
Hari rabu pagi, dengan jam pagi, atau dapat terbilang terlalu awal untuk menutup pintu gerbang sekolahku yang amat luas. Padahal aku bangun jam 4 pagi, kemudian mandi, sarapan, menunggu bus, dan aku selalu berangkat pagi. Tapi baiklah, dengan aku mengakui rasa jengkel dan penuh dendam ini, upacara penghormatan mayat Emmi yang hina ini membuat sekolah menutup gerbang lebih pagi.
"Kau terlambat 2 menit. Masuklah! Hari ini saja, jika kau telat lagi gurumu akan menghukum" satpam itu berkata tegas menyuruhku masuk. Hanya beberapa anak di luar yang telat 2 menit. 2 menit saja, sob!
Setelah meletakkan tas dengan beban buku-buku tebal dan alat tulisku di kelas, aku berjalan setengah berlari menuju ruang depan. Memang sudah ramai. Dari segala penjuru, para guru mempersiapkan muridnya untuk segera melakukan upacara.
Tak perlu waktu lama, semua murid sudah di persiapkan berbaris secara rapi. Terbagi banyak sekali kelompok perkelas.
Selesai membaca doa pada sesi awal, pidato dari kepala sekolah segera di mulai. Dengan tegas, petugas upacara itu menyuruh kami semua memperhatikan.
"Selamat pagi semua" kepala sekolahku mengawali. "Tentu kalian sudah tahu tujuan kita di kumpulkan di ruangan ini".
"Sekolah ini...sudah di bangun cukup lama. Dari masa ke masa, siswa-siswi membanggakan selalu dan selamanya hadir memperindah nama sekolah kita ini.
"Dan, seperti yang kita ketahui, kemarin seorang laki-laki mengakui perbuatan kejinya ke pihak berwajib. Kita masih membahas kasus teman kita, murid kebanggaan kita, Emmi Hannabelle. Seorang anak tunggal dari pejabat kota X.
"Upacara ini, serta para murid berbakti yang telah tumbang, tak hanya di laksanakan di sekolah tercinta kita ini, namun juga dalam negri" dia menghela napas sebentar.
"Saya hanya berharap untuk kalian agar dapat berprestasi seperti mereka. Dan harapan saya juga semoga kejadian ini tak terulang. Catatan sekolah kita dahulu, banyak juga murid yang mengalami kasus serupa".
Dilaksanakan dalam negri ya? Bahkan aku tak menemukan kata "Adil" dalam negri antah berantah ini. Hanya anak pejabat dan pemerintah, serta orang-orang terhormatlah yang mendapat penghormatan seperti ini. Lantas, rakyat biasa dan orang tak berkepentingan hanya terlupaka layaknya debu.
Lambat laun, semua orang memang akan terlupakan dalam ingatan. Namun hati kecil kita akan masih menyimpan kenangan-kenangan tersendiri.
Hanya keadilan. Untuk orang seperti Emmi, anak pejabat kota X. Anak berprestasi sepertinya yang di banggakan oleh semua guru. Namanya terkenal, lantas terkadang semuanya harus Emmi, Emmi, dan Emmi. Keadilan, kenyamanan, keramah tamahan, aku rasa hanya untuk orang-orang seperti Emmi saja. Jadi, tak apalah jika aku mengikuti upacara hari Rabu ini dengan tak sungguh-sungguh.
"Pratama Aditya, dengan kasus yang hampir sama pada dua tahun lalu. Annellisa Key di duga gantung diri di kamar mandi putri, pada tiga tahun yang lalu. Dan yang terakhir dan menjadi bahan perbincangan kita adalah Emmi Hannabelle, yang kasusnya akhirnya terpecahkan" lanjutnya.
"Baik anak-anak semuanya...sekali lagi, kita doakan arwah mereka semua yang terhormat. Jadikanlah mereka sebagai murid teladan. Mungkin sekiranya, hanya itu yang dapat saya sampaikan pada pagi hari ini." Dia menyelesaikan juga akhirnya.
Setelah selang beberapa menit, upacara di bubarkan. Serentak semua siswa kembali ke kelas masing-masing (agak gaduh).
Masalah makin mengerubuti kepalaku. Semuanya belum dapat kupecahkan. Kematian Emmi yang seharusnya membahagiakan malah justru memberiku banyak misteri.
Mulai dari siapa Marcues dan apakah benar aku putrinya, perihal laboratorium dan argumen oleh bu Neny yang akhirnya sampai hari ini tak nampak ujung hidungnya, mengapa novel karya Mark Stefanno di protes oleh penerbit, dan yang paling membuatku penasaran adalah pelaku yang mengaku-ngaku menjadi pembunuh Emmi Hannabelle.
***
Mungkin memang benar, rumahku saat ini rasa-rasanya tak sama seperti rumahku dulu. Aku menjadi kurang nyaman apabila terus mengurung diri di dalam kamar dan di temani beberapa buku dan gadget.
Aku memutuskan keluar. Tak ada tempat favorit lain yang nyaman selain kios milik paman Agung. Selain pemiliknya yang ramah dan riang, buku-buku bajakannya juga sangatlah banyak dan beragam. Tak mungkin jika aku pulang dari kios paman Agung tanpa membeli sebuah buku saja (minimal).
Aku mengambil soda di dalam lemari es, selembar uang ku serahkan pada paman Agung yang menyambutku dengan terkekeh.
"Sayang tak ada kembalian receh" katanya.
"Beri saya permen saja, paman"
"Kau mau rasa apa?"
"Mint".
Aku duduk di luar setelah menyelesaikan pembelian. Sebuah buku dengan cover biru muda sudah ada di tanganku. Tak lain, buku yang terakhir kali di ceritakan Agam. Agam? Ya. Lelaki itu akhir-akhir ini terus saja masuk dalam lamunanku.
Betapa tak bisa ku kendalikan amarahku kemarin padanya. Atau aku berlebihan soal kemarin? Tapi tetap saja jika aku sudah benci pada Emmi, meski dia sudah mati, apapun akan kulakukan.
"Agg" laki-laki dalam lamunanku datang lagi. Agam dengan membawa sebuah buku ensiklopedia.
Dia langsung duduk di sampingku, mengulurkan tangan dan mengucapkan selamat sore. Tanpa pikir panjang juga, aku membalasnya.
"Aku minta maaf soal kemarin sore"
"Tak apa".
__ADS_1
Kami terdiam sebentar. Tapi kemudian dia menyadari novel yang baru saja aku beli.
"Sudah kubilang, kau pasti menyukainya" Agam terkekeh.
"Ah iya...aku hanya penasaran, tak lebih" jawabku dengan cepat.
"Masih sore, kau mau jalan-jalan sebentar?" Dia menawariku, sambil berdiri membawa tas ransel dan ensiklopedia, Agam menjulurkan tangannya. Aku meraih dan ikut berdiri. Siapa yang tak mau di ajak mengenal dunia luar? Dari dulu, aku selalu diam di rumah dan jarang melakuan aktivitas yang menyenangkan. Apalagi setelah masalah keluargaku datang menyerbu mentalku. Kemudian kakak bekerja dan terpaksa aku harus melakukan semuanya sendirian.
"Kita akan kemana?" Aku mengekor Agam dari belakangnya.
"Ikut saja".
Beberapa menit berlalu. Aku berhasil menebak-nebak kalau perjalanan ini akan menuju ke arah bukit. Agak lelah memang, tapi setidaknya sawah-sawah, pepohonan rimbun, dan burung-burung menyegarkan pemandangan. Sekaligus untuk cuci mata. Tempat ini saja sudah bagus, apalagi jika nanti telah sampai, aku yakin akan lebih indah.
"Kau tak apa jika pulang setelah matahari terbenam?" Dia membalikan badannya demi melihatku.
"Ya".
Jadi aku menebak lagi. Kita mungkin akan melihat matahari terbenam dari atas bukit yang semakin menanjak ini. Ahhh...betapa manisnya dia akhir-akhir ini.
"Sampai" jawabnya sambil duduk terengah-engah di sembarang tempat.
Tak salah. Memang pemandangannya lebih indah. Angin sepoi-sepoi menerpa rambut pendekku. Burung-burung (yang entah jenisnya apa) berterbangan dan berkicauan bagai musik menenangkan. Pohon-pohon menari-nari di terpa angin. Dan yang terindah langit dengan warna oranye menandakan matahari segera terbenam. Menyadari itu, aku segera duduk bersampingan dengan Agam.
"Dulu waktu aku masih kecil, ayah sering mengajakku datang kemari untuk melihat matahari tenggelam". Meski pengucapannya terdengar ramah, tetap saja raut mukanya yang masam tak dapat membohongi. Agam memiliki masa lalu yang kurang mengenakan, mungkin sama denganku.
"Bahagia itu sederhana," tambahku. "Bagaimana dengan ayahmu sekarang?"
"Ayah meninggal setahun yang lalu. Mengejutkan, tapi itu sudah takdir Tuhan. Mau bagaimana lagi, harus segera ku ikhlaskan" pandangan mata Agam layu.
Aku mengusap punggungnya perlahan, sambil tersenyum. Tersenyum! Baru kali ini aku tersenyum untuk orang lain, dan orang lain itu Agam. Hanya Agam.
"Terimakasih, Agg. Aku pun yakin setiap orang memiliki cerita tersendiri. Begitu pula denganmu, aku merasa bahwa dirimu spesial dan memiliki cerita yang berbeda dengan orang lain".
Matahari sudah mulai tenggelam, kegelapan mulai menyelimuti bumi. Burung-burung berterbangan dengan sangat cepat, guna kembali ke sarang untuk beristirahat.
"Kau memang berbeda dari yang lain, Agg. Dan kau manis".
Matahari betulan tenggelam tergantikan oleh bulan. Kegelapan menyelimuti mengharuskan Agam untuk menyalakan senter yang sudah ada di dalam ransel serba gunanya.
"Aku antar kau pulang"
"Tak usah, tak apa"
"Tapi ini sudah malam"
"Aku sudah terbiasa.
***
Beberapa menit yang membuatku melayang terbawa suasana. Aku tak dapat bohong pada perasaanku dan jiwa remajaku, aku jatuh cinta pada Agam. Sekalipun ini terjadi, duniaku terasa lebih bermakna, lebih berwarna juga.
Pohon-pohon di samping jalan raya menari-nari di terpa angin, seperti sedang mengikuti mood-ku saja. Angin berhembus kencang, dan bulan purnama indah yang bersinar seperti mengikuti langkahku saja.
Beberapa kilometer berlalu dan aku sudah memasuki pelataran rumahku. Lampu rumah seperti telah menyala dari ruang manapun. Padahal sepertinya sore tadi belum ku hidupkan.
Atau pencuri? Entah penyusup? Siapapun yang masuk rumah ini begitu lancang. Agak tergesa-gesa aku membuka pintu itu dengan kasar. Memang salahku tak mengunci sebentar sebelum pergi. Soalnya, ya...aku berpikir rumah terpelosok di tengah hutan tak akan di masuki siapapun kecuali hewan liar kalaupun bisa.
Bukan perampok, bukan maling, atau hewan liar yang ada di dalam. Ruang tamu sangat terang membuatku kaget setengah mati pada malam hari yang harusnya indah ini.
"Selamat malam" bu Neny dengan kursi rodanya, dan tentu kaki-nya yang sudah buntung akibat kejadian beberapa hari lalu di laboratorium miliknya. Dia menatapku dengan tersenyum singit. Sayang guru bahasa Inggris edan ini tidak sendiri.
Sekitar 4 orang laki-laki bertubuh tegak dan gagah menemani. Mereka menggunakan pakaian laboratorium dan pandangannya tentu tak ramah.
__ADS_1
"Kau kaget mendapatiku ada disini?" Dia tersenyum lebih lebar memandangku, lalu mendekat dengan kursi rodanya.
"Lihatlah yang kau perbuat denganku, padahal niatku membantumu, menyuntikan cairan penguat"
"Kau ingin mencelakaiku!" Bantahku seraya bersiap dengan menyambar tongkat kasti yang berada di samping pintu depan.
"Maria Aggy, putri Marcues yang tidak di akui sama sekali ibumu tersayang itu. Malang sekali nasibnya menjadi bahan percobaan, sama sepertimu, nak" bu Neny terkekeh. Namun tak lucu tentu, 4 pegawainya masih memandangku dengan galak.
"Tahukah kau seberapa bencinya aku dengan ayahmu si Edward Marcues itu?"
"Kau jangan mendekat, bodoh!" Aku berseru lagi, setengah ketakutan karena wanita itu makin mendekat dengan deritan kursi rodanya.
Semua berbelok tajam. Seperti roda, kadang berada di atas dan kadang di bawah. Kadang nasibku beruntung dengan melawannya membuat wanita ini kehilangan salah satu kakinya karna di amputasi. Terkadang posisiku di bawah karena wanita licik ini mampu juga membuatku terpojok seperti saat ini.
"Marcues itu nafsunya tinggi, dia gegabah. Satu rahasia yang aku tahu adalah semua alat tekhnologi ciptaannya yang tertulis 'di buat oleh Marcues' itu bohong. Seberapa pintarnya dia membohongi masyarakat, Agg. Semua alat tekhnologi seperti cctv super kecil yang ampuh itu buatan putra pertamanya.
"Marcues ingin di sanjung. Marcues memiliki ambisi besar untuk..."
"Kau diam bego!!!" Aku berseru lebih keras sebelum wanita itu melanjutkan. Tongkat kasti sudah terayun dengan keras mengenai wajahnya. Wajah itu merah. Dia tertunduk dengan beribu-ribu sumpah serapah dan amarah.
Tak perlu di beri aba-aba 4 pegawainya berseru-seru menuju ke arahku sambil membawa jarum suntik. Mungkin obat bius. Si buntung ini bahkan tak mampu berkutik.
Dengan tangkas, aku menangkis semua serangan. Warna merah itu datang kembali, merah pekat membuatku semakin bergairah.
Segala tendangan, pukulan, dan semua cobaan untuk menusuk badanku dengan jarum suntik ini gagal total. Salah satunya bahkan jatuh dan akhirnya pecah terinjak olehku.
Sasaranku bukan 4 orang pegawai ini, tapi Neny. Dan dengan menghindar, aku kembali memukul Neny dengan tongkat kasti.
Dia hanya bisa mundur dengan kursi roda payahnya. Dia berteriak marah pada 4 pegawainya.
"Kau mau menyuntikku agar aku tak sadarkan diri? Payah, kau Neny!" Dan sekali lagi tongkat kasti itu dengan keras mengenai kepala belakangnya. Darah segar mengucur membasahi lantai ruang tamuku.
"Kalian semua tamu yang tak tahu sopan santun".
Aku selesai. Sekali bos payah itu tumbang, maka pegawai-pegawainya tentu tak peduli dengan musuh mereka. Atau, 4 pegawai ini nampak seperti pengabdi Neny.
Mereka dengan sergap membawa Neny yang hampir kehabisan darah. Kepala! Sasaran bagus dan semoga saja wanita itu mati. Sangat tak berguna, menganggu malam hari yang begitu berwarna.
***
Semua masalah yang tak ada ujungnya ini masih saja menggeliati pikiranku. Memaksa untuk segera ku selesaikan agar dapat tenang. Dua Minggu berlalu begitu saja dan tak ada perubahan.
Aku mencari-cari Mark Steffano, mulai dari akun media sosialnya dan lain-lain. Mungkin karena dampak di kucilkan dirinya karna novelnya yang di tolak itu, Mark dengan senang hati mau merencanakan perjanjian pertemuan dengan bocah SMA sepertiku.
Tak mewah, dan sangat sederhana. Kami berdua bertemu pada siang hari sepulang sekolah di cafe yang terbilang cukup low budget.
Mark yang mungkin berusia 25 tahun itu berpostur tinggi dan kurus. Wajahnya putih bersih tanpa kumis dan jenggot. Dia membawa jaket yang di gantungkan di kursi, nampak terdiam menungguku.
Kursi di depannya masih kosong. Aku duduk di depan Mark.
"Selamat siang Tuan Mark Stefanno, saya tak percaya bisa bertemu dengan penulis yang saya idolakan" sambutku. Pria itu malahan tertawa.
"Ya, siang juga. Kau menyukaiku atau menyukai Jean Martin?"
"Eh?"
Tak lama, dua kopi hangat dalam cangkir sudah di sediakan di meja oleh pelayan. Tentu Mark-lah yang memesankan.
"Silahkan diminum. Namamu Aggy, kan?"
Aku mengangguk.
"Aku sudah tak menulis sekarang, meski banyak ide yang harus ku tuang dalam bait-bait ceritaku" dia menyembunyikan senyumannya. Kopi hangat miliknya perlahan di seruput.
__ADS_1
"Jika saya boleh bertanya, mengapa novel anda barusan di larang terbit dan banyak di kecam?" Aku bertanya asal, meski memang itu tujuanku menemuinya. Yaitu ingin mengetahui kelanjutan perjalanan Jean Martin dan mengapa season-3 di larang terbit.
"Ini akan menjadi pembahasan yang seru. Banyak orang berargumen bahwa naskahku terlalu sadis. Ya, memang masuk akal. Tapi bukan itu alasannya" dia menghembuskan napas sambil memandang ke segala arah entah mencari apa.