
SATU BULAN SEBELUM KEMATIAN CATRINA BEATRICE
Hujan deras mengguyur kota, membasahi segala sesuatu di bawahnya. Serta memberi kenangan buruk dan getaran aneh dalam diriku. Setiap hujan datang, maka di sana pula aku menengok jendela, melihat tetesan air itu jatuh dari langit, lantas menikmati hawa dingin yang ditimbulkannya.
Klinik penuh dengan aktivitas. Gonggongan anjing, serta kucing mengeong terdengar keras ketika aku masuk ke ralam ruang periksa. Beberapa orang dengan hewan peliharaan juga nampak menyapaku saat aku melewati antrian. Beberapa mengucapkan selamat pagi.
"Bu, kucing ini mengalami diare" begitu aku memberitahu seorang wanita, mungkin usia 30-an. Pemilik dari kucing jantan warna putih polos, yang aku periksa sekarang ini.
Wanita itu manggut-manggut lantas mengelus kucing putihnya.
"Hal ini bisa jadi karena makanan, Bu. Coba ibu sebutkan makanan apa saja yang di berikan pada Momo". Begitu aku memulai dengan senyuman, membuat wanita itu nyaman dengan percakapan ini. Aku sekilas melihat nama di kalung kucing tersebut, dan menyebutkannya.
Wanita itu menyebutkannya satu persatu sambil mengingat keras. Kemudian aku memberikannya obat anti diare khusus untuk kucing, serta beberapa panduan untuk menghindari diare pada hewan peliharaan.
Aku menghembuskan napas, melihat antrean sudah agak berkurang. Jam kerjaku sudah selesai, tinggal bersiap untuk pulang.
Maka aku melepas jas dan meletakkan dalam mobil, dan sebelumnya juga sudah ku lipat dengan rapi. Parkiran klinik lengang, hanya sisa beberapa mobil saja yang terparkir rapi. Aku kembali menengok jam tangan, bercepat untuk pulang.
Tapi saat mesin mobil itu nyala, dan memanas, seseorang memanggil. Aku menjejali seisi parkiran namun tak menemukan siapa pun. Terdengar jelas memang seseorang memanggilku.
Dan akhirnya si pemanggil tiba juga dengan napas terengah-engah. Itu Joseph, rekan kerjaku yang 3 tahun lebih tua dariku.
"Tas anda ketinggalan, nyonya Catrina" dia menyerahkan tas selempangku. Ah iya, pantas saja aku merasa ganjil, ternyata tas ini ketinggalan.
"Ya, terimakasih banyak, Tuan Joseph. Untung saja anda menemukannya" aku tertawa ringan menerima tas itu.
Hanya sebatas itu saja percakapan kami. Tak lama Joseph menunduk pamit balas tersenyum padaku.
Hujan masih belum reda, terus-terusan tak lelah mengguyur kota. Mobil yang ku kendarai sendiri membelah jalanan raya, dengan wiper kaca mobil yang terus membersihkan air yang menghalangi pemandangan. Jalanan ramai, meski hujan deras begini. Beberapa aktivitas juga terlihat, seperti remaja-remaja berseragam sekolah yang duduk di halte dengan menengok kesana-kemari menunggu bus, juga beberapa pekerja kantoran nampak sama menjejali pemandangan menunggu bus dengan agak cemas. Mungkin takut baju rapi yang mereka kenakan akan basah terguyur air hujan.
***
Mobil berhenti tepat di depan pelataran rumah sederhana milikku dan Erina. Aku memarkir mobil di garasi. Mobil putih terparkir rapi persis di sampingku, menandakan bahwa Erina sudah pulang dari lab.
Pintu itu berderit saat kubuka, sepi seperti sama sekali tak ada kehidupan. Aku memandang kesana-kemari mencari adik perempuanku itu. Sama sekali tak ku temukan, entah dimana perempuan itu berada sekarang.
Berkali-kali aku memanggilnya, tapi tak ada jawaban. Dan terus aku melangkah ke dapur, entah mungkin saja si ceroboh itu membuat suatu eksperimen atau apalah itu dalam dapur. Beberapa kali aku mengumpatnya, menahan emosi, barangkali dugaanku itu memang ada benarnya.
__ADS_1
Tapi aku salah. Erina tertidur di meja makan, dengan wajah kusut pula. Tapi setidaknya aku menghembuskan napas lega, perempuan ini tak kenapa-kenapa sehabis kerja dari laboratorium.
Usianya 24 tahun, lebih muda, selisih 2 tahun dariku. Dia bekerja di laboratorium Bu Neny sudah beberapa tahun lamanya. Entah mengapa dari awal pertama dia bekerja, aku selalu di hantui dengan rasa cemas. Aku selalu khawatir tentang Erina semenjak dirinya sibuk pada sains. Bukannya aku tak suka adikku itu nyemplung dalam dunia sains, 'kok. Hanya saja aku merasa firasatku tak pernah salah sasaran, atau selalu benar. Itu saja.
Tapi mau bagaimana lagi? Erina hanya keluargaku satu-satunya yang tersisa. Serta impiannya menjadi ilmuwan itu tak mungkin aku larang seenak jidatku saja. Dan sekarang dia sudah dapatkan ganjaran dari kerja kerasanya selama ini dalam dunia IPA (Ilmu Pengetahuan Alam).
"Oi! Erina. Aku tahu kau kelelahan, tapi ini bukan kasur. Aku belum makan malam, heh. Sana kau masuk kamar" aku berseru membangunkannya.
***
Kecurigaanku pada pekerjaan yang sekarang di gandrungi oleh Erina ternyata tak ada salahnya. Hal-hal aneh itu mulai nampak setelah aku lamat-lamat memperhatikan adikku, dan gemar menyelidiki perihal laboratorium milik Bu Neny itu.
Aku tak terlalu paham tentang laboratorium, aku hanya paham dengan struktur dalam pencernaan hewan peliharaan, penangkal virus yang menyerang hewan peliharaan, cara menangani penyakit pada hewan peliharaan, dan lain sebagainya. Karena 'kan memang aku dokter hewan.
Awalnya aku hanya menelusuri laboratorium besar itu. Selain menjadi ilmuwan, pemiliknya (Bu Neny), juga berprofesi sebagai guru Bahasa Inggris di salah satu sekolah. Baik, itu tak apa, tentu pekerjaannya bukan masalah besar.
Tapi akhir-akhir ini banyak ku dengar desas-desus mendiang Edward Marcues, seorang ilmuwan tersohor pada masanya itu kembali menjadi perbincangan publik. Dan ternyata, aku banyak menemukan hal-hal yang mengganjal.
"Iya memang, tapi tak usah di pikirkan". Suatu hari, adikku hanya mengabaikan kekhawatiranku, bertindak acuh tak acuh.
"Katakan sejujurnya saja, firasatku tak pernah salah"
Mau bagaimanapun aku terpaksa harus mencari tahu sendiri. Terlalu sulit bertanya pada Erina. Jadi suatu hari saat klinik pemeriksaan hewan tutup, aku menyempatkan diri mendatangi laboratorium besar nan megah itu sendirian.
Aku melangkah keluar dari pintu mobil lantas mengamati lab itu dengan lamat-lamat. Dari luar ini terlihat seperti laboratorium biasa, dengan aktivitas padat di dalam ruangannya. Dan bau kimia yang menyeruak tak terlalu sedap di hisap dengan batang hidung.
***
"Nyonya Catrina, anda tak perlu khawatir, toh itu hanya opini, apalagi 'kan kita belum tahu bahwa berita itu ada benarnya atau tidak" begitu Joseph berkomentar dengan gayanya yang sudah seperti kepala sekolah, ketika aku menceritakan padanya kekhawatiranku pada Erina dan pekerjaannya.
"Anda tak usah pikirkan berlebihan. Mungkin anda hanya berburuk sangka, makanya anda merasa ada yang tidak beres" dia menambahkan dengan tersenyum.
Aku manggut-manggut lantas kembali mendata beberapa dokumen. Salah satunya hasil USG pada kucing hamil yang berhasil membuatku tertarik. Anaknya sekitar delapan, jadi itu kenapa perut induk terlihat sangat besar, tak seperti kucing hamil pada umumnya.
"Ngomong-ngomong, malam ini apakah ada acara?" Begitu pertanyaan itu di lontarkan, aku berhenti mengetik pada keyboard computer, lantas menoleh pada Joseph. Aku hanya menggeleng, kembali lagi pada laporan dan pendataan.
"Baguslah kalau begitu. Saya hanya mengajak anda untuk sekedar makan malam di restoran 'Mama Zen', siapa tahu anda berminat".
__ADS_1
Tawaran bagus. Lagi pula aku hanya sibuk meneliti laboratorium milik Bu Neny pekan ini, hanya sibuk membolak-balik buku ensiklopedia dan sains pula, dan aku rasa aku juga butuh hiburan demi menenangkan pikiran. Maka aku menyetujuinya. Kami sepakat malam ini untuk makan malam di restoran yang di sebutnya tadi.
***
Joseph mentraktirku, restoran juga tak terlalu ramai, malah terkendali dengan suasana menyenangkan dan tentram.
"Maaf?" Aku mengernyitkan dahi.
"Panggil saja Joseph. Memang karna nama panggilanku. Lagi pula kita sudah lama kenal dan bekerja di klinik yang sama pula. Maka saling memanggil tanpa sebutan 'tuan' dan 'nyonya' akan lebih fleksibel dan tidak kaku" .
Aku hanya mengangguk kikuk. Lama kelamaan aku merasa canggung, salah tingkah, tak tahu harus bicara apa.
"Ini daging sapi pilihan, rasanya juga tak kalah enak. Bukan daging sapi biasa" Joseph menunjuk makanan di depan kami yang terhidang. Memang aromanya menyeruak masuk ke lubang hidung, nikmat.
"Sepertinya anda sudah menjadi langganan disini" aku menjawab.
"Panggilan 'aku' dan 'kamu' nampaknya lebih enak, Catrina..."
Astaga. Sekarang memerah sudah pipiku. Entah apa yang harus aku perbuat. Aku tahu jelas sudah lama kami menjadi teman satu klinik, satu pekerjaan, saling membantu juga. Tapi tak pernah terlintas dalam pikirku untuk harus memanggilnya langsung dengan 'Joseph' tanpa imbuhan sebutan 'Tuan' di depan namanya.
"Ah, ya. Aku sudah langganan disini. Terkadang aku makan malam dengan adik sepupuku" dia melanjutkan, terlihat santai-santai saja.
Hanya sebatas itu. Aku fokus pada hidangan, menyantap makanan-makanan mewah yang sebetulnya belum pernah sekalipun ku coba. Jujur saja, aku dan Erina lebih tertarik dengan makanan sederhana, apalagi masakan rumahan.
"Ngomong-ngomong soal adikmu..." Joseph berhenti menyuap, lantas mengelap mulutnya dengan sehelai tisu. Dia menatapku yang sekaligus membuatku berhenti menyuap juga.
"Laboratorium milik Bu Neny sudah lama berkembang pesat. Karyawannya juga banyak sekali. Apalagi hasil uji cobanya itu, nyaris selalu berhasil. Aku pernah sesekali mendengar beritanya, bahwa laboratorium miliknya sukses besar".
Aku terkesima, melanjutkan menyuap.
"Dan fakta mengejutkan. Adikmu ternyata bekerja di sana. Ah, Catrina mengapa kau tak pernah berbagi cerita denganku?"
Lagi-lagi aku diam, tak tahu harus menjawab apa. Mungkin hanya menyeringai, kemudian fokus kembali pada daging sapi yang memang sangat-sangat enak itu. Joseph benar, bukan daging sapi biasa seperti umumnya.
"Entah mengapa aku selalu merasa bahwa pekerjaan itu tak baik-baik saja. Aku merasa ada sesuatu di baliknya"
"Ah, tenang saja, Catrina. Sebelum bekerja mereka sudah ber-APD lengkap. Bahkan ada ruangan tersendiri untuk menguji bahan yang agak berbahaya. Apalagi, kan kau tahu sendiri, tak mungkin ada puntung rokok dalam laboratorium". Begitu balas Joseph, berlagak menenangkanku. Padahal aku tahu sendiri, perasaan cemasku terus-terusan tak mau hilang meskipun aku sudah menyangkal sendiri bahwa hal baik akan menyertai Erina. Bahkan aku juga sudah menanyakan semuanya pada Erina. Tapi tetap saja, ini benar. Rasa ini terasa sangat-sangat nyata. Aku merasakan jantungku berdegup sangat kencang, pikiranku berkecamuk tidak tenang, dan hatiku mengatakan bahwa akan ada hal buruk yang terjadi.
__ADS_1
Tuhan...lindungilah adikku, selamatkanlah di manapun dia berada, dan dalam marabahaya apapun. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain berdo'a.