
Begitulah matahari. Bersinar dengan senang hati di ufuk timur. Meskipun tak se-benderang siang, tapi cahaya nya yang masih malu-malu amat indah. Begitu lah yang dirasakan Eliza pagi itu. Aku melihatnya di teras rumah. Duduk di sebuah kursi yang dulunya adalah kursi kesayangan mama. Dia menanti matahari terbit sepenuhnya disana. Aku menatap dia di ambang pintu. Awalnya aku berpikir dia tidak tahu bahwa aku terus-terusan menatapnya. Rasa-rasanya aku seperti menatap Marcues. Ya. Wajah mereka memang sedikit mirip. Meskipun yang ini lumayan coklat. Entah mengapa, aku jadi ingin membunuhnya. Meskipun dia tidak bersalah apapun. Mungkin karena benci. Mungkin karena dendam yang aku pendam selama bertahun-tahun kepada keluarga ini. Tapi...
" Mataharinya sangat indah jika dilihat dari sini. "
Tidak. Ternyata dia mengetahui keberadaan ku.
" Apa kau tau, Steyf? Sangat berat menjadi aku. Tuhan menakdirkan aku dengan tubuh yang kecil dan tidak berdaya. Menyandang segala penyakit yang entah dari mana asalnya. Aku juga ingin. Menghirup udara tanpa sesak. Aku juga ingin hidup dengan bebas. Seperti anak-anak seumuran ku pada umumnya. Tapi aku tidak bisa. Padahal aku sudah mendapat izin ibu untuk bertemu Marcues. Tapi ternyata dia.. "
" Berhentilah mengatakan hal itu. Aku benci mendengarnya. Aku akan pergi ke sekolah. Gerbang sudah hampir di tutup. "
" Kalian masih sekolah di liburan musim panas?"
" Tidak ada hukum seperti itu disini."
" Lagi pula ini masih pagi. "
" Ada acara penghormatan basi di setiap hari rabu. Sebenarnya aku malas. Tapi..."
Ah. Apa karena aku terlalu penasaran dengan Sinar sampai aku merelakan berangkat sepagi ini demi dapat bus yang sama?
" Acara penghormatan? Tapi apa?"
" Aku berangkat. Tolong jaga rumah. Jika terjadi sesuatu telepon aku saja. Aku sudah membeli banyak bahan makanan tadi malam, gunakan jika kau perlu."
Aku berjalan melewati gerbang. Melintasi cahaya sendu matahari pagi. Bersama dengan bintangnya yang masih tinggal beberapa biji di langit. Ini masih dingin. Jadi aku memakai jaket ku. Tidak. Aku tidak memakai jaket hitam pemberian Tania. Aku memakai jaket ku sendiri. Dan itu menyisakan banyak kenangan buruk. Ah. Aku lapar. Aku belum sarapan.
Aku sampai di halte bus. Aku duduk di kursi panjang yang ada disana. Aku menggu bus sepagi ini. Sendirian. Halte pun masih sepi. Orang-orang hanya ada satu-dua yang berlalu lalang. Ada orang tua bersepeda di trotoar. Ibu-ibu joging. Atau sekedar para karyawan kantor yang baru pulang karena semalaman lembur. Aku pun mencoba untuk mendengarkan sebuah musik. Aku baru saja mendapat lagu baru. Yang mungkin saja pas di telingaku. Aku mendengarkan bait-bait lagu ini, di tengah kesunyian pagi. Hingga akhirnya bus itu datang mengantarku ke sekolah.
Aku sampai disana. Gerbang sudah akan ditutup. Hanya menyisakan satu jengkal, aku melintasinya.
" Hei.. kau terlambat satu menit. Kali ini kau boleh masuk, tapi tidak dengan minggu depan. "
Satpam bawel itu menggerutu. Terserah. Mana aku peduli. Aku saja kesal karena aku tidak bertemu Sinar di halte berikutnya. Mungkin saja ini masih terlalu pagi.
Baru saja aku memasuki kelas. Belum sempat menaruh tas di kursi pula. Para guru sudah mengobrak-abrik seluruh sekolah. Meminta murid-murid untuk mengikuti acara penghormatan basi itu. Lagi-lagi. Emma-Emmi ini membuatku muak. Aku berjalan mengikuti saja. Tapi tidak. Aku justru berjalan ke arah kamar mandi. Dengan membawa ponsel ku dan sebungkus roti yang aku bawa dari rumah. Aku memasuki toilet dan lebih memilih duduk disana selama berjam-jam dari pada harus berdiri hingga siang menyengat.
__ADS_1
Aku kembali mendengarkan laguku. Dengan menggunakan headset.
Aku baru sadar. Ya. Itu benar.
Ya. Itu benar. Apalagi yang harus aku lakukan sekarang selain membiarkan tubuhku terpendam sejuta kenangan buruk masa lalu. Disaat semua orang mudah mengingat hal indah yang pernah terjadi, tidak dengan ku yang terus-terusan mengingat hal buruk. Harusnya hukum semesta itu benar. Seseorang akan merasa berharga apabila ia telah tidak ada. Aku salah pada Tania. Aku salah pada mama. Harusnya aku mendengarkan Tania. Membicarakan segala kebenaran dari mulutnya. Dan harusnya aku menarik mama. Masuk ke dalam lobi dan menetap disana dengan adikku yang masih kecil. Bodoh. Dasar bodoh.
Merenungpun masih kurang untuk ku. Menangis pun rasa salah dan benci itu masih tetap ada. Hingga aku harus menarik-narik tongkat sakti Tuhan pun, semua nya tidak akan pernah kembali pada awal nya. Aku hanya makhluk bodoh yang terus-terusan berpegang pada masa lalu. Serta selalu saja mengulang-ulang kejadian yang seharus sudah kubuat sebagai pelajaran agar aku tidak mengulangnya. Bodoh.
Acara penghormatan sudah selesai. Aku kembali ke kelas setelah kelas ramai. Hari kembali ke pelajaran semula.
Sudah lebih dari pukul 4. Ah. Beberapa hari lagi sudah akan try out. Ada pelajaran tambahan di kelas. Dan itu sangat melelahkan. Aku membuka pintu rumah. Aku mendapati Eliza yang terkapar di lantai dengan segala luka di tubuhnya. Apa pula yang terjadi sekarang?
" Apa yang kau lakukan disana?" Tanyaku dengan sejuta bingung di kepala.
Tidak ada jawaban sama sekali. Aku menghampirinya. Melihatnya menangis terisak-isak dengan darah yang sudah mengering dari lukanya. Ayo lah. Setidaknya ceritakan saja.
" Apa yang terjadi?"
" Tolong biarkan aku sendiri, Steyf. Jangan dekati aku. Aku mohon."
" Kau!! Kau laki-laki simpanan Eliza? Kau pasti laki-laki itu kan?"
Apa lagi ini bodoh? Dia memukul muka ku. Berkali-kali. Rasanya sampai sakit. Darah pun menguncur dari hidung ku.
" Jawab bedebah. Dasar gila. Kau pikir aku tidak tahu hubungan kalian berdua?"
Aku sungguhan tidak bisa lagi menahan nya. Aku melayangkan pisau di tangan ku. Mata pisau yang tajam itu menggores dadanya.
" Kau. Dengan lancang mendobrak rumahku. Dan dengan berani kau memukulku. Kau pikir siapa dirimu? Bodoh. "
" Jangan sok pandai berpura-pura. Kau bahkan sudah melakukan hubungan melenceng dengan Eliza bukan? Bahkan aku saja tahu, Eliza mempunyai banyak laki-laki simpanan. Dan aku tahu. Ini rumah Eliza bukan rumahmu."
Lagi-lagi aku menggoreskan pisau itu. Kali ini menggores pelipisnya. Dia berteriak namun sia-sia.
" Budayakan menghargai lawan bicara sebelum menyimpulkan."
__ADS_1
Dia menatap ku lamat-lamat. Aku terdiam hingga ku rasa sudah saat nya untuk ku mulai berbicara.
" Aku bukan laki-laki simpanan Eliza. Aku juga tidak melakukan hubungan melenceng dengan nya. Harusnya kau mencari tahu dulu sebelum kau mencintai seseorang. Dia adalah Tante kecil ku yang datang jauh-jauh dari Eropa. Lantas apa hubungan mu dengan nya?"
" Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu? Aku tidak pernah sekalipun menyembunyikan sesuatu darimu. Atau pun melakukan hubungan lain di belakangmu. Kau pikir apakah aku wanita rendahan seperti itu? Kau memfitnah ku tanpa ada bukti yang nyata. Nyatanya kau dengan lancang berselingkuh dengan perempuan yang sudah seperti sahabatku sendiri. Kau benar-benar laki-laki yang bodoh. "
Eliza turun dari tangga. Keributan ini membuatnya terganggu.
" Tidak. Kau berbohong. Lantas siapa pula lelaki ini? Kau masih menyebut ini bukan kekasih gelapmu!"
Lagi-lagi. Aku menggoreskan pisau itu berkali-kali. Sampai ia meraung dan meminta ampun kepadaku.
" Apa kau masih tidak mau pergi dari sini? Kau masih ingin ku cambuk sampai kulit mu sobek? Atau... Ingin mati saja? Harusnya kau tahu siapa aku bukan?"
Dia menatap aku lamat-lamat. Dengan tatapannya yang kewalahan menahan sakit di luka-lukanya. Dia memperhatikan aku. Menunggu jawabanku tanpa pertanyaan dari nya.
Aku mengambil sebuah foto berfigura kayu mewah di meja. Memperlihatkan padanya dan berniat untuk mengancamnya.
" Masih bagus kah dirimu berhadapan dengan anak pembunuh? Setidak nya itu yang dikatakan orang-orang terhadap ku. "
Begitulah. Semua orang selalu lari setelah melihatku. Menghindari aku bagai iblis yang bersiap untuk membunuh dan memakan mereka satu persatu. Begitu pula dengan bocah ingusan di depan ku ini. Dia langsung bangkit dan berlari meninggalkan rumah ku. Yah. Akhirnya dia mengetahui rumah siapa kah ini sebenarnya. Aku menatap Eliza yang kembali menangis. Aku baru saja mengetahui kebenarannya setelah mendengar cerita panjangnya itu seraya duduk di sofa.
Begitulah percintaan masa muda. Hampir seperti aku. Tapi sedikit berbeda. Ini hanya pertemuan dari media sosial. Menjadi akrab dan menjalin hubungan asmara lintas negara. Itu membuat Eliza cukup percaya karena kakak nya pun tinggal disini selama bertahun-tahun. Lantas apa? Yah.. mungkin laki-laki itu berpikir Eliza berada jauh disana dan tak akan pernah melihat segala hal yang diperbuat olehnya. Seperti melakukan hubungan gelap yang seperti di lihat oleh Eliza tadi siang. Mereka melewati jalan depan rumah ku seraya berangkulan dan berciuman. Itu adalah hal yang diluar kendali otak manusia. Apalagi pacarnya tengah bersama sahabat pena nya sendiri. Sinar. Pantas saja aku tidak melihatnya naik bus hari ini. Ku pikir itu masih terlalu pagi, ternyata dia tengah mabuk dan tak pergi ke sekolah. Berlawanan dengan orang mabuk memang sangatlah susah. Eliza di dorong masuk ke dalam rumah dan di lukai pula dengan pisau yang tadi sempat ku temukan dilantai.
Ah. Tania. Lagi-lagi aku teringat kejadian itu.
" Aku pikir dia sungguhan laki-laki yang setia. Dia sering mengirimi aku banyak hadiah. Mulai dari boneka sampai benda-benda mahal. Tapi itu sangat jauh berbeda dari yang kuduga selama ini. " Katanya masih dalam terisak tangis.
" Ya. Tanpa sadar, kau sedang di hipnotis.''
" Lagi pula aku sempat berpikir. Mana ada laki-laki yang menerima aku selebih itu dengan keadaan ku yang lemah ini? Aku saja sudah hampir mati." Dia kembali menangis dan sekarang ia kembali mengatur nafasnya.
" Jujur saja Steyf. Tujuan ku kemari bukan karna aku ingin menjadi ilmuwan seperti Marcues si gila harta itu. Aku hanya ingin dia memperbaiki jantung ini. Jantung ini sudah lemah. Jantung ini sudah sesak untuk ku buat bernafas. Hingga rasanya pun aku merasa jantung ini berhenti bekerja dan tubuhku terasa amat panas seperti terbakar. "
" Keterlaluan. Tak pantaskah aku hidup di dunia ini? Tuhan seperti selalu memaksaku untuk mati."
__ADS_1
Aku. Sungguhan mati kata.