tak diam saja dan menghampiri mereka berdua dengan cepat.
Tak ada yang aku takuti dengan pertengkaran ini, toh si lelaki misterius ini juga di bully. Hanya saja, rasa ingin tahu-ku ini mengerubungi kepala.
"Siapa kau?" Sekali lagi ku tanya. Dia menunduk, demi melihat tubuhku yang lebih pendek dari badan tingginya itu.
Aku pikir dia dengan senang hati mendeskripsikan sebagaimana detailnya, tapi ternyata tak di gubris sama sekali.
"Itu tugas matematika, segera di kumpulkan di meja bu Rena hari ini".
Kelas menjadi lengang. Agatha, dan anak perempuan lain mengerumuni tubuh Amar yang sudah lemah. Tapi, lelaki itu berjalan meninggalkan kelas, tanpa menoleh lagi ataupun mengucapkan apapun sebelumnya.
Dan aku mulai mendekati tubuh Amar. Melihat darah mimisannya yang begitu banyak mengalir di lantai. Tubuhnya terkulai rapuh seperti habis diinjak. Dan sebentar lagi, urusanku akan panjang. Begitu juga rasa penasaranku akan makin bertambah. Memang betul. Banyak sekali kejadian tak terduga setiap harinya. Entahlah, bahkan bagiku tak dapat ku selesaikan semua masalah-masalah ini.
***
Cahaya bulan purnama yang cerah itu bahkan tak dapat mengobati segala rasa penasaran dalam diriku yang makin melunjak. Aku membuka kembali catatanku, dan tentunya naskah pemberian Mark Steffano. Aku sengaja menggaris bawahi salah satu kata-kata sindiran itu.
"Marcues itu masih hidup dan terus berkelana mencari titik lemah penghuni dunia ini." Begitu jelas Mark menggambarkan dalam pembukaan episode 4. Dan aku mencatat kembali.
Malam tetaplah malam. Sunyi dan sepi. Aku menyambar hoodie-ku dan mengayuh sepeda ke jalanan sepi. Bagai tak ada kehidupan. Suara serangga-serangga berderit kencang seperti menampilkan orkesta. Angin malam menusuk sampai tulang meski hoodie ini tebal. Bahkan bulan purnama itu masih genap menerpa wajahku seperti memberi kepedulian. Dan, bintang-bintang yang cantik itu, keindahan yang tiada tara di langit malam.
Sekelibat wajah lelaki Indo-Eropa itu terbayang-bayang dalam pikirku. Semuanya bahkan aku hafal. Mulai dari postur tubuhnya, tatapan dinginnya, bahkan hingga bagaimana caranya menyakiti Amar hingga bocah sialan itu terkapar di lantai kelas. Peduli setan dengan BK dan wali kelasku nanti. Jika mau mengeluarkanku dari sekolah, ya silahkan. Bahkan tak ada yang ku banggakan dengan diriku yang payah. Tak punya prestasi, tak ada bakat, tak dapat berhitung, dan tak ahli juga dalam bidang non-akademik. Betulan payah.
Lagi-lagi aku melihat langit yang di hiasi bulan dan bintang-bintang gemerlap. Sungguh tiada tara ciptaan Tuhan ini. Sungguhan indah.
Lamunanku itu membuatku terjatuh dari sepeda dengan keras. Untungnya bukan jalan yang ramai, sehingga tak ada kendaraan berkecepatan tinggi menabrak tubuh kecilku. Namun ini sama sekali tak kuindahkan. Aku kembali merasakan filter merah ini semakin pekat, membuat seluruh tubuhku merasakan sakit luar biasa. Tidak. Padahal beberapa waktu lalu sudah tak kambuh. Jalanan sepi itu tetaplah gelap, hanya di terangi penerangan lampu jalan yang redup serta bintang-bintang dan bulan di langit.
Aku mencengkeram kepalaku dengan berteriak-teriak seperti biasa. Tetap menunggu ada suatu keajaiban yang membuatku terselamatkan dari rasa sakit ini. Atau aku lebih berharap tak ada seorang pun lewat di jalanan ini. Aku hanya takut kejadian lelaki tak di kenal dulu itu terjadi kembali. Tidak. Aku tak boleh membunuh siapapun.
Sekitar 5 menit berlalu, seperti ber jam-jam. Aku masih mencengkeram kepalaku, membentur-benturkannya tapi tetaplah nihil. Semuanya percuma. Ini terlalu lama, aku masih tak bisa pingsan, tapi rasa sakitnya luar biasa.
Di tengah-tengah kabut, di sinari penerangan lampu jalan yang redup. Dengan anggun dan tegap seorang wanita berjalan menghampiri tubuhku yang terduduk di jalanan. Kaki itu makin mendekat, lantas sekarang di depanku. Celana warna putih, namun...
"Selamat malam bocah".
__ADS_1
Dengan memberanikan diri aku menoleh ke atas. Mendapati Neny! Betulan Neny! Dia berdiri tegap di depanku membawa jarum suntik di tangannya. Rambutnya pendek, pendek sekali. Dia mengenakan pakaian lengkap laboratorium. Tatapannya itu, betulan menusuk diriku. Membuatku terkejut setengah mati.
"Bocah sialan, kau mau mematahkan kepalaku juga tak akan bisa membuatku mati" dia mulai menatapku dengan berjongkok.
Aku? Yang jelas aku akan berusaha memukulnya, menendangnya, mencabik-cabiknya, tapi kalah cepat. Filter merah itu malam ini membuatku sial. Dia berhasil menyintikkan cairan merah itu ke punggungku. Rasa nyeri itu perlahan membuatku tak sadar. Gelap dan sekarang aku pingsan, entah atau akan mati di tangannya. Rembulan itu, sekarang tak mampu sedikit saja menenangkan pikirku.
***
Pencahayaan lampu (yang terlalu terang) membuatku bangun dari pingsanku. Masih setengah sadar, aku menatap sekeliling. Hanya ada meja, tabung reaksi, gelas ukur, zat kimia, dan banyak alat kimia lainnya. Dan tak salah aku sedang berada di dalam laboratorium.
Ruangan ini kecil, kalau tak salah seukuran kamarku saja. Aku terbaring di atas ranjang. Dan kemudian aku duduk masih menatap sekeliling. Filter merah itu hilang, namun menyisakan rasa pusing dan mual yang tak terlalu menganggu.
Aku merasa ada yang janggal. Tentunya. Ketegangan ini membuatku untuk selalu was-was, siapa tahu Neny tiba-tiba saja datang kemari.
Belum genap aku mengumpulkan nyawa, pintu dalam ruangan ini berderit, di buka oleh seorang dari luar. Segera, aku berusaha turun dari ranjang, takut terjadi sesuatu.
Ternyata bukan Neny. Hanya pegawainya. Seorang wanita yang masih muda. Rambutnya panjang bergelombang di gerai. Sangat cantik, hingga aku lupa dengan keteganganku.
Dia membawa nampan yang berisi sepiring makanan dan segelas susu coklat. Dengan senyum, dia menghampiriku. Gayanya saja sudah seperti perawat di rumah sakit.
Aku terdiam dalam duduk tak memandangnya sama sekali, apalagi menyantap hidangan hangat itu. Tak berselera, dan tentunya takut jika ada racun atau bahan apapun yang berbahaya dalam sajian itu.
Walau mengenakan pakaian lengkap laboratorium, aku masih bisa menyadari bahwa tubuhnya itu kurus. Dan aku bisa simpulkan juga dia pasti incaran banyak lelaki.
"Makanlah. Bu Neny memintaku untuk menjagamu".
"Apa yang akan dia lakukan padaku?" Aku mulai membuka suara.
"Tenanglah, Maria Aggy. Dia hanya akan menjagamu seperti anak sendiri. Mengurusmu dan melatihmu terampil dalam bidang kimia".
Mengurus? Aku menebak-nebak, mungkin saja dengan maksud "mengurus" itu, Neny akan membuatku menjadi kelinci percobaan, atau dia akan mengakuiku sebagai penemuan bocah kimia pada publik. Yah. Dia mungkin sama seperti Marcues dengan ambisi yang kuat. Aku harus berhati-hati meski wanita ini halus dan lembut.
"Sebenarnya..." dia memulai lagi. Namun dengan wajah menyedihkan.
"Aku tak terlalu suka dengan opini-opini serta visi-misinya. Dia terlalu berlebihan"
"Maksudmu Neny?"
"Ya".
Dia menghela napas sambil menatap langit-langit ruangan kimia ini, kemudian melanjutkan.
"Usiaku sekarang 24 tahun. Sudah sejak dari sekolah dulu, aku ahli dalam bidang fisika, biologi, dan kimia. Teman sekelasku menyebutku dengan 'maniak IPA'.
__ADS_1
Setelah lulus sekolah, aku melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi dan akhirnya lulus. Setelah itu, aku mulai mencari-cari laboratorium yang cocok untukku guna mewujudkan mimpiku menjadi ilmuwan.
Akhirnya aku bertemu dengan Crhistine Neny. Waktu itu hanya sebuah kebetulan. Kami bertemu tak sengaja di toko bunga. Dia menawariku bekerja dengannya, sekaligus menjadi asistennya. Dia juga menjanjikan gaji yang tinggi. Jadi, siapa yang tak mau dengan tawaran seperti itu?
Akhirnya, laboratorium milik Bu Neny itu berkembang pesat menjadi perbincangan masyarakat karena penemuan-penemuan Bu Neny itu sangat berguna dan mampu menyesuaikan diri dengan zaman.
"Setelah lebih 2 tahun aku bekerja pada Bu Neny, akhirnya aku merasa ada hal janggal. Aku mulai mengetahui bahwa dia memiliki ambisi yang besar untuk mengalahkan Edward Marcues saat itu, dan bermimpi menjadi ilmuwan terkenal, terpintar, dan terhormat.
"Selain itu, Bu Neny dengan nekat membuat penemuannya menjadi aneh. Yang mulanya mengidentifikasi hewan dan tumbuhan, kini Bu Neny membuat hal-hal di luar nalar seperti menyambung tubuh dari dua macam hewan, membuat bayi tabung, dan lain sebagainya".
Dia memandangku.
"Maksudmu, kau tak ada di pihak Neny, kan?" Aku mulai berbinar-binar berharap itu benar.
Alhasil, dia mengangguk sambil tersenyum. Wajahnya begitu manis. Dia putih bersih.
"Benarkah? Kau tak bohong?"
"Ya. Lama kelamaan, aku begitu lelah menentang penemuan anehnya. Aku yakin akibatnya bakal fatal. Serta pekerja-pekerja barunya yang bertingkah seolah-olah mereka mengabdi pada seorang Neny. Setia seperti anjing kepada majikannya".
Lengang sejenak hingga sesuatu terlintas di pikiranku. "Kalau begitu, tolong lepaskan aku dari sini!"
Dapat ku lihat jelas wajahnya mengisyaratkan bahwa dirinya tak bisa. Seberapa besar dia menentang Neny, itu tak akan mampu membuatnya terlepas begitu saja dari wanita gila itu. Tak hanya kehilangan pekerjaan, bahkan dia bisa saja celaka kalau segampang itu melepaskanku.
"Kenapa kau tak ingin putus kerja dengannya?"
"Tak ada alasan lain lagi selain kontrakku dengannya. Bekerja seumur hidup, dengan gaji sepuluh kali lipat dari karyawan lain, karna dia menganggapku spesial". Raut mukanya masam.
"Jika aku melepaskanmu dengan cuma-cuma, aku hanya takut dengan keselamatanku saja. Apalagi tugasku sekarang hanya untuk melayanimu" tambah wanita itu.
Keadaan seperti ini bahkan membuatku lupa menanyakan namanya, jadi, "siapa namamu?"
"Erina".
Lengang sejenak menyisakan suara samar-samar para karyawan dari luar.
"Ya sudah. Aku rasa kau tak lagi membutuhkanku untuk sekarang. Jika memang kau butuh bantuan, aku akan datang 20 menit lagi. Terimakasih". Alhasil dia meninggalkan ruangan ini. Berjalan tegap masih dengan cantiknya meski dilihat dari belakang. Pintu tertutup, dan sebelum sepenuhnya tertutup, masih saja Erina tersenyum padaku.
Aku turun dari ranjang kemudian memandang kaca. Aku melihat betapa kusutnya wajahku. Apakah ini pagi? Atau siang? Atau sore? Bagaimana jika memang pagi? Aku bisa-bisa di marahi Bu Disa karna bolos.
Istirahat sejenak tadi membuat badanku agak enakan. Tak ada niatanku sama sekali untuk memakan hidangan dari Erina. Menyentuh saja tidak.
Sebelum Erina datang lagi, sebelum Neny menjadikanku kelinci percobaan, alangkah baiknya aku segera kabur keluar dari tempat ini. Tak peduli entah ada cctv atau sejenis apapun itu.
__ADS_1
Lagi-lagi aku menemukan cairan asam sulfat. Ahli kimia bilang cairan ini bahkan berdampak lebih berbahaya dari pada cairan lain jika terkenal langsung dengan kulit. Ada beberapa botol disini, jadi aku mengambil semua. Entah cairan itu akak terkena kulitku atau tidak, aku tak peduli. Aku hanya ingin keluar.
Sambil menyiapkan barang-barang kimia yang sekiranya bisa membantu, tiba-tiba saja sebuah buku menyita pandanganku. Hanya karena sampul itu bertulis "Test tube baby Marcues future hope (Bayi tabung harapan masa depan Marcues)". Aku menyambarnya sembarangan melipat untuk ku masukan ke dalam saku. Tak lupa juga dengan kertas-kertas yang sudah menguning di samping buku itu.