Laboratorium - Merah

Laboratorium - Merah
Chapter 49 Maria Aggy


__ADS_3

Sehari setelah kasus kakak angkatku. Ternyata tanpa sepengetahuanku, banyak sekali korban yang hilang. Dengan kasus yang sama pula. Setelah mendadak hilang tanpa jejak, maka kalung perak 16cm itu yang menjadi petunjuk. Sama sekali tak membuahkan hasil. Aparat kepolisian masih belum dapat menemukan makna kalung perak itu.


Aryo selaku jendral, meminta kami lebih waspada dan alangkah lebih baik jika mengisolasi diri dalam rumah, jika tak ada keperluan mendadak. Terutama bagi wanita.


Kau tahu seorang *******, bukan? Atau bayangkan saja krisis ekonomi dunia yang menjadi musuh utama. Hal seperti itu bisa saja berdampak buruk bagi tujuh milyar penduduk bumi.


Meski Roger atau 'bloodfiend' hanyalah manusia yang juga tercipta dari gumpalan tanah dan darah. Tetaplah menjadi musuh utama bagi kami semua untuk saat ini. Dia makin brutal. Semua kota tak luput dengan kasus menghilangnya para wanita. Setidaknya perhari terdapat kurang lebih 7 orang yang hilang.


Entahlah. Proyek Erina sudah hampir jadi. Dia mentafsirkan kurang lebih satu minggu mungkin sudah komplit. Dan dengan pernyataan seperti itu aku tahu bahwa kesibukan Erina pasti makin padat. Dia memiliki laboratorium miliknya sendiri. Menjadi pemimpin dan memerintah para bawahannya. Otomatis waktu komunikasiku dengannya akan makin terbatas.


Erina hanya memintaku untuk tidak melakukan hal yang macam-macam. Dia bilang, "makin sedikit yang kau tahu, maka semakin baik pula". Sumpah aku tidak paham. Tapi aku yakin itu akan berhubungan dengan kasus penculikan yang tiada akhir ini.


Erina memintaku untuk diam di rumah, kecuali ada hal yang mendesak. Itupun juga harus 24 jam menghubunginya bila ada hal yang penting. Sungguhan? Aku tak akan pernah betah dengan diam di dalam rumah. Meskipun rumah ini lebih nyaman dari 'gubuk' punyaku, tapi tetaplah membosankan! Teramat malah.


***


Bus meluncur anggun membelah keramaian kota. Sekolah memulangkan kami lebih awal. Ini kabar baik tentunya. Para guru bilang ada rapat mendadak.


Aku duduk di salah satu bangku yang kosong, memandang jendela bus (seperti biasa). Kota ini masih sama, tak ada perubahan bentuk. Sekalipun masyarakat akan mengubah budaya, atau nilai-nilai atau norma-norma sosial. Aku akan selalu memandang kota ini dengan sudut pandang yang sama.


Aku tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Aku tahu aku selalu bergetar hebat mengingat pandangan merah dan kematian Emmi. Aku tetaplah gadis 15 tahun biasa yang lemah. Tak punya visi-misi, selalu saja terjerembab dalam ketakutan.


Semua orang datang dan pergi, bukan? Kakak, ibu, Catrina. Aku merasa bersalah tak mampu melindungi mereka. Justru malah merebut kebahagiaan kecil yang tak ternilai harganya. Mengapa? Mengapa bisa aku sebodoh itu?


***


Aku berjalan beberapa kilometer dari halte pemberhentian berikutnya. Aku tidak berniat pulang. Terpaksa pula harus membohongi Erina bahwa aku sedang santai di rumahnya. Aku lebih memilih mengunjungi kios Paman Agung, mencari beberapa referensi buku kota X. Siapa tahu aku bisa menemukan sesuatu.


Sialan. Mengapa tas sekolahku hari ini begitu terasa berat? Kalau saja aku tahu bahwa pulang lebih awal, mungkin saja aku tak membawa buku besar-besar macam ini.


2kilometer, di jalan kecil yang sepi. Tanpa perumahan, hanya pagar pembatas dengan alam liar. Ada penanda untuk tidak memasuki wilayah semak belukar karena banyak binatang liar yang berbahaya. Mungkin seperti ular berbisa.


Sepedaku masih tergeletak di sana. Kalau diingat-ingat, beberapa hari lalu Neny sialan menangkapku di jalanan sepi ini setelah aku jatuh terjerembab di tanah. Beruntung sepedaku tidak karatan.


Baiklah. Daripada berjalan beberapa kilometer dengan tas seberat batu ini, aku lebih memilih mengayuh sepedaku. Masih pukul 10.17


***


Lonceng berbunyi memekakan telinga kala pintu itu ku dorong. Kios tak terlalu ramai. Sekitar 2 orang dewasa dan beberapa anak kecil saja. Kios milik Paman Agung selalu lengang, namun terasa begitu nyaman.


"Selamat pagi..." aku berkata agak pelan, memberi salam.


"Pagi. Aggy? Sudah lama sekali aku tidak melihatmu." Paman Agung tersenyum, membuka kacamatanya. Lantas setelah mengelap, memakainya kembali.


"Ada penulis novel horor yang baru-baru ini sedang trending. Kau tidak mau mencoba membacanya?" Paman Agung menyodorkan sesuatu padaku. Buku? Iya, itu sebuah novel dengan cover warna hijau. Tapi corak darah banyak sekali, juga dengan ilustrasi karakter yang agak seram.


Aku membaca judulnya dalam hati. 'But Not For You'. Aku rasa ini bagus, mungkin jika ada waktu luang, satu bulan aku bisa menamatkannya.


"Ini yang original, aku belum membuat versi bajakannya. Kau tahu? Harganya sekarang masih mahal. Masih langka. Tapi berhubungan kau adalah pelanggan yang baik, aku akan berikan kau buku ini dengan harga yang murah."


Mataku berbinar-binar penuh harap. "Seharga buku bajakan, Paman?"

__ADS_1


"Ya. Bagaimana? Kau terima tawanku?"


Aku tersenyum, seger mengeluarkan uang. Ini fantastis. Aku tak punya banyak buku original di rumah. Semua kebanyakan hanya buku bajakan, yang mudah lepas halamannya. Kalaupun ada yang original, paling-paling juga buku dari perpustakaan sekolah yang sengaja aku tak kembalikan.


Paman Agung menerimanya. "Eh? Ini masih pagi. Kau sudah pulang sekolah? Atau jangan-jangan kau bolos."


"Tidak, Paman. Para guru bilang ada rapat mendadak pasa hari ini. Jadi kami semua di pulangkan." Begitu jawabanku, sembari memasukan buku ke dalam tas ransel.


"Kau tidak takut seragam sekolahmu kotor? Lihat. Rokmu saja sudah berwarna coklat seperti ketumpahan susu coklat." Paman Agung menunjuk rok selututku dengan dagunya. Dia memang benar. Ah, tapi peduli setan dengan penampilan burukku.


Aku melupakannya. "Anu, Paman. Aku ingin mencari buku sejarah. Tapi yang berhubungan dengan kota ini saja. Paman menjual bajakannya?" Aku langsung saja masuk ke dalam inti. Tak perlu basa-basi tak penting yang terlalu lama.


"Sejarah tentang kota X, maksudmu? Sebentar. Aku cari dulu. Kalau tak salah sudah 2 tahun lalu aku membuat versi palsunya." Paman Agung beranjak berdiri, lantas berjalan ke arah jejeran rak buku yang tak terlalu besar, namun banyak. Aku mengekornya, sambil melihat-lihat beberapa buku yang terjejer rapi.


"Ini dia, Aggy!" Secepat itu dia menemukan, astaga. "Sayang sudah hampir rusak. Aku sudah kehilangan versi aslinya. Jadi kalau kau mau, kau boleh ambil percuma."


Aku mengangguk mantap. Sungguh tak apa, yang penting masih bisa di baca.


"Paman serius, bukan?"


"Tentu saja. Mengapa tak percaya? Ini juga buku lama. Eh? Sejak kapan kau suka baca sejarah?"


Aku terkekeh, menerima buku itu. Seorang pengunjung berseru agak keras meminta barang yang di beli segera di layani oleh Paman Agung. Paman Agung menepuk pundakku, ijin pergi sebentar melayani pengunjung.


Aku memasukan buku itu juga ke dalam tas. Jika aku memilih untuk membaca disini, akan membutuhkan waktu yang lama. Lagipula aku pasti Erina juga mengkhawatirkanku.


Lonceng di atas pintu masuk kios berbunyi lagi. Aku menoleh, entah mengapa aku juga tak tahu. Tunggu! Agam? Sejak kapan dia pulang dari seleksi lomba melukisnya di luar kota?


"Aggy?" Telat. Dia sudah terlebih dulu menemukanku di pojok tembok dekat dengan rak buku sejarah.


"E-eh? Kau sudah pulang dari seleksimu?" Aku kikuk menjawab, membuang muka ke arah lain.


"Ya. Beberapa menit lalu. Aku ingin sebentar pergi ke kios, mencari referensi karya seni. Besok pagi aku masuk ke kelas.


"Kau sudah pulang? Cepat sekali."


"Eh? Tadi Bu Disa bilang ada rapat mendadak bagi para guru. Jadi itu alasan sekolah di pulangkan lebih pagi." Aku menjawabnya. Pertanyaan itu lagi. Terkadang membuatku malas mendapat beberapa pertanyaan yang sama.


"Ah, begitu."


"Eh... kau. Apakah kau terpilih?" Tanyaku sembari menggaruk kepala yang tidak gatal. Astaga. Bagaimana cara menghilangkan grogi? Melakukan kontak mata dengan Agam saja aku tak bisa. Alhasil aku hanya terus memalingkan muka dan sesekali melihat ujung rambutnya.


"Mereka bilang lukisanku pewarnaannya kurang sempurna. Namun sudah cukup baik. Tapi aku tidak lolos ke babak selanjutnya." Agam menjawabku dengan ekspresi datar dan dingin.


"Ah, begitu. Sangat di sayangkan." Aku akui saja bahwa ini tak terlihat seperti biasa. Sikapnya berbeda seratus delapan puluh derajat dari biasanya.


"Kau sudah temukan buku yang kau cari?"


Aku mengangguk. "Iya. Kenapa?"


"Kau ada waktu sebentar? Jika ada aku ingin bicara sebentar. Tapi kalau tidak, kau boleh menunda waktunya dan aku akan menunggu."

__ADS_1


Aku mengangguk lagi. Meski ini membuatku agak khawatir, takut ada sebuah masalah diantara hubungan 'pertemanan' kami. Aku rasa Erina juga pulang larut malam. Mungkin juga aku bisa mengarang beberapa kebohongan kecil.


Agam membalikan badannya. Semula menuju mesin minuman, dan aku hanya mengekornya.


Lelaki itu beranjak duduk di bangku luar kios. Matahari bersinar terik. Cuaca sedang cerah untuk hari ini. Ramalan cuaca di televisi tadi pagi tak meleset.


"Untukmu," Agam menyodorkan salah satu minuman soda dalam kaleng untukku. Meski sikapnya agak dingin hari ini, tapi baiklah. Kebiasaan lamanya tak pernah berubah. Mungkin itu juga termasuk alasan mengapa aku menyukainya.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" Aku memulai dengan memaksakan agak santai, meneguk minuman soda dalam kaleng itu.


Semula Agam menghela napas, kemudian menjelaskan. "Apa benar kabar burung itu? Bahwa kau terkena peringatan dari guru bimbingan kesiswaan karena sebuah masalah dengan Amar?"


Aku hampir tersedak, sebisa mungkin mengendalikan napas. Bagaimana bisa dia tahu? Ini betulan gawat. Banyak gosip menyebar tanpa pertanggung jawaban. Amar si cecunguk sialan, menebarkan fitnah kemanapun. Mungkin saja dia bilang bahwa aku berusaha bersekongkol dengan lelaki perawakan Indo-Eropa itu dan mencoba melukainya. Itu tidak masuk akal. Kenapa juga tak ada yang percaya bahwa posisiku di sana adalah sebagai korban?


"Temanmu memukul Amar dan membuatnya mimisan? Amar pingsan saat itu. Kurang lebih begitulah kata Agatha. Apa itu benar?" Dia memandangku tajam. Apa maksudnya? Sialan dengan Agatha dan si cecunguk Amar.


"Teman? Agatha?"


Lengang sejenak. Agam menarik napas panjang. Menyeruput soda dalam kaleng itu. Siang makin terik, panas matahari begitu menyengat. Padahal bulan ini masih musim hujan.


"Kuulangi lagi, Aggy. Apakah itu benar?"


Ini gawat. Agam memandangku makin tajam, seakan bersiap mencengkeramku. Bagaimana? Lari? Tidak. Aku bukan pecundang.


"Agg?" Dia mendesis, membuatku terkejut sambil menelan ludah.


"I-iya." Mulutku kaku menjawab. Meskipun hanya masalah seperti ini, rasanya aku sudah mengeluarkan banyak sekali tenaga. Keringat saja bercucuran membasahi badan.


"Kau serius melakukan itu?"


"Tidak, Agam. Kau harus tahu dulu. Mereka bohong, mereka melebih-lebihkan berita itu. Bahkan juga menguranginya. Apa yang mereka katakan tidak seratus persen benar. Kau dengarkan aku dulu!" Aku berseru panik, reflek saja.


"Dengarkan! Aku tidak kenal siapa lelaki itu. Aku juga tak paham mengapa tiba-tiba memukul Amar. Lagipula Amar dulu yang mulai. Aku tak lakukan apapun! Kau percaya padaku 'kan?!"


"Untuk sekarang mungkin sulit, Agg."


Apa? Astaga, kenapa Agam jadi bebal seperti ini? Menyebalkan sekali. Entah kenapa mood-ku sedang rusak sekarang.


"Kau tak percaya padaku, bukan? Itu yang ingin kau ucapkan. Kau hanya mendengar berita itu setengah-setengah, Agam. Kau tidak tahu keseluruhannya. Kau hanya tak sadar kalau aku adalah korban. Amar menuduhku kalau aku yang membunuh Emmi!" Memerah sudah mukaku karna darah menggumpal di ubun-ubun.


Tapi sejenak aku mulai merenung. Bagaimana jika Agam tahu bahwa aku benar-benar membunuh Emmi? Akankah dia menyumpahiku yang tidak-tidak? Berhubungan dari populernya gadis itu, aku kadang berpikir bahwa mungkin saja Agam juga menyukainya. Mustahil lelaki sekelas denganku tak menyukai karakter seperti Emmi.


Lagipula aku sadar aku siapa. Aku tahu aku ini sangat buruk. Aku tak akan menjadi munafik. Aku payah dan aku pembunuh. Aku pecundang. Aku tarik kata-kataku tadi. Sekarang aku mengaku bahwa aku adalah pecundang.


"Aku kecewa padamu, Aggy." Agam melirih. Berdiri. Apa lagi yang akan kau katakan bedebah? Kau akan bilang bahwa kau membenciku?


"Tempuhlah jalan yang benar. Aku lebih percaya bahwa kau adalah gadis yang baik."


"Apa itu artinya kau tak akan mau berteman dan menemuiku lagi?!" Aku cepat menarik kesimpulan. Ekspresinya terlalu mudah di baca. Menyebalkan.


Agam tak menjawabku, beranjak perlahan berjalan meninggalkan kios.

__ADS_1


__ADS_2