Laboratorium - Merah

Laboratorium - Merah
Chapter 56 Steyfano Marcues


__ADS_3

Aku berjalan keluar dari rumah. Sebelumnya memang tak lupa aku menutup gerbang dan menguncinya. Cukup susah untuk ku tutup serapat mungkin karena memang gerbang itu sudah sangat tua dan karatan. Itu membuatku menguras banyak tenaga di hari yang masihlah di bilang amat pagi.


Aku mengunci serapat mungkin. Itu tak akan mempengaruhi Eliza. Ia tak akan pergi kemana-mana. Segala bahan makanan sudah tersedia. Segala peralatan apapun juga sudah ada. Dia tak perlu lagi ke sekolah. Aku pernah menawarkan sekolah untuk nya. Tapi ia bilang tak ingin, dia akan tetap di rumah menjaga Karel. Lantas aku mengatakan bahwa aku akan membayar beberapa pembantu, tapi ia bilang tak mau. Tak ada seseorang di dunia ini yang bisa di percayai. Aku benar-benar tak paham dengan jalan pikiran nya.


Aku berjalan melewati jalanan sempit. Jalan permukiman yang sunyi. Atau kah aku membeli kendaraan sendiri saja? Agar aku tak perlu lagi berjalan sampai sejauh ini. Tapi tidak. Mobil itu lagi. Kini berhenti di sampingku. Kaca pintu mobil itu terbuka. Nampak jelas sekali. Thony dan anak perempuan itu.


"Steyf... Ayo masuk." Katanya Thony.


Aku hanya terdiam. Tiba-tiba sekali. Mereka tampak kebingungan menatapku yang hanya berdiri mematung.


"Ayo. Kita berangkat bersama." Anh menambahi.


Tak ada yang harus aku katakan. Pada akhirnya aku membuka pintu mobil itu dan masuk ke dalam nya. Mobil itu berjalan perlahan meninggalkan jalanan sepi itu berganti menjadi jalan raya yang sudah padat kendaraan.


"Bagaimana dengan adik mu? Sudah sehat?" Bertanya lah Anh di tengah-tengah keheningan.


"Sudah membaik." Kataku.


"Aku ikutan senang." Katanya.


Kembali lagi lah keheningan itu. Aku menatap keluar jendela mobil. Menatap betapa ramainya jalan di pagi hari begini. Sudah penuh dengan polusi dan matahari pun semakin nampak jelas.


"Oh iya, aku lupa memberi tahu. Hari ini akan ada beberapa pameran di lapangan sekolah. Katanya itu kerajinan yang di buat sendiri oleh siswa dan siswi. Bagaimana menurutmu? Aku sungguhan tak sabar."


Aku bahkan tak bisa memberikan komentar apapun. Apa yang harus aku katakan? Aku tak menyukai apapun yang ada di sekolah itu.

__ADS_1


Mobil sampai di depan gerbang sekolah. Benar saja. Meja-meja sudah berjejer di setiap sudut halaman sekolah terkenal itu. Nampak betul satpam itu sangat sibuk menyiapkan segala macam untuk hal ini. Itu membuat anak-anak yang tak tertib masuk dengan selamat.


Kini aku berjalan ke kelas. Lagi-lagi anak perempuan itu tak mau berpindah dari jalan nya. Ia terus-menerus mengikutiku. Aku sadar. Ia duduk di sampingku. Menduduki bangku yang sudah lama kosong itu. Aku menatapnya sekilas. Kini ia terlihat tak seceria tadi. Kepalanya lebih tertunduk. Ia bahkan tak lagi bicara. Apa yang terjadi? Aku tidak peduli. Aku berganti menatap jendela. Angin berhembus melalui celahnya. Matahari pagi yang indah. Ini akan menjadi hari yang menyenangkan, mungkin.


Aku berdiri. Aku berjalan menuju belakang kelas itu. Sepertinya siswa di kelas ini sudah mengganti madingnya disaat aku tidak ada. Semuanya nampak lebih apik dan menarik. Pandangan ku berganti ke arah sebuah sudut kelas itu. Sebuah rak kayu yang penuh dengan buku-buku berjejer. Sebelumnya bahkan tak ada disini. Aku mengambil salah satu buku. 'Dunia dan Masalahnya' judul buku yang sulit untuk di mengerti. Aku membolak-balik halaman buku itu. Ku baca meski itu hanya beberapa kalimat saja.


“Ya. Para detektif disini tak sehebat Conan. Dokter disini juga tak sehebat Marcues. Dan kasus ini terlalu rumit untuk di pecahkan.” Sepenggal kalimat dari salah satu halaman buku itu.


Marcues sangat lah tersohor waktu itu. Tak ada siapapun di dunia ini yang tak tahu tentang nama itu. Dan semua itu pula membuat aku bertanya-tanya. Apa yang membuatnya begitu amat terkenal? Padahal mereka adalah keluarga yang bodoh yang hanya memanfaatkan otak mereka yang sebenarnya melenceng.


Aku kembali memilah-milah beberapa buku di rak kecil itu. Lantas ku temukan buku itu. 'Cerdas Layaknya Marcues'. Apakah seluruh isi rak ini penuh dengan buku-buku yang mengatakan tentang Marcues?


Aku terhenti di saat tiba-tiba saja terdengar suara gaduh di kelas ini. Itu membuatku terkejut dan menoleh. Mencari-cari dari manakah asal suara itu. Aku melihat mereka. Segerombol anak-anak gadungan mengerumuni meja ku yang mungkin sekarang harus ku katakan meja ku dan Anh. Ya. Mereka sedang mengerumuni Anh yang seperti tak tahu apa-apa.


"Apa kau berpacaran dengan anak pembunuh itu sampai kau tak berani menjawab pertanyaan ku?" Baiklah. Bicaranya itu sudah kelewatan.


"Siapa yang kau bilang anak pembunuh?" Aku berjalan mendekat ke arahnya. Masih dengan dua buku itu di tangan.


Lelaki gemuk tinggi itu menatapku dengan tajam. Melotot seperti seakan-akan ia tak takut dengan anak pembunuh yang di katakannya itu barusan.


"Baguslah kalau kau mendengarnya. Kau banyak menyulitkan orang-orang disini. Sebaiknya kau pergi saja kalau kau tak ingin di sebut begitu." Katanya semakin melotot.


"Aku tak terpengaruh dengan sebutan itu. Lagi pula, peduli setan kalian mau nyaman atau tidak dengan adanya diriku disini."


Apakah aku harus mengakhiri ini? Aku kembali mengingat perkataan Bu Disa. Aku sudah 2 kali melakukan kesalahan. Jika aku melakukan hal yang serupa, apakah aku harus keluar dari sekolah ini?

__ADS_1


"...kenapa kau diam saja, he? Kau dengar perkataan ku barusan tidak?"


Memangnya apa yang ia katakan barusan?


Ia semakin mendekat ke arah ku. Tiba-tiba saja memukul muka ku. Pukulan keras itu membuat ku terjatuh ke lantai. Hei. Aku diam bukan karena aku takut termakan oleh perkataan Bu Disa soal pengeluaran dari sekolah itu. Tapi aku malas. Dan aku sedang tak ingin berkelahi. Lantas untuk apa aku membalas melototinya tadi.


Aku berusaha untuk bangun. Sialan. Mau bagaimana pun, aku tetap saja malas membalas pukulan tak berguna itu.


"Apa?"


Tak pernah ku sangka. Ternyata perilaku ku itu membuatnya kebingungan. Dia menatapku. Membeku. Dahi nya berkerut bingung.


Aku yang ikut menatapnya juga merasa bingung. Apakah ada yang salah?


"Tak ku sangka anak seorang pembunuh ini lemah sekali." Katanya.


Cih. Jadi seperti itu karakter lemah yang sering di sebut manusia?


Dia kembali memukul ku. Lagi-lagi itu membuat ku terjatuh. Tak perlu banyak drama. Aku segera bangkit lagi. Dia pula semakin melotot ke arah ku. Aku tatap Anh yang saat itu juga tengah melihatku. Mungkin sekarang ia di kerubungi rasa takut yang tak kunjung sembuh. Ya. Raut wajahnya menggambarkan seperti itu.


Semuanya seakan-akan mati sedetik. Bel itu berbunyi nyaring. Nyanyian nya terdengar sampai ujung gedung sekolah ini. Ia mencengkeram rambut ubun-ubun ku dan menariknya. Sakit. Tapi aku tak takut jika rambut ku akan tercabut. Ia mendekatkan wajahnya ke arah ku. Begitu dekat.


"Nanti sepulang sekolah, ku tunggu kau di belakang gedung sekolah." Katanya di antara nafasnya yang bau.


Lantas ia meninggalkan ruangan itu begitu saja. Bersama dengan para teman-teman nya. Mungkin saja akan lebih cocok di sebut anak buahnya yang dari tadi hanya menatap kami tanpa melakukan apapun ataupun sekedar berkata-kata.

__ADS_1


__ADS_2