Laboratorium - Merah

Laboratorium - Merah
Chapter 42 Steyfano Marcues


__ADS_3

Aku memasuki ruangan Eliza. Dia hanya terbaring sambil melamun. Pastinya dia bosan. Seperti yang terjadi pada orang-orang dirumah sakit ini pada umumnya. Aku bingung. Bagaimana aku mengatakan ini kepadanya. Dia menoleh kearahku saat aku duduk di sampingnya. Dia tersenyum. Manis.


" Bagaimana perasaan mu?" Tanya ku memulai pembicaraan.


" Aku baik-baik saja. Tidak buruk. Tidak senang. Hanya sebatas berangan-angan."


Aku terdiam sejenak. Lantas menarik nafasku dalam-dalam dan mulai membicarakan hal itu.


" Aku baru saja menemui dokter itu, di ruangan nya. "


Dia menatap ku lamat-lamat dan menunggu aku melanjutkan beritanya.


" Masalah tentang jantung mu, itu akan segera di oprasi. Jan.."


" Sungguh?Jantung ku akan diganti dengan yang baru? Apakah begitu? " Dia sungguhan bersemangat. Aku ingin menangis Eliza.


" Dia bilang, jantung yang kau gunakan itu adalah jantung yang dibuat khusus untuk mu tanpa melalui uji coba terlebih dahulu. Itu menyebabkan jantung itu tidak akan bertahan lama. Itu lah mengapa kau sering sesak napas."


Aku terdiam.


" Lalu? Sungguhan aku akan di oprasi? Kapan?"


Aku terdiam.


" Tap.. tapi Eliza. Sejak kapan kau mengidap kanker paru-paru? "


Kali ini dia yang terdiam. Dia menatapku. Matanya berkaca-kaca seperti hendak menangis. Aku merasakan suasana ini seperti tidak menyenangkan. Yang pasti, hati nya sedang gundah. Dia menunduk dalam-dalam.


" Harus nya kau memberitahuku sejak awal. Kanker paru-paru mu sudah mencapai stadium akhir. Kau harusnya tahu Eliza, dari banyak nya omong kosong mu, dan begitu banyak hal yang kau pendam sendiri itu lah yang menjadikan dirimu tak pernah bisa untuk sembuh. Kau hanya tidak percaya dengan dirimu sendiri. "


Ini sangat tidak nyaman.


" Kau berharap padaku akan sembuh. Tapi kau menyembunyikan sesuatu yang besar dariku. Kau tau? Hanya sekedar mengganti jantung saja, itu bukan lah oprasi yang sederhana. Apalagi di usiamu yang masih se-muda ini. Mana mungkin kau bisa bertahan di oprasi itu dengan keadaan yang seperti ini? Kau pikir kau akan masih tetap hidup? Kau pikir kau akan bertahan? Kau pikir ini akan menjadi oprasi yang sangat sederhana? Kau.."


Aku sungguhan tak kuasa menahan amarah ku. Untunya kata-kata terakhir yang ingin aku ucapkan itu dapat ku tahan. Setidaknya aku tidak terlalu menyakitinya dengan mengatakan 'Gadis Bodoh' di depannya. Meskipun dia air mata itu menetes di pipinya. Dia menahan isakan nya.


Satu harapan ku sekarang hanyalah ingin keluar dari belenggu ini. Sendirian tanpa memikirkan apapun yang seharusnya tidak harus aku yang memikirkannya. Tapi aku tidak bisa. Aku kembali ke rumah. Dengan sedikit berlari. Aku mendobrak pintu itu.

__ADS_1


Apa yang aku lihat? Wanita itu sudah bangun dari pengaruh obat bius dan itu membuat matanya membelalak setelah melihatku. Aku mendekatinya.


Aku menatap tubuhnya lamat-lamat.


" Jawab pertanyaan ku. Hanya ada satu. Apa kau sehat? Apa.. kau punya riwayat penyakit jantung?"


Dia tidak membalas pertanyaan ku. Dia hanya terisak tangis. Takut melihatku di depannya. Ayo lah, padahal aku tidak berniat ingin membunuhnya.


" Bisakah kau menjawab pertanyaan ku? Aku hanya butuh kau menjawabnya."


Aku mengulangi lagi pertanyaan ku. Lantas dia menggeleng. Itu bagus.


Aku berjalan ke dalam. Mengambil sebuah gergaji mesin dan kembali ke arahnya yang sudah meronta-ronta. Dia pun semakin membelalak saat melihatku kembali.


" Bisa kah kau membantuku?"


Dia menatapku lamat-lamat dengan suara isakan, air mata yang menguncur, dan keringat dingin membasahi tubuhnya.


" Aku hanya menginginkan jantungmu. Itu untuk saudaraku. Mau kah kau? "


" Ayo lah. Pilihan mu terbatas. Kau memberikan jantung mu padaku, dan aku akan mengganti jantung mu dengan jantung buatan. Atau kau memilih untuk ku siksa, menjadi bawahan ku untuk selamanya. Menjadi anjing untuk manusia seperti ku. Kau bisa saja ku bunuh. Otak mu itu bisa saja termuntahkan oleh kepala karena gergaji ini? Bagaimana menurutmu?"


Dia hanya menggeleng. Dia semakin kencang menangis.


" Kau menolak tawaran ku?"


Dia hanya menangis semakin kencang.


" Ada mesin penggiling daging di dapur? Kau mau mencobanya?"


Dia membelalak kembali.


Aku melepaskan ikatan itu. Lantas menariknya secara paksa. Menyeretnya hingga ke dapur. Tentunya dia punya jiwa untuk memberontak. Dia mengambil sebuah kapak yang aku letakkan tak jauh dari tempat itu. Dia meraihnya dan menancapkan nya ke kakiku. Apa? Memangnya apa yang harus aku lakukan?


" Jangan terlalu banyak berpikir, kau tidak kasihan pada nyawamu?"


" Aku mohon. Tolong... Tolong lepaskan aku.. apa salahku? Aku minta maaf jika aku bersalah. Tolong.. aku mohon.."

__ADS_1


Untuk pertama kalinya, ku dengar dia berbicara.


" Kau amat bersalah. Kau bahkan tak menjawab pertanyaan ku. Dan kau tak memilih pilihan ku. Maka terpaksa akan ku pilih sendiri. Kau terlalu payah untuk ku buat samsak."


" Tidak, tidak ku mohon.."


Terlambat. Aku sudah menyeret kaki itu dan hendak memasukkan nya ke alat penggiling yang sudah ku nyalakan.


" Ya. Ya... Iya... Baiklah. Aku tak punya riwayat penyakit apapun. Aku akan mendonorkan jantung ku. "


Aku menghentikan tindakan ku barusan. Bagus. Aku menatapnya lamat-lamat dan tersenyum.


" Aku mohon. Jangan." Dia semakin terisak tangis.


Aku membawa dia kerumah sakit. Tepat dimana Eliza di rawat. Aku mengatakan pada dokter itu untuk memeriksanya.


Aku kembali ke ruangan Eliza selama wanita itu menjalani pemeriksaan kesehatan. Eliza tengah duduk di sama seraya menatap gedung-gedung tinggi melalui jendela. Aku membuka pintu itu dengan makanan yang aku bawakan untuk nya.


Aku duduk disampingnya. Dia tetap tak menoleh.


" Saat nya makan Eliz, kau butuh tenaga untuk bertahan. "


" Kira-kira, berapa lama lagi aku akan hidup?" Itu lah pertanyaan nya saat dia menoleh kepadaku.


" 3 bulan." Aku menatap matanya. Dia menunduk dan mulai lagi berkaca-kaca.


" Pilihan sekarang, ada pada dirimu. Aku hanya, menyetujui apapun yang kau pilih. Kau harus bijak memilihnya. "


Dia terdiam. Canggung. Hanya terdengar angin yang berhembus melalui jendela itu.


" Aku akan tetap menjalani oprasinya."


Itu adalah jawaban yang membuatku... Entah lah. Sedih.


"Aku memang lelah akan kehidupan tapi bukan berarti aku ingin cepat mati. Haruskah aku menunggu kematian ku tanpa melakukan apa-apa? Itu bukan oprasi sederhana. Ini tentang mengganti jantung buatan. Meski waktuku tersisa satu hari saja, aku ingin menjalani hidup yang layak. Aku juga ingin, menghirup udara dengan bebas. Hanya itu cita-cita ku dengan aku bertahan sampai sejauh ini. Bisakah kau mengabulkannya?"


Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku sungguhan sanggup. Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku sungguhan mampu untuk membuatmu begitu. Aku tidak bisa mengatakannya. Eliza. Aku ingin mengatakan padamu. Marcues mati bukan karena tanama itu tapi karena aku. Jika seandainya dia masih ada, pasti dia akan membuatkan cairan aneh untuk mu yang membuatmu amat kuat seperti ku. Bahkan sampai tak memerlukan sebuah bius untuk oprasimu. Bahkan bisa saja dia membuatkan jantung baru tanpa aku harus mengancam seseorang untuk memberikan jantung nya untukmu. Aku tak tahu apa yang aku lakukan. Aku memang bodoh. Aku selalu gegabah. Setidaknya.. entahlah. Aku tidak dapat berpikir. Air mataku menetes. Tapi aku segera mengusapnya. Takut jika seseorang melihatnya. Aku hanya berusaha menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. Dengan tangan yang gemetar. Haruskah? Kehilangan satu orang lagi?

__ADS_1


__ADS_2